KESURUPAN ULAR - Tim pemburu hantu mencoba menyadarkan seorang warga yang kesurupan saat membersihkan makhluk halus di SMA PGRI II, Minggu (2/4). Foto: BPost/Ahmad
http://www.indomedia.com/bpost/042006/3/depan/utama12.htm Wabah Kesurupan Mukhtar Sarman KALAU ada orang kesurupan, dalam kultur masyarakat Indonesia biasanya dikaitkan adanya peran makhluk halus. Konon, makhluk halus, yang namanya macam-macam itu, dapat merasuk (sehingga ada istilah "kerasukan") ke dalam tubuh orang sehingga yang bersangkutan tidak sadar diri lalu bertingkah bagai orang tidak waras, antara lain berteriak-teriak memaki sembarang orang dan mengamuk (baca: secara teknis artinya bisa memukul dan menendang bahkan menggigit) dengan kekuatan yang kadangkala di luar nalar. Adanya faktor peran makhluk halus itu boleh jadi benar atau bisa cuma tahayul tukang khayal, tetapi itulah logika yang banyak dipakai untuk menjelaskan mengapa orang sampai bisa kesurupan (baca: "kerasukan"). Dalam kultur masyarakat Jawa, misalnya, dipercaya ada yang namanya kekuatan gaib yang asal muasalnya bisa saja dari makhluk halus tersebut. Kekuatan gaib dari makhluk halus itu konon bisa melekat dalam sebuah benda dan mestinya bisa juga masuk ke dalam tubuh manusia. Kendati hal itu abstrak tetapi sebenarnya konkret (lihat Anan Hajid T, "Orang Jawa, Jimat & Makhluk Halus", 2005). Benarkah itu semua? Wallahualam. Dan saya tertegun ketika ada berita telah terjadi kesurupan massal di beberapa daerah secara beruntun antara lain di Surabaya, Ogan Komering Ilir dan tentu saja di Banjarmasin (BPost, 21 Maret 2006). Saya jadi takjub karena dua hal. Pertama, mengapa kesurupan telah menjadi semacam wabah mirip flu burung, begitu mendadak tanpa kompromi dan sifatnya massal. Kedua, mengapa yang justru terkena wabah itu justru para pelajar dan umumnya perempuan. Bahwasanya orang bisa kesurupan sebenarnya bukan hal aneh lantaran sudah sering terjadi. Yang agak aneh adalah kalau kesurupannya seperti berjamaah. Pertanda apa ini? Dalam kultur masyarakat Banjar, kalau orang kesurupan biasanya ditengarai sebagai akibat dari faktor individu orangnya yang lamah bulu (baca: psikisnya lemah dan cenderung gampang terjebak halusinasi). Atau, lantaran datu-nya di alam gaib bakiauan minta diberi sesaji. Atau, karena yang bersangkutan memang bagampiran sehingga ketika gampirannya muncul maka hilanglah kesadaran diri orang tersebut. Atau, bisa juga karena kena "perbuat" dukun teluh yang disponsori seseorang berhati jahat. Wallahualam. Namun demikian, apabila kesurupan sampai menimpa sejumlah orang di suatu tempat tertentu, maka tafsirnya biasanya adalah karena makhluk halus di sekitar tempat itu konon merasa terganggu dan lalu "membalas dendam" mengganggu manusia atau oknum yang telah bikin perkara. Masalahnya, ada pertanyaan yang agak mengganjal logika, bahwa jikalau makhluk halus itu memang ada dan betul merasa terganggu, lalu apa yang telah dilakukan oleh anak-anak SMA PGRI 2 Banjarmasin yang tempo hari terkena wabah kesurupan? Apakah cuma lantaran terganggu oleh pembangunan lapangan basket di sekolah itu? Atau, seperti tengarai seorang kawan, bahwa boleh jadi ada sejumlah makhluk halus di sekitar sekolah itu yang irihati dengan fasilitas yang diterima oleh anak-anak SMA PGRI 2, termasuk misalnya karena telah diberi dana BOS, padahal mungkin mereka juga merasa punya hak untuk mendapatkannya sebagai warga negara republik ini walaupun dengan status sebagai penduduk di alam gaib. Wallahualam. Kita semua sebenarnya hanya bisa menebak-nebak faktor peran makhluk halus itu karena mereka berada di wilayah alam gaib yang bukan hanya tidak mungkin direkam dengan handycam tetapi juga tidak bisa diajak berkomunikasi dengan frekuensi radio atau menggunakan jaringan telepon selular. Dan bagi saya, wabah kesurupan massal itu sebenarnya hanya sebuah pertanda bahwa memang ada sesuatu yang abnormal dalam kehidupan masyarakat bangsa ini dan banyak orang justru tidak peduli dengan abnormalitasnya. Tidak percaya? Sekarang saya ingin bertanya: apakah orang yang jatuh kalap karena kekuasaannya terancam hilang atau kenikmatannya terganggu tidak serupa dengan mereka yang kesurupan karena dirasuk makhluk halus? Kalau ada istilah "kerasukan setan" kenapa tidak ada istilah "kerasukan kekuasaan"? Tokh sama-sama bisa menyebabkan orang lupa diri dan mengabaikan etika moral sosial. Bahkan, para pengunjuk rasa yang bersikap anarkis membabi buta karena sangat larut dalam sebuah perjuangan moral, seperti banyak ditayangkan di stasiun-stasiun TV swasta itu, apakah tidak serupa dengan orang kesurupan juga? Jangan-jangan, kita pun kemarin sempat "kesurupan" tatkala logika kita macet dan amarah sudah menembus ubun-ubun lalu terjebak dalam tindakan kekerasan atau pelanggaran norma sopan santun yang sebenarnya tidak logis dan justru akan disesali manakala kita sudah "sadar". Jadi, kalau ada yang menyarankan perlu ruwat nasional, barangkali boleh juga dipertimbangkan. Bahkan kalau ada yang mencoba menawarkan teknik ruqyah yang dimaksudkan untuk mengusir jin jahat itu mungkin bisa jadi solusi juga. Masalahnya, apakah kita bisa bersepakat bahwasanya kita ini memang suka tidak sadar tentang jati diri yang sejati tatkala diperhadapkan dengan konflik kepentingan yang diasumsikan dapat merugikan diri kita? Jangan-jangan makhluk halus di alam gaib sana itu cuma ingin memberikan peringatan dini bahwa kita itu mestinya memiliki empati yang cukup dan toleransi yang memadai kepada tetangga sekitar yang juga memiliki kepentingan atas lingkungan yang terbatas. Siapa tahu, kan? [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

