Bagaimana dengan ini?:

"Semuanya itu tidak terlalu rumit dan diyakini dapat diselesaikan 
karena bangsa ini memiliki kepribadian budaya yang luar 
biasa. "Jangan impor atau jangan cepat-cepat senang dengan budaya 
Amerika, Eropa Timur Tengah dan lain sebagainya, saya kira budaya 
Indonesia sudah sangat luar biasa," katanya.

SUARA PEMBARUAN DAILY

Presiden: Kita Tidak Perlu Berkelahi 

JAKARTA - Presiden Yudhoyono memprihatinkan perang tanding dan 
perang interpretasi soal pornografi dan pornoaksi, dewasa ini. 

Padahal, dengan kepribadian budaya yang dimiliki bangsa ini, 
masyarakat seharusnya tidak perlu harus berhadap-hadapan, karena 
bisa melihat semua itu dengan jernih dan logis.

"Kita tahu kok mana yang disebut porno mana yang tidak, mari kita 
rumuskan, ini bangsa kita sendiri, negara kita sendiri, masyarakat 
sendiri. Yang penting tidak usah kita terus berkelahi mengapa begini 
begitu, mari kita gali, kita lestarikan dan kembangkan budaya kita 
sendiri," katanya ketika berpidato dalam pembukaan Kongres Alumni 
Gerakan Mahasiswa nasional Indonesia (GMNI), di Hotel Sahid, 
Jakarta, Jumat (24/3) sore. Pertentangan antara yang menolak dengan 
mengatasnamakan kebebasan atau hak dan yang mendukung dengan 
menyatakan semuanya harus berbusana tertutup, menurut Presiden 
Yudhoyono harus mencari titik temu yang logis dan pantas. 

Semuanya itu tidak terlalu rumit dan diyakini dapat diselesaikan 
karena bangsa ini memiliki kepribadian budaya yang luar 
biasa. "Jangan impor atau jangan cepat-cepat senang dengan budaya 
Amerika, Eropa Timur Tengah dan lain sebagainya, saya kira budaya 
Indonesia sudah sangat luar biasa," katanya.

Presiden Yudhoyono mencontohkan I La Galigo yang berasal dari 
Sulawesi Selatan (Presiden sempat salah menyebut berasal dari 
Sumatera Selatan) yang banyak dipentaskan di berbagai negara dan 
mendapat sambutan luar biasa. Belum lagi keanekaragaman budaya dan 
tradisi bangsa ini yang luar biasa. 

Presiden juga mengingatkan dunia yang terus mengglobal, menggila 
dalam tanda kutip, yang mau tidak mau harus dihadapi. Di situlah, 
katanya, peran penting nasionalisme kita berdasarkan Pancasila yang 
sudah teruji. Pancasila juga makin relevan menghadapi tantangan 
zaman, bukan ketinggalan seperti yang ditudingkan sementara kalangan.


Penolakan

Aksi penolakan masyarakat di daerah terhadap Rancangan Undang-undang 
Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) terus terjadi. Dewan 
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), 
akhirnya turut menyampaikan penolakan resminya pada Panitia Khusus 
(Pansus) RUU PA di DPR, Jakarta, Jumat (24/3).

"Kami telah menyampaikan surat pernyataan sikap resmi DPRD Provinsi 
Sulut pada Sekretariat Pansus RUU PA, yang isinya dukungan atas 
aspirasi masyarakat Sulut, serta merekomendasi penolakan RUU 
tersebut," kata Ketua Komisi C DPRD Sulut, Mieke Nangka.

Menurut Mieke, keputusan DPRD Sulut itu telah dikeluarkan sejak Rabu 
(22/3), bersamaan dengan terus meningkatnya gelombang aksi protes 
masyarakat Sulut, terhadap RUU yang dinilai meresahkan itu.

Beberapa organisasi masyarakat di Sulut, juga turut hadir dalam 
penyerahan sikap resmi DPRD Sulut itu, seperti Dewan Pengurus Daerah 
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Suara Parampuang, PARSI 
Sulut, serta beberapa perwakilan masyarakat. "Ada tiga rekomendasi 
yang disampaikan DPRD Sulut," kata Mieke. Pertama mendukung aspirasi 
tentang penolakan RUU APP. Kedua, melakukan pendidikan agama, moral, 
dan seksualitas kepada masyarakat umum guna mencegah pornografi dan 
pornoaksi.

