http://agamtia.multiply.com/journal

Setelah lebih 12 tahun tidak pernah mengikuti kegiatan Jamaah Tabligh (JT),
minggu lalu saya diajak beberapa rekan Pakistani-British untuk mengikuti
Jamaah ke Leicester selama tiga hari, 24-27 Juni

Ajakan itu saya iyakan karena selain menambah teman, juga saya ingin
mempelajari (lagi) semangat, keikhlasan dan kepasrahan diri rekan-rekan JT
dalam berdakwah. Alhamdulillah kalau saya bisa tertulari semangat mereka
ini.

JT Nottingham ini markasnya hanya 200 m dari rumah kami, di masjid Bilal.
Sedangkan kegiatan ini pergi ke kota tetangga, Leicester, sekitar 45 menit
bermobil.

Kami berangkat ber-12 sehabis salat magrib jam 10.00. Ternyata rombongan
kami ini adalah anak-anak muda yang masih gaul-gaul, tapi berniat untuk
mempelajari Islam dan dakwah pada JT kali ini. Saya bersyukur karena banyak
teman yang penampilannya tidak berjenggot dan berpakaian biasa saja
dikarenakan level saya yang juga masih tahap belajar seperti mereka.

Tia, istri saya, sudah mewanta-wanti kalau kaos hitam kesayangan saya
"Helloween Rabbit on Tour Indonesia 2004" 'haram' dipakai disini. Iya lah,
saya pakai baju koko saja, sementara 3 mentornya memakai jubbah, baju
tradisional pakistan yang mirip gamis arab. Mungkin kata "jubbah" ini
diserap ke bahasa Indonesia untuk baju longgar yang menutup tubuh.

Mengenai kata serapan, ternyata "roti" dan "kunci" adalah serapan dari Urdu
atau Hindi. Jadi kalau makan pagi, saya bisa mengatakan "Could u pass me the
roti, please!".

Di luar perkiraan saya, ternyata program JT untuk anak mudak kali ini agak
longgar, tidak seketat di Indonesia. Kami tidak "dipaksa" tahajud, bangun
agak siang, ada acara sepak bola, dsb. Di Indonesia, sebisa mungkin ditiru
semua kebiasaan nabi dan sahabat, sehingga tidak bakal ada acara sepak bola.


Sabtu pagi dimulai dengan sarapan khas pakistan, roti, kari, telur, teh
inggris, dll. Selanjutnya mulai taklim, tajweed dan muzakarah sampai Zuhur.
Taklim dimulai dengan pembacaan kisa-kisah nabi dan sahabat, saling
mendengarkan dan mengoreksi tajwid, dan diskusi. Setelah Zuhur, dilanjutkan
makan siang dengan menu serupa tapi ditambah nasi bariyani, dan acara bebas,
berupa sepak bola di taman besar depan masjid.

Disini kami tetap diminta melakukan tugas tabligh sembari bermain. Kami
diminta ngobrol dengan local youngsters, mengajak mereka ke masjid malamnya
karena akan ada pengajian. Tidak ada kamus flirting cewek lewat. Bisa-bisa
sepanjang hari akan disuruh khidmat, melayani jamaah, memasak, cuci piring,
menyapu, dll.

Menjelang jam 6, kami berkumpul lagi dan mendapat pelajaran praktis satu jam
tentang dakwah langsung mendatangi rumah-rumah masyarakat muslim sekitar
masjid. Ada the dos & don'ts dakwah ini. Misalnya ditetapkan mutakallim,
juru bicara rombongan, tidak boleh melihat dengan perasaan ingin tahu atau
offending acts lainnya.

Singkat kata, dengan dibagi ke dua rombongan dan diantar jamaah setempat,
kami mendatangi rumah-rumah yang sudah didaftar terlebih dahulu.
Leicesterini proporsi penduduk Pakistani-Indian-Bangladeshi-British
cukup tinggi.
Kebetulan masjid Furqon tempat kegiatan kali ini terletak di kawasan
Pakistani-India. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat orang-orang
berhidung mancung khas penduduk anak benua India.

Banyak kota-kota di Inggris yang konsentrasi Asian-British ini cukup tinggi.
Leicester salah satunya. Bahkan mayoritas orang berumur lebih dari 40, masih
berbahasa Urdu/Hindi yang kebanyakan menggunakan kata "he" dan "acha". Jadi
ingat ibu saya di rumah yang suka bollywood

Jika rumah-rumahnya tidak khas Inggris yang membosankan dengan red
brick-nya, tentu saya bisa mengira ini adalah Karachi.

Kami datang ke masing-masing rumah. Jamaah setempat memberi memperkenalkan
kami dan mutakallim secara singkat memberi dakwah dan mengajak tuan rumah
untuk datang ke masjid. Semua proses paling lama hanya 2-3 menit.

Tak terasa sudah sekitar 10 rumah yang kami kunjungi dan kami segera kembali
ke masjid. Setelah salat Asr, pengajian singkat dimulai dalam bahasa Urdu,
sehingga salah satu mentor menerjemahkan kepada kami.

Yang menarik, setelah pengajian, pimpinan rombongan dan perwakilan masjid
setempat membuat semacam lelang, dimana hadirin didorong untuk menyatakan
niat berdakwah, apakah 3 atau 10 hari sebulan, 40 hari atau 4 bulan setahun.
Ada beberapa yang secara langsung menyatkan akan mengikuti kegiatan 40 hari
bulan Juli-Agustus ini. Tentu kami yang ditanya setelah mereka agak malu
karena hanya berani berniat 3 hari dalam sebulan.

Tapi lelang ini tentu tidak mengalami apa yang disebut "winner's curse",
ketika mereka yang menawar tertinggi dikarenakan kondisi psikologis (bounded
rationality) menyesal telah memberi harga yang terlalu tinggi.Pada akhirnya
justru para "winners" ini mengajak kami semua untuk "menawar"
setinggi-tingginya.

Akhirnya, yang ada hanyalah "winner's blessing", ketika para penawar
tertinggi merasa mendapatkan pahala yang sangat besar, mereka justru ingin
berkhidmat lebih banyak lagi.
-Agam


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke