Ponpes Peradaban Berskala Dunia
Mahad Al-Zaytun, sebuah model pondok pesantren
modern, berskala internasional. Sebuah kampus
peradaban terpadu, pesantren spirit but modern system,
yang diharapkan bisa mempersiapkan peserta didik agar
sanggup, siap dan mampu untuk hidup secara dinamis di
lingkungan negara bangsanya dan tatanan masyarakat
antarbangsa dengan penuh kesejahteraan dan kebahagiaan
duniawi dan ukhrowi.
Sebuah kampus yang bertujuan mempersi-apkan peserta
didik untuk beraqidah yang kokoh kuat terhadap Allah
dan Syariat-Nya, menyatu di dalam tauhid, berakhlaq
al-karimah, berilmu pengetahuan luas dan
berketerampilan tinggi (menguasai science & technology
dengan segala perkembangannya) yang tersimpul dalam
basthotan fil ilmi wal jismi.
Dalam konsep Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
pemimpin Mahad Al-Zaytun, pendidikan itu haruslah
mengekspos segala kegiatan umat manusia, baik itu
ekonomi, energi, environment dan lain-lain.
Menurutnya, Indonesia harus masuk dalam zone of peace
and democracy jika ingin menjadi negara yang beradab
dan bermoral di muka bumi ini bersama-sama dengan
negara-negara lain.
Mahad Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Zaytun (Mahad
Al-Zaytun), ini memang dimeteraikan dengan visi dan
misi sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya
Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian. Di
setiap pintu masuk kampus ini terpampang serangkaian
kalimat itu. Kalimat yang menghadirkan kejernihan
pikiran dan perasaan tenteram bagi setiap orang yang
datang. Sekaligus sebagai undangan terbuka bahwa
kampus ini terbuka untuk dikunjungi semua kalangan
baik dari kalangan agama, bangsa, suku maupun
golongan. Kata Zaytun itu sendiri adalah nama sebuah
pohon yang umurnya terpanjang di dunia. Pohon ini
sering dipakai sebagai simbol perdamaian.
Namun, sungguh banyak informasi yang kontroversial,
baik yang positif maupun yang negatif, mengenai
keberadaan Mahad Al-Zaytun ini. Banyak orang yang
sering menduga-duga dan berprasangka buruk padahal
belum melihat dan merasakan kenyataan yang sebenarnya
ada di kampus ini. Redaksi TokohIndonesia DotCom, juga
menerima beberapa surat yang menilai positif dan
negatif kampus ini, termasuk pribadi tokoh pemimpinnya
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang.
Guna menghindari terjebak dalam praduga, apalagi
praduga negatif, Tim Wartawan Tokoh Indonesia DotCom
(Ensiklopedi Tokoh Indonesia) yang juga menerbitkan
Majalah Tokoh Indonesia, berkesempatan mengunjungi
Mahad ini, sehari penuh, Kamis 19 Februari 2004.
Tadinya direncanakan sekadar wawancara dengan Syaykh
Abdussalam Panji Gumilang. Namun oleh salah seorang
stafnya, Abdul Halim, yang menyambut kehadiran
Wartawan Tokoh Indonesia, menyarankan jauh lebih baik
meninjau secara langsung semua gedung, lahan dan
aktivitas yang ada di mahad ini, sebelum wawancara.
Jadilah peninjauan langsung dilakukan, mulai dari
bangunan masjid, gedung pembelajaran, klinik,
laboratorium, workshop, asrama putera dan puteri,
bahkan sampai ke kamar tidur, ruang makan, dapur,
penyimpanan makanan, sampai ke lahan pertanian dan
peternakan. Pada setiap tempat yang dikunjungi
dilakukan dialog dengan para santri, mahasiswa, staf
dan karyawan secara spontan dan terbuka, transparan.
Di samping adanya penjelasan rinci dari Abdul Halim,
yang setia mendampingi.
Sungguh susah mengungkapkan kalimat yang cukup bisa
menggambarkan keberadaan Mahad Al-Zaytun ini. Selepas
melakukan peninjauan yang kemudian disusul wawancara
dengan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, malam
harinya, Tim Wartawan Tokoh Indonesia bersepakat
menyebut Mahad Al-Zaytun ini sebagai pondok pesantren
(kampus) peradaban berskala dunia.
Laporan pandangan mata ini, disadari sangat terbatas
menggambarkan keberadaan kampus ini, yang juga pantas
disebut sebagai laboratorium peradaban. Di kampus ini,
konsep pendidikan sebagai gula, sebagai inti
peradaban, sungguh terwujudkan.
Mahad Al-Zaytun dihuni lebih dari 12 ribu orang,
terletak di sebuah kawasan yang jauh dari keramaian
kota, Desa Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis, Dati II
Indramayu, menempati tanah wakaf dari berbagai
kalangan Ummat Islam Indonesia, seluas 1.200 hektar,
200 hektar dipergunakan sebagai sentra
pendidikan/kawasan Kampus Mahad Al-Zaytun, sedang
sisanya 1.000 hektar dipergunakan sebagai sarana
pendukung pembelajaran di berbagai bidang, antara
lain, aquakultur/perikanan, hortikultur, industri
makanan ternak, unit peternakan, industri kecil dan
lain lain.
Ibarat melihat satu rumah tangga besar yang relijius,
sekaligus ibarat melihat sebuah perkampungan modern,
kawasan pendidikan terpadu, kawasan pertanian dan
industri terpadu, sebuah kampus peradaban, manakala
berada di Mahad Al-Zaytun, Indramayu ini. Suasana
yang nyaman, tenang, penuh keakraban dan persahabatan,
sangat jauh dari bau perkelahian, bau iri dan dengki,
maupun suara politik. Yang ada hanya suara pendidikan,
budaya toleransi dan perdamaian. Suasana aktivitas
para santri, para guru dan para tenaga karyawan
membuat suasananya terasa di kota kecil modern
bernuansa desa. Suasana yang membuat hati para santri
dan setiap orang yang mengunjunginya semakin lekat di
sana.
Belasan ribu orang setiap harinya berkegiatan di
Mahad ini. Di antara gedung-gedung yang berdiri kokoh
tumbuh subur pula berbagai jenis pohon, jati, tien dan
zaytun. Di dalam kompleks kampus ini terhampar
berbagai tanaman dan tumbuhan nan hijau yang
menyejukkan. Pembangunan gedung pun masih terus
dilaksanakan beriringan dengan penanaman rumput maupun
kentang manis untuk pakan sapi, kemudian kotoran
ternak itu diolah jadi pupuk organik yang digunakan
untuk berbagai tanaman, padi, sayuran dan lain-lain.
Begitu sempurnanya sistem yang dibangun di sana
sehingga membentuk siklus seolah satupun tidak ada
yang tidak berguna, melainkan mendukung satu dengan
yang lainnya. Suasana ini menggambarkan satu rumah
tangga besar yang dikepalai seorang ayah yang bijak.
Pembangunan Mahad Al-Zaytun ini dimulakan pada tarikh
13 Agustus 1996, yang merupakan usaha unggulan Yayasan
Pesantren Indonesia. Sedangkan Yayasan Pesantren
Indonesia digagas pada tarikh 01 Juni 1993 bertepatan
dengan Hari Raya Idul Adlha 10 Dzu Al-Hijjah 1413 H
dengan akta pendirian tertarikh 25 Januari 1994 No.61
oleh notaris Ny. Ii Rokayah Sulaeman SH, beralamat di
Desa Mekarjaya Kecamatan Haurgeulis Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat. Pembukaan pembelajaran
dilaksanakan pada tarikh 01 Juli 1999 dan peresmian
keberadaannya pada tarikh 27 Agustus 1999, oleh
Presiden Prof. Ing. B.J. Habibie.
Hingga saat ini, 4 gedung pembelajaran yang sudah
selesai dibangun adalah Gedung Abu Bakar Al-Shiddiq,
Gedung Umar Ibnu Khaththab, Gedung Utsman Ibnu Affan,
Gedung Ali bin Abi Thalib, diambil dari nama sahabat
Nabi. Dua gedung lagi sedang dalam proses pembangunan
yakni Gedung Jenderal Besar H.M. Soeharto, dan Gedung
DR. Ir. Ahmad Soekarno.
