Terimakasih atas literatur yang sangat informatif ini.

Sangat mengejutkan, bagaimana beberapa budaya sangat mengidentikkan 
wanita dengan dosa. Lama kelamaan saya faham akan kengerian para 
perancang RUU APP terhadap tubuh wanita. 

Tapi saya yakin mas mas disini termasuk mas mas moderator lebih 
menganggap wanita sebagai kaum terhormat (yang di-empu-kan, per-empu-
an), karena mereka adalah kaum bunda bunda kita.


"   Bahkan ada seorang calon biarawan yang menggendong ibunya yang
tua menyeberangi sungai seraya membungkus tangannya dengan kain,
sebab ia tak mau bersentuhan dengan kulit ibunya sendiri.   "Daging
semua perempuan adalah api". Perempuan adalah api -- daya yang bisa 
merusak,bagian dari "dunia", begitulah waktu itu ada petuah agama 
yang berkata. Wanita harus dijauhi dan dijauhkan.   Ia tak 
termasuk "gurun pasir"...."

Salam

Danardono



--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
>    Catatan Pinggir: Perempuan
>   
> Seorang isteri guru ditangkap polisi di Tangerang. Ia berada di 
jalan di sekitar pukul tujuh malam. Ia harus membuktikan dirinya 
bukan pelacur. Peraturan Daerah mengharuskan itu. Tuan-tuan yang 
berkuasa di Tangerang tampaknya berpendapat, tiap perempuan yang 
berada di luar rumah dalam remang itu perlu dicurigai 
sebagai "jalang".
>    
>   Bisakah Tuan-Tuan itu memperkirakan, kini "kaum perempuan di 
Tangerang dicengkram ketakutan"? Tapi mereka mungkin tak mengacuhkan 
pernyataan Forum Solidaritas Perempuan Banten, 22 Maret 2006 itu - 
juga tak membayangkan para ibu yang cemas bila anak mereka pulang 
terlambat dari kursus di malam hari dan saudara mereka kembali dari 
pabrik setelah senja.
>    
>   Mungkin Tuan-Tuan itu akhirnya akan menjawab (dengan dukungan
> Majelis Ulama):  perempuan memang harus tinggal di 
rumah, "dilindungi". Tuan-Tuan itu pasti bukan kelas bawah yang 
perlu dapat tambahan penghasilan dari upah isteri yang jadi pemijat, 
penunggu kios rokok atau bakul jamu. Lagipula ayat suci bisa 
dikutip, sebagaimana di Arab Saudi Qur'an dan Hadith dikutip untuk 
memutuskan: perempuan tak boleh berpakaian lain selain purdah, 
perempuan tak boleh menyetir mobil, dan tentu saja tak boleh jual 
jamu...
>    
>   Perempuan selalu dekat dengan dosa - itulah mungkin pikir Tuan-
Tuan di Tangerang, seraya mendengar agama berbicara. Tentu saja 
agama yang datang dari Timur Tengah. Saya tak tahu persis kenapa di 
sana perempuan selalu ditilik demikian. Mungkinkah karena sebuah 
pengalaman, yang kemudian jadi paradigma, juga metafor - yaitu 
dahsyatnya gurun pasir?
>   Siapa tahu. Sebab ada seorang tua bernama Apa Sisoes. Ia seorang
> biarawan di Mesir abad ke-4. 
>    
>   Murid Apa Sisoes itu berkata kepadanya, "Bapa, bapa telah tua. 
Mari kita pindah sedikit ke dekat tanah yang telah dihuni."   Orang 
tua itu menyahut, "Di mana tak ada perempuan, ke tempat itulah kita 
harus pergi". 
>    
>   Murid itu pun berkata kepadanya, "Tempat apa lagi yang tak ada 
perempuannnya, kecuali gurun pasir?" 
>    
>   Dan Orang Tua itu berkata, "Bawa aku ke gurun pasir".
>    
>   Kisah itu diceritakan kembali oleh Peter Brown, gurubesar sejarah
> di Princeton University, dalam The Body and Society , sebuah 
paparan
> penting tentang iman dan seksualitas, ketika  perempuan  
ditampilkan
> sebagai sumber godaan yang tak habis-habisnya di masa awal agama
> Kristen -- ketika seorang biarawati yang menepuk kaki   bapak uskup
> yang sepuh dan sakit sudah bisa dianggap merangsang untuk
> bersetubuh.
>    
>   Maka tak mengherankan bila di Mesir masa itu ada seorang rahib
> yang mencelupkan jubahnya ke  bangkai seorang perempuan yang sudah
> membusuk; ia berharap, bau "baseng" itu tak akan membuatnya mau
> berfantasi tentang wanita.
>    
>   Bahkan ada seorang calon biarawan yang menggendong ibunya yang
> tua menyeberangi sungai seraya membungkus tangannya dengan kain,
> sebab ia tak mau bersentuhan dengan kulit ibunya sendiri.   "Daging
> semua perempuan adalah api". Perempuan adalah api -- daya yang 
bisa merusak, bagian dari "dunia", begitulah waktu itu ada petuah 
agama yang berkata. Wanita harus dijauhi dan dijauhkan.   Ia tak 
termasuk "gurun pasir".
>    
>   "Gurun pasir", bentangan alam yang garang itu, waktu itu punya
> makna tersendiri. Gurun pasir, dalam catatan Brown, "muncul sebagai
> tempat yang tak tertandingi dalam heroisme Kristen".   Di sanalah
> laki-laki bisa hidup keras dan khusyuk melatih diri bebas dari 
nafsu
> apapun. Dalam kekhusyukan itu, batas harus tegas antara "gurun
> pasir" dan "dunia".
>    
>   Maka ketika dunia diliputi "dosa", di gurun itu -- terbentang 
dari tepi Danau Mary sampai ke arah Iskandariah, terutama di Wadi 
Natr - tinggallah ratusan apotaktikoi,  "para penampik" yang tak 
menghendaki hidup  dengan panca indera yang mencicipi nikmat bumi.
>    
>   Penampikan itu tentu saja akhirnya tak hanya terbatas di gurun 
pasir, dan juga tak hanya di Mesir. Bahkan sejak abad ke-2,  para 
alim Masehi memandang perempuan sebagai pangkal kematian. Di bawah 
pengaruh ajaran Tatian, pelbagai kelompok Gereja Kristen Suriah 
meyakininya.
>   Dan mereka bilang, Juru Selamat sendiri berkata:  "Aku datang 
untuk membatalkan kerja perempuan". 
>   
> "Perempuan" di situ ditafsirkan sebagai hasrat seksual, "kerja" 
diartikan  kelahiran dan maut. Demikianlah dengan was-was komunitas 
Kristen yang terserak sampai ke kaki-kaki bukit Iran 
memandang "dunia":  kelahiran, perempuan, kematian.
>    
>   Tapi tak hanya mereka sebenarnya. Juga dari sekitar gurun pasir
> Timur Tengah, agama Yahudi mengawali rasa was-was itu. Aliran
> ortodoksnya menggariskan kol isha yang melarang lelaki mendengarkan
> perempuan menyanyi. Ada yang hanya mengharamkan mereka menyaksikan
> pertunjukan nyanyi yang "sugestif".. Ada yang lebih ketat: mereka
> melarang lelaki mendengarkan suara perempuan bahkan dalam rekaman.
>   Dan tak cuma itu. Dalam komunitas Yahudi ortodoks zaman modern
> sekalipun, perempuan tak boleh berbaju tanpa lengan, memakai blouse
> dengan potongan krah rendah. Celana ketat dilarang. Lutut harus
> ditutupi. Halacha, syariat Yahudi, mengharuskan perempuan yang 
sudah
> menikah menutup rambutnya.
>    
>   Saya tak tahu, kenapa dari sekitar gurun pasir Tuhan bertitah
> agar perempuan diperlakukan demikian.  Kenapa di Bali, misalnya,
> tidak? Mungkinkah karena di sini tak berlaku paradigma "gurun
> pasir": para pertapa tak mengalami alam yang kosong dan garang,
> melainkan hutan  tropis yang semarak, gua yang dirias pohon dan
> rumpun, akar dan kembang, bunyi burung dan biru gunung?  Dengan
> kata lain: sebuah "dunia", di mana yang indrawi tak ditampik, 
hingga
> pertapaan bukanlah tempat apotaktikoi? Dalam cerita wayang, di situ
> malah lahir ksatria Bambang Sumantri dan gadis Shakuntala yang
> gemulai.
>    
>   Apapun sebabnya,  di kesunyian hidup brahmana dan resi tak tampak
> rasa was-was kepada "dunia", kepada perempuan. Di sana,  tafakur
> adalah bersyukur. Tapi itu dulu. Siapa tahu kita telah berubah, 
dan Tuan-Tuan Tangerang lebih suka paradigma baru: "padang pasir"..
>   
> Goenawan Mohamad
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Blab-away for as little as 1ยข/min. Make  PC-to-Phone Calls using 
Yahoo! Messenger with Voice.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke