"When a poor democratic majority collides with a market dominant minority, the majority does not always prevail.
Instead of a backlash against the market, there is a backlash against democracy. Often, this antidemocracy backlash takes the form of crony capitalism, corrupt, symbiotic alliances between indegenous leaders and a market-dominant minority. For the global marketplace, this is a cozy solution. The indegenous regime protects the market dominant minority's wealth and businesses. In turn, the World Bank and the IMF supply loans. In the short run the result is a boom in foreign investment, economic growth, and riches for the rulers and their cronies. At the same time, however, the country's inner furies begin to boil. Sooner or later---and it is usually sooner---the situation explodes."
Boom, boom, boom, hayo ganyang si kaya yang memperbudak kita. Hajooo bung ganyang dan ambil alih semua yang telah mereka rampok. Demikian pekik "perjoangan" si miskin dari Kenya, Siera Leone, Uganda,Rwanda Burundi bahkan di Amerika Latin etnis amerindian berdemo dan bahkan melakukan kekejaman untuk melampiaskan rasa frustrasi atas sikon kehidupan yang melarat yang ditanggung oleh majority. Dan baru2 ini baru terjadi luapan kemarahan dan anarchi telah terjadi di Solomon Island di ibu kota Honiara.
Siapa gerangan minoritas yang jadi hamukan oleh majority, di Afrika orang2 pendatang India di Kenya, dan Uganda, di Siera Leone adalah pendatang dari Libanon. Di Rwanda ,Burundi adalah etnis minoritas Tutzi yang jadi korban pembantaian oleh suku Hutu.
Di Asia Tenggara ,di Indonesia, di Pilipina yang pegang "kekuasaan" ekonomi adalah etnis Tionghoa.
Dimana letak kesalahan kaum minoritas yang dengan menyolok dan kadang2 dengan cara2 tidak halal/legal sampai bisa punya pengaruh dalam bidang ekonomi?.
Bagaimana keadaan ini bisa tumbuh di negara yang merdeka tapi nyatanya ,sebetulnya adalah dalam keadaan terjajah oleh kaum minoritas?se-tidak2nya dalam aspek ekonomi? Apakah golongan minoritas itu bisa di golongkan sebagai neo-imperialis, menggunakan kekuatan ekonomi ketimbang dengan kekuatan senjata tapi telah berhasil meng-kolonisir suatu negara merdeka.
Bagaimana para neo-kolonialis itu bisa berpijak menanam pengaruh, pengaruh ekonomi di negara yang merdeka? Keadaan ini bisa dibilang suatu keadaan yang artifisial yang sebenarnya adalah suatu fusi antara racun2 : globalisasi, demokrasi dan korupsi yang akut di negara yang bersangkutan.
Contoh tumbuhnya keadaan yang artifisial tapi kemudian jadi kenyataan ini bisa kita temui di negara2 Afrika yang sekarang tergolong deldel duwel,dan sempat juga sikon sampai dan menghinggapi negara2 seperti Indonesia dan Pilipina.
Globalisasi memberikan sarana bagi etnis yang punya business acumen dan ketrampilan ekonomi dan kapital untuk bisa mengembangkan sayapnya dalam aspek ekonomi. Juga kekuatan kapital LN dengan sendirinya cenderung menumpahkan kegiatan investasinya dengan mengadakan kerjasama dengan yang punya kekuatan ekonomi. Disamping itu para indegenous yang pegang kekuasaan politik sengaja atau tidak, tapi ini adalah suatu fakta bahwa kerja sama ekonomi hanya bisa dilangsungkan dengan golongan yang punya kekuatan kapital dan ketrampilan dalam membangun suatu business.
Disini terjadi suatu soal lethal cocktail/poison chalice bagi negara yang bersangkutan.
Dengan prihatin aku bisa katakan bahwa masa depan dan kehidupan etnis manapun yang hidup dalam wacana dan sikon ekonomi politik suatu negara amburadul , ini bisa aku ibaratkan kehidupan para etnis ini seperti hidup diatas ....an active volcano. Setiap saat bisa meledak dengan konsekwensi yang parah. Bukan lagi......if ....tapi tinggal ....when it will happen, tunggu saatnya untuk meledaknya huru hara, prahara kegoncangan masyarakat.
Disinilah tragisnya, sistim globalisasi, demokrasi dan korupsi adalah lethal cocktail, adalah a poison chalice bagi negara amburadul. Globalisasi tidak akan berhasil karena sistim ini diberlakukan terhadap semua penandatangan keikutsertaan negara2 yang tidak se-imbang kekuatan ekonominya. Persaingan ibaratnya akan timpang, negara kaya akan lebih bisa bersaing ketimbang counter part-nya yang miskin. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Suatu analisa(seperti tersebut diatas sebagai pembukaan) yang hanya membangkitkan perasaan pesimis atas segala usaha yang sementara ini dilakukan oleh pemerintah kita, tapi melihat gelagatnya, karena sistim globalisasi, demokrasi dan korupsi sudah bisa dipastikan akan membawa Indonesia jauh dari idaman orang yang gandrung akan negara adil makmur. Demokrasi yang kelihatannya punya harapan karena dilakukan dengan rapi dan tentram(Pemilu) tapi hasil inipun kelihatannya tidak bisa minimbulkan prospek bahwa demokrasi ini bisa membela kepentingan rakyat banyak, malahan sebaliknya.
Harry Adinegara.
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

