Dan bukan hanya sekadar pembodohan ala birokrasi kaum aristokrat modern, tetapi lebih tragis dari itu, yaitu ketika masyarakat semakin dikubur bersama-sama dengan nilai-nilai kesopanan, kesusilaan, dan moralitas. Yang mana ketiga nilai itu merupakan alat efektif hasil rekayasa kaum intelektual, politisi, dan teknospiritual kepada masyarakatnya, atau mungkin hanya sekadar pembungkaman bagi kebebasan berpikir dan ekspresi masyarakat dengan memenjarakannya kepada nilai-nilai yang telah dilegalisasi secara kaku. Ini bukan suatu pandangan skeptis kepada ketiga nilai tersebut, tetapi suatu introspeksi bagi realita kemunafikan ekstrem jika dibandingkan dengan apa yang telah dipraksiskan oleh otoritas legal kepada proses pembentukan masyarakatnya. Dan kita kembali dibenturkan oleh peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi eksploitasi kepada nilai-nilai kemanusiaan secara keseluruhan, terutama kepada kaum perempuan dan tubuhnya, yang dijadikan sebagai eksperimen pro dan kontra
untuk melahirkan suatu produk kebijakan yang membatasi eksistensi dan kebebasan ekspresi bagi kaum perempuan itu sendiri. Dan kita kembali diarahkan kepada suatu produk ambiguitas yang sekali lagi telah menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai bahan perdebatan deskriptif, khususnya kepada nilai-nilai yang tetap dipertahankan untuk sekadar menjaga moralitas masyarakatnya dan untuk kestabilan keamanan pada tiap wilayah di republik ini.
Atau mungkin yang lebih dramatis dari itu, hanya bagian dari sensasi kebijakan semata dengan meniadakan akar permasalahan dari kebobrokan atau kerentanan masyarakat yang tidak pernah terlepas dari penyimpangan peran otoritas legal. Bukankah selama ini nilai-nilai yang berlaku di tengah tiap komunitas masyarakat telah didistorsi berdasarkan logika yang dilahirkan dari kebejatan para tokoh dan pimpinannya? Lalu apa yang dijadikan sebagai pengukur nilai-nilai kesopanan, kesusilaan, dan moralitas masyarakat di era modernitas? Sedangkan ketika nilai-nilai tersebut kerap dilacurkan bersamaan dengan arus yang melegitimasi suatu supremasi keuangan sebagai tuhan masa kini ataupun substitusi dari nilai-nilai kepercayaan masyarakat. Sangat naif jika kita mengambinghitamkan modernitas ataupun kepasrahan terhadap gelombang modernitas yang mewarnai dinamika peradaban manusia masa kini, jika dibandingkan dengan eksploitasi kepada perempuan dan tubuhnya, dalam artian ketika
modernitas merupakan realitas dari praksis ide dan eksploitasi perempuan dan tubuhnya juga merupakan praksis dari ide. Ide eksploitasi itulah yang tengah berpraksis dalam rentang historisnya yang panjang dan lama bagi kaum perempuan dan tubuhnya. Dan memang ini bukanlah suatu bentuk pembenaran bagi apa yang tengah terjadi pada saat sekarang terhadap perempuan dan tubuhnya dalam ragam manifestasi ataupun praksisnya yang eksploitatif, tetapi terlebih dari itu, adalah ketika ada suatu sistem yang hendak dibangun dengan merangkaikan nilai-nilai, namun pada hakikatnya sistem itu sendiri telah mengorbankan dan mengeksploitasi perempuan beserta tubuhnya ke dalam bentuk-bentuk yang membenarkan suatu perpanjangan ketragisan bagi takdir kehidupan manusia, khususnya bagi kaum perempuan itu sendiri.*** (selesai)
April 2006, Leonowens SP
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

