Kompas,Jumat, 28 April 2006 

 

Kisah Para Dewa Kemanusiaan di Aceh…


Jangan lagi bayangkan kehidupan pribadi maupun rumah
tangga para pekerja kemanusiaan itu terabaikan demi
kerja sosial mereka, seperti yang dialami aktivis Erin
Brocovich dalam film tentang dirinya yang
populer itu. Atau, mereka harus hidup bersanding
dengan kaum papa
yang sakit-sakitan sebagaimana dialami Bunda Teresa.

Hidup tak menentu, seadanya, dan kesulitan ekonomi
demi pengabdian kepada orang lain sudah menjadi masa
lalu bagi pekerja sosial. Setidaknya, itu yang terjadi
di dunia para aktivis sosial yang datang dari berbagai
penjuru dunia di Aceh. Aktivis sosial di sana tak
ubahnya pekerja di dunia profesional, bahkan mungkin
lebih berjaya.

Penampilan mereka tergolong mentereng. Ke mana-mana
naik mobil lengkap dengan sopir pribadi dan tinggal di
rumah atau kantor yang disewa seharga ratusan juta
rupiah per tahun. Mobil-mobil mewah—berpenggerak
ganda—berseliweran dari tenda dan barak-barak
pengungsian adalah pemandangan biasa di Aceh.

Pizza House dan Imperial Kitchen di Jalan Teuku Umar,
Cas Well di Kampung Laksana, Turca Restoran di
Jambotape, dan Melodia Cafe di Seutui hanyalah sederet
nama restoran berstandar internasional yang
tumbuh di Aceh pascatsunami dan selalu ramai
dikunjungi pekerja sosial.

Di Aceh, para aktivis sosial telah menjadi kelas baru
yang berposisi tinggi, dengan keberadaan mereka
sebagai dewa penolong. Gaji yang
sangat jauh melampaui standar upah minimum regional
yang mereka terima pun telah menempatkan para pekerja
sosial itu sebagai konsumen kelas tinggi.

Seorang staf lokal yang bekerja di sebuah Non
Governmental Organizations (NGO), atau yang di
Indonesia biasa dinamakan lembaga swadaya masyarakat
(LSM), bisa digaji Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan.

Gaji yang jauh lebih tinggi lagi diberikan kepada
ekspatriat yang menjadi staf NGO, mencapai Rp 25
juta-Rp 65 juta atau lebih per bulan, tergantung
posisi mereka.

Bahkan, bagi sebagian ekspatriat, bekerja di Aceh juga
lebih baik dari segi finansial dibandingkan dengan
pekerjaan mereka sebelumnya
di negara asal ataupun di kota lain di Indonesia. Mr
John (bukan nama sebenarnya), misalnya. Sebelumnya dia
adalah sopir di pabrik roti di Perancis. Namun, di
Aceh dia menjadi kepala proyek pembangunan 150 rumah
bantuan pengungsi dari salah satu NGO, dengan
gaji sekitar Rp 65 juta per bulan.

Para pekerja kemanusiaan di United Nations (UN) di
Aceh bahkan menerima penghasilan yang jauh lebih
tinggi. Seorang staf profesional lokal/nasional di UN
bisa digaji Rp 15 juta-Rp 40 juta per bulan. Sementara
itu, ekspatriat memperoleh gaji 4.500 dollar
Amerika Serikat (atau sekitar Rp 40 juta) hingga
15.000 dollar AS per bulan. Itu belum termasuk
tunjangan di daerah sulit (hazard pay)
dan tunjangan cuti, serta perdiem.

Saking besarnya gaji dan cara kerja mereka yang sudah
tersistem, seorang staf senior di UN, sebutlah Roni
(bukan nama sebenarnya),
bahkan tak mau lagi disebut pekerja sosial.

"Malu saya kalau masih menyebut pekerja atau aktivis
sosial. Ini murni tuntutan perut," kata lelaki yang
sebelum di UN Aceh bekerja di LSM.

Seorang pekerja UN yang lain, yang tak mau disebutkan
namanya, beberapa kali menghubungi Kompas dan
menyatakan ada pembedaan perlakuan antara pekerja
lokal/nasional dan pekerja asing di lembaga
tersebut.

"Pekerja lokal dan nasional dianaktirikan. Staf
internasional memperoleh hak cuti per enam minggu
sekali dengan tiket dibayar kantor, sementara kami
tidak. Mereka juga mendapat hazard pay
sekitar 500-1.000 dollar AS per bulan, sementara kami
tidak," katanya.

Namun, saat ditanya berapa gaji dia selama ini di
lembaga tersebut, dia mengatakan bahwa gajinya Rp 16
juta per bulan. Rasanya sulit menyamakan kegelisahan
kawan pekerja kemanusiaan di UN ini dengan
kegelisahan para pengungsi yang menuntut agar jatah
hidup sebesar Rp 3.000 per hari yang telah dijanjikan
pemerintah segera dibayarkan.
(AHMAD ARIF)


.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke