Duka Lara Konflik SARA
DALAM dua pekan ini, negara kita yang ber-Bhinneka Tunggal Ika nyaris terkoyak lagi oleh konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Sebuah konflik yang seharusnya tak pantas hidup di sebuah negara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan ini.
Namun kenyataan berkata lain. Lihat saja bagaimana kasus kerusuhan di Tuban, Jawa Timur yang berpangkal dari persoalan pilkada diseret ke masalah SARA. Pasalnya, salah satu tokoh yang berkonflik itu adalah warga keturunan Tionghoa.
Isu SARA pun kembali dimainkan kelompok tertentu dalam kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang pembantu rumah tangga di Makassar, Selasa kemarin. Dengan mudah mereka memainkan isu ini, karena pelaku sekaligus majikan korban juga beretnis Tionghoa.
Bak sekam kering dilempar api, isu ini menjadi pemantik kemarahan massa termasuk mahasiswa di Makassar. Mereka melakukan sweeping bahkan sempat menyandera seorang warga keturunan Tionghoa di kota itu. Untung saja, berkat kesigapan aparat kepolisian, kemarahan itu tidak melebar manjadi kerusuhan.
Jika ditarik ke belakang, konflik bahkan kerusuhan akibat isu SARA seakan sudah menjadi 'budaya' di negeri ini. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah melayang sia-sia menjadi tumbal konflik SARA di berbagai daerah.
Anehnya, konflik SARA ini tak mudah mati. Berhenti di suatu daerah, tak selang lama muncul di daerah lain. Tragisnya, beberapa waktu lalu, sejumlah pengamat pernah mengemukakan temuan, selain karena kesenjangan ekonomi, konflik SARA di daerah-daerah sering bermula dari harumnya aroma kekuasaan.
Asumsi sederhana, dalam konteks kekinian, kekuasaan tidak bisa diharapkan turun dari langit. Tetapi sesuatu yang harus diupayakan dan diperjuangkan terus-menerus, baik dengan cara lunak maupun keras bahkan kasar.
Sayangnya, perjuangan meraih kekuasaan di tingkat elit lokal itu biasa terjadi dalam bentuk kekerasan. Dan, para pemburu kekuasaan suka melakukannya dengan menyeret isu SARA yang memang efektif sebagai pemantik konflik. Mereka seolah tak menyadari, salah satu tanggung jawab dan kesalahan politik terbesar yang dapat melahirkan kekerasan sipil yang paling eksplosif adalah konflik SARA.
Tak heran, sentimen SARA dan diskriminasi saat ini jauh lebih buruk daripada masa lalu. Konflik itu kini sulit diidentifikasi. Tidak ada batasan baik gender, usia, golongan ataupun kategori lainnya yang berlaku. Kini, SARA dapat hidup dan bersembunyi dalam diri siapa saja.
Di masyarakat multikultur yang masih tinggi kesenjangan ekonominya seperti di Indonesia, konflik SARA memang sangat rentan terjadi. Untuk mengatasinya, tak ada jalan lain selain terus melakukan kampanye dan memberi penerangan kepada masyarakat mengenai persamaan derajat dan hak manusia yang hakiki.
Semua pihak harus menyadari, konflik SARA bukan sekadar kejahatan moral yang paling mengerikan tetapi juga pandangan dan tindakan menjijikkan di era yang menjunjung tinggi demokratisasi.
Pemerintah harus segera menghentikan berbagai kebijakan yang masih bersifat sentralistik. Jangan ada lagi perencanaan yang bersifat top down. Buatlah kebijakan yang lebih mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat yang ada di daerah. Enyahkan duka dan lara masyarakat dari kekejian konflik SARA.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

