>
> --- In [email protected], irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Banyak orang di negara ini memang berprinsip: 'ambil idenya, buang
> > orangnya'..
> > Ide federasi/federal dibuang, dikeluarkan otda.. bahkan ada (otda
> khusus)
> > yang lebih 'federal' dari konsep aslinya (Aceh, Papua?)..
> >
> > Khusus topik di bawah, ide ambil hartanya bakal diikuti gitu sama
> kroninya?
> > Waiting for godot, kali.. :-(
> > CMIIW..
> >
> > Wassalam,
> >
> > Irwan.K
>
> hehehe... saya suka geli kalo baca postingan Mas Irwan soal AR. Fans
> banget gitu lho... ;)
> Bukan protes lho Mas, hak anda mau ngefans sama siapa pun.
Hehehe.. jadi pengen malu dibilang gitu sama Mbak Fau.. :-)
Cuma mau komen aja. Soal ide proses hukum Pak Harto dijalankan
> kemudian diampuni demi rekonsiliasi bangsa dan ide negara Federal,
> saya kira bukan monopoli ide AR saja dan yang bilang sama dianggap
> penconteknya.
> Saya dan teman2 yang bukan siapa2, sudah lama punya pendapat seperti
> itu, sebelum dengar omongan AR dikoran/tv. Juga waktu pembahasan Otda
> yang tergesa2 itu.
> Saya rasa, banyak orang lain berpikiran serupa, melihat kasus2
> dinegara lain, seperti di Afsel. Saya lupa siapa saja, tapi rasanya
> saya juga baca bbrp kali di media massa yang narasumbernya bukan AR.
>
> Cuma ya AR kan tokoh publik, jadi omongan dia yg sering dimuat di
> koran besar2 dan diwawancara di tv... hehehehe....
> peace ah... monggo..
Thx for your comments, Mbak.. Dengan ini saya minta maaf kalau ada yang
dianggap keliru dari tulisan saya..
Sekedar menambahkan saja, AFAIK cuma AR yang 'dihajar' karena wacana
Negara Federasi. Hal Ini yang hendak saya angkat di milis, Mbak.. :-)
Sekali lagi sorry kalau ada yang tidak berkenan.
Wassalam,
Irwan.K
--------
<http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/1998/10/20/KRT/mbm.19981020.krt6.id.html>http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/1998/10/20/KRT/mbm.19981020.krt\
6.id.html <http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/1998/10/20/KRT/mbm.19981020.krt6.id.html>
Edisi. 03/XXIIIIIII/20 - 26 Oktober 1998
Kritik
Kenapa Sudutkan Amien?
Kehadiran Abdurrahman Wahid, Jenderal Wiranto, dan jajaran ABRI
lainnya seperti Edi Sudradjat, Ali Sadikin, Sarwono Kusumatmadja, dan
mereka yang selama ini terkesan berlainan "tempat", dalam Apel Akbar
Generasi Muda Nahdlatul Ulama di Senayan, 11 Oktober 1998, sungguh
menarik. Di tengah suasana bangsa yang sarat dengan keprihatinan,
ternyata bapak-bapak terhormat itu masih punya cukup waktu untuk
"berhalal-bihalal" politik seperti itu.
Hal yang mengherankan ialah, mengapa dalam acara seperti itu
Abdurrahman Wahid dan Wiranto menyerang soal negara federal, yang
secara politik jelas ditujukan pada dan menohok Amien Rais dengan
PAN-nya. Acara itu terkesan membawa aroma politik tertentu.
Padahal, sejak awal Amien menawarkan wacana.
Kenapa diserang secara tendensius?
Saya setuju dengan imbauan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) agar ABRI tidak
memihak satu golongan. Tapi, ABRI juga jangan mulai terseret kembali
untuk terlibat dalam acara seperti apel akbar dan sejenisnya,
yang sesungguhnya memiliki nuansa politik tertentu dan berada dalam
golongan tertentu. Apakah ABRI mau mengulangi hal yang sama
ketika bergandengan dengan Golkar?
Pak Wiranto, mohon diingat, janganlah ABRI diseret kembali untuk
"main mata" politik. Harap diingat, Gus Dur dengan PBNU-nya sendiri
tidak netral secara politik.
Memang, apel itu mengangkat isu integrasi bangsa. Namun, mohon
diingat bahwa anggota masyarakat lain juga tidak bodoh dalam menangkap
nuansa politik dari acara itu. Mohon diingat pula bahwa
semua komponen besar bangsa memiliki semangat yang sama,
apalagi Amien Rais dengan PAN-nya. Wacana negara federal jangan
digiring menjadi antiintegrasi nasional, apalagi dianggap membahayakan
negara. Apakah dedikasi Amien Rais untuk bangsa ini masih kurang?
Amien memang jarang bermain mata atau kucing-kucingan politik,
sehingga dia lebih tampil sebagai Werkudoro. Tapi, janganlah ia
disudutkan secara sepihak begitu.
Zaini Ahsan
Yogyakarta
salam akhir minggu,
>
> fau
>
> dari blog Andreas Harsono:
> Di Aceh, pada 1958, Hasan Tiro menulis buku "Demokrasi untuk
> Indonesia" yang memuat model dan sistem pemerintahan federal yang
> dianggapnya cocok bagi Indonesia.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

