Very encouraging. Yang perlu kita tumbuhkan memang Islam yang membumi ke
Indonesia dan bergerak demi kesejahteraan bangsa Indonesia secara
keseluruhan. Demikian pula agama-agama yang lain. Jangan agama justru
menjadi pemecah belah bangsa dan negara. Beberapa teman memang tidak perduli
dengan konsep nation state seperti itu. Lebih menginginkan seluruh dunia
berada di bawah satu penguasa, khalifah. Mereka mungkin inginkan yang
disebut Indonesia itu tidak ada lagi, yang ada provinsi di bebebrapa pulau
bekas Indonesia yang tunduk kepada pemerintahan seorang khalifah yang entah
di mana kedudukannya dan bagaimana memilihnya. Ironisnya, meskipun mengklaim
sebagai umat muslim terbesar di dunia, mereka bukan memilih ingin menjadi
pemimpin tetapi cukup jadi gubernur dan membayar upeti ke khalifah yang ada
di negara atau benua lain.
KM

-------Original Message-------

From: [email protected]
Date: 04/30/06 08:38:25
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [ppiindia] dari PMII: Manifesto Islam Indonesia

MANIFESTO ISLAM INDONESIA
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA

Fakta hari ini, Islam telah menjadi perhatian di
seluruh dunia.  Dari kalangan pembuat kebijakan di
pusat-pusat yang tersebar dari Barat sampai Timur
sampai di pelosok-pelosok, Islam disebut-sebut tanpa
henti. Semenjak Perang Dingin telah berakhir, dunia
seolah-olah telah kehilangan salah satu bandul
neracanya. Pertarungan Kapitalisme versus Komunisme
telah berakhir, maka seolah-olah dunia telah selesai
ceritanya. The end of history. Konon, dunia telah
menjadi unipolar. Narasi baru pun dimulai.

Secara mendadak muncullah narasi baru dunia, bahwa
masa depan dunia akan ditentukan oleh
peradaban-peradaban yang akan saling berbenturan atau
justru dibenturkan. Itulah yang disebut dengan clash
of civilizations. Islam adalah salah satu yang akan
dibenturkan dengan peradaban lain. Tidak lama setelah
itu, secara serentak di seluruh dunia muncul apa yang
kemudian disebut-sebut sebagai radikalisme Islam
sebagai sebuah bukti bahwa Islam telah bersiap untuk
perbenturan peradaban. Islam yang pada masa Perang
Dingin telah bahu-membahu bersama Kapitalisme untuk
meruntuhkan Komunisme, kini telah ditinggalkan.
Harganya adalah Balkanisasi, pembersihan kaum Muslimin
di Bosnia Herzegovina tepat di depan hidung NATO yang
selama dekade terakhir saat itu telah dibantu untuk
mengusir Uni Soviet dari pintu gerbang ke sumber
minyak terbesar di dunia, Timur Tengah.

Di Indonesia, Islam pun dibentur-benturkan dengan
saudara-saudara sebangsa dalam konflik Ambon dan Poso,
hanya untuk menunjukkan bahwa konflik Islam - Kristen
memang tidak terhindarkan

Apa artinya semua ini bagi kaum Pergerakan Islam
Indonesia?
Setidak-tidaknya ada dua hal yang dapat dilihat:
Pertama, Islam memang sangat diperhitungkan karena
memiliki pemeluk yang sangat besar dan negara-negara
Muslim tertentu, termasuk Indonesia memiliki potensi
sumber daya alam yang luar biasa.
Kedua, dalam peristiwa-peristiwa besar dunia ke depan,
jargon Islam akan tetap digunakan secara ekstensif.
Islam akan semakin dikaji tetapi bukan untuk Islam itu
sendiri. Islam akan digerakkan untuk memenuhi
kepentingan-kepentingan tertentu.

Munculnya, gerakan-gerakan Islam akhir-akhir ini yang
dengan gegap gempita menyerukan jihad melawan kaum
non-Muslim di daerah-daerah konflik, menyerukan
penegakan khilafah Islamiyyah, negara Islam dengan
merujuk kepada Islam Arabis adalah sebuah tantangan
besar bagi PMII, yang sejak awal telah menegaskan
identitas ke-Islaman dan ke-Indonesiaan secara
bersamaan. Tantangan ini kurang lebih serupa dengan
tantangan yang muncul pada awal Abad XX yang kemudian
menjadi semangat bagi terbentuknya Komite Hijaz yang
menjadi cikal bakal Jam'iyyah Nahdlotul Ulama.

Oleh karena itu, sebuah keniscayaan bagi PMII untuk
meneguhkan kembali identitas ke-Islaman dan
ke-Indonesiaan, sebagai warisan sejarah yang tidak
ternilai harganya karena berakar kuat dalam tradisi
masyarakat Islam Indonesia. Di sini, Islam adalah
tradisi yang hidup (the living tradition) bukan
semata-mata doktrin keagamaan.

Tradisi Islam Indonesia adalah perdamaian dengan
doktrin ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja) dengan
mengedepankan prinsip-prinsip toleransi (tasamuh),
keseimbangan (tawazun), dan keadilan (ta'adul),
sehingga selama berabad-abad mampu bertahan dalam
menghadapi setiap tantangan karena kelenturannya. Bagi
PMII, Aswaja adalah ideologi terbuka karena
kelenturannya. Dengan keterbukaan ini, maka selalu ada
peluang untuk memperkaya doktrin dengan pengalaman
doktrin-doktrin yang lain. Dalam qaidah dikenal
al-muhafadhoh alal qadimis shalih wal akhdu bil
jadidil ashlah. Memelihara apa yang baik dan mengambil
apa yang lebih baik.

Dalam konteks isu global tentang Islam, negeri-negeri
Islam dan dunia Islam secara keseluruhan, PMII
berpandangan bahwa setiap negeri mempunyai tradisi
masing-masing yang diwarisi dari setiap generasi
pendahulu. Karena itu, kehendak untuk menyatukan dunia
Islam dalam satu wadah politik dan keagamaan di bawah
payung khilafah adalah sesuatu yang tidak mendasarkan
diri pada realitas Islam hari ini.

PMII prihatin dengan kondisi Iraq yang makin memanas,
dan terancam oleh perang saudara antara kelompok Sunni
- Syi'i hanya untuk memberikan bukti lapangan bahwa
intervensi masih diperlukan. Terlalu murah harga kaum
Muslimin di hadapan para penentu kebijakan di seberang
sana. Karena itu, PMII mendorong dilakukannya dialog
Sunni - Syi'i di seluruh penjuru dunia agar dapat
meminimalisir konsekuensi-konsekuensi yang tidak
dikehendaki (unintended consequences). Dialog itu
tentunya akan dapat dilakukan jika dimulai dengan hati
yang sama-sama terbuka.

PMII juga mengkhawatirkan kondisi Iran yang berada di
ujung tanduk permainan tripolar. Semoga masalah Iran
dapat diselesaikan dengan cara-cara diplomasi.

Masalah-masalah Islam di negeri-negeri yang mayoritas
penduduknya non-Muslim hendaknya juga diselesaikan
dengan cara-cara tradisi setempat. Kaum Muslimin di
sana harus mampu berintegrasi ke dalam masyarakat
secara keseluruhan dengan tetap mempertahankan aqidah.
Kepada pemerintahan setempat PMII menyampaikan bahwa
Islam adalah perdamaian. Jika tidak mengusung
perdamaian berarti Islamnya patut dipertanyakan. Tapi,
ingatlah bahwa perdamaian tidak berarti Islam siap
ditindas.

PMII berseru kepada seluruh umat Islam di dunia:
JADILAH DIRI SENDIRI. Kemajuan tidak dapat dicapai
dengan bertaqlid buta mengikuti kemajuan orang lain.
Bangsa Amerika Latin menjadi bangsa yang
diperhitungkan karena mereka berjuang keras untuk
kembali ke identitas kelatinan yang telah diambil oleh
Spanyol selama berabad-abad. Cina menjadi seperti
sekarang karena mereka mempertahankan tradisi mandarin
terlepas apapun ideologinya. Jepang pun masih merasa
perlu untuk berziarah ke kuil Yasukuni hanya untuk
menemukan kembali spirit dan inspirasinya. Minimal
setahun sekali dalam tahun baru Jepang, kimono dipakai
untuk menunjukkan: inilah kami bangsa Jepang.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, PMII merasa perlu untuk
mengajak umat Islam Indonesia untuk membentuk Komite
Islam Indonesia. Komite ini akan mengingatkan kembali
konsensus yang telah dibangun para founding fathers
tentang Keislaman dan Keindonesiaan dan merumuskannya
sebagai sesuatu yang final agar di masa mendatang kita
tidak lagi mengulang-ulang pertarungan untuk merebut
makna. Menjadi Muslim yang benar dan menjadi Indonesia
adalah mulia dan dapat dilakukan bersama-sama.

Tentang konflik-konflik yang melibatkan umat beragama
di daerah-daerah, PMII menyerukan dilakukannya
rekonsiliasi.  Akhiri permusuhan dengan sesama saudara
sebangsa. Kita diadu-domba untuk tujuan-tujuan yang
justru bertentangan dengan agama.  Karena itu, TUNDA
EKSEKUSI TIBO!!!

Masih banyak yang harus diketahui dari Tibo agar ke
depan pola-pola konflik yang mengatasnamakan agama ini
tidak terulang. Agama Islam menganjurkan sistem hukum
yang dapat menjerakan para pelanggar hukum, tetapi
memberi maaf itu jauh lebih utama, mengingat bahwa
konflik ini tidak semata-mata muncul dari bawah,
tetapi selalu ada pihak-pihak tertentu yang sengaja
mengobarkan permusuhan.

Dalam hal moralitas bangsa, PMII juga merasa ada
sesuatu yang telah lepas dari simpul identitas
nasional. Masalahnya tidak terletak dalam moralitas
itu sendiri, tetapi berjalin-kelindan dengan
dimensi-dimensi permasalahan yang lain, baik itu
politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Karena itu,
kehendak baik untuk menjaga moralitas bangsa sebaiknya
tidak dilakukan semata-mata dari sisi hukum atau
perundang-undangan.

Karena itu, ROMBAK RUU APP agar tidak bersifat
diskriminatif secara sosial-budaya maupun agama.
Indonesia bukanlah negara agama, di mana satu cara
pandang tertentu bisa dipaksakan. Tanpa melihat
background agama, lihatlah bahwa secara tingkat
sosio-antropologis Indonesia memiliki keragaman yang
tidak ada tandingannya di manapun. Di Indonesia ada
orang yang masih telanjang karena belum mengenal
budaya pakaian, ada orang yang baru saja mengenal
pakaian, ada orang yang telah lama berpakaian dan ada
orang yang telanjang bukan karena tidak punya pakaian,
tetapi pakaiannya adalah ketelanjangannya itu. Dalam
bahasa sosio-antropologis Barat yang stigmatif, mereka
adalah masyarakat primitif, traditional, modern dan
kosmopolit.  RUU APP mustinya hanya berlaku bagi
golongan terakhir, itu pun dengan sekian pertanyaan
yang harus dijawab.

Terakhir, pemerintah hendaknya menyambut baik dan
turut berperan dalam mendukung tumbuh-suburnya Islam
Indonesia. Dengan Islam Indonesia, NKRI akan melangkah
maju meninggalkan masalah-masalah yang menjadi
smoke-screen.

Paling akhir, untuk saudara-saudara non Muslim, masih
banyak umat Islam di Indonesia yang bersedia berdialog
untuk mencari titik-temu, jangan pernah berhenti untuk
membuka pintu. Dan jangan pernah menutup pintu, karena
di keempat penjuru samudra semua adalah saaudara.

DIRGAHAYU PMII YANG KE-46, HORMAT KAMI KEPADA PARA
PENDIRI DAN PENDAHULU, KEBANGGAAN KAMI KEPADA PARA
KADER YANG TIDAK PERNAH BERPUTUS ASA DALAM MEWUJUDKAN
CITA-CITA PERGERAKAN, TERIMA KASIH UNTUK SIAPA SAJA
YANG SELAMA INI DAN DI MASA DEPAN AKAN BERDAMPINGAN
DALAM PERJUANGAN.

WALLAHUL MUSTA'AN
WALLAHUL MUWAFFIEQ ILAA AQWAMITH THARIEQ
TANGAN TERKEPAL MAJU KEMUKA
Jakarta, 17 April 2006

Pengurus Besar
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Hery Haryanto Azumi M Rodlie Kaelani
Ketua Umum Sekretaris Jenderal


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo
com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language
learn
Indonesian language course



YAHOO! GROUPS LINKS

Visit your group "ppiindia" on the web.
 
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
 
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.







[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke