KERUDUNG MENURUT ISLAM, KRISTEN DAN YAHUDI: MITOS DAN REALITA
Oleh : Prof. Sherif Abdel Azeem
Catatan Redaksi : Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil
karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University,
Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus
Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak
Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan
terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya. Terjemahan ke bahasa
Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa
di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.
Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap
sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau
tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di
dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada.
Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada
Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature,
menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu
mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh
muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip
pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal:
"Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa
penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya
terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan
membawa kemelaratan." Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada
wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak
tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama
masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap
penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa
dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu
sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan
kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang
mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala
menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab
juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.
Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita.
Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk
memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda
kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur
tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering
memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal
237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai
abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler.
Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa
banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala. Beberapa wanita
Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka
dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini,
wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali
bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal.
238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih
menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).
Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen ?. Kita sendiri menyaksikan
sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang
suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu.
Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I
Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab
sebagai berikut:
"Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap
laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala
Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan
kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang
berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina
kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab
jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga
mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa
rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan
Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki
tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan
laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan
karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di
kepalanya oleh karena malaikat" (I Korintus 11:3-10).
St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung
adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang
merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan
untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of
Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat
berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja,
mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat
berada di antara saudara laki-lakimu."
Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang
memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning,
1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties
contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan
mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya
adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki
dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam
Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).
Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang
mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung
hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang
beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga
memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai
menutupi leher dan dadanya.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih
suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan
hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)
Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk
menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al
Qur'an surat Al Ahzab 59:
"Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari
gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.
Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah
perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi
Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas
wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki.
Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana
kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita
bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda
kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada
falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada
menyesal kemudian. Al Qur'an sangat memperhatikan wanita dengan menjaga
tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani
menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina)
dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang
menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian
mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (An
Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat
longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there
was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the
damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because
he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya:
"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk
dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh
shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis
tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama
hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).
Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang
membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk
menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya
sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang
wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil
?
Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin
cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk
perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu
memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri.
Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.
Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa
wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di
kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika
pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang
terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para
mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu
mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris
setiap hari ?.
Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun
terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager, Professor-professor,
Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden
Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !. Saya tercengang saat saya membaca
statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of
women's office di Universitas Queen berikut :
* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran
sexual.
* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu
saat dalam kehidupannya.
* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam
kehidupannya.
* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi
unitersitas.
* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan
mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak
ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita
ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu
dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana
(modesty) teramat sangat dibutuhkan. Sederhana dalam berpakaian, dalam
bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita.
Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di
atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya
terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang
paling berat adalah para wanita.
Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan
nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who
receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran,
1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang
pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan
kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang
mencelakakan masyarakat itu sendiri.
Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini.
Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat
dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal
itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala
tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri,
justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita. !
Sumber: WARITA, EDISI MILLENIUM - TAHUN KE XI, NO 2, FEBRUARI 2000
IKUTILAH LOMBA MASAKAN LAUT. KIRIMKAN RESEP ANDA SEKARANG JUGA KE PANITIA
([EMAIL PROTECTED])
"Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar, dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
sesuatu yang dapat kamu pakai; dan kamu melihat kapal-kapal berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur". AN NAHL (16:14)
"Lautan-Quran, Pijakan Menuju Kejayaan (kembali) Bangsa Bahari Yang
DiridhoiNYA."
Yahoo! Groups Links
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

