DALIL MERDEKA 
 By KAWAR BABLEPAS
Email: [EMAIL PROTECTED]

DALIL MERDEKA 

Kawan, kugugah kau 
bila kau rebut 
atau kejar merdeka 
maka kau akan terjajah 
alias tidak merdeka 
tetapi bila tidak kau rebut merdeka 
justru kau merdeka 

maka semakin kuat 
semakin keras kau rebut merdeka 
semakin kau tuntut merdeka 
maka semakin kuat 
dan semakin keras kau terjajah 

Kawan, kugugah kau! 
renungkanlah saat kau menjelang tidur malam 
atau saat menjelang matahari terbit 

Agam Pungo, 2002 


Dikutip dari Situs: westpapua tahun 2002,
dan juga pernah dibaca di buku tamu:
Front Demokratik Rakyat Aceh (FDRA) tahun 2002
 

Aceh saat ini sudah damai. Rakyat Aceh sudah mendapatkan suasana 
tentram, damai yang sempat hilang, dirampas oleh konflik. Menjadi 
pertanyaan kini, apakah ada hubungan spirit yang ada pada puisi di 
atas ini dengan kondisi Aceh yang sudah aman saat ini?
Apakah ada hubungan spirit yang ada puisi di atas ini dengan suasana 
hati pihak Gerakan Aceh Merdeka sehingga mereka lebih memilih 
menandatangani perjanjian damai Helsinki, demi membangun Aceh ke 
depan daripada membuat penderitaan terhadap saudara sendiri di Aceh, 
atau menyiksa  diri sendiri dengan menyandang status pengungsi di 
negara orang seperti sebelum perjanjian ditandatangani?
Tidak jelas memang!, tetapi nyatanya kini Aceh sudah aman. Semoga 
kondisi aman tersebut dapat dipertahankan selamanya. Pelanggaran  HAM 
akan terjadi secara sistematis  bila suasana di suatu daerah tidak 
aman.
Bagaimana dengan teman-teman di Papua? Puisi yang ditulis oleh Agam 
Pungo ini mungkin cocok untuk direnungkan, agar teman-teman tidak 
menjadi korban atau dikorbankan (menjadi tumbal) untuk kepentingan 
politik para elit yang ambisius kekuasaan. Para elit ini, mungkin 
saja berencana menggoyang pemerintahan SBY dengan menggunakan 
berbagai isu, berbagai cara yang sesuai dengan konteks yang ada. 
Di balik RUU Aksi Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP)  rencana radikal 
dari kalangan elit agama Islam di Indonesia untuk mengislamisasikan 
Indonesia melalui tangan Negara, terlihat jelas. Mereka menggunakan 
aksi-aksi demo mendukung dan memaksa DPR agar segera mensahkan RUU 
APP menjadi UU APP. Bila ini jadi disahkan (dijadikan UU APP), banyak 
yang akan menjadi korbannya, bukan saja di sektor ekonomi-pariwisata, 
namun juga para wanita, termasuk para wanita yang ikut demo mendukung 
RUU APP ini, termasuk anak-anak wanita para pendukung. Mereka inilah  
yang akan menjadi sasaran RUU APP ini dikemudian hari, atas nama 
agama Islam. Lihat saja hasil survei nasional yang dilakukan oleh 
Lembaga Survei Indonesia (LSI), Maret 2005, mengenai dukungan dan 
penolakan terhadap radikalisme Islam  mengungkapkan sasaran 
islamisasi ini adalah:
1.  Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin (tidak boleh menjadi 
presiden)
2.  Bunga bank harus dilarang karena bunga tersebut riba, dan riba 
adalah haram.
3. Orang mencuri harus dihukum potong tangan
4. Orang berjina harus dirajam (dilempari sampai mati)
5. Laki-laki boleh poligami (beristri lebih dari satu).
6. Hak waris anak perempuan separuh dari hak waris anak laki-laki.
7. Pembenaran untuk melakukan tindakan "kekerasan" dengan alasan 
mempertahankan atau membela Islam.
Agenda nomor 1 dan 5 jelas mangsa atau sasaran pertamanya adalah kaum 
wanita. Tetapi jangan dipahami, itu kan hanya untuk kalangan wanita 
Islam, wanita non-Islam seperti Kristen, Hindu, Budha atau pria non-
Islam seperti Kristen, Hindu, Budha `kan dibolehkan!, cara pandangan  
seperti  salah. Kalau wanita yang jelas beragama Islam sudah tidak 
boleh menjadi pemimpin, jangan berharap yang non-Islam (pria atau 
wanita) boleh, haram hukumnya muslim dipimpin oleh non-muslim dalam 
pandangan islam radikal. Kemudian teks di atas jangan pula dipahami 
memimpin  hanya jadi Presiden. Pemahaman terhadap tidak boleh 
memimpin ini harus meluas. Bisa saja nanti dalam perjalanannya 
wanita, walaupun beragama Islam tidak boleh mengendarai sepeda motor 
atau mobil walau mobil pribadi sekalipun seperti yang terjadi di Arab 
Saudi, tidak boleh keluar malam lewat dari jam 8 malam, dengan dalih 
untuk mencegah pekat (penyakit masyarakat),  tidak boleh bersekolah  
seperti yang pernah terjadi di Afganistan semasa pemerintahan Taliban 
dan sebagainya. Tafsirannya akan berkembang bermacam-macam, hasil 
akhirnya untuk kepentingan politik kelompok, untuk kepentingan 
politik para ulama,  atas nama agama (Tuhan). Kalau agenda nomor 1 
dan 5 terukur (dapat diukur), selanjutnya agenda nomor 7, jauh lebih 
berbahaya karena tidak terukur, siapa saja boleh menjadi sasarannya, 
boleh wanita, boleh pria. Juga boleh melakukan tindakan macam-macam, 
menfitnah (Non-Islam dilarang menjadi Presiden seperti yang pernah 
dialami oleh Megawati Soekarnoputri), menzalimi (melarang, merusak 
rumah-rumah ibadah seperti Gereja, seperti yang kita saksikan di era 
reformasi ini), membunuh orang lain (bom bunuh diri dengan sasaran 
obyek-obyek tertentu contohnya kasus bom Bali I dan II), dengan  
mengatasnamakan membela Islam atau membela ajaran Tuhan.
Contoh lain, isu PT Freeport Papua, pembakaran base came PT Newmont 
di Sumba, anti Amerika di Blok Cepu adalah upaya-upaya menghancurkan 
perekonomian Indonesia atas nama berbagai isu, tujuan akhirnya agar 
investor asing berpikir 1000 kali untuk menanamkan modalnya di 
Indonesia. Kalau sektor ekonomi Indonesia tidak tumbuh, kita sudah 
sama tahu, pengangguranlah yang muncul. 
Kasus terbaru adalah kerusuhan yang terjadi di Kampung Wembi, Distrik 
Arso, Kabupaten Keerom, Papua, Senin (10/4/2006). Kerusuhan ini 
meminta korban empat orang tewas, dan seorang mengalami luka berat. 
Dua dari korban yang tewas adalah Sertu Ahmad Basory dan Pratu 
Sukarno. Sedangkan satu korban TNI lain  mengalami luka. Berdasarkan 
berita yang kita baca, para penyerang TNI ini bersenjata parang dan 
panah tradisional Papua.  
Bagaimana skenario lanjutan kerusuhan ini. Pihak penyerang berharap 
TNI mengadakan penyisiran terhadap kelompok penyerang. Dalam 
penyisiran ini, pihak TNI diharapkan brutal. Dampak keberutalan ini, 
diharapkan melahirkan pengungsian penduduk besar-besaran. Lalu 
penduduk yang mengungsi dihasut untuk mencari suaka politik. Caranya 
pengungsian sementara diarahkan negara PNG (Kabupaten Keerom 
berbatasan dengan PNG). Dari sini, diatur mencari negara pemberi 
suaka.
Alasan mencari suaka politik sudah cukup kuat dan jelas, dikatakan 
TNI mengejar-ngejar mereka. Maka TNI dan pemerintah Indonesia pun 
terpojok. Apa yang pernah dikatakan Presiden ketika menganggapi 42 
warga Papua pencari suaka yang mendapat visa sementara di Australia, 
bahwa tidak ada warga Papua yang dikejar-kejar atau tidak ada aparat 
pemerintah yang  melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Papua, 
menjadi benar sekali ini. 
Lalu, bagaimana kondisi  mereka yang menjadi pengungsi di negara 
lain? Apakah menjadi baik? Apakah semakin merasakan kebebasan? 
Jawabannya semua masih dalam meja perjudian nasib. 
Demikian juga dengan demo buruh. Para buruh tidak menyadari, kalau 
perusahaan mereka tutup, atau bangkrut atau direlokasi ke negara lain 
oleh pemilik modal, mereka pikir mereka akan menjadi sejahtera. 
Justru mereka akan kena PHK. Kalau sudah kena PHK, sudah sama tahu, 
hasil akhir bagaimana. Bagi yang punya anak, pendidikan anak dapat  
terbengkalai karena tidak ada lagi sumber dana untuk membiayainya, 
jangankan untuk mendanai pendidikan anak, untuk menutupi biaya hidup 
sehari-hari saja menjadi masalah tersendiri. Bila sakit, tidak punya 
uang lagi berobat, dan seterusnya. Kalau sudah demikian, strees 
beserta ikutannyalah yang datang. Mikir nggak  kira-kira kaum buruh 
kita terhadap hasil akhir dari aksi demo mereka ini? Logika sederhana 
saja, kalau sudah tidak betah bekerja di satu perusahan karena gaji 
tidak memadai, kan lebih baik mengundurkan diri. Cari perusahaan yang 
dapat mengakomodasi gaji seperti diharapkan, enggak perlu ngajak 
apalagi maksa teman-teman untuk ikut demo. Kalau buruh punya skill 
yang bagus, akan cepat dapat kerja, dan perusahaan yang akan 
ditinggalkan pasti rugi melepaskan buruhnya yang pintar. Bukan 
seperti saat ini, mengajak teman-teman untuk menghancurkan perusahan. 
Kan tidak logis perilaku seperti ini. Ini namanya memeras perusahaan 
tempat bekerja.
Siapa yang mendapat untung dengan pemiskinan rakyat Indonesia seperti 
ini? Pastilah kalangan fundamentalis agama, dan kalangan asing yang 
tidak ingin Indonesia sukses, mereka menghendaki 
terjadi "Balkanisasi" di Indonesia. Dengan semakin banyaknya 
pengangguran ini akan menambah energi bagi gerakan radikal mereka 
(terjadi radikalisasi), radikalisasi atas nama agama, radikalisasi 
atas nama kesejahteraan, radikalisasi atas nama marjinalisasi dan 
sebagainya. Mereka akan merekrut para "penganggur" ini dengan mencuci 
otaknya atas nama ajaran agama, atas nama perjuangan untuk 
kesejahteraan, atas nama perjuangan melawan marjinalisasi, untuk 
melakukan hal-hal yang destruktif.
Lihat saja para pelaku bom bunuh diri, semuanya direkrut dari 
kalangan orang-orang miskin. Para pelaku bom bunuh diri mati, orang 
yang menyuruhnya justru hidup dan melanjutkan kepentingannya. Kalau 
memang benar atas nama Tuhan, mengapa tidak otak pelakunya saja yang 
mati bersama bom bunuh diri tersebut, mengapa harus menyuruh orang 
lain?, mengorbankan orang lain?! 
Lihat saja radikalisasi atas nama kesejahteraan, siapa otak 
penggeraknya, darimana dana mereka dapatkan untuk menggalang massa 
berdemo? Kemudian, lihat kesejahteraan otak penggerak demo atas nama 
buruh ini, pasti jauh lebih sejahtera dari buruh yang mereka 
provokasi, malah pekerjaan mereka  sehari-hari bukan pula buruh. 
Kalau begitu apa kepentingannya menggerakkan demo buruh? Pasti ada 
agenda tersembunyinya yang bertujuan jelek bagi kebersamaan, 
ketentraman yang terbangun selama ini. Contoh nyata untuk ini adalah 
kasus teror Poso, teror dibangun terus, agar korupsi yang dilakukan 
oleh kelompok tertertu selama ini tertutupi. Seharusnya bila gaji 
para buruh dianggap kurang, mereka, para penggerak demolah yang 
menambahinya, bukan mengajari buruh untuk bunuh diri melalui demo 
yang pada gilirannya, demo ini mendorong para buruh ke (tepi) jurang 
PHK.
Kadang kita tidak sadar, isu yang mereka pakai misalnya penegakan 
moral (RUU APP), kesejahteraan (demo buruh) marjinalisasi masyarakat 
lokal (seperti di Papua) dengan berbagai variannya, tujuannya agar 
massa menjadi destruktif. Sebagai masyarakat kita  percaya dan yakin. 
Lalu ikut demo menentang, anarkis lagi, maka berhasilah mereka 
menjalankan agenda tersembunyinya.  Massa diadu antara sesama massa 
atau antara massa dengan aparat keamanan. Sang otak pelaku 
berhahahihi ria ditempat yang aman. Massa yang babak belur saling 
baku hantam.
Demikian juga halnya dapat terjadi terhadap masyarakat di Papua. Para 
elit lokal, nasional maupun asing, menggelindingkan isu-isu atas nama 
rakyat Papua. Mereka seperti sama-sama mendukung penderitaan 
masyarakat Papua, tetapi agenda akhir mereka saling berbeda, bahkan 
bisa saling bertolak belakang, karena masing-masing punya agenda 
sendiri. Mereka sama-sama bertujuan menggoyang pemerintahan SBY dari 
segala arah, untuk wilayah Papua, mungkin anda dan kelompok anda 
salah satu yang akan mereka korbankan dari sekian banyak cara yang 
akan mereka gunakan untuk menggoyang pemerintahan SBY tersebut. 
Mungkin saja. Sampai kesanakah teman-teman di Papua memikirkannya? 
Melalui pernyataan saya ini, anda jangan menganggap saya  pro SBY-
Kalla. Enggak saya sama sekali tidak pro mereka. Bersalaman pun saya 
tidak pernah dengan mereka. 
Soal orang papua terasing di wilayahnya sendiri, sebenarnya bukan 
hanya orang papua saja yang mengalaminya, banyak suku yang menderita 
dengan kondisi selama ini. Coba anda pelajari suku-suku terasing di 
Sumatera, seperti suku anak dalam, suku anak laut. Mereka juga 
terasing di tanah ulayatnya.  Demikian juga dengan Suku Talang Mamak, 
suku Talang Mamak ini berdiam di kab. Indragiri Hulu tersebar di 3 
Kecamatan Pasirpenyu, Siberida dan Rengat. Mereka termasuk masyarakat 
terasing, hidup berkelompok-kelompok dan berpencar di daerah hutan. 
Mata pencahariannya adalah bercocok tanam padi ladang dengan pola 
berpindah-pindah. Akibat ekspansi perkebunan, ketenangan mereka di 
wilayah mereka hanya menunggu hari saja untuk tidak terusik.
Tidak usah jauh-jauh mencari suku yang kurang populer, di Jakarta 
saja, hal seperti ini terjadi. Siapa yang tidak pernah baca tentang 
Suku Betawi. Anda yang sekolahan pasti tahu ada suku Betawi. Suku ini 
adalah penduduk asli Jakarta. Coba perhatian suku Betawi, sebagai 
penduduk asli di Jakarta, mereka sendiri "terpinggirkan" di wilayah 
etnisnya. Sebagian besar penduduk Jakarta saat ini, bukan lagi 
berasal dari penduduk asli Betawi, tetapi sudah campuran dari 
berbagai etnis (suku) yang ada di Indonesia, termasuk etnis yang 
berasal dari Papua. Kalau dibuat pemetaan sederhana, dengan 
klasifikasi lokal-pendatang (untuk non Betawi), maka penduduk Jakarta 
lebih banyak pendatang (non Betawi).
Tidak ada salahnya kita belajar dari suasana hati pihak Gerakan Aceh 
Merdeka yang  memilih menandatangani perjanjian damai Helsinki, demi 
membangun Aceh ke depan daripada membuat penderitaan terhadap saudara 
sendiri, atau menyiksa  diri sendiri dengan menyandang status 
pengungsi di negara orang. Kita semua mengetahui negara Perancis, 
Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Australia, sebagai negara maju, 
tapi jangan kita menganggap masyarakatnya juga maju, negera-negara 
tersebut di atas juga negara yang berstandar ganda. Masyarakat di 
negara Perancis, Inggris, Jerman, menganggap kaum pendatang warga 
negara kelas dua mereka. Imigran dari Asia dan Afrika tidak dianggap 
warga negara. Amerika, perlakuannya terhadap warga negaranya yang 
berkulit hitam, tidak sebagus wacana penegakan HAMnya. Australia sama 
juga, hak-hak kaum Aborijin sebagai pemilik sah benua Australia, 
ditekan, dikebiri hak-haknya. Maka jangan berharap banyak kepada 
negera-negara maju tersebut. Selagi kepentingan politik-ekonominya 
dengan Indonesia terganggu, mereka mendorong gerakan separatisme 
untuk merongrong Indonesia. Selagi hubungan pemerintah Indonesia 
dengan negara tersebut harmonis, aktivis gerakan separatisme 
mengalami  masa surut. 
Contoh nyata dalam hal ini adalah hubungan Indonesia dengan Amerika 
Serikat.  Amerika Serikat saat ini sedang kewalahan menghadapi 
gerakan fundamentalisme Islam khususnya di Irak. Tiga tahun setelah 
kota Baghdad jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat, 9 April 2003, 
yang ditandai dengan dihancurkannya patung mantan Presiden Saddam 
Hussein, Irak kini semakin terperangkap dalam aksi kekerasan yang 
mengarah pada perang saudara. Ketika pandangan ini dikemukakan oleh  
presiden Mesir, Hosni Mubarak, Pemerintah Irak mengecam keras 
pernyataan presiden Mesir ini. Nyatanya perang saudara telah pecah 
antara berbagai kelompok   keagamaan dan etnis di negara Irak saat 
ini. Mubarak   mengatakan, perang saudara telah terjadi antara warga  
Syiah, Arab Sunni, warga Kurdi dan kelompok-kelompok  lain di negara 
itu, dan konflik di Irak ini dapat menjadi pergolakan yang mengancam 
seluruh kawasan Timur Tengah. Bila Amerika "lari malam" dari Irak, 
Irak akan porakporanda dilanda perang saudara. Agar Indonesia dapat 
mengendalikan sukarelawan muslim fundamentalismenya, Pemerintah AS, 
kemudian mencabut kebijakan embargo persenjataan kepada Indonesia. 
Selanjutnya kongres Amerika Serikat pun akhirnya  mencabut isu Papua 
dalam RUU Apropriasi HR 3057 yang antara lain mempertanyakan 
keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Terungkap 
pula siapa penembak tiga karyawan PT Freeport di Timika pada 
27/1/2003 yang lalu. Ternyata penembakan ini atas perintah pimpinan 
OPM Kelly Kwalik. Maksud hati  ingin memojokkan TNI dan Pemerintah 
Indonesia, ternyata tidak berhasil. Tampaknya para elit pendukung 
OPM  kesal dengan pencabutan dan pengungkapan tersebut di atas. 
Secara moril pendukung, pengejar "M" (Merdeka) menjadi terpukul. Maka 
tidak lama kemudian  dimainkanlah isu PT. Freeport, sebuah perusahaan 
penambangan emas dan tembaga terbesar Amerika Serikat (AS) di 
Indonesia yang beroperasi di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, 
Provinsi Papua. 
Pencabutan dan pengungkapan di atas jelas menguntungkan pemerintah 
Indonesia. Ini adalah kredit point untuk membangun hubungan politik 
dan ekonomi yang lebih baik dengan Indonesia. Untuk apa? diduga 
berkaitan dengan pencegahan keikutkesertaan kaum fundamentalis Islam 
Indonesia bermain di belakang layar di Irak. Pemerintah Amerika 
berharap Pemerintah Indonesia dapat meminimalkan relawan Islam 
fundamentalis  Indonesia menganggu kepentingan AS di Timur Tengah.  
Bila hal ini tidak dilakukan, Amerika bisa saja rugi dalam beberapa 
sisi (1) Bila Indonesia fokus melirik membeli persenjataan ke Rusia, 
AS akan kehilangan salah satu negara pasaran senjatanya, sebab sejak 
masa Megawati, Indonesia  mulai melirik pembelian persenjataan ke 
Rusia.  (2) Embargo yang diterapkan selama ini, sudah tidak efektif 
menekan pemerintah Indonesia, (3) Bila sukarelawan islam 
fundamentalis Indonesia ikut bermain di Irak, tentera  AS akan 
semakin kewalahan menghadapinya. Bila dijumlahkan jumlah orang yang 
mati selama Pemerintahan Saddam Husein berkuasa,  dibandingkan sejak 
AS menginvasi Irak, maka jumlah korban manusia yang mati  jauh lebih 
banyak selama AS menginvasi Irak. Demikianlah pasang surutnya 
hubungan antar negara. Pasang-surut ini dipengaruhi oleh kepentingan 
politik dan ekonomi. Maka pencabutan tersebut di atas, berkaitan 
dengan kepentingan Amerika Serikat yang dapat dibantu oleh Pemerintah 
Indonesia.
Melalui penjelasan ini saya mau katakan kepada teman-teman di Papua, 
naik turunnya dukungan kepada isu Papua Merdeka, juga bergantung 
kepada kepentingan politik ekonomi negara pendukung gerakan tersebut 
kepada Indonesia. Bila pemerintah Indonesia, pintar menggunakan 
Sumber Daya yang dimilikinya dari balik belakang layar, bukan tidak 
mungkin Pemerintah Australia dan Pemerintah Amerika akan kebingungan 
sendiri. Penutupan perairan Indonesia misalnya, misalnya penutupan 
selat Lombak bagi lalulintas kapal-kapal dagang Australia oleh 
Indonesia, dan Indonesia menutup mata terhadap arus imigran Timur 
Tengah yang mau berimigrasi ke Australia, akan menjadi masalah 
tersendiri bagi Australia. Atau secara kasar, ada kaum fundamentalis 
Indonesia datang ke Australia, membuat titik-titik api untuk membakar 
hutan-hutan Australia. Ikut sertanya fundamentalis Islam Indonesia 
bermain-main di wilayah kepentingan politik dan ekonomi Amerika, di 
Timur Tengah misalnya akan membuat Pemerintah Amerika menghadapi 
kesulitan sendiri.  Bila sudah sampai taraf seperti ini, bukan tidak 
mungkin mereka juga bisa kalap, seperti kalapnya Amerika pada perang 
Dunia II tahun 1945 yang lalu. Amerikalah satu-satunya negara yang 
pernah menggunakan Bom Atom di dunia ini, ketika Amerika membom 
Jepang (Nagasaki dan Hirosima). Australia sendiri dikabarkan pernah 
merencanakan membom Jakarta, apabila TNI angkatan Laut, menghadang 
pasukan Australia yang akan bertugas ke Timtim, pascajajak pendapat 
tahun 1999 yang lalu.  Masalahnya Pemerintah Indonesia belum mengenal 
Sumber Daya yang dimilikinya untuk membalas dukungan  negara yang 
mendukung separatisme di Indonesia. 
Maka kembali saya kemukakan, tidak ada salahnya kita belajar, 
bercermin dari suasana hati pihak Gerakan Aceh Merdeka yang  memilih 
menandatangani perjanjian damai, daripada memperpanjang penderitaan 
terhadap saudara sendiri, atau menyiksa  diri sendiri dengan 
menyandang status sebagai pengungsi di negara orang. 
Visa sementara yang diterima oleh ke 42 orang saudara kita yang 
mencari suaka politik di Australia tersebut, dapat tidak diperpanjang 
oleh Pemerintah  Australia setelah masa berlakunya habis kelak. 
Kondisi ini tergantung bagaimana Pemerintah Indonesia mengelola 
hubungan Indonesia Australia, mulai dari hari ini. Kalau Pemerintah 
Indonesia, "baik" mengelola hubungannya dengan Australia, bukan tidak 
mungkin, dapat saja, bulan depan visa tersebut dibatalkan. Atau bukan 
tidak mungkin pula, setelah habis masa berlakunya, para pencari suaka 
tersebut dikembalikan ke Indonesia, dengan alasan tidak memenuhi 
syarat. Banyak sekali terjadi kemungkinan.  
Maka adalah bijak, bila kita renungkan puisi Dalil Merdeka yang 
ditulis oleh Agam Pungo di atas. Apa yang dirasakan teman-teman dari 
Papua berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah selama ini, 
sebenarnya juga dirasakan oleh teman-teman dari Sumatera, Kalimantan, 
Sulawesi dan lainnya. Jangan lagi ada diantara kita yang mau 
dikorbankan (menjadi tumbal) untuk kepentingan politik para elit yang 
ambisius kekuasaan. Para elit suka bicara banyak hal, tapi tidak 
terukur hasilnya untuk kepentingan rakyat banyak. Justru mereka 
sendiri yang akan mendapat hasilnya, dengan mengorbankan rakyat yang 
tidak tahu apa-apa. Dalam bahasa kiasan, rakyat itu diibaratkan 
karpet yang bagus. Semua memuji karpet yang bagus tersebut, tetapi ya 
namanya karpet, karpet tetap untuk dipijak. Kepentingan rakyatpun 
demikian, semua politikus, LSM, semua elit, baik elit lokal, elit 
nasional, elit internasional, termasuk para tokoh agama, bicara 
masalah kepentingan rakyat, tapi tidak jelas kepentingan rakyat yang 
mana, karena faktanya rakyat tetap menderita, tetap tidak berubah, 
malah terjadi kebalikannya, semakin terpuruk. Justru yang  terlihat 
kesejahateraannya semakin baik adalah mereka sendiri, mereka yang 
suka bicara atas nama kepentingan rakyat. Di sinilah berpolitik itu 
disebut menghalalkan segala cara. Inikan brengsek namanya.









***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke