Aksi Buruh Rusuh
Oleh redaksi
Kamis, 04-Mei-2006, 08:15:16
Diperkirakan Rugi Rp340 M
JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin langsung mereaksi aksi puluhan ribu buruh yang berbuntut rusuh di gedung DPR/MPR. Menurut RI 2 ini, aksi anarkis buruh itu diduga ditunggangi pihak yang tidak bertanggung jawab. Sayang, Kalla tidak merinci pihak penunggang yang dimaksudnya.
"Aksi buruh yang kemarin (1 Mei) baik. Mungkin sekarang ada yang masukin, sehingga terjadilah (kerusuhan) seperti itu," kata Kalla usai menerima Koalisi Media untuk Kemerdekaan Pers di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, kemarin.
Seperti diberitakan, aksi buruh yang diikuti puluhan ribu buruh Senin lalu (tepat Hari Buruh Sedunia 1 Mei) memang berlangsung aman. Ini berbeda dengan aksi buruh kemarin.
Sasaran aksi buruh kemarin sama dengan aksi buruh Senin lalu, yakni gedung DPR/MPR. Tuntutan mereka pun sama, menolak revisi UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Hanya, aksi kemarin berujung rusuh. Beruntung, tidak ada korban jiwa meski kejadian ini sempat menimbulkan korban luka dan cedera serta rusaknya sejumlah fasilitas umum.
Massa yang menamakan diri Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) itu mulai memadati Jakarta pukul 08.00. Setelah berkumpul di kompleks Senayan, mereka bergerak menuju jalan dan berkumpul di depan gerbang DPR.
Jumlah massa yang terus bertambah mengundang perhatian pimpinan DPR. Sekitar pukul 10.00, Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno dan Zaenal Ma'arif menerima sekitar 50 perwakilan KSPSI. Dalam pertemuan di ruang Nusantara DPR, KSPSI kembali mendesak DPR agar mengeluarkan sikap soal rencana revisi UU Ketenagakerjaan.
"Kami tidak ingin pernyataan penolakan itu hanya dilontarkan komisi atau pribadi. Harus atas nama institusi," ujar Ketua KSPSI Hikayat Atika Karwa. "Jangan sampai Wapres (Kalla, red) berdalih lagi kalau pernyataan penolakan DPR kemarin hanya dari pribadi atau komisi," lanjutnya.
Menanggapi protes ini, Soertardjo dan Zaenal yang didampingi sejumlah perwakilan Poksi (kelompok fraksi) DPR akhirnya sepakat membubuhkan tanda tangan di atas surat pernyataan KSPSI. Meski begitu, para buruh kembali menuntut. Kali ini mereka meminta surat pernyataan dibuat di kertas surat berkop resmi DPR dan distempel oleh pihak Setjen DPR. "Kami tidak ingin tertipu lagi," tegas wakil KSPSI lainnya, Karman Siregar.
Perwakilan buruh mengancam tidak akan meninggalkan ruang sidang sebelum ada surat resmi DPR. Saat itulah suasana mulai memanas. Para pimpinan DPR dan anggota dewan meninggalkan wakil buruh yang terus berteriak meminta ketegasan DPR. Tak ada kejelasan, apakah DPR akan mengeluarkan surat resmi atau tidak.
Ternyata, begitu keluar dari ruang itu, Soetardjo dan Zaenal menuju ke arah gerbang kompleks DPR. Di sana puluhan ribu orang yang memadati Jl Gatot Soebroto tertahan. Soetardjo mencoba menenangkan massa. "Kami sudah menegaskan akan menolak rencana revisi UU tersebut. Jadi, saudara-saudara tidak usah khawatir," ujar politikus senior PDI Perjuangan ini.
Pernyataan sikap pimpinan DPR ini ternyata belum membuat para buruh puas. Mereka ngotot meminta surat pernyataan dibuat dengan kop resmi DPR. Akhirnya, pimpinan DPR kembali mengajak perwakilan buruh berunding. Pertemuan itu dilakukan di ruang kerja Soetardjo.
Akhirnya Soetardjo dan Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning sepakat membuat surat pernyataan berkop DPR. Sedangkan Zaenal menolak menandatangani surat itu. Dia beralasan pernyataan resmi DPR harus diputuskan melalui rapat paripurna.
Sementara, Ketua DPR Agung Laksono dan Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, sejak aksi buruh berlangsung tidak ada di tempat. Sebab, tengah meninjau Kapal Induk Amerika Serikat yang berada di Indonesia.
Di saat pertemuan pimpinan DPR dan buruh berlangsung, massa di depan Gedung DPR mulai tidak sabar. Emosi yang meningkat, membuat massa meringsek ke dalam. Akhirnya, kekuatan para buruh membuat pagar depan DPR goyah dan akhirnya roboh.
Sebanyak 2.000 aparat kepolisian yang bersiaga di dalam Gedung DPR langsung menghalau masuknya para demonstran ke halaman DPR. Aksi saling pukul pun sempat terjadi. 2 unit water canon kemudian difungsikan. Tembakan gas air mata pun terdengar belasan kali. Para buruh yang sempat berusaha masuk akhirnya tertahan oleh barikade polisi bertameng.
Kondisi ini sempat tertahan cukup lama. Sejak pagar DPR yang roboh terjadi sekitar pukul 13.00, massa hanya berteriak dan berorasi di depan Gedung DPR. Entah dipicu oleh apa, buruh mulai melemparkan kayu, batu dan botol kaca dan plastik berisi air seni ke arah polisi. Demonstran juga membakar ban, spanduk, hingga merobohkan sejumlah tanaman dan pagar pembatas jalan tol yang ada di sepanjang Jl HR Rasuna Said.
Melihat aksi massa yang tak segera buyar, sekitar 16.
00, Kapolda Metro Jaya Firman Gani yang turun langsung ke lapangan, mengambil alih. Berada di atas mobil patroli, Firman meminta massa segera membubarkan diri. "Saya minta sebelum pukul 18.00, sesuai kesepakatan kita, saudara-saudara kembali ke tempat masing-masing. Kalau tidak, kami akan melakukan tindakan tegas," tegasnya.
Ucapan Firman ternyata tak membuat para buruh gentar. Mereka terus berorasi dan tidak bergeser sedikitpun dari depan Gedung DPR. Bahkan, tembakan gas air mata yang kembali dilontarkan ke udara, tak mempan mengusir mereka. Akhirnya, setengah jam kemudian, seluruh aparat yang berjumlah 6000 personil dikerahkan untuk menindak tegas deomnstran.
Pintu gerbang DPR yang masih tertutup dibuka aparat. Enam unit water canon kembali dikerahkan. Begitu gas air mata kembali ditembakkan, aparat meringsek ke arah buruh dan memecah kerumunan buruh yang sejak pukul 10.00 sudah memadati area tersebut.
Aksi saling pukul, lempar batu dan kayu pun kembali terjadi. Beruntung, aksi ini akhirnya bisa terkendali. Buruh mulai kembali ke bus masing-masing yang sebagian besar di parkir di areal Senayan. Meski sempat terjadi saling baku hantam, aksi ini akhirnya tidak sampai berlanjut.
Hal ini, tak lepas dari keluarnya surat pernyataan DPR yang ditandatangi Soetardjo dan Ribka di atas kop DPR. "Bagi kami ini hanya obat peredam. Kami tetap akan meminta DPR membuat pernyataan resmi. Semuanya, ditandatangi Ketua DPR, seluruh pimpinan DPR dan seulurh fraksi yang ada," tegas Sekjen KSPSI Edi Suherdi sambil sibuk menelepon koordinator lapangan untuk menggerakkan massa agar kembali ke tempat asal masing-masing.
Pengusaha Mengeluh
Aksi buruh yang dilakukan kemarin dan berbuntut rusuh kembali disayangkan oleh kalangan pengusaha. Selain kerugian yang diderita oleh pemerintah akibat kerusakan-kerusakan yang terjadi, pengusaha menghitung bahwa bila satu hari buruh melakukan aksi maka potensi kehilangan omzet industri yang diderita pengusaha mencapai angka Rp340 miliar.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Gabunga Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan. Menurutnya, jumlah tersebut didapatkan dari hitungan omzet industri besar yang mencapai angka Rp170 triliun per tahunnya. "Jadi menghitungnya adalah omzet tahunan yang mencapai Rp170 triliun dibagi 250 hari kerja. Dari jumlah tersebut didapatkan hitungan sebesar Rp680 miliar," jelasnya.
Thomas menjelaskan bahwa angka Rp680 miliar tersebut merupakan sektor industri berat yang banyak menggunakan tenaga kerja buruh. "Tapi tidak semua kan terkena dampaknya dan berhenti kegiatan produksinya. Contohnya untuk sektor industri yang berlokasi di gunung-gunung kan juga tidak kena dampaknya. Sehingga yang terkena dampaknya kurang lebih mencapai 50 persen dari angka tersebut," paparnya.
Angka Rp340 miliar sendiri merupakan potensi kehilangan omzet yang diderita oleh pengusaha bila buruhnya mogok selama sehari. "Jadi kalau dua hari, seperti tanggal 1 Mei lalu kemudian kemarin (tanggal 3 Mei) tinggal dihitung saja," imbuhnya.
Ketua Komite Kadin Bidang Distribusi tersebut juga mengungkapkan bahwa sebenarnya buruh bisa menyampaikan aspirasinya dengan cara-cara yang lebih baik dari pada dengan menggunakan cara aksi yang bisa merugikan masyarakat umum. "Sebetulnya tidak dengan beramai-ramai seperti itu kan bisa, ada forum dan mekanisme dialog yang ada forum tripartit," jelasnya.
Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J. Supit mengemukakan bahwa rusuhnya aksi buruh yang dilakukan kemarin menunjukkan tidak solidnya kalangan buruh yang ada. "Saat ini ada 188 serikat pekerja, kemudian dari segi konfederasi mencapai sedangkan yang konfederasi mencapai 77 kelompok. Padahal dalam forum tripartit yang diikutkan hanya 10 kelompok," urainya.
Akibatnya mereka yang tidak diikutsertakan tidak akan mengikuti apa yang telah dicapai dalam forum tripartit tersebut. "Ini jadi masalah tersendiri yang harus dipecahkan internal buruh," imbuhnya.
Apalagi bila kemudian ternyata kemudian muncul faksi-faksi tertentu dalam buruh yang masuh ranah politis. Seperti diketahui, salah satu berita yang banyak dihembuskan adalah bahwa aksi yang berujung anarkis kemarin dikomandaoi oleh PDI-Perjuangan.
Ini karena disebabkan karena kemarin aksi yang dikomandoi oleh konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia pimpinan Syukur Sarto tersebut merupakan serikat yang banyak dibina oleh Jacob Nuwaea, pentolan PDI-P yang pernah menjadi Menakertrans di era Presiden Megawati. (jpnn)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

