http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/04/tgl/06/time/094903/idnews/571708/idkanal/10
Kamis, 06/04/2006 09:49 WIB Front Pepera Akui Adanya Dukungan Australia Nurfajri Budi Nugroho - detikcom Jakarta - Australia dituding berada di balik gerakan separatis Papua. Juru bicara Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (Front Pepera PB) Arkilaus Baho mengakui adanya dukungan dari Australia. Dukungan tersebut antara lain berupa dukungan secara moril. "Tapi sejak hubungan itu diputuskan oleh aparat intelijen dari Indonesia, tidak ada lagi donor dari luar," terang Arkilaus saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Kamis (6/4/2006). Arkilaus berpendapat gerakan separatisme bukanlah merupakan hal yang tabu dalam kehidupan berdemokrasi. Manurutnya, setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri. "Perjuangan untuk membebaskan diri itu kan cita-cita bangsa di seluruh dunia. Separatis itu bukan hal yang tabu bagi perjuangan demokrasi," katanya berpendapat. Arkilaus menilai, selama ini ada arogansi dari pihak-pihak yang menentang gerakan separatis di Papua. Perjuangan membela HAM seringkali dituding sebagai gerakan separatis. "Orang mau bebas kok ditahan-tahan. Kami mendukung perjuangan yang menyeluruh oleh rakyat Papua," tukasnya. Dirinya mengklaim, saat ini 99 persen warga Papua tidak merasa sebagai bagian dari NKRI. Fakta tersebut diakuinya berasal dari hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional maupun anggota front perjuangan di Papua. Apakah Front Pepera PB masuk dalam bagian gerakan separatis itu? "Front Pepera PB adalah organisasi yang menyuarakan hak-hak rakyat Papua. Dan faktanya rakyat Papua menginginkan kemerdekaan," kilah Arkilaus. Saat ditanya kemungkinan melunaknya sikap gerakan separatis jika pemerintah mampu memenuhi kesejahteraan yang diharapkan rakyat Papua, hal tersebut sudah tidak mungkin lagi. "Tidak mungkin, karena terlalu kronis. Buktinya saja kebijakan pemerintah di Papua selalu ditolak terus," ujarnya yakin. Sebelumnya, kalangan DPR membeberkan adanya jaringan internasional di Australia yang memberikan dukungan terhadap gerakan separatis Papua. Jaringan tersebut melibatkan parlemen, LSM, gereja serta dunia kampus di Australia. Sebuah LSM lokal Indonesia pun dituding terlibat dalam jaringan tersebut.(fjr) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/04/tgl/06/time/081816/idnews/571617/idkanal/10 Kamis, 06/04/2006 08:18 WIB Anggota DPR Beberkan Jaringan Pendukung Separatis di Papua Nurfajri Budi Nugroho - detikcom Jakarta - Beberapa anggota DPR yang berencana menemui parlemen Australia membeberkan jaringan yang memberikan dukungan terhadap gerakan separatis di Papua. Jaringan tersebut melibatkan LSM, anggota parlemen, gereja serta beberapa universitas di Australia. Sebuah LSM lokal Indonesia pun dianggap turut berperan. "Kami terpaksa harus memberikan data seperti ini. Agar semua sadar bahwa ancaman nyata separatis sudah di depan mata," ujar anggota Komisi I DPR dari FPDIP Effendi MS Simbolon saat dihubungi detikcom, Kamis (6/4/2006). Dalam bagan mengenai jaringan pendukung separatis Papua di Australia, diungkapkan pada tanggal 25 Oktober 2000, Direktur Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) Papua, John Rumbiak menandatangani MoU dengan Greg Sword. Inti dari MoU tersebut adalah dukungan bagi setiap aktivitas gerakan separatis Papua. Greg merupakan anggota parlemen tingkat negara bagian Melbourne dari Partai Buruh. Selanjutnya, sejak tahun 2000, Ketua Partai Hijau Australia Bob Brown aktif memotori terbentuknya Parliamentary Group on West Papua. Pada tahun 2003, Bob yang juga seorang senator mengkampanyekan masuknya beberapa submisi kepada parlemen Australia. Tema yang diangkat adalah pelurusan sejarah Irian Jaya dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Irian Jaya. Selain itu, disebut juga nama Senator Kerry Nettle, anggota parlemen dari Partai Hijau. Dia turut memperjuangkan suaka politik bagi 42 warga Papua. Bahkan, pada 2 April lalu Nettle mendapatkan penghargaan "Mahkota Papua" dari kelompok pro-separatis di Sydney. Dari Partai Demokrat Australia, disebut Senator Andrew Barlet yang mendukung kampanye penentuan nasib (self determination) bagi rakyat Irian Jaya. Barlet juga pernah mengirimkan surat kepada Sekjen PBB untuk meninjau kembali keabsahan PEPERA 1969. Parliamentary Group on West Papua yang dimotori oleh Bob Brown juga didukung oleh organisasi internasional seperti Asia Pacific Human Rights Network (APHRN), West Papua Action Australia (WPA-A), Action in Solidarity With East Timor (ASIET), Australian Council for Overseas Aid (ACFOA), East Timor Action Network (ETAN) dan The Centre for People and Conflict Studies The Unversity of Sydney. Lembaga yang terakhir disebut memiliki proyek yang disebut West Papua Project (WPP) dan dipimpin oleh Prof Stuart Rees. Seorang peneliti dan penulis tentang Indonesia Prof Denis Leith juga turut memberikan dukungan terhadap pro kemerdekaan Papua dengan cara membantu penggalangan dana bagi WPP. Tidak ketinggalan, media massa Australia pun juga turut berperan. Christ Richard, seorang redaktur pada New Internationalist Magazine, Australia, turut aktif membantu penyelenggaraan seminar tentang Papua di Australia. Salah satu seminar yang pernah diselenggarakan bertempat di Gedung Dewan Serikat Buruh, di Victoria. Seminar tersebut diselenggarakan pada 25-26 Februari 2003 bertajuk West Papua Features. Selain nama-nama dan organisasi yang disebut di atas, diungkap juga nama-nama Duncan Ken (anggota parlemen Australia dari Tasmania), Susan Conely (Persekutuan Gereja Australia), John Barr (bekas Ketua Uniting Church). Pada tanggal 2 April 2006 lalu, bendera "Bintang Kejora" juga sempat dikibarkan oleh West Papua Association (AWPA) di Sydney. Pengibaran bendera tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta. Saat ditanya mengenai keterlibatan Partai Liberal Australia dalam gerakan separatis Papua, Effendi MS Simbolon mengaku belum memiliki data-data keterlibatan partai berkuasa itu. "Hingga saat ini masih tiga partai saja yang diduga. Kita berharap Partai Liberal yang sekarang berkuasa masih konsisten mendukung kita. Kita juga masih akan mencek apakah ini berdasar partai atau perorangan," demikian Effendi.(fjr) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/04/tgl/06/time/070120/idnews/571517/idkanal/10 Kamis, 06/04/2006 07:01 WIB DPR: Separatis Papua Didukung Jaringan di Australia Nurfajri Budi Nugroho - detikcom Jakarta - Dugaan adanya elemen di Australia yang turut mendukung gerakan separatis di Papua semakin kuat. Bahkan gerakan tersebut didukung oleh jaringan yang berskala internasional di Australia. "Data yang kami olah dan kami himpun dari berbagai sumber sangat akurat. Data tersebut berisi keterlibatan peran-peran para pihak yang selama ini memberi dukungan aktif separatis di Papua," ujar anggota Komisi I DPR dari FPDIP Effendi MS Simbolon, saat dihubungi detikcom, Kamis (6/4/2006). Ditambahkannya, gerakan Papua merdeka telah lama membangun jaringan internasional. Fokus dan konsentrasi mereka adalah pada gerakan politik yang menggalang dukungan dari dunia internasional. "Di bulan ini saja berbagai seminar internasional yang mendeklarasi dan melaunching dirinya mendukung gerakan separatis telah diselenggarakan," ungkapnya. Gerakan separatis tersebut, tambah Effendi, menggalang kampanye internasional untuk menuntut penentuan nasib menuju kemerdekaan. "Self determination untuk menuju kemerdekaan yang mereka inginkan. Mereka menginginkan adanya referendum," imbuhnya. Effendi kemudian menceritakan, pertemuan dengan beberapa senator Amerika yang tergabung dalam kaukus hitam (black caucus). Kaukus ini bergerak secara nyata dalam dukungannya kepada pro separatis. "Mereka sangat transparan sekali mendukung separatis. Ini sudah konspirasi internasional," tukasnya.(fjr) ©© 2006 detikcom, All Rights Reserved *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

