Perdamaian Kristen - Arab Masa Lalu

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/06/opi04.html

Oleh
Faiz Manshur

Agustus 1980 silam, Presiden Libia Moamar Qadhafi pernah menyerukan
agar orang Kristen di jazirah Arab segera bertobat. Menurut Qadhafi,
"Seorang Arab yang beragama Kristen merupakan suatu penyimpangan."
Pernyataan ini diungkapkannya saat diwawancarai sebuah media harian di
Libia ketika ia ditanya tentang nasib sepuluh juta orang Kristen di
Arab.
Tak disangkal lagi pendapat ini bermuatan politis. Atau kalau mau
berprasangka buruk, sebenarnya Qadhafi tidak memahami sejarah
kekristenan di Arab. Pemahaman Qadhafi tentang Arab dan Islam tampak
reduksionis, sebagaimana umumnya orang Indonesia melihat Arab adalah
Islam dan Islam adalah Arab; dua sisi mata uang.
Kesalahan orang memandang sejarah mengakibatkan efek domino,
seolah-olah Islam dan Kristen lahir dari dua kutub dunia yang berbeda,
yakni Barat dan Timur. Kristen sampai sekarang kesannya agama Eropa
yang identik dengan gaya hidup dan cara berpikir Barat. Kristen
padahal muncul di zaman Isa di kawasan Arab.
Hanya saja karena perjalanan panjang sejarah, Kristen lebih berkembang
di Eropa dan menemukan karakternya yang khas sebagai agama orang
Barat. Sampai-sampai beragam simbol kekristenan, bahkan raut muka
Yesus dan Bunda Maria pun lebih mengesankan wajah Barat ketimbang
Yerusalem. Sementara itu, Islam yang lebih banyak berkembang di Arab
dinyatakan sebagai agama Arab. Sesuatu yang problematis tentunya.

Masa lalu Kristen Arab
Memang tidak keliru kalau ada anggapan masyarakat Arab tidak menerima
ajaran Kristen sebagai salah satu agama resmi di Jazirah Arab. Asumsi
ini berawal setidaknya dari dua hal.
Pertama, Kristen tidak mudah diterima oleh orang Arab, padahal
kemunculannya lebih awal ketimbang Islam. Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhamad lebih cocok sebagai agama Arab karena karakteristiknya yang
"modern", politis, dan progresif. Ini sejalan dengan watak dan gaya
hidup orang Arab yang kebanyakan nomad.
Asumsi ini juga diperkuat oleh kenyataan dominasi politik orang Islam,
setelah Muhamad berkuasa. Dengan kekuatan politiknya, Muhamad tidak
hanya tampil sebagai juru dakwah, tetapi sebagai pelindung umat.
Karisma Muhamad yang luar biasa menjadikan mayoritas orang Arab
terikat secara ideologis dengan Islam.
Sekalipun demikian kita tidak bisa menutupi fakta sejarah di masa
sebelum Islam. Sejarah mencatat, kekristenan bukanlah sesuatu yang
asing di negeri Arab. Di tahun 225 terdapat keuskupan di Beth-Katraye
di wilayah Qatar.
Kekristenan masuk ke wilayah kesukuan Himyar, Ghassan, Taghlib,
Tanukh, Tayy, dan Quda'a, jauh sebelum kedatangan Islam. Seorang ratu
Arab benama Maria beragama Kristen.
Yang menarik adalah pendapat sejarawan Anton Wessels (1983) yang
menguraikan sejarah kekristenan Arab melalui perspektif Alkitab. Dalam
Kisah Para Rasul 2:11, para Rasul menceritakan, pada hari Pentakosta
terdapat orang-orang Arab yang turut menyaksikan bersama para rasul,
perihal perbuatan-perbuatan besar Allah, dalam bahasa mereka sendiri.
Setelah pertobatan, Paulus pergi ke Arab (Galatia 1:17).
Pada konsili-konsili awal "gereja mula-mula" hadir para uskup yang
berkebangsaan Arab. Ini senada dengan pendapat J Spencer dalam bukunya
Christianity among The Arabs in Pre-Islamic Times (1979) yang
mengatakan, pada masa pra-Islam, agama Kristen tersebar di antara
orang-orang Arab. Bukti pendapat ini merujuk dari adanya gereja di
wilayah yang sekarang disebut Arab Saudi, juga pada bagian selatan
jazirah Arab.
Pada abad kelima, terdapat keuskupan di negeri Arab. Di antaranya
adalah keuskupan Hira di bawah uskup agung Nestorian yang dipimpin
Kashkar. Keuskupan ini juga ditemukan di Bahrain, Qatar, dan Oman. Ada
juga gereja-gereja di Kota Sana'a, Aden, dan Dhofar.
Seabad kemudian, persekutuan Kristen bergerak masuk ke wilayah Yaman.
Pada umumnya, orang Arab Kristen ini adalah pengikut gereja Timur,
aliran Nestorian, sebagian menganut alirat Yakobit.
Seorang bapa gereja bernama Isyoyabh (628-643) dari suku Seleukia,
dikenal akrab dengan Nabi Muhamad, bahkan berlanjut pada masa awal
kekuasaan Khalifah Umar. Umat Kristen yang mengikuti Isyoyabah merasa
mendapat keuntungan karena keakraban hubungan tersebut.
Para sahabat Muhamad pun tidak sungkan memanfaatkan orang Kristen
dalam hal dagang dan politik. Di masa kekuasaan Muhamad, ada beberapa
orang Kristen yang mendapat kedudukan di wilayah-wilayah Islam Persia
seperti Kerman, Balkh, Bokhara, Seistan, Khorasan, dan Afganistan.
(Joseph Stewart,1928)
Di masa remaja, Muhamad juga pernah berjumpa dengan seorang rahib,
bahkan mengikuti khotbah umum dari seorang pengkhotbah jalanan pada
suatu pesta tahunan. Penelitian Anton Welles juga menyebutkan ada
sepupu istri Muhamad yang sempat memeluk Kristen kemudian pindah
Islam.
Arab, Islam, Muhamad, dan Kristen tidak melulu kita lihat sebagai
fenomena teologis. Ini adalah wilayah kajian sosiologis. Wajar kalau
kemudian hubungan Muhamad dengan umat beragama Kristen, bahkan Yahudi
tidak bersifat konfrontatif.

Konflik Politik
Umat Kristen dan Yahudi dianggap Muhamad sebagai "orang-orang yang
dipenuhi ajaran kitab", dan bukan orang kafir. Al-Quran sendiri tidak
melihat orang-orang ahlul kitab ini sebagai musuh, kecuali mereka yang
memerangi tanpa alasan yang jelas. Status kafir, menurut Al-Quran,
lebih ditujukan kepada orang-orang penyembah berhala. Dari sini,
jelaslah sudah tiada konflik keagamaan di jazirah Arab.
Masalah kemudian muncul setelah hasrat politik lebih dominan
dikedepankan ketimbang idealisme ajaran agama. Hasrat politik ini
mulai masuk di lingkar kekuasaan Islam setelah beberapa tahun sahabat
Nabi, Umar bin al-Khattab mulai menjalankan misi penaklukan kawasan di
luar Arab yang beragama Kristen.
Suku Najran dipaksa masuk Islam dan dipaksa tinggal di Irak. Pemimpin
wilayah yang beragama non-Islam diganti pemimpin Islam tanpa alasan
yang jelas. Hubungan Islam-Kristen makin buruk ketika Umar
mengeluarkan kebijakan pajak lebih besar kepada orang Kristen.
Kebijakan lain adalah melarang orang tua pemeluk Kristen membaptis
anak-anaknya, dan mewajibkan mempelajari ajaran Islam.
Merasa semakin terdesak, orang Kristen mencoba bertahan dengan segala
upaya, termasuk meminta bantuan kekuasaan Bizantium. Suku-suku Kristen
lalu bergabung dengan pasukan Yunani dan memberontak atas kebijakan
Umar.
Setelah Muhamad wafat tahun 632 tampaknya hampir semua penerusnya
lebih memaksimalkan dakwahnya melalui instrumen politik. Tentu tren
politisasi ini sejalan dengan politisasi agama Kristen di luar Arab
waktu itu. Perebutan kawasan, penaklukan suku-suku sedang menjadi tren
pasukan-pasukan kenegaraan.
Suku Nomad seperti Banu Salih, berpegang teguh pada kekristenan,
ketika di tahun 779 Khalifah al-Mahdi (775-785) hendak memaksakan
agama Islam kepada mereka. Orang Kristen yang tak mau dipaksa masuk
Islam terpaksa harus mengungsi ke luar negeri.
Tampaknya, untuk mewujudkan tata hubungan damai antaragama, kekuasaan
memang memegang peranan yang kuat. Ini dibuktikan Pemerintahan Harun
al-Rasyid (786-809) yang mencoba menghindari wilayah keagamaan dalam
politik. Harun tampaknya tidak ingin mengulang sikap al-Mahdi yang
tidak simpatik kepada orang Kristen.
Simpati Harun ditunjukkannya dengan merekrut resmi beberapa tokoh
Kristen berada dalam istananya. Seorang dokter pribadi Harun bahkan
adalah pemeluk Kristen aliran Nestorian yang taat. Kaum Nestorian yang
sebelumnya diusir Mahdi bisa nyaman kembali ke kampung halamannya.
Pengalaman di negeri asing selama beberapa tahun membuat orang-orang
Kristen ini memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Oleh Harun,
mereka direkrut jadi penerjemah diplomasi. Sebagaian besar mereka
dijadikan tenaga pengajar bahasa di sekolah-sekolah perkotaan.
Sayangnya, pada masa selanjutnya, tahun 823 khalifah al-Makmun
(813-833) kembali memusuhi orang-orang Kristen. Perlakuan al-Makmun
sangat diskriminatif melebihi kalifah Mahdi. Pada abad kesembilan,
lenyaplah jejak terakhir kekristenan Nestorian di negeri Arab.

Sekulerisasi
Kelanjutan sejarah hubungan Islam-Kristen di masa awal di atas
memuncak pada Perang Salib. Hingga kini, konflik politik itulah yang
meneguhkan ciri khas konflik Islam-Kristen, termasuk di Indonesia.
Sejarah konflik Islam-Kristen di atas memperlihatkan bagaimana politik
independen menjadi keharusan.
Istilah yang agak kurang akrab adalah sekulerisasi agama. Sekulerisasi
adalah tonggak di mana agama tidak menjadi hal yang ditonjolkan
pemeluknya untuk mengatasi persoalan publik. Pahit-manisnya catatan
sejarah adalah kenyataan. Kenyataan di mana orang beragama sekarang
harus berani memutus mata-rantai sentimen politik.
Kini, Arab dan Kristen sama-sama menjadi agama yang berkembang sarat
dengan muatan politis. Berbagai konflik antarumat Islam versus Kristen
terjadi di berbagai tempat.
Sentimen itu, antara kedua umat sesama pemeluk agama "abrahami" ini
kemudian memunculkan konflik teologis. Alih-alih terjadi pendewasaan
pergaulan beragama, yang terjadi justru pendangkalan teologis dalam
ruang publik keagamaan.
Orang Islam merasa Kristen menjadi ancaman karena praktik
kristenisasinya. Orang Kristen pun merasa Islamisasi dan pendudukan
kekuasaan yang sering dilakukan umat Islam menjadi ancaman besar bagi
kekristenan.
Pluralisme kini didakwahkan pemimpin Islam maupun pemimpin Kristen
yang sadar bahwa konflik keagamaan tidak seharusnya berlangsung.
Namun, kenyataannya, pluralisme sebatas slogan terbuka di ruang
publik.
Di tingkat lapisan masyarakat awam istilah pluralisme sendiri tidak
masuk dalam kamus keagamaan mereka. Orang Islam hidup berinteraksi
dengan semangat keislaman yang sudah baku. Demikian juga dengan orang
Kristen yang memiliki semangat konservatif. Sentimen tetap sentimen,
terus mengalir tanpa muara.
Beruntung, keberagamaan kita sudah agak rasional. Ini bisa dilihat
dari kalangan Islam, NU, dan Muhamadiyah, yang sudah semakin akrab
menjalin komunikasi dengan kelompok Kristen, Katholik, Buddha, dan
agama lainnya. Sayangnya ini masih dalam bentuk gerakan elite.
Sikap ortodoksi dan sentimen keagamaan yang cenderung irasional di
kalangan pemimpin agama tradisional sampai kini masih berpotensi
sebagai lahan subur politik sektarian.
Kristen bukan agama Barat sebagaimana Islam bukan agama Arab. Yahudi
bukan agama Israel sebagaimana Buddha bukan hak miliknya orang India.
Semua agama memiliki prinsip universalitas. Dengan demikian semua
orang penting memahami semangat kebajikan umat beragama lain.****

Penulis adalah pengamat politik.




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke