Ini Dia Gaya Berlibur Turis Arab

Di Puncak, turis-turis Timur Tengah menemukan surga dunia: pemandangan
hijau, banyak bunga, air mengalir, dan bidadari berseliweran.

Sen Tjiauw dan A. Sidarta


Bunyi musik terdengar dari sebuah vila: bising, sejenis musik keras dengan
irama dan lirik padang pasir. Sebuah jendela yang gordennya terbuka
mengungkapkan suasana ruang tamu vila yang bising itu. Di bawah lampu nan
terang, seorang perempuan berdiri di hadapan seorang pria sambil
meliuk-liukkan badannya seirama nada. Kedua tangannya terentang ke atas,
pinggulnya diputar-putar. Memang, tak sedahsyat goyang Inul, penyanyi
dangdut yang ngetop akhir-akhir ini.

Tapi ada yang lebih memicu aliran darah dari sekotak pemandangan lewat
jendela itu: setidaknya, tubuh bagian atas penari itu tak ditutup apa pun.
Sebelum segalanya jelas, rupanya penghuni vila menyadari gorden yang
terbuka. Tiba-tiba jendela itu pun ditutup.

Para pengintip yang berada di teras sebuah kamar di lantai dua Hotel
Jayakarta, Puncak, Jawa Barat, pun kecewa. Mereka adalah wartawan TRUST. Di
pertengahan Februari lalu itu, mereka meliput kawasan tersebut, desa yang
dikabarkan pada bulan tertentu menjadi Kampung Arab dengan segala gaya
berlibur turis Timur Tengah.

Kampung Arab? Nama asli kampung itu sendiri yakni Kampung Sampay, satu dari
tiga kampung di Desa Tugu Selatan, satu kilometer di atas Taman Safari,
Cisarua, Bogor. Dari Jakarta, jarak menuju kampung ini sekitar 84 kilometer.
Tapi, kalau Anda bertanya kepada penduduk sekitar tentang Kampung Arab,
mereka tampak terbengong-bengong. Satu atau dua orang yang tiba-tiba
memahami arah pertanyaan akan menjawab: "O, maksudnya Warung Kaleng?"
Benar, lebih dari Kampung Sampay, lebih dari Kampung Arab, nama Warung
Kaleng dikenal bukan saja oleh warga setempat, tapi juga sopir taksi di
Bandara Soekarno-Hatta. Masuklah ke sembarang taksi, lalu sebut Warung
Kaleng; dijamin Anda akan sampai ke Desa Sampay, Kelurahan Tugu Selatan,
Kecamatan Cisarua, Bogor.

Warung Kaleng sebenarnya adalah sepotong Jalan Jakarta-Puncak di kilometer
84, tak lebih dari 50 meter panjangnya. Di kanan-kiri jalan, berjajar 30-an
warung. Ini yang unik, papan-papan nama warung itu bukan hanya berhuruf
latin dengan kata-kata bahasa Indonesia, tapi juga (bahkan ada yang hanya)
papan nama berhuruf Arab, dari wartel sampai toko roti, dari toko kelontong
sampai rumah makan. Dan yang juga khas dibandingkan kampung lain, di sini
banyak terlihat warga bertampang Timur Tengah.

BIDADARI-BIDADARI
Nama Warung Kaleng sudah menjadi nama alternatif bagi Kampung Sampay sejak
zaman kolonial Belanda. Dulu, kawasan itu secara administratif adalah tanah
partikelir, yang kemudian dijadikan basis perdagangan oleh pedagang
pendatang dari Cina. Lambat laun, para pedagang itu berasimilasi dengan
penduduk setempat, lantas masuklah Islam.

Kata penduduk setempat, riwayat nama Warung Kaleng bermula dari
warung-warung yang didirikan oleh para pedagang Cina itu: hampir semua
warung beratap seng atau kaleng. Jadilah sepetak lahan itu kemudian di sebut
Warung Kaleng.
Nama itu tetap melekat meski suasana Cina praktis tak tercium lagi dan atap
seng tak lagi terlihat. Kini, warung-warung itu bertembok dan sudah beratap
genteng. Suasananya pun berganti ke-Arab-Araban. Belakangan, muncul sebutan
baru itu: Kampung Arab—bukan hanya untuk sepetak Warung Kaleng, tapi juga
untuk seluruh Kampung Sampay.

Jadi, melihat lokasinya, bolehlah dibilang Warung Kaleng merupakan gerbang
Kampung Arab. Di kawasan warung itulah pusat lalu lintas turis Arab
(kebanyakan dari Arab Saudi, Bah-rain, Kuwait, dan Qatar). Soalnya, sejauh
ini, hanya di warung-warung itu tersedia segala kebutuhan turis Arab yang
khas: mulai dari minuman (vodka yang didatangkan dari Jakarta), tembakau dan
bumbunya (yang langsung diimpor dari Timur Tengah) untuk merokok gaya Arab,
sampai roti arab (buatan lokal).

Alkisah, di awal 1990-an, ketika Irak diserbu Amerika dan sekutunya, banyak
turis Timur Tengah datang ke Kampung Sampay. Mereka menginap di vila-vila
selama kira-kira satu minggu hingga satu bulan. Di tahun-tahun sebelumnya,
turis Arab juga sudah datang ke Kampung Sampay, namun tak banyak.
Dikenalnya Kampung Sampay oleh turis Arab tentunya dimakcomblangi biro-biro
pariwisata, terutama biro yang berkantor di sepanjang Jalan Raden Saleh,
Jakarta Pusat. Di kawasan ini, para turis itu boleh merasa setengah di rumah
sendiri, setidaknya dalam hal makan, karena di jalan ini ada dua rumah makan
khas Timur Tengah.

Tapi kenapa Kampung Sampay? Konon, turis-turis dari padang pasir itu
merindukan suasana yang berbeda dengan negeri mereka yang panas dan
berpantai. Mereka mengidamkan berlibur di kawasan pegunungan yang sejuk dan
hijau. Lalu, dibawalah mereka ke kawasan Puncak, dari Cisarua sampai
Cipanas. Bila kemudian Warung Kaleng menjadi terpopuler di antara turis
Arab, ada ceritanya.

Menurut Syaiful Idries, Kepala Urusan Administrasi Desa Tugu Selatan,
gambaran orang Arab tentang surga dunia itu adalah jabal ahdor atau gunung
hijau. Di Kampung Sampay, kata Syaiful, mereka menemukan jabal ahdor itu.
"Di Puncak ini kan banyak bunga, air mengalir, lingkungannya hijau dan
indah," tuturnya.

Tapi kalau hanya gunung hijau, bukan hanya Kampung Sampay yang punya.
Kampung ini menjadi istimewa buat turis Arab karena "banyak bidadari", dan
secara sosial lingkungan di sini "longgar", warganya tak begitu peduli
dengan urusan orang lain. "Jadi (Syaiful melanjutkan ceritanya sambil
tertawa), bagi orang Arab, Warung Kaleng bukan hanya jabal ahdor, tapi juga
jabal al jannah, gunung surga. 'Bidadari-bidadari' itu didatangkan dari desa
lain yang cukup jauh," paparnya.

MERACUNI ANAK-ANAK
Singkat cerita, kerasanlah turis-turis itu berlibur di jabal al jannah.
Bahkan, secara sosial keagamaan, suasana di sini pun okey: ada suara azan
berkumandang saat menjelang salat wajib. Di Kampung Sampay, ada tiga pondok
pesantren, dan ada pula satu pesantren baru yang sedang dibangun.

Warga setempat pun menyambut para turis Arab dengan terbuka. Apa boleh buat,
secara nyata, mereka memang mendatangkan fulus. Penginapan terisi, makanan
terjual, sumbangan pun mengalir. Lihatlah Haji Samsudin, 65 tahun, yang
sedang memimpin pendirian sebuah pondok pesantren baru di Kampung Sampay
ini, namanya Pondok Sikoyatun Najah.
Menurut Wak haji ini, sebagian biaya calon pesantrennya diperoleh dari
sumbangan turis Arab. Di sebuah lorong di belakang Warung Kaleng, terpasang
spanduk dalam tulisan dan bahasa Arab, yang artinya kurang lebih begini:
"Kami sedang membangun gedung untuk pondok pesantren di sini, mohon
sumbangannya." Dengan bahasa dan huruf Arab, jelaslah sasaran spanduk itu.
Lantas, Nanang Supriatna, salah seorang Ketua RT di Kampung Sampay,
mengatakan: "Enggak ada Arab, enggak hidup ekonomi orang-orang sini."

Nanang yang sehari-hari berjualan kambing, pada Idul Adha yang lalu berhasil
menjual 11 kambing. "Kalau enggak ada Arab, kambing saya paling-paling laku
dua ekor," tuturnya kepada TRUST. Dan ternyata bukan hanya 11. Begitu ia
selesai bertransaksi untuk kambing yang ke-11 dengan Samid (mahasiswa Arab
Saudi yang menginap di Vila Barita), datang pesanan dua kambing lagi dari
turis Arab yang menginap di Aldita, vila pertama di daerah itu.

Tapi tak seluruh penduduk mengangguk-angguk dan mengucapkan ahlan wasahlan
kepada tamu-tamu Timur Tengah itu. Haji Ichwan Kurtubi, 55 tahun, seorang
tokoh masyarakat Kampung Sampay, merasa tak enak melihat perilaku para turis
itu. Para ulama, katanya, pasti tidak setuju warga di sini memfasilitasi
para turis itu ber-dugem ria alias berdunia gemerlapan. "Mereka itu enggak
bener. Masa sih ada Arab kawin, walinya diambil dari sekitar-sekitar sini,"
ucapnya.
Menurut Haji Ichwan, pernikahan baru sah bila dihadiri wali yang sah menurut
Islam. "Mereka itu meracuni anak-anak muda di sini," katanya seraya
melampiaskan kemarahannya.

VODKA DI TANGAN KANAN
Tapi, anak-anak muda yang dijaga oleh Haji Ichwan itu sendiri tak peduli.
Mereka dengan senang mengadakan ini dan itu untuk para turis. Dan dengan
begitu—mulai sebagai pemandu wisata, mencarikan kambing korban, mengantar si
turis dengan ojek, mencarikan vila, sampai menjadi preman penjaga
keamanan—mereka mendapatkan penghasilan. Kata Haji Ichwan: "Ulama di sini
sudah kalah sama anak-anak muda itu."

Sedangkan Zaki al-Habsy, pengelola gerai penukaran uang di Warung Kaleng,
mencoba bersikap realistis. "Yang tidak suka dengan turis-turis Arab itu
hanya orang-orang yang tidak berbisnis melayani mereka," kata Zaki yang juga
agen perjalanan itu.
Sebenarnya, di balik ketenangan hijaunya bukit dan pepohonan Kampung Sampay,
ada keresahan yang tersembunyi. Perilaku dan gaya berlibur lelaki-lelaki
dari padang pasir itu—yang eksklusif dan tertutup bagi siapa saja, kecuali
terhadap orang-orang yang mereka butuhkan—selain melahirkan kecemburuan,
juga menimbulkan ketersinggungan.
Benar, wanita-wanita yang mereka datangkan bukan warga Tugu Selatan. Yang
terlihat dari jendela itu, misalnya yang diminta menari striptease atau tari
perut, konon, adalah perempuan dari Cianjur, 20-an kilometer dari Tugu.
Tapi, menurut Haji Ichwan, suasana seperti itu di depan mata mereka adalah
racun buat generasi muda. Apalagi, setidaknya, ada dua turis Arab meninggal
di salah satu vila di Kampung Sampay selagi berpesta pora. "Orang Arab kan
sudah terkenal dengan pemeo: vodka di tangan kanan dan cewek di tangan
kiri," kata Abubakar Sjarief, Kepala Desa Tugu Selatan.

Dan sebenarnya, Abubakar melanjutkan, yang mendapat rezeki dari turis Arab
hanya beberapa orang saja. "Pokoknya, rezeki (dari para turis) itu tidak
berimbang dengan mudaratnya. Secara umum, ke depan, kami dirugikan,"
ungkapnya.
Memang, di luar tukang ojek, penjaga malam, tukang masak di vila, dan preman
penjaga keamanan kampung, semua lahan usaha yang berhubungan dengan Arab
dijalankan oleh pendatang. Kendati warga setempat bisa berbahasa arab,
mereka tidak bisa menjadi pemandu wisata. Soalnya, untuk menjadi guide,
mereka harus terdaftar di Ikatan Guide Puncak yang pengurusnya adalah
pendatang.

Itulah, dari pemandu wisata, penerjemah, pengelola transportasi, sampai
pengelola penyewaan mobil, hampir semuanya orang Jawa Tengah—terutama dari
Solo dan sekitarnya—dan dari Jakarta. Juga toko-toko yang berderet di Warung
Kaleng, sebagian besar dimiliki pendatang.

Namun, soal rezeki ini tak pernah muncul ke permukaan sebagai konflik
sosial. Konflik yang pernah terjadi adalah konflik moral. Tahun lalu,
sejumlah santri—mulai dari Ciawi hingga Cisarua—menyerbu diskotek dan tempat
mesum lain di kawasan Tugu Selatan. Gebrakan itu sampai sekarang masih
terasa. Menurut Abubakar, sejak saat itu, wisata berbau seks di wilayah
tersebut agak mereda. Turis Arab memang masih datang, tapi musik bising dari
vila-vila jauh berkurang.

Menurut seorang pemandu wisata di situ, untuk sementara mereka membawa turis
Arab ber-dugem ke tempat lain: Cipanas, bahkan sampai ke Selabintana. Tapi,
bisa jadi, wanita yang menari-nari di tempat menginap sama saja dengan
perempuan yang terlihat dari jendela itu. Soalnya, nomor telepon genggam
mereka sudah ada di tangan para calo. Jadi, kapan saja, per-empuan itu bisa
dihubungi, baik secara langsung maupun dengan SMS.

Sumber : http://www.majalahtrust.com/indikato..._hidup/149.php

On 5/16/06, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > aalaaahh mbak, yang gampang aja. melindungi wanita itu dari apa
> atau > siapa? lalu setan mana yang mau mengancam wanita Muslim?
>
> Melindungi wanita dari pikiran-pikiran jahiliyah dan kafir yang
> senang mengumbar aurat. Melindungi wanita dari pikiran-pikiran
> liberalisme/feminisme yang kebablasan (pikiran jahiliyah dan kafir).
> Itu yang ada dipikiran saya. Itulah pikiran2 setan yang ingin
> disusupkan oleh orang2 yang bersekutu dengan setan.
> >
> > kesindir? kalau care sama wanita TKW yang kena musibah itu namanya
> > kesindir? yang beneerr?
>
> Siapa yang lagi bicarain TKW. TKW dah pernah dibicarain disini
> panjang lebar kan?
> >
> > banyak tu wanita Muslim yang pindah ke barat, cari hidup, gimana
> > nihh mbak, nggak takut ama setan?
>
> Apa masalahnya kalau mereka pindah ke barat dan merubah cara hidup.
> Silakan aja. Mereka bebas memilih mau hidup cara apa. Dalam situasi
> dunia seperti ini, yang sudah sangat materialis, hidup di barat
> emang menjadi godaan yang memabukkan.
>
> Perpindahan inipun akan mempengaruhi perubahan sosio kultur di Barat.
> Siapa mempengaruhi siapa. Let us see...
>
> Saya juga percaya bahwa barat berjaya karena mereka merampas dan
> memeras negara jajahannya dengan licik dan rakus. Andai Indonesia
> di 'jajah' Amerika (artinya Amrik merampas kekayaan Indonesia), lalu
> saya hidup di Amerika, bukankah itu berarti saya memakan rampasan
> bangsa sendiri? Saya makan bangkai saudara sendiri? Saya menari
> diatas kesengsaraan saudara sendiri?
>
> Tapi...saya tidak menghimbau mereka yang tinggal di Barat untuk
> pulang kampung karena kalian berhak menikmati kekayaan yang dirampas
> tsb. Itu lebih baik dari pada tidak dinikmati oleh bangsa
> sendiri...:-).
>
> wassalam,
> yang lagi sok nasionalis.
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], "Lina Dahlan" <linadahlan@>
> > wrote:
> > >
> > > Kenapa jadi dihubungkan ke pemerkosaan ? Sedang maksudnya Rades
> > gak
> > > ada secuilpun kesana?
> > >
> > > Tapi...hmmm..begitu kali ya kalo orang dah kesindir. Jadi,
> > > nggladrah..:-)
> > >
> > > wass.,
> > > --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO"
> > > <rm_danardono@> wrote:
> > > >
> > > >
> > > > Lhooo permata dunia alias wanita TKWIndonesia kan juga wanita
> > > Islam,
> > > > diperkosa oleh laki laki Saudi yang bukan kafir bukan setan.
> > > Gimana
> > > > nihh?
> > > > Jadi permata dunia gak harus dilindungi dari alat alat pria
> > Muslim
> > > > (Arab)?
> > > >
> > > > Setan kafir yang perkosa permata dunia itu yang mana ya?
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In [email protected], "Rades W" <radeswandri@>
> wrote:
> > > > >
> > > > > Go go Ahmadinejad.. kami mendukung mu! Lindungi permata
> dunia
> > > (wanita
> > > > > muslim) dari tangan2 'setan' kaum kafir...
> > > > >
> > > > >
> > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > > >
> > > >
> > >
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke