Untuk Beriman, Perlukah Bukti?
Oleh: Ahmad Juhaidi
Urang Padang Batung
Perbedaan mengenai argumen keimanan seseorang, barangkali, dapat diabaikan jika bertolak dari paradigma bahwa persoalan agama merupakan persoalan iman atau kepercayaan.
Pernahkah Anda merasa tenang ketika berada dalam 'ritual' yang dianggap sebagai bagian dari ibadah? Dalam sebuah pembacaan riwayat hidup seorang ulama atau dalam sebuah pembacaan syair pujian, misalnya. Barangkali, kita sering mendengar salah satu kawan kita mengatakan ia merasa tenang, merasakan kehadiran 'tokoh' masa lalu dalam majelis ritual itu.
Bagi yang telah menunaikan ibadah haji, ia merasa kehadiran Tuhan saat berada di Masjidil Haram atau depan Ka'bah, misalnya. Seseorang yang rajin tahajud, terhindar dari musibah dan mendapat rezeki saat kepepet sering dirasakan sebagai pertanda maujudnya, kedekatan, dan kehadiran Tuhan di dekatnya. Tuhan dipercayai bukan karena Dia dapat dibuktikan keberadaan Nya secara rasional atau emperis, tetapi karena kita merasakan keberadaan Nya. Nyatakah pengalaman keagamaan itu? Dapatkah pengalaman keagamaan itu dianggap benar menjadi argumen kehadiran Tuhan?
Dalam kajian filsafat, pengalaman keagamaan menurut William James (1842-1910) adalah sesuatu yang unik dan merupakan kondisi alami manusia yang normal. James beranggapan, seluruh manusia normal pasti memiliki pengalaman keagamaan sehingga fenomena itu dapat disebut sebagai kenyataan yang real.
Tetapi, persoalan pengalaman keagamaan itu masih memunculkan kritik. Mengutip Luthfi Assyaukani, salah satu pengkritik James dan pengikutnya adalah Michel Martin. Profesor dari Universitas Boston itu berpendapat, pengalaman keagamaan tidak dapat dijadikan argumen untuk membuktikan kehadiran Tuhan. Seorang atheis yang merasakan ketidakhadiran Tuhan seharusnya pengalamannya itu dianggap real. Seorang muslim dan berada di lingkungan Islam yang ketat, rasanya mustahil memiliki pengalaman keagamaan dengan Yesus atau Sidharta Gautama.
Bagi umat Nasrani, mereka pasti juga merasakan ketenangan jiwa di saat melaksanakan ibadah mereka. Umat Hindu, Budha, dan agama lain pun akan merasakan ketenangan jiwa di saat mereka dalam ritual agama yang dianggap benar oleh mereka. Gejala yang sama juga dirasakan oleh mereka yang menghadiri konser musik. Mereka mengalami ketenangan semacam itu, meskipun berbeda orientasinya. Bisakah pengalaman semacam itu dijadikan bukti kebenaran hadirnya Tuhan?
Sigmund Freud lain lagi dalam menilai keberagamaan atau keimanan seseorang. Pengalaman keagamaan seseorang, menurut ia, bukan sesuatu yang real tetapi merupakan refleksi dari ketakutan yang berlebihan. Pada tingkat tertentu, ketakutan itu akan memunculkan kreativitas manusia untuk menciptakan figur spiritual (heavenly father) yang selalu diharapkan bisa menjadi pelindungnya. Konsep akhirat, menurut ia, juga merupakan implikasi dari faktor ketakutan yang obsesif terhadap kematian. Dengan adanya akhirat, kehidupan sesudah mati, mengapa kita mesti takut mati. Simpulnya, agama tidak lain hanya respons manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi manusia yang tak dapat dikontrol.
Perbedaan mengenai argumen keimanan seseorang, barangkali, dapat diabaikan jika bertolak dari paradigma bahwa persoalan agama merupakan persoalan iman atau kepercayaan. Dalam kajian filsafat fideis (iman), keberagamaan tidak dapat didasarkan dari fakta objektif, tapi pada lompatan iman (leap of faith) yang dibentuk dari rangkaian pengalaman hidupnya.
Soren Kierkegard (1813-1855) menganggap iman mempunyai kepastian absolut yang berdiri sendiri. Oleh karenanya, seseorang yang beriman tidak memerlukan penjelasan rasional mengapa ia memilih jalan itu. Kita percaya puasa adalah perintah Tuhan; kita percaya Nabi Muhammad SAW mengalami isra miraj; kita percaya ada kehidupan sesudah mati dan keimanan lain tidak memerlukan penjelasan rasional mengapa kita mengimani itu.
Kierkegard memberikan tiga argumen mengapa akal selalu tidak bisa bertemu dengan iman. Pertama, argumen kira-kira (approximation argument). Argumen ini menjelaskan, setiap argumen metafisis tak ada yang memberikan bukti pasti. Kalaupun ada bukti akan selalu terbuka kemungkinan kesalahan menafsirkan bukti itu, padahal iman memerlukan kepastian absolut. Kedua, argumen penundaan (postponement argument). Sains adalah kebenaran sementara sehingga ada kemungkinan bukti baru akan menggugurkan bukti lama. Jika iman harus dibuktikan dengan sains, berarti manusia harus menunggu hingga waktu yang tak tentu padahal umur kita terbatas.
Ketiga, argumen hasrat (passion argument). Argumen ini mengatakan, iman memerlukan komitmen. Iman memerlukan dan melibatkan risiko. Semakin besar risiko, semakin baik bagi iman. Jika kita memiliki bukti tentang adanya siksa di hari pembalasan, iman tak lagi menarik dan berharga karena bisa dipastikan semua orang akan beriman dan tak ada risiko dalam keimanannya. Iman tanpa didasari bukti adalah iman yang sangat berharga.
Hal itu menunjukkan, beriman atau percaya adanya Tuhan tidak perlu adanya argumen akal. Karena, setiap argumen akal niscaya akan dapat dipatahkan dengan akal pula. Untuk menjadi beriman tak perlu mencari bukti.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

