HARIAN ANALISA
Edisi Kamis, 20 April 2006

William Nessen Ditolak Masuk ke Indonesia

Medan, (Analisa)



William Athur Nessen (48) warga negara Amerika Serikat (AS) ditolak (deporty) masuk ke Indonesia melalui pintu masuk Bandara Polonia Medan, Rabu (19/4).

Dia sendiri datang dengan pesawat Airasia AK 392 pagi dari Kuala Lumpur dan dikembalikan lagi ke negara sebelumnya dengan pesawat AirAsia pukul 20.00 WIB.

Karena ditolak masuk ke Indonesia itu, Nessen mengaku heran karena menurutnya tidak ada alasan kuat mengapa ia dilarang datang ke Indonesia.

Nessen yang beberapa tahun lalu sempat ditangkap pemerintah Indonesia karena tindakan Nessen yang sangat berani berada di tengah konflik RI-GAM. Alasannya waktu itu, ia sedang melakukan tugas jurnalistik.

Sejak tertangkapnya ketika itu, ia termasuk salah seorang yang terkena cekal (cegah tangkal) untuk memasuki wilayah Indonesia.

Menurut petinggi Imigrasi di Bandara Polonia, William Nessen ditolak masuk karena masih dalam status cegah tangkal (Cekal) dari Departeman Hukum dan HAM.

Tapi, bagi Nessen perlakuan cekal terhadap dirinya tidak beralasan. "Mengapa saya dilarang masuk ke Indonesia, padahal petinggi GAM saat ini saja sudah boleh. Mengapa saya tidak? Apa alasannya?" keluh suami dari Sya'diah Syeh Marhaban yang ikut dalam rombongan petinggi GAM.

Sebenarnya, dia sendiri datang bersama rombongan petinggi GAM yang datang ke Medan dari Kuala Lumpur dengan pesawat MAS. Tapi, karena saat itu pesawat MAS penuh, makanya dia berpisah dengan rombongan dan istrinya dan menumpang pesawat AirAsia.

Kepada wartawan di Bandara Polonia dia mengaku, kedatangannya kali ini selain untuk mengunjungi sejumlah rekan juga untuk bersua dengan keluarga istrinya Sya'diah Syeh Marhaban. Karena, hasil pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak.

Dengan wajah kesal namun tetap menunjukkan ketenangan, pria berperawakan kurus dan jangkung ini dengan terbuka menceritakan secara umum tentang sejuta pengalamannya saat mencari berita di Aceh saat konflik sehingga dia tidak saja mengetahui siapa membunuh siapa, siapa melakukan apa, tapi dia juga berhasil mengetahui dari mana pihak GAM dulunya mendapatkan senjata.

Semua hasil liputannya itu, katanya, saat ini sudah dibuatnya dalam sebuah film dokumenter dengan judul "Black Road" (Jalan Hitam).

Mengapa dia mengambil judul itu, karena dia sangat terkesan seorang dibunuh persis di depannya di Jalan Hitam waktu konflik silam.

"Film itu hasil saya selama tiga tahun meliput konflik Aceh. Isinya, mulai dari pengalaman saya, sampai sejumlah pendapat para orangtua tentang sejarah Aceh dari dulu hingga sekarang," tuturnya.

Ditanya apakah film yang dibuatnya itu sudah diputar di depan orang banyak, dia mengaku sudah baik di Australia, Swedia dan sejumlah negara lagi.

Lalu apa yang didapatnya dari film dokumenter itu, dia mengaku, memang hasilnya tidak sesuai dengan jerih payahnya memperoleh informasi tentang itu.

"Saya hanya dapat Rp10 ribu per jam," kata pria yang mengaku menyenangi mencari berita di kawasan konflik ini.

Ketika dikonfirmasi apakah dirinya bekerja untuk salah satu agen rahasia AS, dengan tegas dia mengaku tidak.

Secara persis, katanya, pertama lalu dia sebagai wartawan di harian San Francisco Chronicle, tapi saat ini dia mengaku hanya freelance dan dalam waktu dekat ini dia berencana akan membuat film dokumenter di India.

"Saat ini saya cuma ingin mengunjungi banyak rekan saya di Aceh," katanya sambil mengatakan, kalau rekannya telah mengirimkan SMS sambil mengatakan sedih karena Nessen tak dibolehkan masuk ke Indonesia.(nai/foto: ferdy)



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke