http://www.sinarharapan.co.id/berita/0603/25/opi04.html
Andai Tak Ada Ketegangan Antarumat Beragama Oleh Ibn F Muchammad Dukseno Pengadaian seperti itu sulit diwujudkan pada zaman sekarang ini. Seolah-olah kita hanya bermimpi seperti John Lennon memimpikan dunia penuh damai, dalam lagunya Imagine. Aku memang pemimpi. Tidak berarti aku membenarkan apa yang dikata-kan Karl Marx yang mengibaratkan agama sebagai kekuatan yang mengacaukan, sebab agama menjadi "candu masyarakat". Sebagai candu berarti hanya membuat masyarakat mabuk, tak sadar, tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya, sehingga tidak dapat dimintai tanggung jawab. Jika ada paham atau ajaran yang tidak begitu saja diterima ajaran atau pahamnya, dengan mudah ajaran atau paham yang berlawanan dikatakan sebagai bidah, terkutuk, dan patut untuk dibasmi. Namun celakanya yang dibasmi bukan ajaran atau paham tersebut, tetapi umat yang memeluk paham atau ajaran tersebut. Mengapa bisa terjadi? Karena orang tersebut tidak pernah diajari membedakan antara paham atau ajaran yang dianut seseorang dengan orang atau pribadi yang menganut paham atau ajaran itu. Oleh karena itu, mereka dengan mudah membabat ajaran sekaligus penganutnya. Pembabatan yang brutal itu dapat terjadi jika pemimpin ajaran atau paham yang dianggap benar memberikan sanksi spiritual kepada para penganut paham atau ajaran yang dianggapnya keliru. Lebih keliru lagi jika sanksi itu dijatuhkan demi mempertahankan status quo agamanya. Ideologi-ideologi keagamaan hampir selalu dapat menyalurkan energi radikal ke dalam batas yang dapat diterima masyarakat. Di beberapa tempat di bumi ini bisa terjadi bahwa pemikiran keagamaan menjadi sumber ilham untuk suatu gerakan revolusi. Demi keyakinan (yang dalam bahasa agama sering disebut dengan istilah iman), bahwa terdapat kekuatan yang amat besar yang jauh melampaui kekuasaan dan penghakiman di dunia, agama akan selalu memiliki potensi untuk mengguncang tatanan yang telah ada. Ajaran, paham, atau tradisi agama mampu melahirkan orang-orang yang menempatkan tujuan tertentu yang didasarkan pada ajaran agama mereka di atas norma masyarakat mereka sendiri. Padahal tidak semua orang harus menjadi rohaniwan atau rohaniwati. Dunia membutuhkan orang yang bercocok tanam, menangkap ikan di laut, menjadi sopir dan lain-lain. Dan masing-masing orang harus saling menghormati peran dan orang yang mengerjakan peran mereka. Pembabatan brutal akan terjadi jika tidak ada toleransi. Pluralisme Perlukah kita memiliki semangat pluralisme? Ini suatu pertanyaan yang tidak hanya harus dijawab oleh kita semua, tetapi juga butuh dipraktikkan. Bumi kita sekarang ini dihuni oleh lebih dari lima miliar orang. Tentu saja semua orang yang dilahirkan di dunia ini adalah ciptaan dari Sang Pencipta Semesta yang Esa. Hal yang memperlihatkan keagungan Sang Pencipta antara lain adalah tidak adanya manusia ciptaan-Nya yang sama persis dan identik di bumi ini. Perbedaan ini menjadi tanda bahwa setiap ciptaan Sang Pencipta mempunyai keunikan. Di sisi lain ada gerakan atau usaha manusia untuk menyeragamkan semua ciptaan-Nya. Orang perlu tempat untuk belajar menghormati orang lain yang berbeda dengan dirinya sekaligus belajar untuk tidak memaksakan kehendak diri atau kelompoknya. Apalagi menjatuhkan hukuman kepada orang lain atau kelompok lain dengan ukuran yang mereka buat dan telah mereka sepakati sebagai satu-satunya kebenaran yang tidak boleh dibantah atau dipertanyakan. Kembali orang harus diingatkan bahwa Sang Pencipta semesta justru yang menghendaki adanya keunikan setiap ciptaan-Nya. Dalam hal ini, orang perlu menemukan heart of religion dari agama yang dianutnya supaya tidak hanyut dan terpaku pada simbol-simbol atau atribut-atribut yang kebetulan dibawa agamanya. Jika perlu usaha untuk mengajak orang menemukan heart of religion secara konkret ada dalam Undang-Undang Kerukunan Beragama atau Surat Keputusan Bersama Dua Menteri. Dalam keputusan penting yang akan diterapkan di tengah masyarakat tidak terdapat ketimpangan yang hanya membela mereka yang kuat dan mampu. Heart of religion inilah yang bisa menyatukan orang-orang yang mempunyai latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Orang tidak sekadar toleransi, yang secara kasar bisa kita artikan tidak saling mengganggu, tetapi akan sampai kepada suatu usaha bersama menjawab keprihatinan dalam kehidupan ini. Perbedaan agama-yang sampai langit ini runtuh akan tetap berbeda-tidak memecah ukhuwah insaniyah, namun justru semakin membuat orang menjadi semakin beradab. Pendiri Bangsa kita merumuskan keberagaman itu dengan semboyan yang indah, yakni "Bhinneka Tunggal Ika" yang membingkai simbol-simbol Pancasila. Dalam rumusan Bhinneka Tunggal Ika itu terkandung harapan besar para pendiri bangsa. Bhineka Tunggal Ika isinya tidak hanya tentang kesatuan suku, budaya, dan bahasa, namun ada harapan besar supaya orang menemukan aspek kesatuan yang hakiki antarwarga negara yang anggotanya beragam. Kesatuan hakiki itu bisa terjadi jika heart of religion ditemukan dalam setiap warga negara. Sekarang tergantung bagaimana kita mendidik generasi muda kita. Apakah pendidikan agama juga menghantar generasi muda kita menemukan heart of religion dalam hidup mereka? Ataukah generasi muda hanya akan kita jadikan sebagai robot yang bisa kita atur sesuai bendera kelompok yang kita anut, yang sering kali membuat mereka bisa menjadi biadab? Bila kita mempertahankan suatu sikap yang jauh dari sikap beradab, lalu kapan pengandaian awal kita bisa terwujud? n Penulis adalah rohaniawan. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

