http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6670

Kamis, 20 Apr 2006,



Ditanya Hakim, Amrozi Guyon


CILACAP - Terpidana mati kasus bom Bali I, Amrozi, kemarin menjadi saksi untuk sidang kasus PK (peninjauan kembali) Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustad Abu Bakar Ba'asyir di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap. Jalannya persidangan sempat diwarnai ger-geran pengunjung yang dipicu oleh jawaban-jawaban Amrozi yang mengundang tawa.

Sidang kemarin, yang merupakan sidang delegasi dari PN Jakarta Selatan, dihadiri ratusan pengunjung. Sejak malam mereka telah masuk Cilacap. Mereka berasal dari Majelis Mujahidin Surakarta yang datang dengan empat bus. Selain itu, terdapat ratusan massa dari Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS).

Kondisi ini semakin menghangat ketika Amrozi datang sekitar pukul 08.30. Dia naik kendaraan taktis (Rantis) bernomor polisi R-9510-AB milik Polwil Banyumas.

Amrozi mengenakan peci putih, baju koko, serta celana krem. Tak henti-hentinya dia mengumbar senyum, di bawah kawalan puluhan anggota Brimob bersenjata laras panjang. Pria asal Tenggulun, Lamongan, Jatim, itu sesekali berteriak Allahu Akbar, meski berada di tengah kawalan ketat.

Sidang dengan ketua majelis hakim Agus Sutarno SH dan anggota M.B. Luqmono SH dan Crisfajar SH itu semula berlangsung tenang. Sementara, penasihat hukum Ba'asyir di bawah komando Mahendradatta cukup antusias membeberkan fakta-fakta. Tampil sebagai jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan itu empat jaksa dari Kejaksaan Jakarta Selatan dan dua dari Kejaksaan Negeri Cilacap. JPU dari Jakarta Selatan terdiri atas Nanang Sigit SH, Payaman SH, Narendra SH, dan Kuntadi SH. Sedangkan dari Cilacap dipercayakan kepada Muh. Bardan dan Kuswantoro SH.

Sidang kemarin untuk membuktikan kebenaran surat Amrozi yang dibuat di Kerobokan, Bali, 24 Maret 2005. Isi surat itu terdiri atas tiga hal. Pertama, Amrozi tidak pernah menolak menjadi saksi dalam sidang Ba'asyir. Kedua, pernyataan Mubarok bahwa Ba'asyir merestui bom Bali I adalah bohong belaka. Ba'asyir tidak pernah menyatakan kalimat "terserah kalian yang ada di lapangan" sebelum bom Bali I diledakkan. Ketiga, Amrozi menegaskan sikapnya untuk siap menjadi saksi dalam persidangan Ba'asyir.

"Saya tidak pernah berbicara soal bom dengan ustad, dan tidak pernah melontarkan kata-kata seperti itu, baik kepada Mubarok maupun yang lain. Surat pernyataan itu benar saya yang membuatnya," ujar pria yang sesekali melepas kopiahnya dalam persidangan itu. Kesaksian Amrozi ini tentu saja meringankan Ba'asyir.

Sidang mulai memanas ketika JPU bertanya tentang proses bom Bali I, termasuk persiapannya. Kontan saja pertanyaan ini membuat Mahendradatta menyatakan keberatan karena tidak relevan dalam sidang itu. Bahkan, mereka meminta hakim bersikap tegas dan menggunakan kewenangannya. Saat itu Mahendradatta mengungkapkan pernyataan cukup pedas. Beberapa kali aksi protes berlangsung di persidangan. Namun, sidang tetap terkendali.

Sidang itu sempat diwarnai ger-geran pengunjung. Ini karena Amrozi menjawab pertanyaan hakim dengan guyon. Misalnya, ketika ditanya tempat tinggalnya, Amrozi menjawab di Nusakambangan.

Nah, ketika hakim mengatakan pihaknya bertanya karena tidak tahu dan baru bertemu sekali ini, Amrozi langsung menjawab, "Salah sendiri." Kontan jawaban Amrozi ini membuat pengunjung tertawa.

Amrozi juga melucu ketika hakim menyarankan untuk santai setiap kali menjawab pertanyaan. "Boleh minum kopi dong. Tadi, Bapak kan mengajak untuk santai," ujar pemuda yang gemar memelihara jenggot ini.

Pria kelahiran 43 tahun lalu itu mengaku, kali pertama pertemuannya dengan Ba'asyir terjadi di Johor, Malaysia. Dia sempat bersalaman, namun belum bisa dikatakan kenal. Perkenalannya dengan Ba'asyir terjadi tahun 2000 di rumah Amrozi ketika Ba'asyir diundang Pondok Al Islam.

Karena pondok tidak muat, sejumlah tamu rombongan tinggal di rumah Amrozi. Setelah acara selesai, Ba'asyir ke rumah Amrozi dan terkesima atas kemampuan Amrozi mengubah handphone menjadi telepon rumah. Ba'asyir bahkan minta rumahnya dipasangi telepon serupa. "Wah, saksi ini (maksudanya Amrozi) punya keahlian khusus ya," ujar salah satu hakim. Amrozi menjawab komentar hakim itu. "Bisa bikin sembarang. Bikin bom saja bisa kok," ujar Amrozi, lagi-lagi mengundang tawa pengunjung sidang.

Bahkan, dalam kesempatan itu, dia menceritakan, saat memasang telepon di rumah Ba'asyir, telepon umumnya dihargai Rp 500 ribu. Eh, kepada Ba'asyir, dia bukannya meminta bayaran sesuai harga pasar, tapi malah meminta Rp 750 ribu.

Ketika hakim meminta Amrozi agar pelan-pelan menjawab setiap pertanyaan agar bisa diresume, Amrozi kembali melucu. "Sekolah steno biar cepat ya," ujar Amrozi santai. Setelah itu, Amrozi buru-buru menyatakan bersedia memperpelan jawabannya.

Amrozi dalam sidang itu menyatakan kasihan terhadap Ba'asyir yang difitnah terlibat bom Bali. Menurut Amrozi, mereka yang ikut dalam bom Bali, dihukum tidak apa-apa. "Kalau ini kan orang tua, tinggal sedikit saja.," kata Amrozi dengan wajah serius. Jawaban spontan Amrozi itu kembali mengundang tawa pengunjung.


Pengamanan Amrozi Berlapis-lapis

Penjagaan terhadap Amrozi kemarin dibuat sangat ketat. Kapal Pengayoman II milik Depkeh dan HAM yang membawa pria asal Lamongan itu menyeberang dari Pulau Nusakambangan menuju ke Dermaga Wijayapura -sebelum dia memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap- mendapat pengamanan berlapis-lapis.

Sejak berangkat dari Dermaga Sodong, Nusakambangan, menuju ke Dermaga Wijayapura, kapal tersebut dikawal pasukan Brimob. Amrozi yang berada di dalam mobil tahanan milik Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilacap juga mendapat penjagaan ketat dari tim khusus yang terdiri atas puluhan polisi.

Bukan hanya itu, selama menyeberang ke Dermaga Wijayapura, kapal tersebut juga terus diapit speed boat Jana Nuraga 85 milik Polres Cilacap.(amu/din/jpnn)



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke