Perilaku ANTV yg logonya menjadi Star teve dalam kasus
penggerebegan Azhari di Batu Malang dan di Wonosobo
membuktikan bahwa korporatokrasi di Indonesia sudah
masuk ke dalam susunan syaraf kaum jurnalis.
Analisis yang disampaikan benar tetapi belum menemukan
akar.
Bagi kekuatan modal, kolaborasi atau konspirasi (yang
ditolak oleh ekonom neolib) adalah sah selama
membuahkan keuntungan dan berujung pada akumulasi
modal. Sajian live pada liputan di Batu dan Wonosobo
pasti bertujuan meningkatkan rating yang berujung pada
meningkatnya pangsa pasar iklan.
Korporatokrasi bahkan tidak pedulu pada jurnalisme
melekat. Bahkan tidak peduli pada jurnalisme sebagai
produk intelektual yang netral.
Pada kasus invasi AS ke Irak, wartawab ABC menolak
untuk ikut pasukan Australia atau pasukan AS. ABC
ingin mendapat fakta lapangan sendiri. Akibatnya luar
biasa. John Howard memotong anggaran ABC sebesar
300ribu dolar Australia.
Sebaliknya pada kasus Batu dan Wonosobo, jurnalisme
justru menunjukkan sosoknya sebagai jenitor modal.
Tapi, ini bukan hanya terjadi di ANTV.
Saya melihat, merasakan bahwa mendapatkan akibat dari
dahsyatnya kekuasaan korporasi.
Nah, bagaimana mampu meminimalkannya sementara para
jurnalis dan pemirsa atau pembaca tidak mempunyai
media alternatif seperti Guardians atau Der Spiegel,
Democracynow.
Ini tantangan kita. Mari melepas diri dari jerat
modal. Kita butuh modal kapital, tapi bukan modal yang
menindas intelektual dan nilai-nilai manusia.

--- Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> --- Farid Gaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ANTV dan Karni Ilyas merindukan liputan eksklusif,
> momentum baru untuk
> me-relaunch dan me-rebrand stasiun televisi milik
> Keluarga Bakrie yang
> kini sebagian sahamnya dibeli raksasa media Rupert
> Murdoch. Salah satu
> liputan eksklusif mutakhirnya adalah "penggrebegan
> teroris" di Wonosobo.
>
> Saya ada di lokasi kejadian beberapa jam setelah
> penggerebegan (sedang
> kebetulan pulang ke kota kelahiran saya itu).
> Melihat
> lokasi
> peristiwa, saya segera bisa menyimpulkan betapa ANTV
> memperoleh
> privelege sangat besar dalam liputan itu. Dan segera
> pula muncul
> pertanyaan di kepala saya: apa yang telah dan akan
> diberikan oleh ANTV
> kepada pihak kepolisian sebagai imbalannya?
>
> Rumah "sarang teroris" terletak di pinggir jalan
> utama
> yang
> menghubungkan Wonosobo dengan kota-kota lain seperti
> Temanggung,
> Magelang, dan Purworejo. Bus-bus besar jurusan
> Purwokerto-Wonosobo-Semarang melewati jalan itu.
>
> Mobil studio-mini ANTV (lengkap dengan satelit)
> persis
> parkir di
> seberang jalan, yang membuat kameraman stasiun
> televisi ini paling
> strategis mengarahkan kamera ke rumah kecil tanpa
> pagar itu. Mobil itu
> sudah datang pada malam hari ketika banyak wartawan
> cetak dan stasiun
> televisi lain masih terlelap.
>
> Bahkan jika para wartawan lain tahu, mereka takkan
> bisa memperoleh
> gambar yang sama, sebab jalan dari arah Magelang
> maupun dari arah
> Wonosobo sudah diblokir sejak malam hari. Dan segera
> setelah
> penggerebegan usai, rumah itu tak hanya dikelilingi
> "police line" tapi
> dipagari dengan tripleks yang tidak memungkinkan
> wartawan yang datang
> kemudian memiliki pandangan bebas ke rumah itu,
> apalagi memasukinya.
>
> Sebuah kerjasama yang manis antara satu stasiun
> televisi dan aparat
> kepolisian: gambar eksklusif dan berita besar. Jika
> semua mulus,
> berita penggerebegan itu akan menjadi berita
> terbesar
> sepanjang hari
> dan keesokan harinya. Tapi, sayang, di luar kendali
> mereka, marak
> kerusuhan besar di Tuban yang membuat berita
> Wonosobo
> ini tidak
> terlalu menonjol.
>
> Bagaimanapun, sekali lagi, ANTV dan Karni telah
> berhasil menunjukkan
> kekuatan scoop dan gambar yang eksklusif.
>
> APA IMBALANNYA?
>
> Meski mendapat liputan eksklusif, ANTV dan Karni
> Ilyas
> kehilangan daya
> kritis terhadap obyek liputannya. Itu merupakan
> keniscayaan (atau
> konsekuensi logis) dari metode jurnalisme yang
> mereka
> terapkan.
>
> Sangatlah bisa dipahami jika setiap media, setiap
> stasiun televisi,
> berusaha mendapatkan liputan eksklusif. Kebutuhan
> seperti ini terutama
> mencolok di era ketika media makin menjadi industri,
> ketika persaingan
> mengeras dan ketika rating menjadi sesembahan baru.
>
> Salah satu cara paling ampuh dalam mendapatkan
> eksklusivitas adalah
> memelihara hubungan baik serta mengail bocoran dari
> "insider" (orang
> dalam). Dan dalam soal seperti ini, Karni memang
> istimewa. Dia sudah
> menunjukkan reputasinya ketika menjadi redaktur
> hukum
> Majalah Tempo,
> ketika membesarkan Majalah Forum (Keadilan), ketika
> di
> SCTV dan ketika
> kini di ANTV.
>
> Tapi, hubungan baik dengan insider tidaklah gratis;
> harus ada yang
> dibayarkan, harus ada yang direlakan: obyektifitas
> serta daya kritis.
>
> EMBEDDED-JOURNALISM
>
> Sesungguhnya, dalam liputan "penggerebegan teroris"
> di
> Malang dan
> Wonosobo, praktek yang dilakukan ANTV adalah praktek
> embedded-journalism (atau jurnalisme-melekat).
>
> Meski sedikit lebih canggih, ini tak ada bedanya
> dengan praktek
> wartawan Buser atau Sergap yang kadang ikut
> rombongan
> polisi
> menggerebek cafe atau tempat perjudian.
>
> Tak jauh beda pula dengan para wartawan yang ikut
> rombongan Presiden
> Susilo Bambang Yudhoyono dalam lawatan-lawatan ke
> luar
> negeri, atau
> wartawan CNN dan FOX TV yang meliput konflik di Irak
> dari sudut
> pandang tentara Amerika.
>
> Embedded-journalism memang kadang tak terhindarkan.
> Namun, ada
> beberapa hal yang perlu dipertimbangkan masak
> sebelum
> melakukannya:
>
> 1. Kita tidak semestinya mencantolkan diri pada
> salah
> satu pihak yang
> terlibat dalam konflik, atau pada pihak yang punya
> kepentingan
> terhadap suatu perkara/liputan.
>
> 2. Eksklusivitas dan keamanan wartawan saja tidak
> bisa
> menjadi dalih
> bagi wartawan untuk mencantol kepada salah satu
> pihak
> yang punya
> kepentingan dalam sebuah perkara. Dalih tetap harus
> diletakkan pada
> kepentingan publik untuk mendapat informasi yang
> lengkap dan berimbang.
>
> 3. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari,
> wartawan perlu membuat
> serangkaian mekanisme yang menjamin agar liputan
> sepihak ini bisa
> dinetralisasikan dan dibuat imbang.
>
> 4. Jika embedded-journalism tak bisa dihindari, dan
> keberimbangan
> sulit diterapkan, wartawan perlu membuat disclosure
> sejelas-jelasnya
> bahwa liputan yang dibuat dengan teknik embedded itu
> memang liputan
> sepihak sehingga pembaca atau pemirsa tahu persis
> posisi liputan itu,
> yang memang tidak dimaksudkan sebagai liputan
> berimbang.
>
> LIPUTAN DI WONOSOBO
>
> Kembali ke liputan ANTV di Wonosobo, yang
> pertama-tama
> dilupakan
> stasiun televisi itu adalah bahwa polisi bukanlah
> pihak yang netral
> dalam kasus terorisme.
>
> - Polisi menjadi satu pihak yang bertikai dalam "war
> on terror"
> - Polisi punya kepentingan untuk memamerkan sukses
> dalam "perang
> melawan teror"
> - Datasemen anti-teror memperoleh sumbangan dana
> signifikan dari
> Pmerintah Amerika
> - Beberapa perwira tinggi kepolisian desperate untuk
> mengalihkan
> perhatian dari sorotan tuduhan korupsi yang
> dialamatkan kepada mereka.
> - Aparat kepolisian punya kepentingan untuk membuat
> Abu Bakar Baasyir
> tetap berada dalam penjara, meski keterlibatannya
>
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke