http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=13510



Tolak Perbudakan Wanita
Oleh Supadiyanto



Rabu, 12-April-2006, 01:29:41
Kekerasan dan perbudakan terhadap kaum wanita menyeruak kembali mewarnai 
diskriminasi personal dalam lingkup lokal, regional, maupun transnasional. 
Puncaknya turut mempengaruhi buramnya masa depan makhluk yang bernama 
perempuan. 


Kasus kekerasan Lisa (wanita yang di-face off) misalnya, salah satu di antara 
serangkaian problematika pelik yang kerap menimpa wanita saat ini. Sosok 
seorang wanita idealnya menjadi ibu rumah tangga yang baik sekaligus berperan 
sebagai tempat curahan kasih sayang setiap anggota keluarga. Itu idealisme 
status kaum Hawa di masa dahulu; penegasan peran natural. 

Kini, perubahan zaman menuntut peran wanita bermakna multifungsi. Tuntutan 
karir, insting ingin menonjolkan prestasi di luar lingkungan rumah, serta nafsu 
tersembunyi untuk diakui keintelektualitasannya dalam pergaulan sosial, dan 
entah tuntutan apa lagi memaksa psikis kaum Hawa ingin menjadi pesaing kaum 
Adam. 

Hal tersebut mengingatkan kita (semua) akan peran vital wanita dalam mendidik 
dan mempersiapkan generasi muda bangsa. Siapa pun itu (entah penganut paham 
komunis, agamis, liberalis, atau pun konservatif) pasti tak berani menolak 
bagaimana prestisiusnya sosok wanita (ibu), yang amat terhormat di hadapan 
mereka. 

Zaman modern (serbakontemporer) memprakondisikan wanita untuk mengubah peran 
dari sekadar peran natural ke peran kultural. Peran natural yang seakan 
mereposisikan titik koordinat wanita pada makna kanca wingking menimbulkan 
protes tak terampuni dari kalangan mereka sendiri. 

Gugatan untuk mengubah posisi mereka yang berkedudukan subordinat, yang semula 
hanya di-second line-kan kaum pria, kian mencuat ke permukaan. Itu seiring 
dengan perjuangan emansipasi wanita yang dipropagandakan negara kapitalis. 

Peran kultural, yang mencuat pascaera kontemporer, seakan membunuh roh 
kenaturalan peran wanita yang telah dimainkan dengan apik. Padahal, bila 
dielaborasikan bersama dengan tanpa meniadakan peran satu sama lain, dwifungsi 
itu diyakini melahirkan sosok wanita yang serbaideal. 

Tak terbayangkan lagi, bagaimana jadinya kalau wanita hanya memainkan 
fungsi-peran kultural saja. Atau sebaliknya, mereka hanya sibuk berkutat untuk 
mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak serta melayani kebutuhan biologis 
suami. 

Kehebatan mental juang wanita memang tak bisa diragukan lagi. Pengorbanan demi 
kelangsungan masa depan anaknya tak ternilai dengan harta, apalagi perasaan. 
Kaum Hawa yang masih dipersepsikan publik sebagai makhluk lemah, penuh 
emosional, secara hakiki menjadi faktor dominan munculnya pandangan miring 
tersebut. Jika dikomparasikan dengan sosok pria, memang secara kultural, ada 
perbedaan mendasar di antara keduanya. 

Desain fisik perempuan yang sarat garis lengkung mengindikasikan bentuk 
kelemahlembutan. Berbeda dengan lelaki yang sarat dengan garis lurus nan tegas, 
yang mengisyaratkan kedisiplinan dan ingin menguasai (bukan terkuasai). Namun, 
itu tak penting untuk diperdebatkan bersama. Intinya, bagaimanakah kedua jenis 
insan tersebut mampu memberikan performance dan pengabdian terbaiknya terhadap 
alam (kosmosentris), sesama insan (antrophosentris), dan Tuhan (theosentris). 

Kontribusi intelektualitas seseorang dalam membangun peradaban dunia merupakan 
idealisme bagi tampilan insan tanpa mengenal batas gender. Di lingkungan 
masyarakat, perempuan yang selalu dianggap sebagai second line (opinion) tampak 
masih dominan (selanjutnya, kata perempuan akan diganti dengan terminologi 
wanita agar tak diprotes aktivis gender). Indikasinya, hampir dapat dipastikan, 
wanita tetap di-kanca wingking-kan. 

Itu teramat ironis. Wanita yang diperjuangkan hak-haknya malah merendahkan 
martabatnya sendiri. Mahasiswi salah satunya, sebagai sosok terpelajar yang 
memiliki kapasitas intelektual plus dibandingkan wanita biasa, justru sengaja 
memajang kemolekan tubuhnya di depan publik. Mereka belum puas, baik secara 
fisik maupun psikologis, jika belum banyak lelaki (mahasiswa) yang 
menyembahnya". 

Kebebasan pers yang dicanangkan pemerintah beberapa tahun silam menjadi alasan 
bagi pelaku bisnis media untuk melanggengkan industrinya. Jual beli tubuh 
wanita menjadi tayangan terfavorit guna meraup profit sebesarnya. Kiranya, RA 
Kartini akan terbangun dari kuburnya kala melihat para wanita dilecehkan. 
Beliau pasti menangis sejadinya menyaksikan para wanita masa kini diperbudak 
kaum pria. 

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 141 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke