--- In [email protected], "Samsul Bachri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > SB : Mari kita bicara dalam koridor demokrasi. Dan saya tidak sedang berkeinginan mengubah dasar negara. Hal itu tidaklah menjadi sesuatu yang penting, karena saya tetap mendukung falsafah Pancasila dan UUD '45. Saya juga mendukung keutuhan NKRI. Tapi Pak, ketika nanti dakwah telah berhasil dengan jalur demokrasi yang telah ada, dan mampu menjadikan kehidupan menjadi Islami, tak pelak, saat itulah subtansi syariat dengan sendirinya akan berlaku untuk orang-orang Islam tentunya. Dan tak ada masalah dengan ideologi negara Pancasila maupun UUD'45. Tak ada masalah dengan penganut agama lain, karena mereka akan dilindungi juga. Apakah dengan demikian, masih relevankah untuk mewaspadai "pelaksanaan" syariat? Hatta itu telah dimajukan lewat sebuah proses yang demokratis sekalipun? Jadi dimana demokrasi itu sendiri?
DH: You got the point. Membuat manusia Muslim dinegara kita lebih islami, adalah suatu upaya yang luhur. saya juga menghargai umat Kristen yang benar benar kristiani, tidak sekedar menjalankan ibadah gereja, namun diluar gereja tidak lagi menjunjung solidaritas sosial, ikut ikut korupsi, dll. Untuk apa beragama bukan? Substansi masyarakat berlaku bagi tiap umat Islam, adalah baik dan luhur, apalagi kalau untuk memenuhi perintah syariat, tak dibutuhkan kekuatan negara dalam bentuk polisi atau semacam itu, namun dari kepasrahan diri terhadap Allah. Excellent. Tentu saja, dalam jalur demokrasi, kita berpeluang menaikkan mutu kehidupan manusia. ------------------ SB: Nah, ketika syariat bisa diberlakukan dengan cara2 yang demokratis, justru pertanyaannya adalah bisakah para founding father demokrasi itu sendiri menerima nilai2 Islam? Jika tidak, maka sesungguhnya demokrasi tidaklah sedemokratis yang kita bayangkan selama ini. Atau bisa jadi demokrasi adalah sesuatu yang semu, yang sadar atau tidak, sesungguhnya kita telah dialfakan oleh kisah keterbukaannya yang toleran, yang sesungguhnya adalah tidak ada. Salam, samba DH: saya kira para founding fathers yang Islam pasti dapat menerima nilai nilai Islam, why not? Selama nilai nilai ini diwujudkan dengan damai tanpa membenturkannya dengan konstitusi negara. Founding fathers yang beragama lain tentu saja menerima nilai nilai akidah mereka. Masak seorang pemimpin yang beragama Hindu Bali disuruh menerima nilai islam yang tak dikenalnya? mereka merayakan Hari raya Nyepi dan bukan Idul Fitri, bukan? Demokrasi artinya, pemerintahan oleh rakyat. Bukan kekuasaan raja atau penguasa agama. Jadi, ya masak mungkin semu? kalau demokrasi itu tidak demokratis ya namanya bukan demokrasi. ya kan? Salam danardono *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

