Sebuah tulisan yang bagus. Namun saya memilih untuk lebih merenunginya bagi
diri saya pribadi. Karena Giribangun hanyalah syariatnya saja, yang pada
hakikatnya dimana pun kita, ke sanalah muaranya. Bahwa akan ada tempat
dimana kekuasaan tak lagi bisa diandalkan, ketika harta kekayaan tidak bisa
kita jadikan kekuatan, bahkan anak istri yang konon mencintai kita
sekalipun, pasti tak akan mau menemani kita, jika saatnya telah datang.
Teman sejati adalah amal dan kebaikan yang kita tanam. Ilmu pengetahuan yang
kita tebarkan untuk kesejahteraan. Dan anak keturunan yang baik yang
ditinggalkan, yang dilandaskan atas pengabdian kepada Sang Khalik Yang Maha
Esa. Allah SWT. Tak akan lebih. Tak kan ada yang lain. Ketika itu kita hanya
dihadapkan kepada satu hal. Hanya ada perhitungan atas segala yang telah
diperbuat di dunia. Apakah kita telah menyekutukann-Nya? Apakah kita telah
menganggap-Nya tidak ada? Bahkan sesal kemudian tak kan berguna.Bahkan
syetan pun tak mau lagi menemani, apatah lagi akan membela. Sungguh, saat
itu akan datang kepada diri-diri kita semua.Cepat atau lambat. Suka atau
tidak.Bahwa semua adalah menjadi bukti nyata, bahwa kehidupan adalah fana.
Sehebat apapun kita saat ini. Sepintar apapun kita saat ini. Sesungguhnya
orang pintar adalah yang telah mempersiapkan segala perbekalan, untuk
perjalanan yang sesungguhnya nanti.Kepada Allah SWT. Yang Maha Esa. Dan tak
mungkin ada yang lain.
Salam,
----- Original Message -----
From: "Listy" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Ppiindia (E-mail)" <[email protected]>
Sent: Wednesday, May 10, 2006 2:16 PM
Subject: [ppiindia] Astana Giribangun, Rumahmu yang Akan Datang
>
> fyi
>
> ----- Original Message -----
> Sent: Wednesday, May 10, 2006 12:07 PM
> Subject: Astana Giribangun, Rumahmu yang Akan Datang
>
>
>
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url="">
detik.read/tahun/2006/bulan/05/tgl/10/time/115358/idnews/591925/idkanal/10
>
> Astana Giribangun, Rumahmu yang Akan Datang
> Muchus Budi R. - detikcom
>
> <http://ad.detik.com/link/peristiwa/prs-relion.ad> Solo - ...
> hidup hanya menunda kekalahan
> tambah terasing dari cinta, sekolah rendah
> dan tahu ada yang tidak terucapkan
> sebelum pada akhirnya kita menyerah
>
> Chairil Anwar, si binatang jalang yang ekstensialis, sebelumnya keras
berseru akan 'hidup seribu tahun lagi'. Enam tahun setelahnya dalam kondisi
rapuh, dia menuliskan puisi yang dikutip di atas; menyerah kalah pada
suratan nasib. Inilah gambaran betapa bahwa hidup tak dapat dirancang,
diukur maupun diprediksi.
>
> Demikian pula Soeharto. Pada saatnya, siapa yang mengira 'buldozer' Orde
Baru itu akan jatuh dan menjadi sedemikian nestapa dan tak pupus dirudung
malang di masa rentanya. Sakit-sakitan, dikejar-kejar kasus hukum serta
dipaksa keadaan untuk menyaksikan berbagai kasus yang menimpa keluarganya.
>
> Soeharto kini sudah payah. Bahkan menjelang usianya yang ke-85 dia harus
rela kehilangan 40 cm ususnya yang dipotong oleh tim dokter yang ingin
menyelamatkan nyawanya. Beban yang tentunya tidak mudah bagi Soeharto untuk
menjalaninya, apalagi dia kini telah sendiri setelah ditinggal Siti
Hartinah, istri yang banyak menyemati hidupnya semenjak muda.
>
> Siti Hartinah yang terkenal dengan panggilan Ibu Tien Soeharto meninggal
dunia mendadak pada tahun 1996, dimakamkan di Astana Giribangun, sebuah
pemakaman keluarga yang dipersiapkan sendiri oleh Soeharto dan Ibu Tien.
Kata astana berarti makam.
>
> Mangadeg di Gunung Lawu
>
> Kompleks Astana Giribangun yang megah dan luas berada di lereng barat
Gunung Lawu. Tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Matesih, Karanganyar,
sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo. Yang sempat diketahui publik,
terakhir kali Soeharto ziarah ke makam tersebut adalah menjelang bulan puasa
akhir tahun lalu bersama sejumlah anak dan pengawalnya.
>
> Makam itu dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg,
komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan
dinasti Mataram. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl,
Giribangun pada 666 meter dpl.
>
> Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk
tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto
mengaku keturunan Mangkunegoro III. Bahkan Giribangun disebut sebagai makam
yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang keduabelas atau yang
paling akhir.
>
> Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan
penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan abu
jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak
tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo,
salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota
Solo.
>
> Cadangan untuk Soeharto
>
> Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah
bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan
tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk
joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir
gaya Surakarta pula.
>
> Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat
adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo
(ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien. Tepat di sebelah
barat makam Ibu Tien terdapat sebuah tempat yang disebut sebagai "cadangan",
yang nantinya diperuntukkan bagi Pak Harto.
>
> Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter
persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan. Rencananya
di tempat inilah anak-anak dan para menantu Soeharto dimakamkan. Namun
ketika sekarang ada anak Soeharto yang memilih hidup sendiri setelah
mengalami kegagalan berkeluarga, kurang jelas siapakah nanti yang harus
memenuhi areal untuk 12 badan itu.
>
> Di selasar cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan.
Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta
anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut.
Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani
Sahid Gitosardjono beserta istri.
>
> Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas
567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang berhak
dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan
Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa
kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana
tersebut.
>
> Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini
tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argokembang, yang
berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg
ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.
>
> Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan
berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang
berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di
bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.
>
> Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung
lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi
keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon
air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para
wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.
>
> Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Di masa Soeharto
berkuasa, di arel ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan souvenir
maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun semenjak kini
tempat itu menjadi sangat sepi, seiring sepinya pendatang dari kalangan
umum.
>
> Petuah untuk Ksatria Utama
>
> Di sudut barat daya bangunan megah Cungkup Argosari, terpampang sebuah
tulisan yang dipetik dari Serat Wedatama, sebuah karya sastra Jawa klasik
karya Mangkunegoro IV. Bunyi kutipan dalam tembang pucung itu adalah;
>
> lila lamun kelangan nora gegetun
> trimah yen ketaman
> saserik sameng dumadi
> tri legawa nalangsa srahing bathara.
>
> (ikhlas, jika kehilangan tiada 'kan menyesal
> menerima dengan lapang jika mendapatkan
> kebencian dari sesama
> legawa dan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa)
>
> Bait itu adalah petikan dari sebuah petuah Mangkunegoro IV kepada anak
cucunya jika ingin menjadi seorang ksatria utama. Ksatria pilihan harus
pantang menghindar dari kewajibannya, menjalankan darma baktinya dan siap
menerima resiko apa pun sebagai konsekuensi sebuah pilihan.
>
> Tidak jelas juga, apakah diamnya Soeharto terhadap segala cercaan dan
tudingan setidaknya selama delapan tahun terakhir ini adalah bagian dari
penerimannya sebagai ksatria seperti yang dianjurkan leluhur istrinya. Namun
yang jelas hingga kini dia belum pernah melakukan reaksi terbuka.
>
> Dia tetap memilih diam ketika nasib hukumnya terus menggantung tanpa
kejelasan. Dia tetap memilih diam di saat pihak-pihak yang berbeda pandangan
beradu pendapat mengenai solusi yang elegan untuk kasus hukum yang mendera.
>
> Ikhlas, jika kehilangan tiada 'kan menyesal. Dia memang, setidaknya secara
dejure, telah kehilangan kekuasaan sejak 1998. Mestinya dia telah mematuhi
petuah Mangkunegoro IV agar ikhlas jika kehilangan apa pun, karena saat itu
mekanisme yang dia pilih adalah mengundurkan diri.
>
> Menerima dengan lapang jika mendapatkan kebencian dari sesama. Dengan
tetap diam menyungging senyum khasnya, mestinya orang akan meraba bahwa dia
telah lepang dada dan memposisikan dirinya sebagai sasaran tembak bagi para
pengkritiknya.
>
> Satu hal yang hingga detik ini masih diperdebatkan adalah apakah dia akan
membawa kasus hukum yang menimpanya ke ruang pengadilan atau akan dibawanya
hingga nanti istirahat tenang menyusul istrinya di Giribangun, rumahnya yang
akan datang.(nrl)
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

