Rabu, 26 Apr 2006,
Soekarno v Playboy
Oleh Asvi Warman Adam *
Sebagai dalih untuk menjatuhkannya, pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965, Presiden Soekarno dituding bertanggung jawab terhadap kemerosotan akhlak. Dalam pembelaannya pada pidato berjudul Nawaksara, Bung Karno menandaskan bahwa bila terjadi tindakan amoral oleh masyarakat, itu bukanlah tanggung jawab presiden.
Secara konstitusional, presiden hanya dapat dimintai pertanggungjawaban soal pelaksanaan pembangunan sebagaimana diatur dalam haluan negara. Lebih jauh, kasus itu membuat kita bertanya apakah negara bertanggung jawab terhadap moral orang atau kelompok masyarakat.
Apa atau siapa yang mengakibatkan mundurnya etika bangsa? Bila berbicara tentang pornografi, apakah majalah seperti Playboy yang terbit perdana Desember 1953 dengan cover Marylin Monroe itu dapat merusak moral masyarakat?
***
Sebuah anekdot disampaikan budayawan Emha Ainun Najib dalam bukunya yang berjudul Folklore Madura. Dia menuturkan, seorang warga kampung yang akan berangkat ke kota ditanya oleh tetangganya mau pergi ke mana. "Mau beli playboy", ujarnya tegas. "Lho kok sampeyan beli majalah gituan?" Dengan kalem, yang ditanya menjawab, "Bukan, saya mau beli mainan anak-anak, play itu main, boy itu anak".
Ada pula cerita menarik mengenai majalah Playboy yang terjadi pada 1965 di Jakarta. Kisah ini menyangkut Marshal Green, duta besar Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Indonesia sejak medio 1965.
Berbeda dengan pendahulunya Howard Jones yang cukup rapat dengan Bung Karno, Green adalah diplomat kawakan yang piawai memainkan peran "destabilisator" di Asia-Pasifik. Kedatangannya disambut demonstrasi besar di ibu kota.
Karena itu, dia sengaja tiba di Jakarta malam hari. Di sepanjang jalan, terdapat coretan yang menyuruh Marshal Green pulang saja (Green, go home). Untunglah, sang diplomat masih punya humor yang tinggi dan pada memoarnya, dia menulis bahwa pada beberapa coretan tersebut terbaca "Green go home and take me with you" (Green pulanglah dan bawa daku bersamamu). Itu ditulis dengan gincu, mungkin oleh perempuan tunasusila.
Pada acara koktail setelah menyerahkan surat kepercayaan di Istana, Green dibisiki Soekarno untuk membawakan Playboy. Dia ragu apakah itu serius atau jebakan? Sebagai presiden, Soekarno dengan mudah dapat meminta menteri atau diplomat Indonesia untuk mendapatkan majalah panas tersebut. Apakah Bung Karno ingin menguji sikapnya? Bukankah dalam pidato penerimaan sang Dubes, Soekarno sudah mempermalukannya dengan mengkritik politik luar negeri AS?
Bahkan seperti terjadi belakangan, pada 28 September 1965, dalam sebuah acara di depan mahasiswa UI, Bung Karno "mengerjai" Green dengan memintanya memakan buah durian yang baunya sungguh tidak sedap bagi sang diplomat Barat. Padahal, duta besar Meksiko yang juga hadir dalam kesempatan tersebut tidak diminta melakukannya.
Namun, kalau permintaan sang presiden dipenuhi, ketika dia memberikan majalah tersebut, jangan-jangan pers sudah siap dengan kamera mengabadikannya dan menyiarkan bahwa duta besar AS menyogok presiden Indonesia dengan majalah panas. Dia akhirnya memesan majalah itu, tetapi tidak sampai menyerahkan kepada Soekarno.
Majalah itu memang bertaburan model kelas atas yang berpose seronok dengan bayaran mahal (edisi bulanan USD 20 ribu dan edisi tahunan USD 100 ribu plus mobil, menurut ensiklopedi Wikepedia yang tentu perlu dicek silang).
Green mengaku, tatkala harus membakar arsip saat demonstrasi anti-AS semakin marak, majalah-majalah Playboy itu yang terakhir hangus. Apakah disebabkan kualitas kertasnya yang bagus atau justru majalah tersebut yang terakhir dibuang ke api karena "eman-eman" masih dilirik-lirik petugas kedutaan termasuk sang Dubes ?
***
Dari kisah di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa kemerosotan akhlak dan majalah erotis adalah dua hal berbeda. Ukuran kemerosotan moral menjadi kabur bila dikaitkan dengan gambar porno. Sebetulnya lebih tepat bila kriterianya adalah korupsi.
Misalnya, ketika Soekarno berhenti, dia meninggalkan utang USD 2,5 miliar, sedangkan saat Soeharto turun, dia mewariskan utang (pemerintah dan swasta) 60 kali lipat, yaitu USD 150 miliar.
Menurut Prof Soemitro Djojohadikusumo, terjadi kebocoran 30 persen dari anggaran pemerintah. Dari sisi utang saja, hitung sendiri berapa jumlahnya. Jelas korupsi selama 30 tahun pemerintahan Soeharto jauh lebih banyak daripada enam tahun Orde Lama (1959-1965). Dengan kata lain, kemerosotan akhlak justru berkembang luas pada era Orde Baru. Korupsi merupakan kriteria yang jelas dari dekadensi moral yang bisa dihitung dengan angka-angka ketimbang mempersoalkan berapa senti di atas lutut agar pemakai rok mini tidak dituduh melakukan pornoaksi.
* Dr Asvi Warman Adam, ahli Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta
--
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 461 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

