Mengenang Pram      Aboeprijadi Santoso & Lea Pamungkas
  01-05-2006
  
  

      Pramoedya Ananta Toer, berpulang 30 April lalu dalam usia 81 tahun. Sastrawan besar ini dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, meletakkan harapan pada kalangan muda, "Kalangan barulah yang mampu melahirkan pemimpin bagi Indonesia," ungkapnya. Sementara generasi harapan ini pun, mengaku meninggalnya Pram merupakan kehilangan besar di tengah  krisis kepemimpinan dewasa ini.
  Sosok besar dalam pikiran
"Orang besar itu sudah berpulang, kita kehilangan lagi,"demikian sebuah SMS pendek, berkelebat sampai puluhan kali pada mobil phone saya. Dan perasaan tersebut, nyatanya milik hampir semua orang, terutama mereka yang lahir pada masa Orde Baru berkuasa. " Pram bukan cuma sosok besar dalam dunia kesusastraan tetapi satu sosok besar dalam pikiran," demikian Fadjroel Rachman, penulis dan aktivis 5 Agustus yang pernah dipenjarakan dalam kurun Orde Baru. "Ia membawa gagasan besar kemanusiaan bagi angkatan muda"
  Membicarakan tentang Pramoedya, lahir di Blora 1925, kita memang tak sekadar bicara tentang karya-karya. Tetralogi "Bumi Manusia" yang telah diterjemahkan dalam lebih 30 bahasa, ratusan cerpen-cerpennya, dan  kisah Pulau Buru-nya, "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu"; adalah satu hal. Hal lain, yang tak kalah dahsyat adalah kisah hidup Pram -demikian orang kerap memanggilnya.
  Dari penjara ke penjara
Setengah hidup Pram tak lepas dari penjara. Tak hanya dalam rezim Orde Baru, pada pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan pada tahun 1947-1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
  Puluhan karyanya, tak pelak bernasib sama dengan pengarangnya. Banyak hasil tulisannya yang dirampas Belanda, Inggris dan bahkan pemerintahan Indonesia sendiri.  Kendati begitu, menurut Pram, setiap sastrawan, harus siap menanggung segala konsekuensi atas karya-karyanya. "Penulis harus berani. Dia harus mau mempertanggungjawab-kan karyanya," ujar Pram kala ditemui di kediamannya tahun 1995.
  Perkara keberanian juga membuat dia tetap konsisten untuk berkarya, bahkan ketika ia dipenjara sekalipun. Pada tahun 1972, saat di penjara, Pram "terpaksa" diperbolehkan oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Waktu itu, Amerikalah yang memaksa rezim agar Pram dikirimi mesin tik-walau kiriman mesin tik itu nyatanya tidak pernah sampai-sehingga kawan-kawan sesama napi pun terpaksa membikinkan mesin tik bekas buat Pram, kata anak Kepala Sekolah Instituut Boedi Oetomo, Blora.
  Mengisi ruang kosong
Hidupnya yang alot dalam pemberontakan ini, yang menjadikan Pram mengisi satu ruang kosong di benak anak muda. Upacara pemakamannya di Taman Pemakaman Karet, demikian menurut Mujib dari Penerbit Lentera Dipantara, lebih banyak dihadiri oleh kaum muda. "Sekitar 500 pelayat tampak beriringan. "Mereka dari Kelompok Pramist, yang mengusung ide-ide Pram, juga kalangan hukum, wartawan, dan aktivis lain" Beberapa dari mereka, menyanyikan "L'internationale' dalam hujan rintik yang membasahi tanah merah di depannya.
  Menurut Mujib, belakangan ini kepercayaan Pram pada kalangan muda semakin tebal. Bahkan sebelum ia berangkat ke rumah sakit -beberapa jam kemudian Pram meninggal dunia, dia mengatakan bahwa hanya dari kalangan muda akan lahir seorang pemimpin buat Indonesia. "Itu pesannya sebelum dia koma," tambah Mujib.
  Generasi politik baru
Hal yang sama juga dikatakan Pram kepada Fadjroel, pada pesta ulang tahunnya yang 81, beberapa waktu yang lalu. "Dia yakin sekali tentang itu. Dan tambahnya lagi, dari kalangan muda ini, tidak akan hanya lahir sastrawan baru. Tetapi generasi politik baru yang mampu menyelesaikan persoalan yang sebelumnya ada dan terkait dengan generasi dia, terutama dalam soal politik"
  Apakah harapan Pram ini cukup realistis ? Fadjroel menyatakan, baginya, harapan Pram adalah sebuah realita. Sementara budayawan Goenawan Mohamad, yang dikenal pernah berseberangan secara politis dengan Pramoedya, menanggapi dengan dimensi lain. "Saya pikir wajar, seorang tua yang banyak kecewa dengan generasinya mengharapkan generasi baru yang lebih baik. Karena Pram sejak tahun50-an menunjukkan kekecewaannya akan hasil revolusi 45, kemudian harapannya tentang Indonesia pun kandas setelah 1965"
  
  Sumber: Radio Nederland, Jelajah Nusantara, 2, 3 & 5 Mei 2006



           
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke