http://www.kompas.com/utama/news/0604/14/014258.htm
Papua Jangan Terlalu Berlebihan Tangani Isu Separatisme Jakarta, Kompas - Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meminta pemerintah tidak bereaksi terlalu berlebihan menanggapi isu gerakan separatisme di Papua, menyusul sejumlah insiden kekerasan beberapa waktu terakhir. Pernyataan itu disampaikan Abdurrahman Wahid, Rabu (12/4) di kediamannya di kawasan Ciganjur, saat menggelar acara tasyakuran terkait dengan kondisi kesehatannya yang bertambah baik. Dalam kesempatan itu hadir mantan Ketua DPR Akbar Tandjung dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu. Menurut Abdurrahman, ketegasan sikap tetap diperlukan. Akan tetapi, hal itu jangan sampai membuat pemerintah salah mengambil langkah atau memilih pendekatan yang dipakai. "Tidak perlu berlebihan tanggapi separatisme. Apalagi terkait dukungan kelompok tertentu di Australia. Pemerintahnya (Australia) kan sudah ngomong tidak akan mendukung separatisme, ya itu saja kita pegang," ujarnya. Menurut dia, ide separatisme muncul ketika terjadi ketidakadilan di Papua. Dengan kondisi sumber daya alam yang sangat berlimpah, masyarakat Papua justru miskin. "Hal itu disebabkan banyak kekayaan alam yang keuntungannya disedot orang- orang tertentu di pusat," katanya. Akbar Tandjung juga menilai gerakan separatisme di Papua belum perlu sampai harus terlalu dikhawatirkan. Menurut dia, tidak konsistennya pelaksanaan kebijakan otonomi khusus Papua oleh pemerintah justru jadi salah satu penyebab utama berkurangnya keyakinan masyarakat Papua terhadap niat baik pemerintah. "Padahal, kebijakan itu sebelumnya sudah diterima oleh sebagian besar masyarakat Papua walau tetap masih ada mereka yang meragukan," kata Akbar Tandjung. Dia berpendapat pemerintah bahkan tidak perlu merasa khawatir sepanjang mereka menjalankan secara jujur kebijakan otonomi khusus Papua. Sementara itu, Ryamizard Ryacudu menilai kondisi Papua, khususnya terkait dengan masalah keamanan, akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan. Perlu sentuhan kemanusiaan Di hadapan Komisi I DPR, Dewan Adat Papua (DAP) mengharapkan Pemerintah Republik Indonesia membangun Papua dengan sentuhan kemanusiaan, tidak cukup dengan menggelontorkan uang. Menurut mereka, adanya 43 warga Papua yang lari dan meminta suaka ke Australia bukan persoalan baru. Tindakan itu timbul karena perasaan tidak nyaman hidup di negeri sendiri. "Selama ini orang Papua dikejar-kejar," ucap Ketua DAP Tom Beanal saat diterima Komisi I DPR kemarin. Anggota DAP Willy Mandowen juga menegaskan bahwa pelarian 43 warga Papua ke Australia itu bukan motif ekonomi seperti disampaikan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, melainkan karena terdorong oleh perasaan tidak aman. "Hak hidupnya belum dijamin negara," ujarnya. Dia juga mengingatkan bahwa warga Papua yang lari ke negara lain bukan hanya sejumlah itu, tetapi sudah ribuan di Belanda. Pascakerusuhan Abepura pun sejumlah mahasiswa ada yang melarikan diri ke Papua Niugini. DAP juga menyayangkan sikap pemerintah yang tidak bersungguh-sungguh melaksanakan otonomi khusus Papua dan mengaitkan berbagai persoalan dengan cap separatisme. (dwa/sut) -- ---------------------------------------- I am using the free version of SPAMfighter for private users. It has removed 160 spam emails to date. Paying users do not have this message in their emails. Try www.SPAMfighter.com for free now! [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