Sedangkan gedung asrama yang sudah selesai dibangun
adalah Gedung Al-Mushthofa, Gedung Al-Fajr, Gedung
Al-Nur, Gedung Al-Madani, Gedung Persahabatan, Gedung
Syarifah Hidayatullah. Direncanakan 12 unit gedung
asrama akan dibangun di kampus ini.
Selain gedung pembelajaran dan gedung asrama serta
fasilitas pendukungnya, juga ada Gedung Perkuliahan
Serba Guna yang diberi nama Gedung Tan Sri Dato
Ismail Hussein. Gedung ini diperuntukkan bagi
perkuliahan Mahasiswa Program Pendidikan Pertanian
Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik Terpadu
(P2T2), dan Program Pendidikan Bahasa-Bahasa Terpadu
(P2BT) Mahad Al-Zaytun, serta kantor redaksi Majalah
Al-Zaytun.
Selain itu terdapat juga sarana olahraga seluas 26 ha,
terdiri dari 3 blok, dua blok di arena pembelajaran
yang masing-masing seluas 6,5 ha, 1 blok di sebelah
utara dengan luas lahan 13 ha. Sarana olahraga di
arena pembelajaran sebelah timur dilengkapi dengan
sebuah lapangan sepak bola lengkap dengan track
atletik dengan standar internasional yang diberi nama
Lapangan Sepak Bola Palagan Agung.
Direncanakan akan dibangun 2 buah kolam renang (putra
dan putri), 2 buah gedung olahraga (putra dan putri)
dan sebuah gedung kesenian. Sarana olah raga di arena
pembelajaran sebelah barat dilengkapi dengan 6
lapangan sepak bola untuk pelatihan sehari-hari,
kemudian lapangan hockey, lapangan basket, dan
lapangan volley. Sarana olahraga di sebelah utara
arena pendidikan direncanakan dengan sarana dan
prasrana olah raga yang lebih lengkap dan lebih besar
yang dapat difungsikan untuk kegiatan-kegiatan olah
raga yang bertaraf internasional di masa depan.
Menurut rencana, Mahad Al-Zaytun mempersiapkan 24
gedung masing masing 5-6 lantai dengan kontruksi baja
yang sangat memadai sehingga mampu bertahan terhadap
kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, seperti
gempa bumi dan lain sebagainya. 12 gedung
diperuntukkan untuk asrama santri/mahasiswa, sedang 12
lainnya untuk gedung pembelajaran.
Juga direncanakan pembangunan bertahap gedung
Perkhidmatan Kesihatan, berupa hospital di sebelah
selatan arena pendidikan dengan luas lantai 22.000 m2.
Rumah sakit ini direncanakan sebagai sarana pendukung
untuk fakultas kedokteran yang akan dikembangkan
kemudian.
Saat ini telah dioperasikan perkhidmatan kesihatan
dengan mengambil tempat lantai dasar bangunan
pembelajaran Umar Ibnu Khaththab. Berfungsi memberikan
pelayanan kesihatan kepada seluruh santri para guru
dan civitas Mahad lainnya serta masyarakat sekitar.
Khusus masyarakat di tiga desa yang telah
berpartisipasi dalam pengadaan lahan wakaf diberikan
konsultasi kesihatan secara cuma-cuma.
Luar Biasa
Kalimat lain yang tepat untuk menggambarkan Mahad
Al-Zaytun, adalah satu kalimat singkat: Luar biasa!
Lokasinya tidak terlalu sulit dijangkau karena sudah
didukung oleh sarana jalan dan transportasi yang
memadai. Dibutuhkan kira-kira 3,5 jam perjalanan darat
dengan menggunakan mobil dari Jakarta.
Di setiap pintu masuk kampus ini terpampang
serangkaian kalimat: Mahad Al-Zaytun Pusat
Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta
Pengembangan Budaya Perdamaian. Beberapa pos satpam
berjejer setiap beberapa ratus meter untuk memantau
dan menjaga keamanan dalam kampus. Penjagaannya cukup
rapi dan terkoordinir. Setiap pengunjung baik
undangan, tamu atau pers akan didata dan dilayani
sebaik-baiknya.
Setelah melewati beberapa pos satpam, pengunjung atau
tamu bisa mampir ke wisma tamu AI-Ishlah yang cukup
megah. Bangunan ini ditempatkan di sebelah selatan
Masjid AI-Hayat dengan luas lantai 7.600 m2, bangunan
lima lantai, dengan 150 kamar tidur tamu dan
dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti; coffee
shop, meeting room, dan pendukung lainnya.
Suasana wisma tamu yang dibangun 1 Juli 1999 dan
selesai 27 Oktober 2001 ini tidak berbeda jauh dengan
suasana hotel-hotel berbintang di Jakarta. Mulai dari
lobi hotel, coffee shop, meeting room sampai restoran
didisain sedemikian rupa sehingga sungguh menunjukkan
kesan modern yang tertata apik. Petugas penerima tamu
dan pelayan restoran pun kompak menggunakan seragam
yang menyiratkan kesungguhan dan profesionalisme dalam
melakukan tugasnya.
Tidak jauh dari wisma tamu ini, berdiri Masjid
Al-Hayat yang dibangun di atas tanah seluas 5.000 m2
dengan tiga lantai yang dapat menampung kurang lebih
7.000 jamaah. Masjid Al-Hayat adalah pusat kegiatan
seluruh penghuni Mahad Al-Zaytun dari subuh sampai
dengan Isya, dan para pengunjung Mahad Al-Zaytun
akan melihat kegiatan sholat berjamaah dan tadarrus
Al-quran yang dilakukan oleh seluruh penghuni Mahad.
Masjid ini mulai dibangun 1 Januari 1999 dan selesai
Juni 1999.
Di masjid inilah setiap hari Jumat Syaykh AS Panji
Gumilang memberikan pengarahan khasnya kepada para
santri dan seluruh penghuni kampus, dan merupakan
acara khusus yang sangat menarik dan selalu
mendapatkan respons dari jamaah Sholat Jumat. Syaykh
selalu memberikan tekanan agar kelak para santri mampu
berkiprah dalam kemandirian, dan sanggup mewarnai
kehidupan masyarakat sekelilingnya.
Di kampus ini mereka dilatih dan dibiasakan hidup
berdisiplin dan beribadah dalam tradisi kepesantrenan,
namun hidup dalam suasana modern. Seperti misalnya,
ruang tidur yang representative, cara berpakaian yang
rapi dan sikap-sikap yang sopan dan gentle. Oleh sebab
itu, janganlah heran bila mendapati para santri duduk
dalam masjid dengan pakaian yang sangat rapi, seperti
memakai jas dan dasi.
Pesatnya pertambahan jumlah santri dan penghuni Mahad
Al-Zaytun menyebabkan Masjid Al-Hayat sudah tidak
mampu lagi memuat jamaah, baik pada hari-hari biasa
maupun Jumat. Oleh sebab itu, Mahad Al-Zaytun kini
sedang membangun sebuah masjid besar yang diberi nama
Masjid Rahmatan Lil-Alamin yang berdiri di atas
tanah 6,5 hektar, berlantai 6 (enam), yang dapat
menampung 150.000 jamaah. Masjid yang akan rampung
dibangun dalam waktu 1.000 hari ini memerlukan biaya
kurang lebih 14 Juta dollar Amerika atau Rp 100 milyar
lebih. Menurut rencana, setelah Masjid Rahmatan lil
Alamin digunakan, Masjid Al-Hayat akan difungsikan
untuk perpustakaan Mahad Al-Zaytun.
Semua bangunan di Mahad Al-Zaytun, gedung seperti
asrama, masjid dan sebagainya, menggunakan konstruksi
baja. Khusus untuk keperluan ini Mahad Al-Zaytun
memiliki pabrik pengolahan besi dan beton. Semua
proses pengadukan semen, persiapan kerangka bangunan
dan sebagainya dikerjakan dan diusahakan secara
mandiri di pabrik ini.
Fasilitas Pendidikan
Decak kagum dan perasaan terkesan semakin kuat ketika
mengunjungi gedung pembelajaran dan asrama para
santri. Setiap gedung pembelajaran diperuntukkan bagi
1.500-1.700 orang santri dan atau mahasiswa, masing
masing ruang kelas berukuran 12 x 8 meter persegi
untuk 36 santri maksimal, dilengkapi dengan fasilitas
pembelajaran modern dan perpustakaan kelas, untuk
memudahkan proses pembelajaran, termasuk audio visual
aids.
Informasi pribadi dan prestasi para santri tersimpan
rapi dalam database yang diprogram khusus sesuai
kebutuhan administrasi pendidikan di Mahad Al-Zaytun.
Setiap gedung pembelajaran dan asrama disediakan
sebuah komputer khusus untuk meng-input data dalam
jaringan LAN dengan pengamanan data yang sangat baik.
Dengan adanya konektivitas komputer dan database
informasi para santri, guru dan orang tua murid bisa
memperoleh informasi secara cepat dan real-time
tentang para santri yang diinginkan. Informasi seperti
biodata, prestasi, nilai, wali kelas, teman-teman
sekelas hingga masalah/kasus yang pernah dihadapi
betul-betul terintegrasi penuh dan disimpan selama
santri bersekolah. Katakanlah seorang santri
bersekolah selama enam tahun, maka semua informasi
tentangnya dicatat secermat mungkin mulai dari tahun
pertama hingga tahun ke enam.
Pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dalam
mengatur manajemen pendidikan di Mahad Al-Zaytun
sudah menjadi keharusan. Sebab setiap tahunnya,
pertumbuhan santri baru semakin pesat. Menurut data
terakhir tahun 2003, Mahad Al-Zaytun berhasil
menyerap 7.329 santri, di mana santrinya berasal dari
berbagai provinsi di Indonesia termasuk mancanegara
seperti Malaysia, Singapura, Timor Lorosae, Australia,
Kamboja, dan Afrika Selatan.
Untuk merekrut santri dan mahasiwa, Mahad Al-Zaytun
mempunyai perwakilan/representative di semua propinsi
di Indonesia, termasuk di Malaysia barat/timur, yang
juga berstatus sebagai public relation staffs Mahad
Al-Zaytun.
Setiap orang tua yang menginginkan anak-anaknya
sekolah di Mahad Al-Zaytun harus menyiapkan dana
partisipasi sebesar 3.000 dolar atau sekitar Rp 24
juta. Sekali bayar untuk pendidikan selama enam tahun.
Dengan dana partisipasi ini para santri mendapatkan
hampir semua kebutuhan selama menjalani pendidikan,
mulai dari konsumsi makan dan minum, pakaian seragam
sekolah, asrama penginapan, buku teks pelajaran
berdasar kurikulum yang berlaku, tanpa dipungut SPP,
uang gedung, dan uang bangku selama enam tahun.
Setiap santri dan orang tua juga dibekali kalender
pendidikan untuk masa pendidikan selama enam tahun.
Dengan adanya kalender ini, santri dan wali santri
dapat mengetahui secara pasti hari-hari libur dan
kegiatan akademik hingga enam tahun ke depan.
Dalam kegiatan belajar mengajar, setiap santri belajar
berdasarkan penggabungan tiga kurikulum yaitu
Kurikulum Diknas tahun 1994, Kurikulum Departemen
Agama, Kurikulum Muatan Lokal berupa Tahfidh Quran
dan Bahasa. Dengan adanya penggabungan kurikulum ini
diharapkan para lulusan Mahad Al-Zaytun akan
menguasai Al-Quran secara mendalam, terampil
berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa antarbangsa
yang dominan, berpendekatan ilmu pengetahuan,
berketerampilan teknologi dan fisik, berjiwa mandiri,
penuh perhatian terhadap aspek dinamika kelompok dan
bangsa, berdisiplin tinggi serta berkesenian yang
memadai.
Jadual kegiatan santri setiap hari sudah dimulai sejak
persiapan dan shalat subuh dan tahfidz Quran pukul
04.00-05.15. Dilanjutkan kegiatan olahraga pagi,
pembelajaran sesi I s/d VI dan kegiatan lainnya sampai
pukul 22.00. Termasuk pelatihan muhadloroh (pidato
tiga bahasa), pelatihan kepanduan dan prakarya.
Di samping mendapat pendidikan formal, para santri
juga bisa memperdalam ilmu dan keahliannya dalam
berbagai bidang mulai dari seni, olahraga, komputer
dan sebagainya. Misalkan saja, untuk memberikan bekal
kemampuan IT standar yang diakui keberadaannya oleh
dunia internasional bagi para santrinya, AGICT
(Al-Zaytun Global Information and Communication
Technology) bekerja sama dengan ICDL (International
Computer Driving License) yang berkedudukan di United
Kingdom. Pada bulan Januari 2003, AGICT mendapatkan
akreditasi ICDL sebagai test centre yang pertama di
seluruh kawasan Indonesia.
Kursus ini berlangsung selama 9 bulan efektif untuk 3
level yakni Basic, Intermediate dan Advance. Peserta
kursus akan memperoleh berbagai fasilitas seperti
Laboratorium komputer yang terhubung dengan LAN dan
spesifikasi komputer terbaik dengan aplikasi terkini,
ruangan kelas eksklusif ber-AC dilengkapi dengan sound
system serta projector, setiap komputer untuk satu
orang, skills card untuk melaksanakan test ICDL dan
mendapat sertifikat ICDL yang bertaraf internasional.
Khusus untuk program pendidikan terpadu, setiap
mahasiswa alumni akan langsung dikaryakan. Misalkan
saja, alumni Program Pendidikan Pertanian Terpadu
(P3T) langsung dikaryakan untuk mengelola lahan di
Mahad Al-Zaytun dan menangani koperasi simpan pinjam
yang bekerjasama dengan masyarakat desa sekitar Mahad
Al-Zaytun, serta memberikan penyuluhan untuk
peningkatan hasil pertanian masyarakat desa sekitar.
Dalam waktu dekat, Mahad Al-Zaytun akan mendirikan
Mahad Asas di setiap Propinsi di Indonesia, yang
menyelenggarakan pendidikan dasar modern, dan
dirancang sebagai resources utama santriwan/wati
Mahad Al-Zaytun di kemudian hari. Mahad Asas pertama
yang kini sedang dalam proses pembangunan adalah
Mahad Asas di Dati II Subang dan Dati II Gresik.
Proses pembelajaran dilakukan dengan mengguna-kan
bahasa Indonesia, akan tetapi ada beberapa mata
pelajaran yang diberikan dalam bahasa Arab dan
Inggris.
Asrama
Para santri tinggal di asrama (Residence Halls) yang
sudah disediakan. Pada setiap gedung asrama terdapat
170 ruang berukuran 72 meter persegi yang dihuni oleh
10 orang santri/wati atau mahasiswa, ruangan ini
dilengkapi dengan almari pakaian, meja meeting, tempat
tidur beserta kasur (dari bahan pilihan) untuk 10
orang, kamar mandi dan toilet 3 units, perpustakaan
kamar berisi buku-buku wajib.
Gedung asrama didukung oleh berbagai fasilitas yang
terdiri dari rumah makan, kitchen, dan laundry. Untuk
setiap unit asrama memiliki ruang makan dengan
kapasitas 2.000 santri makan sekaligus dan sudah
dibangun tiga buah ruang makan. Gedung serba guna yang
diberi nama Gedung Al-Akbar terdiri dari 2 lantai
bangunan. Lantai 1 untuk 3 ruang makan santri yang
disatukan dan lantai 2 untuk ruangan serba guna.
Kitchen dan laundry dengan bangunan masing-masing
1.200 m2 dilengkapi dengan peralatan yang modern.
Barangkali sebagai sebuah pesantren, Mahad Al-Zaytun
adalah satu-satunya pesantren yang mempunyai fasilitas
kitchen dan laundry sets seharga 1 juta dollar, yang
mampu menampung kebutuhan khusus untuk itu, bagi 12
ribu lebih penghuni Mahad Al-Zaytun. Peralatan modern
tersebut dibeli dari ElectroLux Swedia, dan merupakan
satu satunya peralatan termodern yang pernah
dipasarkan oleh ElctroLux di Indonesia.
Selama bersekolah dan tinggal di asrama, para santri
harus menaati peraturan-peraturan yang sudah
ditetapkan. Selama jam sekolah tidak diperkenankan
seorang pun berada di asrama. Masuk jam
istirahat/makan snack, para santri tidak perlu ke
kantin sebab setiap kelas sudah disiapkan snack-nya
masing-masing. Begitu pula pemberlakukan jam malam.
Selepas jam 10 malam, semua lampu kamar asrama harus
dimatikan dan para santri beristirahat.
Dengan adanya peraturan ini, para santri menjadi
tertib dan tidak berkeliaran. Untuk mengantisipasi
adanya penyalahgunaan narkoba, setiap santri yang
ingin keluar dari atau masuk ke Mahad Al-Zaytun
diharuskan mengikuti tes narkoba. Apa-bila didapati
hasilnya positif mereka akan dipulangkan atau
dikeluarkan dari Mahad Al-Zaytun. Di samping itu,
Mahad Al-Zaytun juga tidak mengijinkan semua penghuni
untuk merokok. Syarat tidak merokok ini menjadi salah
satu syarat yang diberlaku-kan untuk semua santri dan
karyawan bahkan pengunjung. Area bebas rokok adalah
salah satu ciri khas Mahad Al-Zaytun.
Tujuan Wisata
Pada usianya yang belum genap lima tahun sebagai
lembaga pendidikan formal, Mahad Al-Zaytun telah
menjadi salah satu tujuan ziarah (wisata). Boleh
dikatakan bahwa tak satupun Pondok Pesantren di
Indonesia, yang mampu berfungsi sebagai pusat tujuan
wisata seperti halnya Mahad Al-Zaytun.
Data statistik yang dihimpun, menunjukkan angka
557.074 wisatawan domestik dan 753 wisawatan
internasional yang berkun-jung ke Mahad Al-Zaytun,
sejak diresmikan oleh mantan Presiden RI Prof Dr Ing
BJ Habibie Agustus 1999 sampai dengan Juni 2000. Pada
hari-hari libur seperti Sabtu, dan Ahad serta
hari-hari besar Republik Indonesia, pengunjung
biasanya lebih dari rata-rata hari biasa, yakni
1.500-3.000 pengunjung.
Mereka terdiri dari berbagai lapisan masyarakat
seperti para guru besar, mahasiswa, siswa/santri,
anggota perkumpulan ibu-ibu di kantor-kantor
pemerintah, jamaah pengajian, sampai dengan kehadiran
beberapa pejabat dari mancanegara, antara lain dari
Palestina, Yordania, Arab Saudi, dan tentu saja
pengunjung Malaysia termasuk duta besarnya.
Termasuk di dalamnya berbagai tokoh nasional baik
sipil maupun militer, misalnya Abdullah Mahmud Hendro
Priyono, Adi Sasono, para tokoh mantan pejabat Orde
Baru, misalnya Haji Harmoko, Jenderal Syarwan Hamid,
Dr. Saadillah Mursyid, Dr Hayono Suyono, Haji Ismail
Saleh, Ir. Akbar Tanjung dan beberapa tokoh Golkar
lainnya. Bah-kan terdapat beberapa gedung dan
fasilitas pembelajaran lainnya yang diberi nama dengan
nama-nama tokoh Golkar, misalnya gedung Olahraga
Al-Akbar, Palagan Agung (Drs. Agung Laksono).
Konstribusi Mahad Al-Zaytun terhadap masyarakat desa
Mekarjaya juga menjadi prioritas utama. Antara lain
dengan membangun balai desa Mekarjaya, membangun jalan
dengan kualitas yang sama dengan yang ada di dalam
kampus sepanjang 5 km, dan penertiban adminis-trasi
pemerintahan desa Mekarjaya. Di samping itu, Mahad
setiap bulan mem-berikan sumbangsihnya kepada negara
berupa pajak PPN setidaknya sejumlah antara Rp.1-2
milyar. ►atur-juka-crs
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/