Artikel menarik dari seorang ahli masakan di Kompas.

Jalansutra
Kompas Kamis, 04 Mei 2006
http://www.kompas.co.id/jalansutra/news/0605/04/142316.htm

Bakso dalam Perlawanan Budaya

Bondan Winarno

Sudah hampir setahun saya tidak singgah ke Bali. Ternyata, ada yang
berubah ketika saya berkunjung ke sana lagi. Semakin sepi, tentu saja,
sebagai akibat Bom Bali II yang terkutuk itu. Ada lagi satu hal yang
mungkin tampak remeh, tetapi cukup terasa mengemuka.

Di beberapa warung pinggir jalan, saya lihat terpampang tulisan
besar-besar: "Bakso Babi". Saya sendiri bukan penggemar bakso. Jadi,
mungkin saja dulu ketika Bali masih ramai, penanda seperti itu luput
dari radar pengamatan saya.

Setelah tiga hari berkeliling Bali, saya makin sadar bahwa penanda dan
tulisan besar-besar itu sebetulnya memang disengaja. Bukan sesuatu yang
tampil secara innocent. Dan, memang betul, dulu hanya ditulis "bakso
saja" – tanpa embel-embel "babi".

"Itu adalah simbol perlawanan budaya rakyat Bali," kata Ketut, pengemudi
mobil sewaan. Sengaja tidak saya lengkapkan namanya di sini, atas
permintaannya sendiri.

Lho, kok bakso jadi simbol perlawanan budaya? Ah, alangkah wasis dan
waskita Blih Ketut ini. Ketut memang bukan manusia awam. Pemahamannya
tentang Wedha, kitab suci Hindu Bali, sangat mendalam. Ia juga menyebut
dirinya seorang vegetarian (tidak makan daging) sebagai salah satu
ukuran tingkat pengamalan religinya. "Tapi, kalau di kampung ada acara
makan-makan, saya ikut makan daging yang disajikan demi menjaga harmoni
dengan para tetangga," katanya bijak.

Menurut Ketut, munculnya tulisan besar-besar "Bakso Babi" itu dipicu
oleh isu formalin yang merebak beberapa bulan yang lalu. "Kami sungguh
merasa dicederai oleh isu formalin itu," katanya. "Kok bisa pemerintah
lalai melindungi rakyat yang cuma makan tahu dan tempe, serta membiarkan
rakyat makan tahu yang berbahaya bagi kesehatan selama puluhan tahun?"
lanjutnya dalam nada kemarahan yang diredam.

Ikan laut dan daging sapi juga sama saja. Dicemari dengan bahan kimia
untuk mengawetkannya demi keuntungan bisnis. "Akhirnya, kami masyarakat
Bali berkesimpulan bahwa hanya babi-lah yang dapat kami jamin tidak
mengandung bahan-bahan berbahaya," kata Ketut.

Tetapi, seperti saya duga, isu formalin ternyata memang hanya menjadi
faktor pemicu tehadap sesuatu yang laten. Tragedi Bom Bali I dan II
merupakan luka yang masih segar dalam setiap hati warga Bali. Mau tidak
mau, isu agama muncul di sana. Suka atau tidak suka, pikiran-pikiran
untuk memaksakan agama dan norma baru di Pulau Dewata menjadi kecurigaan
yang berdalih.

Kemarahan masyarakat Bali yang bertumpuk-tumpuk akhirnya meluap. Dengan
berani mereka sekarang menyatakan sikap. Antara lain, bahwa babi
bukanlah makanan haram bagi pemeluk Hindu Bali. Namun demikian, harus
tetap diingat bahwa pada dasarnya masyarakat Bali sangat akomodatif.
Lebih dari seratus tahun yang silam, Raja Karangasem justru mendatangkan
sekelompok Muslim untuk bermukim di kawasan itu. Warung "Satria" di
Denpasar menyajikan masakan khas Bali yang justru tidak mengandung babi
agar dapat dinikmati oleh siapa saja.

"Sekarang dengan wacana tentang RUU APP (Rancangan Undang-undang
Anti-Pornografi dan Pornoaksi), masyarakat Bali merasa lebih dipojokkan
lagi. Apakah budaya kami selama ini begitu bobroknya, sehingga harus
diatur dengan undang-undang baru yang sudah jelas akan mengubah budaya
dan tradisi kami?" kata Ketut – kali ini dengan nada kemarahan yang
semakin kentara.

Anda benar! Seorang Ketut memang tidak mewakili suara seluruh masyarakat
Bali. Saya juga bukan seorang peneliti ilmiah yang melakukan riset
bermetodologi untuk ihwal yang satu ini. Saya hanya mendengar dengan
telinga dan hati, suara seorang warga bangsa yang sesaudara dengan saya.
Namun, Anda tetap tidak perlu percaya kebenaran dari tulisan saya ini.

Biasanya, di bawah tulisan "Bakso Babi" itu tampil pula tulisan lain
yang tidak kalah menonjol, yaitu: "Krama Bali". Krama Bali sebenarnya
adalah mirip seperti Rukun Tetangga, tetapi lebih melembaga sebagai
tatanan adat. Ini adalah lembaga yang sudah mengakar sejak lama, tetapi
mengapa mulai ditonjolkan lagi sekarang?

Lagi-lagi Blih Ketut memberi pencerahan kepada saya. "Sebetulnya
tersirat maksud untuk mengingatkan masyarakat Bali sendiri agar lebih
berpegangan pada tata bermasyarakat yang sudah ada di sini sejak dulu.
Sistem banjar yang didasari pada kegotongroyongan mengadakan air untuk
sawah adalah sebuah konsep kerukunan yang sudah cukup dikenal oleh
masyarakat di luar Bali karena diajarkan di sekolah. Tetapi, sistem
krama ini belum cukup dikenal," katanya.

Kalau saya perhatikan dari penjelasan Ketut selanjutnya, ada kemiripan
konsep krama Bali ini dengan konsep ba dalam tata adat dan tata
bermasyarakat di Jepang (lebih lanjut dapat dibaca dalam buku Chie
Nakane berjudul The Chrysanthemum and the Sword dan Japanese Society:
Continuity and Change).

Dalam konsep krama dan ba, tetangga lebih penting daripada saudara.
Contohnya: bila seseorang meninggal. Apakah perawatan jenazahnya harus
menunggu para saudara yang tempat tinggalnya berjauhan? Bukankah para
tetangga akan terlebih dulu datang untuk membantu apa saja yang
diperlukan keluarga yang kedukaan?

Pemahaman itu membuat mereka yang hidup bertetangga menyadari bahwa
menjaga harmoni di antara tetangga adalah sangat penting. Cepat atau
lambat, untuk urusan kecil maupun urusan besar, seseorang akan
memerlukan bantuan para tetangganya.

Di Bali, peran para tetangga menjadi lebih besar karena banyak sekali
ritual pelintasan (rites of passage) dalam hidup mereka yang memerlukan
upacara besar. Kelahiran dirayakan dengan megibung (makan bersama) untuk
mensyukuri nyawa dan jiwa baru yang hadir di tengah mereka. Pangur gigi
(meratakan gigi dengan kikir) merupakan upacara yang setara dengan
khitanan di budaya Nusantara lainnya, atau bar mitzvah bagi masyarakat
Yahudi. Kematian seseorang harus melewati upacara panjang dan rumit yang
diakhiri dengan ngaben (kremasi) yang memerlukan kerja bakti warga banjar.

"Dengan menulis Krama Bali besar-besar, syukur-syukur para wisatawan
yang berkunjung ke Bali juga sadar bahwa di masyarakat kami ada tatanan
kuat yang perlu dihormati. Kami memang berbeda, tetapi kami ingin
harmonis dengan siapa saja. Dari dulu Bali tidak pernah tertutup. Semua
orang silakan datang ke Bali," kata Ketut.

Yang juga tidak luput dari layar radar saya adalah semboyan yang
ditampilkan di beberapa gapura kampung. Tulisannya berbunyi: "Di mana
bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Sebuah peringatan yang sangat
dalam maknanya bagi setiap orang yang berada di situ dan mampu membaca
serta memahaminya. Setahu saya, local wisdom ini hidup di Sumatra Barat.
Bahwa masyarakat Bali meminjamnya untuk mengingatkan semua "tamu" ke
pulaunya, kiranya merupakan permohonan yang sangat menggetarkan.

Mengapa saya menulis hal-hal yang agak bersinggungan dengan urusan
politik seperti ini? Soal jalan-jalan memang tidak bisa sepenuhnya
terbebas dari urusan politik. Bukankah travel ban adalah urusan politik?
Bukankah visa kunjungan Anda ke Israel harus dicantumkan pada selembar
kertas agar paspor Anda tidak menunjukkan jejak kunjungan ke "negeri
terlarang" itu? Maaf, bila tulisan ini tidak berkenan di hati Anda.

Bila Anda sering berkelana, cobalah sematkan peringatan berikut ini di
dalam hati Anda, dan amalkan secara tulus: di mana bumi dipijak, di situ
langit dijunjung.

Selamat jalan-jalan dan makan-makan!





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke