http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/05/opi02.html

Papua, Trauma Politik, dan Budaya   

Oleh
Emmy Sahertian



Dua peristiwa menonjol tentang Papua, yakni pemberian suaka atas 42 (dari 43) 
warga Papua oleh Imigrasi Australia, dan tewasnya 5 aparat keamanan di Abepura 
dalam demonstrasi menuntut penutupan tambang emas PT Freeport, telah mencoreng 
reputasi Indonesia di mata dunia.

 
Warga Papua yang meminta suaka selalu dihubungkan dengan tokoh Papua Dr Thomas 
Wanggai yang berjuang membebaskan rakyat Papua dari ketertindasan sekitar tahun 
1980-an. Kritiknya yang keras terhadap cara pemerintah Indonesia (Orde Baru) 
menebang hutan dan memberi izin pertambangan untuk bisnis segelintir 
konglomerat, menyebabkan dia dipenjarakan hingga meninggal tahun 1994 dalam 
tahanan.

 
Pengikutnya meneruskan perjuangan. Banyak anggotanya ditangkap dan 
dipenjarakan. Sering tokoh intelektual, budaya, dan agama Papua menjadi target 
pembunuhan misterius karena diduga mendukung Organisasi Papua Merdeka. Sebut 
saja Arnold Ap, Daan Yairus Ramar, Theys Eluai, Pendeta Eliza Tabuni dan 
beberapa tokoh mahasiswa. 


Ke-43 warga Papua itu meminta suaka ke Australia, karena merasa tidak ada lagi 
tempat aman untuk hidup secara normal. Mereka itu merupakan puncak kecil gunung 
es dari besaran jumlah yang ada di bawah permukaan di mana banyak masyarakat 
Papua asli mengalami trauma politik sejak Pepera, dan Orde Baru yang terkenal 
dengan berbagai gelaran operasi militer dan operasi gelap intelijen. Semua ini 
menjadi ingatan kolektif atas penderitaan yang sering diistilahkan sebagai 
memoria passionis.

Tanah Adat
Seorang ibu Amungme berpakaian camping bertelanjang kaki duduk sambil mencuci 
kaki di tepi anak sungai Aykwa yang telah tercemar tailing tambang sambil 
meratap dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata: "ayuu (aduh) ..dorang su ame 
(sudah ambil) kami pung (punya) mama pung kepala, semua sudah ancur (hancur) 
dan kami sedih..kami sakit hati".
Ini merupakan ungkapan umum tiap orang Amungme, yang terkena dampak langsung 
eksplorasi PT Freeport Mac Moran. 
Lokasi gunung Estberg dan Grassberg tempat eksplorasi tembaga dan emas pada 
kontrak karya I dan II PT Freeport terdapat di atas konstruksi tanah adat 
Amungme yang disebut Ninggok atau kepala mama (tanah dipahami sebagai Ibu), 
wilayah yang paling sakral, tempat bernaung roh-roh suci pemberi keajaiban 
hidup untuk mensejahterakan anak-anak adat. 
Seluruh konstruksi perbukitan dan dataran ke arah selatan hingga pelabuhan 
dipahami sebagai tubuh ibu atau pengampu hidup yang mengukir identitas 
suku-suku pegunungan tengah. Apabila konstruksinya rusak ibarat pemusnahan 
sebuah identitas hidup yang nilainya sama dengan membunuh manusia adat, 
memerlukan rekonstruksi ritual maupun rekonservasi alam. 


Tampaknya pemahaman kultural ini tidak pernah dipertimbangkan baik dalam 
kontrak karya I dan Kontrak Karya II. Mereka memang memperoleh dana kompensasi 
1%, setelah mama Yosepa Alomang, perempuan Amungme bersama sejumlah masyarakat 
adat di Mimika bangkit melawan Freeport dan Pemerintah Indonesia. 


Namun mereka begitu tersinggung ketika sadar bahwa kompensasi tersebut sebagai 
tindakan belas kasihan, bukan bagian share holder di mana pemahaman budaya 
sebagai anak ibu yang kepalanya sedang dibantai perlu dihargai setara mitra 
pemilik modal.

Dialog Nasional 
Meskipun persyaratan sebagai share holder tentu tidak sesederhana itu. Kondisi 
yang lebih mengenaskan ketika tidak adanya upaya jeda eksplorasi dan 
eksploitasi untuk memperbaiki kondisi ekologik yang sudah rusak parah. Karena 
ibu (tanah suci) mereka telah terbantai, nafas kehidupan kultural mereka telah 
selesai dan mati. Apapun yang menjadi alasan semua pemilik modal, pemerintah, 
dan atau para pembela NKRI, untuk membenarkan tindakan ini, orang Papua telah 
tersinggung secara kultural. 


Mereka bangkit untuk merebut identitas diri yang telah hilang dengan cara apa 
saja, termasuk mempersoalkan rasa nasionalisme Indonesia apakah masih layak 
menyembuhkan luka budaya mereka atau sebaliknya telah menimbulkan trauma. Sebab 
berbicara tentang Papua adalah berbicara tentang sumber kekayaan alam 
berkualitas dunia, dan manusia Papua sebagai bagian integral dari alam yang 
berkualitas itu. Sebuah nilai yang ikut menentukan harga bangsa Indonesia di 
mata dunia. 


Untuk menyelesaikan dua masalah ini, gelar dialog nasional yang berbasis 
kultural merupakan tuntutan mendesak, jika benar bahwa kita adalah bangsa yang 
bermartabat. 

Penulis adalah Sekretaris Solidaritas Nasional untuk Papua, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke