DALIL MERDEKA By KAWAR BABLEPAS Email: [EMAIL PROTECTED]
DALIL MERDEKA Kawan, kugugah kau bila kau rebut atau kejar merdeka maka kau akan terjajah alias tidak merdeka tetapi bila tidak kau rebut merdeka justru kau merdeka maka semakin kuat semakin keras kau rebut merdeka semakin kau tuntut merdeka maka semakin kuat dan semakin keras kau terjajah Kawan, kugugah kau! renungkanlah saat kau menjelang tidur malam atau saat menjelang matahari terbit Agam Pungo, 2002 Dikutip dari Situs: westpapua tahun 2002, dan juga pernah dibaca di buku tamu: Front Demokratik Rakyat Aceh (FDRA) tahun 2002 Aceh saat ini sudah damai. Rakyat Aceh sudah mendapatkan suasana tentram, damai yang sempat hilang, dirampas oleh konflik. Menjadi pertanyaan kini, apakah ada hubungan spirit yang ada pada puisi di atas ini dengan kondisi Aceh yang sudah aman saat ini? Apakah ada hubungan spirit yang ada puisi di atas ini dengan suasana hati pihak Gerakan Aceh Merdeka sehingga mereka lebih memilih menandatangani perjanjian damai Helsinki, demi membangun Aceh ke depan daripada membuat penderitaan terhadap saudara sendiri di Aceh, atau menyiksa diri sendiri dengan menyandang status pengungsi di negara orang seperti sebelum perjanjian ditandatangani? Tidak jelas memang!, tetapi nyatanya kini Aceh sudah aman. Semoga kondisi aman tersebut dapat dipertahankan selamanya. Pelanggaran HAM akan terjadi secara sistematis bila suasana di suatu daerah tidak aman. Bagaimana dengan teman-teman di Papua? Puisi yang ditulis oleh Agam Pungo ini mungkin cocok untuk direnungkan, agar teman-teman tidak menjadi korban atau dikorbankan (menjadi tumbal) untuk kepentingan politik para elit yang ambisius kekuasaan. Para elit ini, mungkin saja berencana menggoyang pemerintahan SBY dengan menggunakan berbagai isu, berbagai cara yang sesuai dengan konteks yang ada. Di balik RUU Aksi Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) rencana radikal dari kalangan elit agama Islam di Indonesia untuk mengislamisasikan Indonesia melalui tangan Negara, terlihat jelas. Mereka menggunakan aksi-aksi demo mendukung dan memaksa DPR agar segera mensahkan RUU APP menjadi UU APP. Bila ini jadi disahkan (dijadikan UU APP), banyak yang akan menjadi korbannya, bukan saja di sektor ekonomi-pariwisata, namun juga para wanita, termasuk para wanita yang ikut demo mendukung RUU APP ini, termasuk anak-anak wanita para pendukung. Mereka inilah yang akan menjadi sasaran RUU APP ini dikemudian hari, atas nama agama Islam. Lihat saja hasil survei nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), Maret 2005, mengenai dukungan dan penolakan terhadap radikalisme Islam mengungkapkan sasaran islamisasi ini adalah: 1. Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin (tidak boleh menjadi presiden) 2. Bunga bank harus dilarang karena bunga tersebut riba, dan riba adalah haram. 3. Orang mencuri harus dihukum potong tangan 4. Orang berjina harus dirajam (dilempari sampai mati) 5. Laki-laki boleh poligami (beristri lebih dari satu). 6. Hak waris anak perempuan separuh dari hak waris anak laki-laki. 7. Pembenaran untuk melakukan tindakan "kekerasan" dengan alasan mempertahankan atau membela Islam. Agenda nomor 1 dan 5 jelas mangsa atau sasaran pertamanya adalah kaum wanita. Tetapi jangan dipahami, itu kan hanya untuk kalangan wanita Islam, wanita non-Islam seperti Kristen, Hindu, Budha atau pria non- Islam seperti Kristen, Hindu, Budha `kan dibolehkan!, cara pandangan seperti salah. Kalau wanita yang jelas beragama Islam sudah tidak boleh menjadi pemimpin, jangan berharap yang non-Islam (pria atau wanita) boleh, haram hukumnya muslim dipimpin oleh non-muslim dalam pandangan islam radikal. Kemudian teks di atas jangan pula dipahami memimpin hanya jadi Presiden. Pemahaman terhadap tidak boleh memimpin ini harus meluas. Bisa saja nanti dalam perjalanannya wanita, walaupun beragama Islam tidak boleh mengendarai sepeda motor atau mobil walau mobil pribadi sekalipun seperti yang terjadi di Arab Saudi, tidak boleh keluar malam lewat dari jam 8 malam, dengan dalih untuk mencegah pekat (penyakit masyarakat), tidak boleh bersekolah seperti yang pernah terjadi di Afganistan semasa pemerintahan Taliban dan sebagainya. Tafsirannya akan berkembang bermacam-macam, hasil akhirnya untuk kepentingan politik kelompok, untuk kepentingan politik para ulama, atas nama agama (Tuhan). Kalau agenda nomor 1 dan 5 terukur (dapat diukur), selanjutnya agenda nomor 7, jauh lebih berbahaya karena tidak terukur, siapa saja boleh menjadi sasarannya, boleh wanita, boleh pria. Juga boleh melakukan tindakan macam-macam, menfitnah (Non-Islam dilarang menjadi Presiden seperti yang pernah dialami oleh Megawati Soekarnoputri), menzalimi (melarang, merusak rumah-rumah ibadah seperti Gereja, seperti yang kita saksikan di era reformasi ini), membunuh orang lain (bom bunuh diri dengan sasaran obyek-obyek tertentu contohnya kasus bom Bali I dan II), dengan mengatasnamakan membela Islam atau membela ajaran Tuhan. Contoh lain, isu PT Freeport Papua, pembakaran base came PT Newmont di Sumba, anti Amerika di Blok Cepu adalah upaya-upaya menghancurkan perekonomian Indonesia atas nama berbagai isu, tujuan akhirnya agar investor asing berpikir 1000 kali untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kalau sektor ekonomi Indonesia tidak tumbuh, kita sudah sama tahu, pengangguranlah yang muncul. Kasus terbaru adalah kerusuhan yang terjadi di Kampung Wembi, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua, Senin (10/4/2006). Kerusuhan ini meminta korban empat orang tewas, dan seorang mengalami luka berat. Dua dari korban yang tewas adalah Sertu Ahmad Basory dan Pratu Sukarno. Sedangkan satu korban TNI lain mengalami luka. Berdasarkan berita yang kita baca, para penyerang TNI ini bersenjata parang dan panah tradisional Papua. Bagaimana skenario lanjutan kerusuhan ini. Pihak penyerang berharap TNI mengadakan penyisiran terhadap kelompok penyerang. Dalam penyisiran ini, pihak TNI diharapkan brutal. Dampak keberutalan ini, diharapkan melahirkan pengungsian penduduk besar-besaran. Lalu penduduk yang mengungsi dihasut untuk mencari suaka politik. Caranya pengungsian sementara diarahkan negara PNG (Kabupaten Keerom berbatasan dengan PNG). Dari sini, diatur mencari negara pemberi suaka. Alasan mencari suaka politik sudah cukup kuat dan jelas, dikatakan TNI mengejar-ngejar mereka. Maka TNI dan pemerintah Indonesia pun terpojok. Apa yang pernah dikatakan Presiden ketika menganggapi 42 warga Papua pencari suaka yang mendapat visa sementara di Australia, bahwa tidak ada warga Papua yang dikejar-kejar atau tidak ada aparat pemerintah yang melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Papua, menjadi benar sekali ini. Lalu, bagaimana kondisi mereka yang menjadi pengungsi di negara lain? Apakah menjadi baik? Apakah semakin merasakan kebebasan? Jawabannya semua masih dalam meja perjudian nasib. Demikian juga dengan demo buruh. Para buruh tidak menyadari, kalau perusahaan mereka tutup, atau bangkrut atau direlokasi ke negara lain oleh pemilik modal, mereka pikir mereka akan menjadi sejahtera. Justru mereka akan kena PHK. Kalau sudah kena PHK, sudah sama tahu, hasil akhir bagaimana. Bagi yang punya anak, pendidikan anak dapat terbengkalai karena tidak ada lagi sumber dana untuk membiayainya, jangankan untuk mendanai pendidikan anak, untuk menutupi biaya hidup sehari-hari saja menjadi masalah tersendiri. Bila sakit, tidak punya uang lagi berobat, dan seterusnya. Kalau sudah demikian, strees beserta ikutannyalah yang datang. Mikir nggak kira-kira kaum buruh kita terhadap hasil akhir dari aksi demo mereka ini? Logika sederhana saja, kalau sudah tidak betah bekerja di satu perusahan karena gaji tidak memadai, kan lebih baik mengundurkan diri. Cari perusahaan yang dapat mengakomodasi gaji seperti diharapkan, enggak perlu ngajak apalagi maksa teman-teman untuk ikut demo. Kalau buruh punya skill yang bagus, akan cepat dapat kerja, dan perusahaan yang akan ditinggalkan pasti rugi melepaskan buruhnya yang pintar. Bukan seperti saat ini, mengajak teman-teman untuk menghancurkan perusahan. Kan tidak logis perilaku seperti ini. Ini namanya memeras perusahaan tempat bekerja. Siapa yang mendapat untung dengan pemiskinan rakyat Indonesia seperti ini? Pastilah kalangan fundamentalis agama, dan kalangan asing yang tidak ingin Indonesia sukses, mereka menghendaki terjadi "Balkanisasi" di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pengangguran ini akan menambah energi bagi gerakan radikal mereka (terjadi radikalisasi), radikalisasi atas nama agama, radikalisasi atas nama kesejahteraan, radikalisasi atas nama marjinalisasi dan sebagainya. Mereka akan merekrut para "penganggur" ini dengan mencuci otaknya atas nama ajaran agama, atas nama perjuangan untuk kesejahteraan, atas nama perjuangan melawan marjinalisasi, untuk melakukan hal-hal yang destruktif. Lihat saja para pelaku bom bunuh diri, semuanya direkrut dari kalangan orang-orang miskin. Para pelaku bom bunuh diri mati, orang yang menyuruhnya justru hidup dan melanjutkan kepentingannya. Kalau memang benar atas nama Tuhan, mengapa tidak otak pelakunya saja yang mati bersama bom bunuh diri tersebut, mengapa harus menyuruh orang lain?, mengorbankan orang lain?! Lihat saja radikalisasi atas nama kesejahteraan, siapa otak penggeraknya, darimana dana mereka dapatkan untuk menggalang massa berdemo? Kemudian, lihat kesejahteraan otak penggerak demo atas nama buruh ini, pasti jauh lebih sejahtera dari buruh yang mereka provokasi, malah pekerjaan mereka sehari-hari bukan pula buruh. Kalau begitu apa kepentingannya menggerakkan demo buruh? Pasti ada agenda tersembunyinya yang bertujuan jelek bagi kebersamaan, ketentraman yang terbangun selama ini. Contoh nyata untuk ini adalah kasus teror Poso, teror dibangun terus, agar korupsi yang dilakukan oleh kelompok tertertu selama ini tertutupi. Seharusnya bila gaji para buruh dianggap kurang, mereka, para penggerak demolah yang menambahinya, bukan mengajari buruh untuk bunuh diri melalui demo yang pada gilirannya, demo ini mendorong para buruh ke (tepi) jurang PHK. Kadang kita tidak sadar, isu yang mereka pakai misalnya penegakan moral (RUU APP), kesejahteraan (demo buruh) marjinalisasi masyarakat lokal (seperti di Papua) dengan berbagai variannya, tujuannya agar massa menjadi destruktif. Sebagai masyarakat kita percaya dan yakin. Lalu ikut demo menentang, anarkis lagi, maka berhasilah mereka menjalankan agenda tersembunyinya. Massa diadu antara sesama massa atau antara massa dengan aparat keamanan. Sang otak pelaku berhahahihi ria ditempat yang aman. Massa yang babak belur saling baku hantam. Demikian juga halnya dapat terjadi terhadap masyarakat di Papua. Para elit lokal, nasional maupun asing, menggelindingkan isu-isu atas nama rakyat Papua. Mereka seperti sama-sama mendukung penderitaan masyarakat Papua, tetapi agenda akhir mereka saling berbeda, bahkan bisa saling bertolak belakang, karena masing-masing punya agenda sendiri. Mereka sama-sama bertujuan menggoyang pemerintahan SBY dari segala arah, untuk wilayah Papua, mungkin anda dan kelompok anda salah satu yang akan mereka korbankan dari sekian banyak cara yang akan mereka gunakan untuk menggoyang pemerintahan SBY tersebut. Mungkin saja. Sampai kesanakah teman-teman di Papua memikirkannya? Melalui pernyataan saya ini, anda jangan menganggap saya pro SBY- Kalla. Enggak saya sama sekali tidak pro mereka. Bersalaman pun saya tidak pernah dengan mereka. Soal orang papua terasing di wilayahnya sendiri, sebenarnya bukan hanya orang papua saja yang mengalaminya, banyak suku yang menderita dengan kondisi selama ini. Coba anda pelajari suku-suku terasing di Sumatera, seperti suku anak dalam, suku anak laut. Mereka juga terasing di tanah ulayatnya. Demikian juga dengan Suku Talang Mamak, suku Talang Mamak ini berdiam di kab. Indragiri Hulu tersebar di 3 Kecamatan Pasirpenyu, Siberida dan Rengat. Mereka termasuk masyarakat terasing, hidup berkelompok-kelompok dan berpencar di daerah hutan. Mata pencahariannya adalah bercocok tanam padi ladang dengan pola berpindah-pindah. Akibat ekspansi perkebunan, ketenangan mereka di wilayah mereka hanya menunggu hari saja untuk tidak terusik. Tidak usah jauh-jauh mencari suku yang kurang populer, di Jakarta saja, hal seperti ini terjadi. Siapa yang tidak pernah baca tentang Suku Betawi. Anda yang sekolahan pasti tahu ada suku Betawi. Suku ini adalah penduduk asli Jakarta. Coba perhatian suku Betawi, sebagai penduduk asli di Jakarta, mereka sendiri "terpinggirkan" di wilayah etnisnya. Sebagian besar penduduk Jakarta saat ini, bukan lagi berasal dari penduduk asli Betawi, tetapi sudah campuran dari berbagai etnis (suku) yang ada di Indonesia, termasuk etnis yang berasal dari Papua. Kalau dibuat pemetaan sederhana, dengan klasifikasi lokal-pendatang (untuk non Betawi), maka penduduk Jakarta lebih banyak pendatang (non Betawi). Tidak ada salahnya kita belajar dari suasana hati pihak Gerakan Aceh Merdeka yang memilih menandatangani perjanjian damai Helsinki, demi membangun Aceh ke depan daripada membuat penderitaan terhadap saudara sendiri, atau menyiksa diri sendiri dengan menyandang status pengungsi di negara orang. Kita semua mengetahui negara Perancis, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Australia, sebagai negara maju, tapi jangan kita menganggap masyarakatnya juga maju, negera-negara tersebut di atas juga negara yang berstandar ganda. Masyarakat di negara Perancis, Inggris, Jerman, menganggap kaum pendatang warga negara kelas dua mereka. Imigran dari Asia dan Afrika tidak dianggap warga negara. Amerika, perlakuannya terhadap warga negaranya yang berkulit hitam, tidak sebagus wacana penegakan HAMnya. Australia sama juga, hak-hak kaum Aborijin sebagai pemilik sah benua Australia, ditekan, dikebiri hak-haknya. Maka jangan berharap banyak kepada negera-negara maju tersebut. Selagi kepentingan politik-ekonominya dengan Indonesia terganggu, mereka mendorong gerakan separatisme untuk merongrong Indonesia. Selagi hubungan pemerintah Indonesia dengan negara tersebut harmonis, aktivis gerakan separatisme mengalami masa surut. Contoh nyata dalam hal ini adalah hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat. Amerika Serikat saat ini sedang kewalahan menghadapi gerakan fundamentalisme Islam khususnya di Irak. Tiga tahun setelah kota Baghdad jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat, 9 April 2003, yang ditandai dengan dihancurkannya patung mantan Presiden Saddam Hussein, Irak kini semakin terperangkap dalam aksi kekerasan yang mengarah pada perang saudara. Ketika pandangan ini dikemukakan oleh presiden Mesir, Hosni Mubarak, Pemerintah Irak mengecam keras pernyataan presiden Mesir ini. Nyatanya perang saudara telah pecah antara berbagai kelompok keagamaan dan etnis di negara Irak saat ini. Mubarak mengatakan, perang saudara telah terjadi antara warga Syiah, Arab Sunni, warga Kurdi dan kelompok-kelompok lain di negara itu, dan konflik di Irak ini dapat menjadi pergolakan yang mengancam seluruh kawasan Timur Tengah. Bila Amerika "lari malam" dari Irak, Irak akan porakporanda dilanda perang saudara. Agar Indonesia dapat mengendalikan sukarelawan muslim fundamentalismenya, Pemerintah AS, kemudian mencabut kebijakan embargo persenjataan kepada Indonesia. Selanjutnya kongres Amerika Serikat pun akhirnya mencabut isu Papua dalam RUU Apropriasi HR 3057 yang antara lain mempertanyakan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Terungkap pula siapa penembak tiga karyawan PT Freeport di Timika pada 27/1/2003 yang lalu. Ternyata penembakan ini atas perintah pimpinan OPM Kelly Kwalik. Maksud hati ingin memojokkan TNI dan Pemerintah Indonesia, ternyata tidak berhasil. Tampaknya para elit pendukung OPM kesal dengan pencabutan dan pengungkapan tersebut di atas. Secara moril pendukung, pengejar "M" (Merdeka) menjadi terpukul. Maka tidak lama kemudian dimainkanlah isu PT. Freeport, sebuah perusahaan penambangan emas dan tembaga terbesar Amerika Serikat (AS) di Indonesia yang beroperasi di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Pencabutan dan pengungkapan di atas jelas menguntungkan pemerintah Indonesia. Ini adalah kredit point untuk membangun hubungan politik dan ekonomi yang lebih baik dengan Indonesia. Untuk apa? diduga berkaitan dengan pencegahan keikutkesertaan kaum fundamentalis Islam Indonesia bermain di belakang layar di Irak. Pemerintah Amerika berharap Pemerintah Indonesia dapat meminimalkan relawan Islam fundamentalis Indonesia menganggu kepentingan AS di Timur Tengah. Bila hal ini tidak dilakukan, Amerika bisa saja rugi dalam beberapa sisi (1) Bila Indonesia fokus melirik membeli persenjataan ke Rusia, AS akan kehilangan salah satu negara pasaran senjatanya, sebab sejak masa Megawati, Indonesia mulai melirik pembelian persenjataan ke Rusia. (2) Embargo yang diterapkan selama ini, sudah tidak efektif menekan pemerintah Indonesia, (3) Bila sukarelawan islam fundamentalis Indonesia ikut bermain di Irak, tentera AS akan semakin kewalahan menghadapinya. Bila dijumlahkan jumlah orang yang mati selama Pemerintahan Saddam Husein berkuasa, dibandingkan sejak AS menginvasi Irak, maka jumlah korban manusia yang mati jauh lebih banyak selama AS menginvasi Irak. Demikianlah pasang surutnya hubungan antar negara. Pasang-surut ini dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi. Maka pencabutan tersebut di atas, berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat yang dapat dibantu oleh Pemerintah Indonesia. Melalui penjelasan ini saya mau katakan kepada teman-teman di Papua, naik turunnya dukungan kepada isu Papua Merdeka, juga bergantung kepada kepentingan politik ekonomi negara pendukung gerakan tersebut kepada Indonesia. Bila pemerintah Indonesia, pintar menggunakan Sumber Daya yang dimilikinya dari balik belakang layar, bukan tidak mungkin Pemerintah Australia dan Pemerintah Amerika akan kebingungan sendiri. Penutupan perairan Indonesia misalnya, misalnya penutupan selat Lombak bagi lalulintas kapal-kapal dagang Australia oleh Indonesia, dan Indonesia menutup mata terhadap arus imigran Timur Tengah yang mau berimigrasi ke Australia, akan menjadi masalah tersendiri bagi Australia. Atau secara kasar, ada kaum fundamentalis Indonesia datang ke Australia, membuat titik-titik api untuk membakar hutan-hutan Australia. Ikut sertanya fundamentalis Islam Indonesia bermain-main di wilayah kepentingan politik dan ekonomi Amerika, di Timur Tengah misalnya akan membuat Pemerintah Amerika menghadapi kesulitan sendiri. Bila sudah sampai taraf seperti ini, bukan tidak mungkin mereka juga bisa kalap, seperti kalapnya Amerika pada perang Dunia II tahun 1945 yang lalu. Amerikalah satu-satunya negara yang pernah menggunakan Bom Atom di dunia ini, ketika Amerika membom Jepang (Nagasaki dan Hirosima). Australia sendiri dikabarkan pernah merencanakan membom Jakarta, apabila TNI angkatan Laut, menghadang pasukan Australia yang akan bertugas ke Timtim, pascajajak pendapat tahun 1999 yang lalu. Masalahnya Pemerintah Indonesia belum mengenal Sumber Daya yang dimilikinya untuk membalas dukungan negara yang mendukung separatisme di Indonesia. Maka kembali saya kemukakan, tidak ada salahnya kita belajar, bercermin dari suasana hati pihak Gerakan Aceh Merdeka yang memilih menandatangani perjanjian damai, daripada memperpanjang penderitaan terhadap saudara sendiri, atau menyiksa diri sendiri dengan menyandang status sebagai pengungsi di negara orang. Visa sementara yang diterima oleh ke 42 orang saudara kita yang mencari suaka politik di Australia tersebut, dapat tidak diperpanjang oleh Pemerintah Australia setelah masa berlakunya habis kelak. Kondisi ini tergantung bagaimana Pemerintah Indonesia mengelola hubungan Indonesia Australia, mulai dari hari ini. Kalau Pemerintah Indonesia, "baik" mengelola hubungannya dengan Australia, bukan tidak mungkin, dapat saja, bulan depan visa tersebut dibatalkan. Atau bukan tidak mungkin pula, setelah habis masa berlakunya, para pencari suaka tersebut dikembalikan ke Indonesia, dengan alasan tidak memenuhi syarat. Banyak sekali terjadi kemungkinan. Maka adalah bijak, bila kita renungkan puisi Dalil Merdeka yang ditulis oleh Agam Pungo di atas. Apa yang dirasakan teman-teman dari Papua berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah selama ini, sebenarnya juga dirasakan oleh teman-teman dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya. Jangan lagi ada diantara kita yang mau dikorbankan (menjadi tumbal) untuk kepentingan politik para elit yang ambisius kekuasaan. Para elit suka bicara banyak hal, tapi tidak terukur hasilnya untuk kepentingan rakyat banyak. Justru mereka sendiri yang akan mendapat hasilnya, dengan mengorbankan rakyat yang tidak tahu apa-apa. Dalam bahasa kiasan, rakyat itu diibaratkan karpet yang bagus. Semua memuji karpet yang bagus tersebut, tetapi ya namanya karpet, karpet tetap untuk dipijak. Kepentingan rakyatpun demikian, semua politikus, LSM, semua elit, baik elit lokal, elit nasional, elit internasional, termasuk para tokoh agama, bicara masalah kepentingan rakyat, tapi tidak jelas kepentingan rakyat yang mana, karena faktanya rakyat tetap menderita, tetap tidak berubah, malah terjadi kebalikannya, semakin terpuruk. Justru yang terlihat kesejahateraannya semakin baik adalah mereka sendiri, mereka yang suka bicara atas nama kepentingan rakyat. Di sinilah berpolitik itu disebut menghalalkan segala cara. Inikan brengsek namanya. *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

