http://www.suarapembaruan.com/News/2006/05/11/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY

Kualitas Pendidikan di Jambi Rendah, NTT Tertinggal


[JAMBI] Perhatian pemerintah daerah terhadap bidang pendidikan masih sangat rendah. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah persoalan pendidikan tersembunyi di sejumlah provinsi, seperti halnya di Provinsi Jambi. Kini, Jambi memendam aib pendidikan, antara lain kualitas lulusan siswa yang tergolong rendah dibanding provinsi lain.

Dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pendidikan di Jambi baru-baru ini, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan Provinsi Jambi menyimpan aib yang hingga kini belum dapat dikikis habis, yakni kualitas pendidikan yang rendah. Hal itu terlihat jelas dari prestasi lulusan yang dihasilkan.

Pada 2004, menurut Mendiknas, rata-rata hasil ujian nasional (UN) SMP di Provinsi Jambi untuk bidang studi bahasa Indonesia hanya 6,46 atau di bawah rata-rata hasil UN tingkat nasional 6,64. Lalu, nilai rata-rata UN matematika hanya 6,34 atau di bawah nilai rata-rata UN tingkat nasional 6,57. Bahkan, untuk bidang studi bahasa Inggris, nilai rata-rata hanya 5,90 atau di bawah rata-rata UN tingkat nasional 6,16.

Di tingkat SMA, nilai rata-rata UN bidang studi bahasa Indonesia pun hanya 6,99 atau lebih rendah dari nilai rata-rata UN tingkat nasional 7,07. Namun untuk nilai rata-rata bidang IPA, siswa Provinsi Jambi dapat mencapai 7,16 atau lebih tinggi dari nilai rata-rata UN tingkat nasional hanya 6,01. Lalu, nilai rata-rata UN bidang IPS juga dapat mencapai 6,26 atau lebih tinggi dari nilai rata-rata nasional 6,00.


Paling Bawah

Satu hal yang paling memalukan dunia pendidikan di Provinsi Jambi adalah nilai rata-rata UN SMA tahun 2003/2004 dan 2004/2005. Siswa Jambi berada di peringkat paling bawah, yakni peringkat 29 dari 29 provinsi di Indonesia pada tahun ajaran itu. Sementara berdasarkan rata-rata nilai UN bidang studi IPA pada tahun ajaran yang sama, Jambi berada pada peringkat 19 dan bidang studi IPS masuk peringkat 17.

Saat ini, jumlah ruang kelas SD/MI yang rusak berat di Jambi cukup tinggi, yakni mencapai 3.927 ruang kelas atau 20,43 persen dari 16.248 ruang kelas di 3.603 unit SD/MI.


Tertinggal

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mendiknas juga menyoroti kualitas pendidikan yang masih jauh tertinggal. Untuk itu, para bupati dan wali kota diminta mengejar ketertinggalannya dengan bekerja keras dan bekerja sama, baik dengan pemerintah pusat, Depdiknas, pemerintah provinsi maupun DPRD mulai dari provinsi sampai kabupaten/kota.

Sebenarnya, kata Bambang, penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (PAUD), SD, SMP, dan SMA, menjadi kewajiban pemerintah. Namun, selama ini banyak bupati/wali kota yang tidak mampu menanganinya, sehingga banyak sekali sekolah-sekolah yang rusak. Kerusakan gedung sekolah sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan NTT, John Manulangga menyatakan hingga 2005, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan nasional wajib belajar (wajar) sembilan tahun di NTT mencapai 74,59 persen, berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 85 persen. Sedangkan angka melek huruf baru mencapai 85 persen, sisanya 15 persen belum dapat membaca, menulis, dan menghitung. "Dengan APK yang baru 85 persen, membuktikan NTT masih sangat tertinggal dan miskin," tegasnya. [141/120]


Last modified: 11/5/06

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke