Maaf cross-posting, tapi tulisan Sdri Becky Khoo ini cukup menarik. http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/message/43956
From: "BECKhoo" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sat Apr 1, 2006 2:07 pm Subject: Tutup SeA & SwP SLOC - Re: Cartoon; Don`t take this the wrong way rebeccakhooid --- In [email protected], "rene chan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Cartoon ini sebetulnya jawaban cartoon yg beredar di harian Jkt > kemarin, so....... what next??? Low class. Sama untastefulnya dengan kartun Nabi oleh Danish teller kebanyakan keju busuk kemarin. Memang jangan diharapkan ada kualitas seperti Ranan Lurie di down under. > Ini baru masuk pagi tadi........ yg mo asah golok belon telaat koq:):) Tidak perlu asah golok. Sudah cukup banyak orang Indonesia yang pinter kok, dan mikir dulu sebelum berkomentar tidak seperti Wapresnya. Contohnya Kompas Sabtu, 1 April 2006 tadi, ada tulisan bernas dari Direktur Kajian Australia Reni Winata berjudul 'Australia dan Suaka Politik Papua'. Idenya adalah ketimbang kita mencak2 dan menggunakan bahasa diplomasi basi yang selalu kita pakai yaitu menarik Dubes, menutup KBRI dan sejenisnya - lebih baik kita melakukan sesuatu yang benar2 akan menyakiti Australia. Tutup akses Southeast Asian & Southwest Pacific SLOC alias SeA & SwP SLOC. Apa itu SLOC ? SLOC adalah Sea Lines of Communication. Biar para Ozphile dan kelompok yang tinggal di Indonesia tapi selalu melecehkan negeri sendiri sembari pro-Barat membabi-buta (dan Oz termasuk 'barat' walaupun letaknya di 'timur') mengerti; biar saya jelaskan sedikit. Di dunia ini, commercial trade memiliki 8 titik vital perdagangan yang lazimnya disebut sebagai Maritime Chokepoint. Ke delapan titik itu adalah : 1. Gulf of Mexico-Caribbean Sea (Panama Canal), 2. North Sea-Baltic Sea, 3. Mediterranean-Black Sea, 4. Western Indian Ocean (Suez Canal), 5. Southeast Asian Seas with the Malacca and Lombok Straits, 6. Northeast Asian Seas with SLOCs important for access to Japan, Korea, China, and Russia, 7. Southwest Pacific important SLOC access to Australia dan 8. Arctic Ocean with the Bering Strait. Posisi Indonesia, dilalui oleh 2 SLOC yaitu di Southeast Asian Seas dan Southwest Pacific dari 8 Maritime Chokepoint tersebut, sementara 1 SLOC lainnya (Northeast Asian Seas) hanya dapat dicapai kapal dari Australia melalui 2 SLOC di atas. Dan 80% perdagangan (goods transfer) di dunia ini, termasuk ke dan dari Australia, adalah ocean-bound. Quote dari Sir Walter Raleigh : "Whosoever commands the sea commands the trade; whosoever commands the trade of the world commands the riches of the world, and consequently the world itself." Mentalitas semacam inilah yang menjadikan maritim Inggris berkembang pesat diikuti dengan colonialism di dunia baru yang mereka temukan. Di zaman ini dengan absennya imperialism dimana neo imperialism sudah tidak dalam bentuk bule dengan kapal bermeriam - diplomasi perdagangan tergantung kepada kemampuan diplomat kita dan pengambil keputusan di Jakarta. Apa akibatnya bagi Australia jika akses SLOC tersebut ditutup ? 1. Energy Crisis Australia punya cadangan minyak 3.5 milyar barrel, tapi semua itu di offshore - di Bass Strait dan Carnavorn Basin yang biaya eksplorasinya terlalu tinggi. Penduduk dan industri Australia mengkonsumsi minyak 880,000 bbl/d sementara produksinya cuma 530,000 bbl/d. Ada shortage 320,000 barrel perhari. Import dari mana ? Malaysia, UEA, Vietnam, lewat Indonesia. Pengilangan di Australia semakin menurun kapasitasnya karena semakin tipisnya margin. Yang barusan cabut adalah Caltex. Saat ini kapasitas pengilangan hanya sekitar 350,000 bbl/d. Ada shortage 180,000 - 200,000 bbl/d. Dikilang dimana ? Singapore, lewat Indonesia. Kalau akses ditutup, dengan mengandalkan kilang sendiri - maka Australia harus hidup dengan light sweet quality hasil kilang mereka sendiri, dengan shortage 400,000 - 500,000 bbl/d. Well, antrian di gas station di Sydney bisa lebih panjang dari antrian pengungsi perang Irak kemarin. Berapa harga unleaded petrol saat ini ? A$ 1.1/ltr ? You can kiss it goodbye. 2. Trade Crisis Kemarin Kompas menganalisa mengenai neraca perdagangan Indonesia dengan Australia. Keliru besar. Kalau kita siap putus hubungan diplomatik dengan Australia, memangnya kita masih mengizinkan kapal2 dan ocean cargo mereka melalui wilayah Indonesia ? Yang harus diperhitungkan adalah berapa besar nilai perdagangan dengan Indonesia dan dimana transfer of goodsnya melalui perairan Indonesia. Dan semua perdagangan dengan Asia Timur dan Pacific Rim yang ocean bound, harus melalui Indonesia. Saat ini nilai perdagangan Australia dengan Asia Timur adalah A$ 154 milyar, dengan trade counterparts terbesar adalah Japan dan China (sekitar 25%nya). Nilai perdagangan ke Asia Timur ini sekitar 35%-40% nilai perdagangan Australia. Export terbesar adalah coal. Hehehe.. coal identik dengan Asia Pacific. Kemana lagi you mau jual sumber energi murah dan pollutant macam coal, memangnya Amerika tuan besarmu mau pakai ? Sekarang apa efeknya bagi Indonesia untuk kehilangan perdagangan dengan Australia ? Kemarin Kompas sudah membreak-down item2 export-import tsb. Yang tidak dibahas oleh Kompas adalah nature transaksi export & import migasnya. Export dan import migas yang mencapai separuh dari nilai transaksi ini sesungguhnya bukan perdagangan riil. Ini merupakan flow dari crude oil dari Oz ke Spore untuk dikilangkan via (biasanya) Tanjung Perak, Sby; dan setelah selesai dikilangkan, dikirim lagi ke Australia melalui jalur yang sama. Biasanya nilai export akan lebih besar dari nilai import, karena hitungan export dari Indonesia adalah refined oil yang telah mengalami value added. Jadi itu bukan export-import murni dengan Indonesia, hanya goods in transfer. Apa yang diexport Indonesia ke Oz selain migas ? Sporadis. Sedikit karet. Sedikit minyak nabati. Sedikit sepatu. Sedikit low-end machineries. Sekarang, apa yang diimport Indonesia dari Australia ? Wheat. Produces (meat, milk, etc). Well. Kita bisa import wheat dari US kok, kalau terlalu mahal kita bisa beli second quality wheat dari India - ngga apa2 mie sedaaap kurang gurih sedikit. Australia beresiko kehilangan A$ 150 milyar; dan apa resiko Indonesia? Insignificant. ------------------- Beberapa hari yang lalu saya melontarkan soal access blocking ini di depan teman2 saya. Mereka bertanya : apa resikonya kalau kapal2 Oz nekad masuk ? Saya jawab, kita berhak menembak sebab kita sudah mengeluarkan pernyataan penutupan perairan kita. Teman saya menggoda saya : 'Kita mau nembak pakai apa ?' Waktu itu jawabannya tidak terpikir oleh saya. Tapi setelah kembali ke rumah dan check dengan teman di shipping network - ternyata jawabannya simple sekali. Indonesia hanya perlu declare bahwa perairan Indonesia (ALKI) tertutup untuk kapal dari dan menuju Australia. Indonesia bahkan tidak perlu menembakkan satu butir pelurupun. Merchant Marine atau armada perkapalan komersial yang mengirim barang dari dan ke Australia adalah perusahaan2 Internasional seperti Maersk, NOL, P&O, RCL, CMA-CGM, NYK dst dst. Yang pertama kali menerima sinyal penutupan tsb adalah mereka. Umumnya mereka akan menolak pelayaran melalui wilayah2 dispute yang beresiko tinggi. Jika mereka bonekpun - maka basically freight cost akan naik karena : 1. Rata2 kapal dari Pacific Rim harus refuel di Spore dan bukan lagi di pelabuhan2 Indonesia. 2. Kenaikan mengcover resiko ARREST terhadap kapal oleh otoritas Indonesia. Kalaupun mereka mau, persoalan kedua adalah asuransi. Semua cargo yang melewati area dispute - premi asuransinya akan naik berlipat ganda. Pertama asuransi atas kapal, kedua asuransi atas cargo. Jika hal ini terjadi, pasti Australia akan teriak. Teriak pada tuan besarnya US. Teriak pada China dan Japan sebagai rekan bisnisnya. Mungkin suatu hari toh Indonesia akan menyerah pada tekanan itu, tapi 2-3 bulan cukup untuk choking the Oz roughneck helpless dan mengajar mereka untuk tahu tempatnya berpijak. Satu kali Timtim sudah cukup. Saat ini warga Timtim yang dihadiahi kemerdekaan oleh Habibie atas jasa Australia ramai2 mengungsi ke NTT karena internal chaos - menandai niat Canberra yang sejak awal hanyalah mengincar Timor Gap untuk menambal defisit mereka ketimbang nasib rakyat Timtim. Sekarang mau kutak-katik Papua ? Sorry, Dingo, looting time is over. BK *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

