Kilas Balik Piala Dunia: Uruguay 1930
  
  Oleh: Christoph Heinzel
  
  Uruguay mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama, namun proses penyelenggaraannya memakan waktu panjang dan sangat melelahkan.
  
  Montevideo, 13 Juli 1930, puluhan ribu penggemar sepak bola berduyun-duyun menyambangi stadion Centenario untuk menyaksikan partai pembuka Piala Dunia pertama, Prancis melawan Meksiko. Piala Dunia tahun 1930 di Uruguay memang merupakan tonggak sejarah kebangkitan dunia sepak bola.
  
  Namun gegap gempita penggemar sepak bola di Amerika Selatan, hampir nyaris tak terdengar di Eropa, karena di seberang samudera Atlantik sana, orang masih meragukan kemandirian sepak bola sebagai suatu olah raga. Lagipula bagi negara-negara di benua Eropa, yang kala itu sedang terbelit krisis ekonomi, pengiriman sebuah kesebelasan beserta para staf ke Uruguay, hanya akan membebani kas negara.
  
  Namun berkat kerja keras dan lobi intensif yang dilakukan oleh presiden FIFA, Jules Rimet, sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Rumania, Yugoslavia dan Belgia berhasil dibujuk untuk ikut berlaga di Uruguay. Sementara Inggris dan Jerman memilih untuk tetap tinggal di Eropa. Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) melalui presidennya, Felix Linnemann, beralasan, sepak bola Jerman masih berstatus amatir dan tidak akan bergabung dengan negara lain yang sudah berstatus profesional dalam satu turnamen. 
  
  Uniknya Piala Dunia 1930 tidak memiliki babak kualifikasi. Keikut-sertaan negara peserta pada Piala Dunia di Uruguay ditentukan berdasarkan undangan yang dikeluarkan oleh FIFA. Melalui langkah ini FIFA berharap, dapat membangkitkan ketertarikan orang kepada Piala Dunia. Hasilnya: 13 tim nasional berlaga di Montevideo untuk memperebutkan trofi Jules Rimet.
  
  Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, Piala Dunia 1930 hanya didominasi oleh Argentina dan tuan rumah Uruguay. Argentina maju ke babak semi final setelah berhasil mengalahkan Chili, Prancis dan Meksiko di grup 1.  Sedangkan Uruguay tanpa kesulitan menggilas Peru dan Rumania yang menghuni grup 3.
  
  Di babak semi final, telah menanti tim kuda hitam, Amerika dan Yugoslavia. Namun Argentina dan Uruguay masih terlalu kuat untuk ke dua tim tersebut. Amerika dihajar Argentina dengan hasil akhir 6-1, dan Yugoslavia dibuat tidak berkutik oleh Uruguay dengan skor serupa.
  
  Pertemuan antara Argentina dan Uruguay di final Piala Dunia 1930 adalah final impian bagi publik Amerika Latin. Menjelang pertandingan, tiket kapal Buenos Aires-Montevideo laris terjual. Dan pendukung fanatik yang mengamuk, sesuatu yang belum dikenal Eropa pada saat itu,  sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Amerika Selatan.
  
  Masalah kembali muncul saat wasit baru akan memulai pertandingan. Masing-masing kesebelasan membawa bola mereka sendiri. Sang wasit, John Langenus, segera memutuskan untuk mengundi, bola siapa yang berhak dimainkan.
  
  Pertandingan final itu sendiri berakhir dengan skor 4-2 untuk kemenangan Uruguay. Dan trofi Jules Rimet yang dilapisi emas seberat 1,8 Kg dan berbentuk patung dewi Fortuna itu akhirnya tetap tinggal di Montevideo. Pelatih Alberto Supici sendiri sampai saat ini masih memegang rekor pelatih negara peserta pelatih Piala Dunia termuda. Umurnya saat itu adalah 31 tahun 240 hari. 
  
  Bintang lapangan yang bersinar dalam Piala Dunia 1930 adalah Jose Leandro Andrade. Bakatnya bahkan sudah terlihat jelas dalam Olympiade tahun 1928. Sedangkan saudara sepupunya, Victor Rodriguez Andrande, juga berhasil membawa Uruguay menjuarai Piala Dunia pada tahun 1950.
  
  Sebaliknya nasib tragis menimpa rival sejati Adrande pada tahun 1930, Guillermo Stabile. Meski berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan delapan gol dalam empat pertandingan, Stabile gagal membawa Argentina menjuarai Piala Dunia pertama itu. Tim-nya pun harus pulang ke Buenos Aires dengan tangan hampa.
  Adalah seorang pemain FC Sochaux, Lucien Laurent yang berhasil mencetak gol pertama dalam Piala Dunia 1930. Gol yang dibuat penyerang Prancis saat bertanding melawan Meksiko ini, tercatat sebagai gol pertama dalam sejarah Piala Dunia.




                 
---------------------------------
Yahoo! Mail goes everywhere you do.  Get it on your phone.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke