--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >
Dear All, Terima kasih sekali atas semua masukannya. Bahwa aris masih muda, bahwa dahulu mbah pun demikian. Meski aris memahami, terkadang usia baik tua maupun muda tidak berpengaruh nyata terhadap kebenaran sesuatu. Dan siapakah yang tahu nyawa kapan akan melayang kembali pada yang punya. DH: gini lho mbak. Usia itu sendiri TAK ada hubungan dengan kebijaksanaan, pencerahan atau kebenaran. Menjadi tua itu sutomatis. Orang tua banyak nyag ndablek. Anak muda banyak yang sangat cerdas dan visioner. Bung Karno dalam usia sangat muda sudah mempunyai visi mengenai Indonesia merdeka. Tetapi, dalam proses menua, menjadi tua, manusia berpeluang merenung, memikirkan, membandingkan, mengumpulkan pengalaman. hal hal yang hanya dapat dilampaui melaluu proses waktu. Anak SD secerdas apapun tak mungkin melompat (ada perkecualian sih) memiliki keakhlian seorang post graduate. Dia perlu waktu. Perlu menjadi lebih tua.. Mbak, dalam meng-agama kita berdua mirip. Dalam usia 19 tahun saya telah banyak menelan literatur falsafah dan agama, dalam beberapa bahasa (ayah saya kebetulan gurubesar dan tukang baca, jadi menular). Dalam usia 20an menjadi anggauta perkumpulan agama, aktif sekali di gereja. Saya merasa, dalam agama saya Allah satu satunya menurunkan wahyu. jadi penganut agama lain adalah malang dan patut diselamatkan. Bagi saya, agama adalah segalagalanya. jalan menuju Tuhan. saya lebih banyak berdoa dan mengikuti ibadat daripada memuliakan perilaku saya. Saya tetap angkuh, tak terlalu perduli orang lain, dan manja. lama lama, apalagi setelah mempunyai anak, bertarung dalam hidup, mengalami ups and downs, melihat banyak negeri dan bertemu banyak bangsa, sampai penganut agama yang jarang ditemui, seperti Katholik Ethiopia, saya mulai berubah fikir. Mulai terbuka. Saya lihat banyak sekali orang Eropa (ditanah ini saya menjadi tua), yang perilakunya sangat berbudi, peduli sosial, tetapi tak terlalu mengindahkan agama, masuk gereja. Sebaliknya, orang orang saleh taat ibadah yang amat sangat egois dan bermoral ganda. Saya lihat, dalam tiap agama, yang bersumber sama, kok beribu persepsi. Saya mulai membaca literatur agama agama lain, mendengar khotbah rohaniswan agama lain. Saya temui inti permasalahan: manusianya. saya temui kenyataan, bahwa tiap agam mencakup ruang budaya tertentu, dan mencerminkan cara fikir budaya bersangkutan. Kian saya menua, kian condong saya mendengar apa yang orang katakan. Disaat remaja, saya ingin agar orang mendengar apa yang saya katakan. Dalam usia sangat remaja, sakit rasanya, kalau iman kita dikritik. Lama lama kita kian mampu memilah, mana yang kritik sehat, mana yang sekedar menghujat. Tetapi kita tidak langsung marah. Mengenai impian. Ketika masih sangat muda, kita banyak impian. saya mimpi menjadi pilot sebuah pesawat tempur. Saya menyangka, asal mau, setiap impian dapat kita wujudkan. Setelah saya jalani semua, saya alami, bahwa antara impian yang ber-visi dan angan angan, adalah sangat jauh bedanya. Impian belaka adalah bagaikan awan berarak dilangit lazuardi. Mengimpikan sesuatu yang terjadi ribuan tahun yang silam dalam sikon yang 1000% berbeda, adalah sebuah impian, yang mungkin akan tetap menjadi impian. Mungkin hal yang mirip dapat diwujudkan, namun tak mungkin sama. Mungkin membawa kebahagiaan, mungkin membawa petaka. Seorang Perdana Mentri dan bapak negara Austria, Dr. Kreisky, yang sudah meninggal pernah ditanya mengenai impiannya. Beliau katakan, impian saya adalah menjadi kepala redaksi Vorwärts (majalah gerakan sosialis Austria), tetapi tak terpenuhi sampai saya tua begini. Tetapi saya menjadi Perdana Mentri, yang saya tak pernah impikan. Makin remaja, makin condong kita meng-generalisir suatu.Misalnya "semua Jawa feodal", "semua Yahudi jahat", semua bule kaya", dsb. Lama lama kita kian mampu mebedakan nuansa.. Seorang ahli falsafah Yunani yang sudah akil balik berkata: " Makin aku belajar, makin aku tahu, bahwa aku tak tahu". Salam danardono *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

