sosialis, ada liberalis ada islam syiah yg jadi musuhnya oom pahlevi.
pahlevi sendiri meski liberal (jaman pahlevi tahun 60an iran adalah negara
timteng paling liberal), sayang pahlevi ini dictator, model model kayak
polpot atau sapa tuh yg dari haiti, dan kayak pak harto tentu saja ...
makanya para pembangkang, sosialis, liberal dan agama, sepakat ngejadiin
khomeini, jadi icon perjuangan. tahun 80an, di tengah jalan, khomeini
menelikung semua teman politiknya yang berbeda aliran. biasa gaya tionghua
yang dipakai, thick face, black heart. dan anda lihat akibatnya sekarang
ini.
boleh juga dibaca baca kisah dibawah ini.
Sesal Seorang Mantan Presiden
www.socineer.com
[image: Bani-Sadr]
Abol-Hassan Bani-Sadr termenung di pengasingannya di Paris. Bani-Sadr adalah
penasehat utama Ayatollah Khomeini dalam merencanakan Revolusi Islam di
Iran, dan kemudian menjadi Presiden Republik Islam Iran sesudah Mehdi
Bazargan terdepak. Dia mencoba menjalankan pembangunan di Iran tanpa hasil,
dan sebelum dia digantung oleh para milisia radikal, dia harus melarikan
diri keluar dari Iran. Apa yang salah? Kenapa keadaan bisa menjadi seperti
ini?
Sebelum revolusi, Iran adalah negara monarki dengan kekuasaan Shah Iran yang
besar. Shah Muhammad Reza Pahlevi, mewarisi kekuasaan dari bapaknya, Colonel
Reza Shah, yang menjadi Shah pada tahun 1926. Colonel Reza Shah adalah
adalah komandan dari Brigade Kossak. Kossak (*Cossack*) adalah tentara yang
berasal dari milisia preman yang dikenal di Eropa Timur dan Turki. Kata
Kossak berasal dari kata Turki, yang berarti petualang atau *freeman*.
Milisia Kossak terkenal dengan keandalannya, mereka memang berjiwa petualang
dan banyak yang juga menjadi tentara bayaran. Tidak heran, bahwa kemudian
Reza Shah, dan kemudian juga anaknya, Muhammad Reza, mempertahankan
kekuasaan lewat militer (bandingkan dengan Soeharto, anak desa yang dilatih
menjadi tentara, fasih sekali dengan cara-cara ala militer dalam
mempertahankan kekuasaan).
Shah Reza mewarisi tahta Iran pada waktu Perang Dunia II. Dia melancarkan
modernisasi di Iran, dan dalam waktu tak begitu lama, Iran menjadi negara
modern, dan merupakan negara besar paling maju di Timur Tengah. Salah sekali
membandingkan Iran dengan Afghan (juga mempunyai pengalaman dengan rejim
Sunni Taliban yang lebih parah daripada rejim di Iran), yang memang dari
dulu belum pernah menjadi negara modern. Iran pada tahun 60an, menjadi
negara modern, jauh lebih maju daripada Indonesia pada saat itu. Salah satu
akibat kemajuan Iran adalah, lahirnya masyarakat kelas menengah dan
intelektual di Iran, dan dengan demikian, lahir juga pemikiran-pemikiran
maju dan liberal di Iran. Bagaimana negara yang cukup maju seperti Iran ini
bisa terjerumus dalam sebuah kekalutan yang menyeret Iran mundur seperti
itu?
Masalah terbesar pada rejim Shah adalah, rejim ini menginginkan kemajuan
fisik, tetapi tidak ingin ada proses demokratisasi di sana. Kelompok yang
paling menguasai masyarakat adalah kelompok tentara, komandan-komandan
tentara menjadi kelompok elite dalam masyarakat. Shah mengandalkan mereka
sebagai tulang punggung stabilitas dan mengandalkan mereka untuk
menghancurkan setiap lawan-lawan politiknya. Kelompok-kelompok oposisi utama
adalah Partai Tudeh yang beraliran Marxist, para intelektual liberal di
kota-kota besar, dan para mullah yang berdiam terutama di pelosok Iran.
Kelompok-kelompok oposisi ini dibuat tidak berdaya oleh SAVAK, polisi
rahasia rejim Shah, yang menggunakan penangkapan dan penyiksaan untuk
mencapai tujuannya. Tetapi jestru karena kekejaman itu, kelompok-kelompok
oposisi semakin kuat.
Kekuatan kelompok oposisi adalah kekuatan moral, terdiri dari kelompok
terpelajar intelektual liberal di daerah perkotaan, dan kelompok komunis dan
agama yang meresap baik di kota besar maupun kecil. Ketiga kelompok ini
berlainan ideologinya, tetapi mereka menghadapi musuh yang sama, yaitu rejim
Shah dengan kekuatan militernya. Pada tahun 70an, Perang Dingin antara Blok
Barat dan Blok Timur membuat Amerika mendukung rejim Shah Iran secara buta.
Rejim Shah Iran diandalkan untuk membendung faham komunisme ke Timur Tengah,
yang pada saat itu memang semakin kuat disana. Dengan demikian, kelompok
oposisi menghadapi kekuatan besar, yaitu rejim Shah dengan persenjataan
Amerika.
Satu-satunya cara untuk bisa menumbangkan rejim Shah, menurut kelompok
oposisi tersebut, adalah dengan menyatukan kekuatan oposisi. Dengan
demikian, kelompok sekular liberal, kelompok sosialis, dan kelompok para
mullah bersatu. Mereka juga membutuhkan lambang persatuan, dan mereka
mendapatkannya dalam satu tokoh pembangkang yang hidup dalam pengasingan
waktu itu, yaitu Khomeini.
Kenapa para liberal, sosialis, dan sekular itu bisa percaya dengan kelompok
mullah? Itu disebabkan karena mereka salah memperhitungkan arah motivasi
para mullah tersebut. Islam Shiah sudah menjadi lambang yang mempersatukan
Iran sejak ratusan tahun lalu dari kekuatan Islam Sunni di regional
tersebut. Para oposisi non agamis itu sudah terbiasa dalam budaya Islam
Shiah, mereka merasa tidak ada masalah dengan itu. Menurut Bani-Sadr, kaum
intelektual juga terpengaruh oleh posisi Partai Tudeh yang mengatakan para
mullah itu tidak bermasalah (kelompok komunis lebih merasa terancam oleh
Amerika dan militer). Para mullah menurut mereka, cuma menginginkan
kebebasan beragama, dan mereka toh tidak bisa memanage program-program
pembangunan, dan akhirnya akan diserahkan pada kelompok liberal dan sosialis
untuk melaksanakannya.
Jadi persepsi mereka, okaylah, kita membangun Iran dibawah panji Islam,
melakukan demokratisasi, membawa keadilan untuk semua warga. Bukankah itu
impian yang indah? Karena itu, kelompok oposisi bersama-sama mempolulerkan
Khomeini sebagai tokoh revolusioner. Mereka mendapat jaminan dari Khomeini
bahwa Iran sesudah rejim Shah adalah Iran yang egaliter. Mereka membantu
Khomeini mendapat dukungan dari seluruh dunia, dengan menjadi juru bicara
Khomeini. Mereka lancar berbahasa Inggris dan Perancis. Pada waktu para
jurnalis dunia datang ke Paris untuk mendengarkan jawaban Khomeini, mereka
mengkoordinirnya. Mereka mendiskusikan pertanyaan para wartawan itu, dan
memberikan kepada Khomeini untuk menjawab. Salah satunya adalah penekanan
bahwa tindakan akan diambil untuk mencegah para mullah mengambil alih
pemerintahan nantinya. Khomeini mengiyakan begitu saja.
Rejim Shah yang sudah merasa kepepet, beralih pada kelompok oposisi, dan
memberikan jabatan Perdana Menteri kepada Dr. Shapour Bakhtiar, salah satu
pemimpin sekular dari kelompok oposisi. Tetapi semua itu sudah terlambat,
kelompok oposisi menolak dan memecat Bakhtiar dari kelompok oposisi. Rejim
Shah runtuh, dan Khomeini kembali ke Iran dari Paris dikawal oleh para
liberal dan sosialis. Pada waktu Shah mengungsi keluar Iran, Khomeini
membentuk Dewan Revolusi Islam. Kelompok oposisi merasa curiga, tetapi
Khomeini bilang jangan khawatir, dia tidak akan campur tangan dalam
pemerintahan, dan kelompok sekular dan liberal juga dimasukkan dalam Dewan
itu sebagai anggota. Kelompok liberal dan sosialis berhasil ditenangkan,
terutama setelah Khomeini menunjuk Dr. Mehdi Bazargan sebagai Presiden
Republik Islam Iran. Dr. Mehdi Bazargan adalah intelektual berpendidikan
Perancis, dan pernah menjabat sebagai menteri dalam rejim Shah sebelum
menjadi oposisi.
Ralli dan demonstrasi mendukung Khomeini berlangsung semarak di Teheran oleh
semua kelompok yang gembira bahwa akhirnya rejim Shah berakhir. Kegembiraan
itu tidak berlangsung lama, satu demi satu kelompok merasa dipinggirkan.
Pembuatan referendum untuk mendirikan Republik Islam dibuat sedemikian rupa,
dan pemilih tidak melakukan pemilihan secara rahasia, tetapi dilihat oleh
publik. Kelompok Kurdi yang beragama Islam Sunni menolak dan melakukan
boikot, demikian juga kelompok oposisi lain.
Para pendukung Khomeini dari pihak liberal dan sosialis berusaha menjalankan
pemerintahan dengan baik, tetapi hal itu ternyata sukar dilakukan. Seorang
mullah radikal mendapat restu dari Khomeini untuk melakukan penangkapan dan
pengadilan di luar presedur yang ada. Karena aparat keamanan regular tidak
bisa diandalkan untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal,
maka dibentuk milisi Pasdaran, yaitu pasukan pengawal revolusi. Termasuk
dalam kelompok ini adalah Basiji, paramiliter yang juga merekrut anak-anak.
Kelompok ini merekrut anggota dari mesjid-mesjid, dan menjadikan mesjid
sebagai tempat koordinasi paramiliter. Tindakan milisi dan kelompok-kelompok
yang dikoordinir oleh milisi ini mirip dengan tindakan Pengawal Merah waktu
Revolusi Kebudayaan di China yang menghancurkan banyak sendi-sendi budaya
China. Mereka menyerbu tempat-tempat yang dianggap tidak islami, memukul
wanita di jalan jika tidak memakai jilbab hitam, menangkap setiap orang yang
diperkirakan tidak mendukung penerapan hukum Islam secara radikal.
Pengadilan dilakukan di halaman mesjid, dan hukuman-hukuman mati dijatuhkan
langsung. Ribuan anggota Partai Tudeh yang tadinya membantu kesuksesan
revolusi, mati dalam upaya pembersihan unsur-unsur anti-islami para milisi
ini sesudah revolusi. Memang ironis.
Perdana Menteri Dr. Bazargan merasa bahwa dia tidak bisa membenahi negara
dalam situasi seperti itu. Khomeini menginginkannya sebagai boneka untuk
dipasang di depan untuk memperlihatkan Iran sebagai negara demokratis,
tetapi di jalan-jalan berlangsung tindakan semena-mena. Pemerintah Bazargan
diganti oleh Bani-Sadr dalam kapasitas sebagai Presiden. Bani-Sadr adalah
seorang intelektual yang ikut-ikutan meneriakkan slogan-slogan revolusioner,
dan bertahun-tahun menjadi penasehat politik dari Khomeini. Tetapi bahkan
Bani-Sadr pun harus tersingkir. Bagaimana bisa memerintah di sebuah negara
dimana terdapat otoritas-ganda? Dia bisa memerintah polisi dan tentara,
tetapi di jalanan, yang berkuasa adalah anak-anak belasan tahun kelompok
milisia yang didukung para mullah. Para milisia ini melakukan patroli
sendiri, dan juga melakukan demonstrasi-demonstrasi yang membuat kacau.
Bayangkan suatu negara, ada milisi yang terus menerus berkeliaran di
jalanan, boleh memeriksa rumah penduduk kapan saja, secara rutin melakukan
demonstrasi, boleh menangkap setiap orang yang dicurigai dan dibawa ke
pemimpinnya untuk diadili di depan mesjid. Hukuman matipun boleh dilakukan
karena mereka bertindak seperti pemilik negara. Iya, betul, secara de facto,
mereka sudah menjadi pemilik negara. Dan bahkan dukungan militer tidak bisa
melindungi Bani-Sadr ketika para milisi meneriakkan hukuman gantung
untuknya. Bani-Sadrpun berangkat meninggalkan Iran.
Golongan menengah Iran pada jaman Shah, adalah kelompok yang cukup kritis,
bisa dikatakan paling kritis di Timur Tengah. Jumlah masyarakat terdidik itu
banyak, sebagian mengabdi pada Shah yang dirasakan sebagai pelindung mereka,
tetapi sebagian terbesar dari mereka menginginkan Iran menjadi negara
demokratis yang maju, baik yang liberal maupun yang sosialis. Jumlah
kelompok ini besar dan merupakan kekuatan yang mampu mempengaruhi jalannya
sejarah di Iran. Bahwa pada saat ini kelompok terdidik sekular ini tidak
lagi punya jejak jelas di Iran, adalah kesalahan mereka sendiri yang
mempercayai para mullah pada awal revolusi. Tetapi mungkin juga, pada waktu
itu mereka tidak punya pilihan lain dalam menghadapi rejim oppresif seperti
rejim Shah.
Bersama dengan Bani-Sadr, terjadi gelombang emigrasi keluar Iran yang besar.
Banyak dari mereka adalah pendukung revolusi Khomeini pada awalnya. Mereka
itu adalah warga yang berpendidikan relatif baik, berpakaian seperti umumnya
warga modern lain di dunia. Mereka mencukur janggut, dan mendengarkan
musik-musik Persia maupun Beatles. Kehidupan mereka di kota-kota besar itu
mirip dengan kehidupan penduduk di Jakarta misalnya. Mereka melakukan sholat
jamaah di mesjid, merayakan hari-hari raya Islam termasuk hari Ashura, yaitu
hari wafatnya Imam Husein. Tetapi selain kehidupan agama, mereka ingin punya
kehidupan lain, ingin bisa menonton film Hollywood, bisa berpakaian wajar
seperti yang sudah mereka lakukan sejak kecil, dan para wanita mempunyai
karir yang cukup bagus. Mereka mendukung revolusi karena rejim Shah sudah
keterlaluan dalam melakukan oppresi terhadap masyarakat. Mereka ingin
kebebasan.
Tetapi bukannya kebebasan yang mereka dapat, malah oppresi yang jauh lebih
besar daripada rejim Shah. Tidak ada lagi kehidupan privat yang bisa lepas
dari tatapan para remaja yang berkeliaran di jalan. Wanita yang memakai
celana jeans dianggap layak untuk dipukul. Ada milisi yang menyediakan
cairan asam, sehingga bisa merusak wajah wanita yang dianggap menggunakan
make-up. Jika rejim Shah menangkap pentolan-pentolan oposisi oleh SAVAK,
sesudah revolusi Islam, Anda tidak perlu menjadi pentolan oposisi rejim
untuk ditangkap dan diadili di halaman mesjid. Jika waktu rejim Shah, yang
menangkap adalah anggota pasukan elite, maka sesudah revolusi, anak remaja
tetangga yang sudah dicuci otak bisa terus menerus memata-matai Anda dan
menangkap Anda. Oppresi dalam rejim Shah itu terasa di tingkat atas,
sedangkan oppresi dalam rejim Islam di Iran terasa sampai udara sehari-hari
yang dihirup.
Tidak mengherankan, ribuan memutuskan untuk meninggalkan Iran, hidup
kota-kota di Eropa, Amerika dan Canada. Dari mereka inilah kemudian muncul
penulis-penulis yang mencoba untuk merefleksikan pengalaman mereka. Sebagian
besar dari penulis-penulis ini adalah wanita. Mungkin karena wanitalah yang
paling merasa tertindas oleh rejim tersebut.
Kondisi di Indonesia saat ini sebenarnya merupakan bentuk mikro dari apa
yang terjadi di Iran. Di Indonesia terdapat kelompok milisi di luar sistem
yang bisa melakukan aksi polisioner illegal tetapi polisi regularpun tidak
bisa berbuat banyak sewaktu mereka menyerbu ke sana sini. Mereka mencoba
untuk masuk dalam sistem lewat jalur legislatif sehingga bisa menentukan apa
yang boleh dipakai oleh masyarakat dan bagaimana seseorang harus bersikap.
Pengalaman Iran mungkin bisa dijadikan bahan banding, apakah ingin
memutuskan untuk "tidur bersama" dengan para fundamentalis agama? Situasi
politik di Indonesia bukan lagi seperti era Soeharto, demokrasi sudah mulai
jalan, media sudah cukup bebas. Para intelektual dan pembaharu saat ini di
Indonesia bukan seperti mereka di Iran tahun 70an yang tidak punya pilihan
selain bergabung dengan para mullah, yang sesudah berhasil kemudian
menggantung mereka.
On 5/16/06, Alvin Daniel <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ya mereka2 itu membuat aturan kan utk diri sendiri, dan yg kena
> apes-nya wanita.
> ga pake kerudung, salah.
> pake baju minim, salah.
> ikut berpolitik, salah.
> suka hiburan2, salah.
> mau kerja, salah.
> selingkuh, salah.
>
> padahal si pria2 yg membuat aturan dewek itu juga otaknya
> ngeres, dan semuanya dilimpahkan ke wanita katanya gara2
> wanita seronok, si pria bisa memperkosa...
> aneh...bahkan si wanita bisa dihukum.
>
> kesetaraan gender dan hak asasi manusia sangat minim di
> negeri yg katanya cikal bakal agama penuh damai dan
> pembawa rahmat...
> bahkan indonesia sudah mau niru2, segala sesuatu yg
> berhubungan dgn 'lawan jenis' dimasukkan kategori PORNO.
>
> kenapa yaaaaaaa???
>
>
>
> >
> >
> > Tergantung zamannya kali ya..
> > Rasanya di zaman Nabi dan 4 sahabat, cukup banyak wanita
> yang menjadi
> > tokoh. Sahabat2 Nabi belajar dan bertanya pada istri2 Nabi.
> Fatimah
> > r.a. pun cukup ngetop.
> > Entah kenapa, makin kesini kayaknya makin pengen
> mengembalikan wanita
> > ke zaman sebelum Nabi :(
> >
> > Saya punya pertanyaan tapi tidak tau jawaban pastinya.
> Mungkin ada
> > yang bisa membantu.
> > Apakah ada Nabi MELARANG wanita2 berpakaian tidak sesuai
> dg syariat?
> > Adakah Nabi pernah menghukum mereka pada saat Beliau
> menjadi pemimpin?
> >
> > Karena setahu saya, Nabi menghimbau wanita muslim
> berpakaian yang
> > baik. Juga menyuruh pria muslim menahan pandangannya
> (tidak
> > jelalatan). Menyuruh kaum muslim menjaga dirinya dan
> keluarganya.
> > Tapi tidak memaksa orang lain berpakaian dan beradab
> supaya kita
> > "selamat".
> >
> > Juga ada hadits dimana Nabi mengecam wanita2 yang
> berhias/berpakaian
> > tidak sopan (spt telanjang) dan menasihati spy bertingkah
> laku yg
> > sopan. Nah ada kecaman dan nasihat untuk tidak melakukan
> hal spt itu
> > artinya keadaan seperti itu (tetap) terjadi kan?
> > Kalau mau pake cara Indonesia sekarang ya maen larang dan
> hukum aja...
> >
> > Am I wrong? Karena pengetahuan saya juga terbatas sekali,
> kalau ada
> > yang berkenan menjelaskan, terima kasih banyak.
> >
> >
> > salam
> >
> > fau
> > balik kerja ah...
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