Ketiga, tidak perlu dibuat UU baru, dan mengefektifkan pelaksanaan 
UU yang terkait, seperti UU Penyiaran, UU Pers, UU Pelindungan Anak, 
serta KUHP. "Negara tidak perlu mengatur tentang moral. Biarkan itu 
tumbuh dengan sendirinya, melalui pendidikan, dan pendalaman agama," 
ujarnya.

Ditambahkan Mieke, proses pembuatan RUU APP itu sendiri sangat 
bermasalah. "Sebuah RUU yang mengatur kehidupan seluruh masyarakat, 
harusnya disosialisasikan dulu. Tapi RUU ini tidak pernah 
disampaikan sama sekali ke DPRD tingkat provinsi Sulut sekalipun. 
Kami bahkan harus mendapatkan sendiri draft RUU itu melalui rekan 
kami di Jakarta," katanya.

Hal itu juga diakui anggota Pansus RUU APP dari Fraksi Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) Alfridel Jinu. "RUU ini 
memang terkesan dipaksakan segelintir pihak," katanya. Lebih jauh, 
Alfridel mengakui kesalahan fraksinya, yang tidak lebih awal 
menyadari kepentingan dibalik usulan pembahasan RUU APP.

"Kami mengakui ada kesalahan, tidak waspada saat RUU ini diusulkan 
untuk dibahas pada rapat Bamus (Badan Musyawarah) DPR. Pada saat 
itu, kami setuju RUU ini dibahas karena para pengusul meyakinkan, 
bahwa RUU ini hanya akan mengatur alat, tidak pernah disampaikan 
bahwa akan ada pasal-pasal meresahkan seperti sekarang ini," ujarnya.

Dikatakan Alfridel, maraknya aksi penolakan RUU oleh masyarakat, 
merupakan alasan kuat untuk memutuskan penundaan 
pembahasan. "Apalagi sekarang ini pemerintah daerah, pun, 
menyampaikan pernyataan resmi sikap menolak. 

Satu saja daerah menolak, maka RUU ini bila dipaksakan lolos, 
hasilnya cacat hukum. Apalagi ini bukan cuma satu daerah yang 
menolak," katanya. (Y-3/B-14)






--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> SBY dan kaum nasionalis: Mana yang benar, Kompas atau Republika?
>    
>   Saya postingkan artikel dari KOMPAS edisi (25/3/06) saat SBY 
berpidato di
> pembukaan Kongres Alumni GMNI. Yang aneh, kutipan pidato Presiden 
tersebut sungguh beda antara KOMPAS dan REPUBLIKA. 
>    
>   Berikut kutipan di KOMPAS:
>    
>   "Jangan cepat-cepat mengimpor budaya negara lain, seperti 
Amerika dan lain-lain. 
> Budaya kita sudah sangat luar biasa......."
>    
>   REPUBLIKA memajangnya di halaman depan dengan tajuk "Presiden:
> Jangan impor budaya lain", sedangkan KOMPAS di halaman dalam. 
KOMPAS
> memajang foto SBY sedang bercengkerama dengan Taufik Kiemas, 
REPUBLIKA tanpa foto. Saya nilai REPUBLIKA tak memenuhi unsur WHERE 
karena sama sekali tak disebut ucapan SBY itu pada acara apa dan 
dimana tergelar. Rasanya aneh kalau pembaca disuruh menebak-nebak 
sendiri.  
>    
>   Berikut kutipan dari REPUBLIKA:
>    
>   "Janganlah cepat-cepat mengimpor budaya lain, budaya Eropa, 
budaya Timur Tengah, budaya Amerika dan lainnya. Saya kira budaya 
Indonesia ini sudah sangat luar biasa........"
> 
>   Mana sesungguhnya kutipan yang benar, KOMPAS atau REPUBLIKA? 
Saya pribadi lebih suka  kutipan dari REPUBLIKA karena lebih lengkap 
dan rasanya adil karena menyebut budaya Timur Tengah segala. 
Maknanya, SBY ingin menohok kian maraknya budaya Timur Tengah di 
negeri ini, termasuk apa yang terkandung dalam RUU Porno dan Perda-
Perda unik yang muncul di berbagai daerah.   
--- deleted---





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke