Mbak Aris, ayo bangun dari tidur Untuk menmbangunkan Mbak Aris dari tidur nyenyaknya dan bunga-bunga mimpi tentang kekhalifahan Islam, mungkin tulisan dari Bung Muhammad Pragoto ini bisa sedikit mencerahkan.....
kita adalah manusia biasa, bukan wakil Tuhan di Bumi. Saya ambil dari milis ZAMANKU. From: "pragoto123" To: zamanku Sent: Friday, January 20, 2006 2:16 AM Subject: [zamanku] Bacaan Sehat : Sejarah berdarah-darah umat Islam KRITIK TERHADAP KONSEP NEGARA ISLAM. Sekaranglah saatnya saya memberikan argumen mengapa konsep negara Islam adalah sebuah konsep yang bukan saja tidak realistis tapi sangat tidak masuk akal. Ketika era new millenuim tinggal selangkah kedepan, ketika satu-satunya medium menuju sebuah kondisi masyarakat maju adalah dengan adaptasi teknologi, demokrasi dan menjadi pintar didalam persaingan global, pilihan menjadikan Indonesia sebagai negara Islam bukan saja suatu kemunduran dan malapetaka tapi lebih dari adalah sebuah kehancuran yang nyata. Jelas di benak para santri dan kyai arogan yang terlalu banyak membaca sejarah nabi tanpa mau mencoba mengerti, Negara Islam adalah suatu impian, suatu dambaan. Tapi bagi saya, mereka itu tidak lebih dari sekelompok utopis yang gampang terpesona. Sekumpulan manusia yang terlalu mengidol-idolkan sejarah kejayaan Islam. Mencoba membuat surga artifisial di bumi yang bernama "Islamicland" ingin menyaingi "Disneyland". Di kepala mereka, negara yang ideal adalah pemerintahan Islam seperti zaman Muhammad, atau zaman khalif-khalif sesudahnya. Tapi bila kita mencoba meneliti sedikit ke dalam sejarah, setiap kali Islam mencoba benegara yang selalu muncul adalah pertumpahan darah, kekuasaan haus darah, nepotisme, korup dan aniaya. Memang Islam pernah jaya dengan "knowledge-nya" seperti Ibnu Sina dengan teori "Canon-nya" yang dahsyat, yang menjadi standar medical standar text book di Europa selama 500 tahun. Memang Ibnu Rushd adalah sumber inspirasi philosopher terkenal seperti Thomas Aquinas dan Roger Bacon, tapi sesungguhnya kemajuan Islam itu beriringan dengan keterbukaan pemikiran orang muslim pada paham-paham agama dan budaya orang lain. Bukan original penemuan Islam sendiri. Referensi Ibnu Rushd atau Averroes adalah Aristoteles, Al Kharizmi, matimatikus yang terkenal dengan Al-Jabr nya itu mengadaptasi bilangan numeral dan desimal dari India. Jadi walaupun kita boleh berbangga dengan kemajuan Islam, seperti di angan-angan para utopis itu, kita harus mengakui Islam tidak akan pernah maju tanpa adaptasi, tanpa interaksi, tanpa belajar dengan bangsa dan agama lain. SEJARAH DARAH ITU. Memang Muhammad sebagai publik figur, pemimpin kharismatik yang berhasil menyatukan suku-suku di jazirah Arab. Dan memang dalam zaman dia bangsa Arab memasuki era pencerahan, berhala bertumbangan, paganisme dihapuskan, Ka'bah yang tadinya sebagai Mekkah pengikut paganisme polytheis dibersihkan dan dijadikan Mekkah umat Islam yang monotheis, Muhammad memberikan kesegaran baru, dan umat Islam jadi maju........... Tapi seperti sebuah simpul yang pecah, ketika Muhammad mati, umat Islampun mulai bertumbangan. Masing-masing saling berebutan kekuasaan, yang satu menamakan demokrasi, yang satunya lagi mendahulukan keturunan. Tidak heran 50 Tahun setelah kematian Muhammad, orthodoksi Islam mulai retak. Muawiyah, Gubernur Arab di Syria menolak Ali (kepokanan Muhammad) yang meminta hak untuk menduduki kalifah ke 4, Muawiyah mengambil khalif power itu sendirian, memindahkan pusat kekuasaan (ibu kota) dari Madina ke Damaskus dan membentuk dinasti Omyyad dan Ali tidak mau kalah mendirikan kekhalifaan saingan di Kufa, Irak. Ketika ketamakan dan arogansi kekuasaan tumbuh, maka timbul juga anarki dan pertumpahan darah. Ali mati terbunuh, Husain (cucu Muhammad) mati dipenggal Yazid (anak Muawiyah) dan kepalanya diarak terus dikirim ke Damaskus. Pengikut Ali yang tidak menerima penghinaan ini dan membentuk partisan bernama Shiah, memecahkan diri dari mainstream Islam (sunni) yang selamanya tidak akan pernah mengakui kepemimpinan khalip Sunni. Shiah sendiri juga mengalami keretakan dengan timbulnya aliran baru bernama Ismailis pada abad ke 11 dan 12. Kaum Ismailis inilah yang melancarkan teror dari pegunungan Persia dan Syria dengan membunuh sesama Islam, baik orang awam, jendral, ulama bahkan khalifah. Sebelum melancarkan kampanye pembantaian ini mereka terkenal selalu menggunakan "makanan surga" yaitu Hashis, akibatnya klik Ismailis ini dinamakan sebagai Hashshasin, atau pemakan hashis. Orang Barat mengambil kosa kata ini menjadi Assassin. Darah Islam berceceran oleh Islam sendiri, darah Usman yang mati terbunuh dalam mesjid. Darah Ali, Husain, Umar, darah di padang Karbala........ Bila Muhammad bisa menyatukan Jazirah Arab, bila Abu Bakar dapat melanggengkan kekuasan Islam dengan semangat represif (menekan suku-suku kecil yang ingin memisahkan diri dari kekuasaan Madinah) itu bukan berarti bahwa konsep negara Islam bisa diciptakan. Pada zaman itu peradaban jelas tidak serumit sekarang, undang-undang masih dibuat secara sederhana, Al-Quran memang secara garis besar banyak menyiratkan undang-undang, tapi Al-Quran itu lebih condong untuk memberi garis hukum pada peradaban gurun. Dan konsep negara jaman sekarang beserta hukum dan perundang undangannya jelas tidak bisa di jabarkan semua dalam Al-Quran. Konsep umat Islam yang selalu berkiblat pada Al-Quran, adalah sebuah konsep yang keliru menurut saya, karena Al-Quran adalah petunjuk, manusia yang mencari jalan. Al-Quran adalah peta, bukan sebuah destinasi........ Demokrasi barat yang telah universal, hak-hak asasi manusia yang telah universal, Trias Politika, hak bersuara, Pemilihan umum, Hukum pidana dan perdata, Hak Persamaan martabat wanita dengan laki-laki(Womans right) The Right of Man-nya Thomas Paine, Deklarasi Amerika yang berbunyi "We Declare that All men Created Equal" tidak ditemukan dalam Al-Quran, manusialah yang berpikir dan diajak berpikir untuk mencari jalan atas persoalannya sendiri. Membuat Al-Quran sebagai sumber segala-galanya adalah men-tuhankan Al-Quran, membuat Al-Quran sebagai undang-undang negara adalah kematian kreatifitas yang bertentangan dengan himbauan Tuhan pada manusia untuk selalu "berpikir". MEMANUSIAKAN MUHAMMAD. Jelas Muhammad adalah rasul, tapi dia bukan malaikat apalagi Tuhan. Kemunduran umat Islam umumnya adalah "kita" mempunyai kecondongan memuliakan, meng-idol-idolkan (berhala), menganggungkan Muhammad, semua doa dalam sholat, semua khutbah Jum'at selalu penuh dengan penggangung-agungan Rasulllah ini (utusan Allah). Perlu di ketahui bahwa Muhammad itu telah mati, dan dia itu manusia biasa (pesuruh yang diangkat Tuhan karena berkarakter terpuji). Tapi kebanyakan dari kita sebenarnya terlalu mengkultuskan Muhammad diatas segala galanya. Orang bisa menyumpahi Tuhan, di film barat "Yesus F....G Christ kata vulgar yang tidak jarang terdengar, comedian mencemooh Tuhan hampir tiap hari di televisi dan Koran. Stiker di mobil yang saya pernah baca tertera "F...K Yesus !" Teman sesama Muslim pernah mengeluh "Sialan Tuhan tidak pernah mengabulkan doa gue", ketika melirik nomor l California Lotto. Tapi seberani itu kita merendahkan Tuhan, setakut itu kita menyinggung Muhammad. Karena jauh didasar hati semua orang Islam, Muhammad itu adalah "kekasih Tuhan" yang kebesarannya nampak menyaingi Allah sendiri. Muhammad adalah manusia biasa, dia telah mati. Tapi di kuburannya di Madinah, ribuan orang menangisi makamnya dan berdoa meminta berkah, tidak jarang ada yang melemparkan kertas ke makam Rassuluhah yang berisikan surat cinta atau surat ngemis berkah, seolah Muhammad masih hidup dan punya kesanggupan untuk mengabulkan doa manusia.............. Muhammad adalah manusia biasa, yang punya kelemahan. Jika saya bisa bertemu dengan Muhammad misalnya, saya jelas akan banyak bertanya tentang banyak hal pada dia, misalnya tentang poligami, Al-Quran memberi hak pada laki laki untuk punya 4 Istri, tapi kenapa misalnya Hukum Allah itu tidak berlaku pada Muhammad sendiri (pada saat dia meninggal, istrinya berjumlah 11). Kenapa juga menikahi Zainab, Istri Zaid, anak angkatnya sendiri (ketika menyadari Muhammad mengingini Zainab, Zaid menceraikannya sebagai hadiah terhadap Muhammad). Mengapa Muhammad ketika menginjak usia 51 tahun masih mau mengawini Siti Aisyah yang masih berbau kencur 7 tahun, ketika hidup serumah dengan Muhammad usia Siti Aisyah 9 tahun. Ketika Muhammad meninggal dunia umur Siti Aisyah hanya 19 tahun. Saya juga ingin bertanya, mengapa ketika Rassululah tidak bisa menepati janji untuk berbuat adil terhadap istri-istrinya, walaupun telah muncul ayat dari Tuhan (untuk selalu berbuat adil), yang memberikan keringanan bagi nabi untuk melanggar janji? PENYEMBAH AGAMA Jelas saya tidak meragukan Muhammad sebagai rasul, tanpa dia kita tidak mengenal ajaran Islam, tanpa dia kita tidak tahu Allah itu apa? Muhammad sebagai politikus dan pemimpin juga tidak diragukan kepiawaiannya, ketika dia gagal menarik perhatian orang Yahudi dan Nasrani pada Islam dengan membuat Kiblat kaum Muslimin ke Majidil Aqsa, dan berpuasa. Secepat itu dia mengubah arah Kiblat ke Mekkah dan membuat puasa yang berbeda dari kaum Yahudi, sebuah manuver yang brilian...... Muhammad telah mati, warisannya adalah sisi baik kehidupan dan akhlaknya sehari-hari yang bisa dijadikan contoh, Al-Quran adalah suara Tuhan bukan suara Muhammad, dan kita kaum muslimin hendaknya lebih banyak menyembah Allah daripada menyembah Agama dan Muhammad. Sudah waktunya berhenti menyebut junjungan, kanjeng, dan mendoakan Muhammad secara over dosis. Seperti di setiap khutbah Jumat yang satu arah tanpa tanya jawab itu (khutbah Jumat jaman Rasulullah adalah tanya jawab yang topiknya bervariasi, dari strategi perang, rencana pembangunan proyek infrastruktur kota, sampai penyampaian ayat-ayat baru). Muhammad telah tiada dan dia adalah manusia "biasa", seperti kata Abu Bakar ketika menyadari kepergian Muhammad dia berteriak "Bila ada yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa sesungguhnya Muhammad sekarang telah mati, tetapi bila ada yang menyembah Allah, ketahuliah bahwa Allah itu hidup dan selamanya hidup". KESIMPULAN ITU. Pemimpi sistim negara Islam adalah penyembah Agama, yang dikuasai romantisme berlebihan terhadap Rassululah. Penyembah agama tidak sama dengan penyembah Allah. Orang yang menyembah Allah dalam diam akan mengagungkan sang Khalik tanpa pernik-pernik kolosal yang bernama "Islamic State". Selain sejarah yang berdarah-darah dari agama. Entah Sunni melawan Shiah, Islam melawan Nasrani, Protestant melawan Katolik dsb, Agama tidak pernah sanggup membawa kita kedalam peradaban maju, dan jelas juga negara maju............. Karena kebanyakan dari kita orang beragama sibuk dengan peta, tapi setelah itu tidak pernah berupaya melangkah mencari destinasi sendiri, kita terus menerus ketinggalan, karena sebenarnya kebanyakan dari kita adalah Religion Worshipper bukan penyembah lurus ke Tuhan.......... sumber: milis zamanku *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

