Soeharto Dan Reformasi Merana
JUMAT 12 Mei 2006 lalu, negeri kita kembali mencatat sejarah amat penting. Untuk kali kedua, bangsa kita mendapat pelajaran hidup tanpa hati nurani.
Delapan tahun silam, gugurnya empat mahasiswa di depan bedil aparat keamanan mencatatkan sejarah pertama bagi kematian penghormatan hak asasi manusia (HAM). Ketika itu mahasiswa berniat menyampaikan aspirasi ke gedung DPR/MPR. Sekadar menyampaikan harapan dan cita-cita terhadap perbaikan hidup bangsa ini dari cengkeraman rezim otoriter. Namun, apa lacur? Empat mahasiswa malah menjadi korban.
Peristiwa hitam ini akhirnya menjadi pemicu percepatan reformasi. Gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa se-Indonesia mencapai klimaks. Dan, rezim otoriter yang dibangun Soeharto selama 32 tahun pun berantakan, runtuh.
Saat itulah masa emas reformasi, kemenangan rakyat. Empat mahasiswa Trisakti yang gugur pun dimuliakan sebagai pahlawan reformasi.
Pesta kemenangan rakyat melanda seantero negeri. Angin demokrasi terasa sejuk di mana-mana, apalagi bagi elemen-elemen rakyat yang selama tiga dekade lebih dijajah lahir-batin rezim otoriter.
Euforia rakyat berlanjut hingga cita-cita berdemokrasi di semua dimensi kehidupan terlaksana. Memang, akhirnya di berbagai aspek, demokrasi menjadi sendi. Puncaknya, presiden, wakil rakyat hingga kepala daerah dipilih langsung seperti pemilihan kepala desa (Pilkades).
Luar biasa! Begitulah pujian dan kekaguman negeri jiran bahkan masyarakat Eropa yang mengikuti perkembangan demokrasi di negeri kita. Sayang, pujian berangsur sirna, manakala makna demokrasi menunjukkan tanda-tanda kegilaannya.
Kehendak rakyat tak lagi murni. Tidak jarang sengaja diciptakan untuk memenuhi kepentingan pribadi, golongan, partai bahkan kelompok yang menggunakan agama sebagai perisai. Semua serba berlindung atas nama rakyat, sekumpulan orang bisa berbuat semau gue.
Tak hanya jabatan kepala daerah, eksistensi dunia usaha juga tak lolos dari cengkeraman demokrasi gila ini. Kebebasan hidup seseorang bahkan budaya nenek moyang kita ingin dilenyapkan dari bumi yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini.
Demokrasi macam apa ini? Ketika kita mulai sedikit sadar, kegelapan 12 Mei 2006, kembali datang. Saat inilah kita benar-benar menyadari, sejatinya demokrasi yang didambakan berpuluh tahun masih jauh dari harapan.
Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap nasib Soeharto, menggenapi demokrasi gila. Mantan presiden RI Soeharto yang diyakini sebagai aktor sentral terjadinya tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) bahkan pelanggaran HAM berat, malah bebas. Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) dari Kejaksaan Agung pun begitu mudah distempel.
Benarkah Allah SWT mengingatkan kita semua, bahwa 12 Mei menjadi momen pintu masuk ke lembaran hidup lebih baik? Kehidupan yang memberi peluang dan kesempatan mengembangkan nilai-nilai cinta kasih, tolong-menolong, kesetiakawanan, toleran, solider bahkan kejujuran sebagaimana tersurat dalam agama kita.
Hanya Allah Yang Maha Tahu! Yang pasti 12 Mei delapan tahun silam dengan 12 Mei 2006, memiliki kesamaan esensi pembekuan nurani dan kematian reformasi. Soeharto telah jadi simbol tiadanya penghormatan hukum dan HAM. Ini telah melekat dalam hati rakyat, sekaligus hukuman sosial.
Sesungguhnya, hukuman sosial ini bisa saja berubah, apabila penegakan hukum dijalankan pemerintah dengan benar, berani dan jujur. Amat disesalkan, Yudhoyono yang dipilih langsung oleh rakyat belum juga mampu menjalankan amanah rakyat.
Sakitnya Soeharto selalu menjadi alat penghalang peradilan. Sejak dulu hingga sekarang disalut tirai, tak ada kesahihan dan objektivitas sakit-sehatnya Soeharto. Rasa kemanusiaan pun dijadikan alat dan dinyanyikan Yusril Ihza Mahendra dan tokoh-tokoh yang pernah dekat Soeharto.
Memarkir kasus Soeharto, berarti memberi ruang dan menyuburkan KKN dan pelanggaran HAM. Bisa jadi ini hanya alat politik sekaligus mengukur lawan dalam persaingan Pemilu 2009. Melepas Soeharto ke pengadilan, berarti mendatangkan dukungan publik. Namun, keadilan dan kepastian hukum, bukanlah trial by error. Ini game of real politics yang terlampau mahal ongkos sosialnya!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

