Malang lah Gadis Arivia dan Jurnal Perempuan. Penerbitan Playboy akan
memperkeras kubu pendukung RUU itu (khususnya di kalangan Islam).
Playboy secara tidak langsung akan mentorpedo upaya siapa saja yang
ingin mengganjal lolosnya RUU itu.

salam,
Farid Gaban

Opo iyo ngono mas FG? Bagaimana dengan sinyalemen di milis jurnalisme 
bahwa FHM bayar ke FPI, lalu urusan jadi beres, tak lagi kena razia.
Kalau saya lihat isi FHM malah 'lebih heboh' daripada Playboy edisi 
Indonesia.






--- In [email protected], "Farid Gaban" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Majalah Plaboy versi Indonesia akhirnya jadi terbit juga.
> 
> Para editor majalah itu memilih pendekatan berbeda dalam penyajian: 
> mereka ibarat membeli franchise "Kentucky Fried Chicken" tapi 
> memutuskan hanya menyajikan "masakan Padang" dalam restoran.
> 
> Masih menjadi pertanyaan besar kenapa mereka memilih inkonsistensi 
> seperti ini. Jika mereka hanya ingin menawarkan "masakan Padang" 
> kenapa harus membeli franchise "Kentucky"? Atau sebaliknya, jika 
> mereka membeli franchise "Kentucky" yang mahal, kenapa 
hanya "masakan 
> Padang" yang disajikan?
> 
> Playboy bukanlah sekadar majalah dewasa (atau majalah porno). Dia 
> juga sebuah brand, bahkan sebuah citra yang sangat menonjol dengan 
> asosiasi yang spesifik.
> 
> Asosiasi Playboy dengan majalah dewasa sulit bisa dihilangkan 
> betapapun para editornya menyajikan artikel dan gambar yang sama 
> sekali berbeda dari ekspektasi pembaca. Sama halnya, kita sulit 
bisa 
> mengasosiasikan Starbuck dengan "komputer", atau McDonald's 
> dengan "sarung tenun Sumbawa".
> 
> Dari segi bisnis, ini bukan strategi yang bagus: produsen 
menyajikan 
> suatu yang berbeda dari yang "dijanjikannya" (lepas kita setuju 
atau 
> tak setuju terhadap janji itu); ada konflik mendasar antara brand 
> yang ingin dibentuk dengan produk yang dijual.
> 
> Bisnisman yang ingin berhasil akan menyelaraskan pesan ("brand") 
> dengan produk. Mengingat hal itu, apapun isinya sekarang, Playboy 
> dicurigai pada akhirnya akan kembali ke khittahnya sebagai majalah 
> porno. Jika bisnis menjadi motif yang mencolok, kecurigaan seperti 
> itu sangat wajar. (Dan sulit dibayangkan pemegang lisensi Playboy 
ini 
> ingin menerbitkan majalah yang merugi).
> 
> Di sisi lain, mengingat citranya yang mencolok tadi, terbitnya 
> Playboy hanya akan menambah bara ke dalam api perdebatan RUU Anti 
> Pornografi.
> 
> Malang lah Gadis Arivia dan Jurnal Perempuan. Penerbitan Playboy 
akan 
> memperkeras kubu pendukung RUU itu (khususnya di kalangan Islam). 
> Playboy secara tidak langsung akan mentorpedo upaya siapa saja yang 
> ingin mengganjal lolosnya RUU itu.
> 
> salam,
> Farid Gaban
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke