http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006040801084615

      Sabtu, 8 April 2006 
     
      BURAS
     
     
     
     
Cari Duit di Jalan! 

       
      H.Bambang Eka Wijaya:





      SEJUMLAH pemuda menutup dengan tanah lubang di jalan antarkabupaten yang 
rusak. Dua dari mereka mengacungkan ember ke mobil yang lewat, minta sumbangan.

      Sopir angkutan desa menggerutu, "Jalan rusak ditutup tanah, malah jadi 
lumpur!"

      "Kalau kami dulu menambalnya pakai pasir dan semen!" timpal pria di 
samping sopir. "Sama, cari duit di jalan, tapi pakai modal agar orang merasa 
wajar memberi! Sehari sekarung pasir dan lima kilo semen, bisa menambal 
lubang-lubang di jalan sekitar 10 meter! Sekilo semen cuma seribu, kok!"

      "Yang begitu seperti di kawasan Desa Waru, meski sedikit ada manfaat, 
lubang di jalanan berkurang!" sambut sopir. "Di sana aku ikhlas memberi seribu! 
Di sini, cepek saja kesal!"

      "Mungkin mereka pikir kalau pakai semen setelah jalan di desanya selesai, 
akan habis objek!" tukas pria. "Padahal kami dulu, begitu sampai ujung desa, di 
ujung lainnya jalan sudah rusak lagi! Karena semen dan aspal kurang padu! Jadi, 
kerja bakti sambil cari duitnya balik ke titik awal!"

      "Asal tak malah berlumpur!" timpal sopir.

      "Memang! Tapi sekarang, makin ramai yang cari duit di jalan, dari yang 
resmi sampai cara preman, jalan jadi makin hancur!" tukas pria. "Itu karena 
kehancuran jalan justru menjadi objekan! Tanpa kecuali Pemda, jalan rusak di 
Pos TPR sengaja dibiarkan lebih hancur lagi agar tak disetop pun kendaraan akan 
pelan sendiri, mudah mengutip retribusinya!"

      "Pokoknya, makin rusak jalan, kian banyak pula yang cari duit di jalanan, 
dari instansi dan aparat resmi sampai preman!" timpal sopir. "Akibatnya, 
semakin banyak saja yang harus dilayani oleh sopir angkutan umum, baik 
penumpang maupun barang!"

      "Itulah penyebab apa yang disebut ekonomi biaya tinggi!" ujar pria. "Tapi 
semua itu pun belum cukup! Pemprov akan menghidupkan lagi jembatan timbang di 
Blambangan Umpu, Simpang Pematang, dan Gayam! Tujuannya juga cari duit di jalan 
guna menambah PAD--pendapatan asli daerah! Artinya, ekonomi biaya tinggi itu 
bukan dikurangi, tapi malah dipompa terus secara maksimal tanpa peduli 
akibatnya pada perekonomian nasional!"

      "Tapi katanya perda untuk pungutan di jembatan timbang itu belum ada!" 
sela sopir.

      "Kalau penguasa mau melakukannya, mana peduli ada aturan atau tidak!" 
tegas pria, "Tak susah buat mereka, tinggal calling pejabat pusat untuk membuat 
sepotong surat, ada atau tidak perda bisa saja dilaksanakan!"

      "Begitu?" sambut sopir. "Pantas negara kita hancur, aturan selalu bisa 
diakali!"

      "Yang hancur dan sekarat cuma rakyat!" tukas pria. "Sedang para pejabat 
yang bisa mengakali aturan justru hidup makmur dan tambah kaya terus!"

      "Aku geli!" ujar sopir. "Pungutan resmi dan liar sudah bejibun, sampai 
investor takut pada ekonomi biaya tinggi sebagai eksesnya, malah pungutan baru 
lagi yang digagas!"

      "Justru ide itu oleh penguasa bisa saja dinilai brilian!" timpal pria. 
"Karena, dari semua itu terlihat bukan kepentingan rakyat atau kepentingan 
nasional yang diutamakan!" ***
     


-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 60 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke