---
Mbah Maridjan (MERAPI)
tak ada hubungan dengan MaridjanKartosuwiryo DI-TII di sejarah
mencubit kesadaran banyak pihak.
Pemimpin lancung nonton wedhusgembel (dengan pacitan/nyamikan enak-
enak saat obrol), pemimpin sejati bergaul dengan rakyat gembel tanpa
disorot kamera.
Local genius memang harus dikobarkan, bukan jiwa kerdil sektarian
dan penyeragaman.
Wassalam

secuil rehat :


---
Maaf,
sepengetahuan saya bukan Dewi Drupadi tetapi Ibu Dewi Kunti.
--B.Nugroho
  -----Original Message-----
  From: IA-ITB On Behalf Of Abas F Soeriawidjaja
    Secara tidak disadari, keinginan tahu serta kedatangan orang2
itu ke Mbah
Marijan adalah untuk "berguru" tentang arti PENGABDIAN atau
DEDICATION,
sikap moral yang saat sekarang sudah hilang diantara kita.



  Saya jadi teringat kisah pertemuan Adipati Karna dengan sang Ibu
Dewi
Drupadi pada saat ketika Perang Baratayuda akan dimulai.

  Ketika itu Dewi Drupadi mendatangi Adipati Karna, untuk
mengingatkan bahwa
Arjuna adalah saudaranya sekandung dari ayah Batara Surya.

  Sebagai Ibu, Dewi Drupadi meminta agar jangan saling membunuh dan
agar
bergabung dengan para Pandawa Lima.

  Adipati Karna yang diangkat harkat dan martabatnya dari
pemelihara/sais
Kuda oleh para Kurawa, atas tawaran Dewi Drupadi ini, Adipati Karna
menolak.

  Jawabnya " Ibu saya adalah anak yang terbuang, saya dibesarkan,
dipelihara
serta diangkat harkat martabat saya oelh para Kurawa"

  " Saya tidak dapat menerima tawaran ini, pengabdian saya adalah
penghargaan terhadap diri saya pribadi. Saya akan tetap dipihak para
Kurawa"

  " Ibu tidak perlu khawatir, kalaupun salah satu diantara kita
mati, anak
Ibu akan tetap lima"


---

  From: IA-ITB On Behalf Of sidqy suyitno
    FYI. Gambaran menarik tentang Mbah Maridjan dari milis sebelah.
  Regards,
  Sidqy L.P. Suyitno

  mateus yumarnamto <yumarnamto@> wrote:
    To: [EMAIL PROTECTED], lisi <[EMAIL PROTECTED]>

    Mbah Marijan yang Terdzalimi
    Semalam Mbah Marijan sakit. Tubuh rentanya terlihat sangat letih,
gemetar ia menahan dinginnya udara malam. Namun bukan cuaca yang tak
menentu
di Dusun Kinahrejo yang membuat juru kunci Merapi itu jatuh sakit,
karena
sedahsyat apa pun cuaca yang terus berubah menjelang meletusnya
Merapi sudah
puluhan tahun dirasakannya. "Mbah sakit karena terlalu lelah," ujar
salah
seorang anaknya.

    Ya, betapa melelahkannya menjadi Mbah Marijan. Tugas yang
diembannya
sebagai juru kunci Merapi membuatnya harus meladeni semua tamu,
termasuk
wartawan yang datang terus menerus dan kadang tak kenal waktu. Orang
seusianya, seharusnya lebih banyak beristirahat, namun semenjak
Merapi
dinyatakan `waspada` hingga meningkat menjadi `Awas` pada Sabtu
(13/5),
lelaki tua ini nyaris tak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.

    Sabtu malam (13/5) Mbah Marijan sakit lantaran menerima sekian
banyak
wartawan dan tamu yang datang ke rumahnya. Ia teramat sederhana dan
ramah,
sehingga tak satu pun tamu tak diladeninya. Kalau pun ada yang
diminta
menunggu, itu lantaran para tamu datang pada saat waktu sholat.
Hingga larut
malam, para tamu dengan berbagai kepentingan silih berganti
bertandang ke
rumahnya. Dari para kuli tinta, pemerintah setempat, LSM, hingga para
wisatawan yang penasaran ingin kenal lebih dekat sosok kuncen Merapi
itu.

    Nampaknya Mbah Marijan sudah terdzalimi. Ia jatuh sakit lantaran
sibuk
melayani tamu sehingga hanya sempat satu kali untuk makan. Tak
banyak asupan
makanan, sementara energinya teramat banyak keluar. Mbah Marijan pun
merinding, mengeluh tubuhnya tak sehat. Dokter pun dipanggil untuk
memeriksa
kondisinya. Tim ACT dan Lazis UII yang membawa dokter tersebut ke
rumahnya
sempat berpikir, kondisi sakit Mbah Marijan ini bisa
menjadi `skenario`
untuk membawa Mbah Marijan turun gunung. "Kondisinya sudah membaik,
tak
perlu dibawa ke bawah," ujar dokter yang memeriksa. Skenario pun
dibatalkan,
tak manusiawi memaksakan kehendak dengan memenggal keyakinan
seseorang.

    Secara fisik Mbah Marijan memang sudah membaik. Tapi ada yang
belum
terehabilitasi di diri lelaki tua yang sangat religius itu. Adalah
pemberitaan berbagai media tentang sosok juru kunci Merapi ini.
Hampir semua
stasiun televisi dan media cetak tak henti memberitakan sosok Mbah
Marijan
sebagai tokoh klenik, memiliki ilmu sakti, tak bedanya dengan dukun
dan
paranormal, dan embel-embel mistik lainnya. Tentang keteguhannya tak
ingin
turun pun dijadikan sasaran berita hangat para kuli tinta. Yang
diberitakan
bukan sisi manusiawinya, bukan pula tentang keteguhannya memegang
amanah
dari Sri Sultan HB ke-IX untuk menjaga Merapi sebaik-baiknya. Berita
tentang
dirinya, seringkali bernada minor.

    Tayangan demi tayangan tentang Mbah Marijan yang negatif di
berbagai
media, memicu `wisatawan untuk berkunjung ke rumah kuncen Merapi itu.
Setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan orang-orang mau
tahu dan
dengan polosnya bertanya, "Mbah sebenarnya Merapi kapan akan meletus?

    Sebuah pertanyaan dari orang-orang yang mengaku berpendidikan.
Berbekal
pendekatannya kepada Sang Penguasa langit dan bumi, lelaki bertubuh
pendek
yang lucu itu pun berucap, "jangan tanya saya, tanyakan kepada
Allah. Dia
yang mengatur semua, Gusti Allah yang punya kehendak"

    Kasihan sekali Mbah Marijan. Lelaki renta berusia 80an itu kerap
dikenal
sebagai orang sakti yang selalu berhubungan dengan para penguasa
Gunung
Merapi sehingga dianggap tahu kapan waktunya Merapi meletus.
Keteguhannya
untuk tidak mau turun gunung seringkali ditulis sebagai salah satu
bentuk
kesaktiannya, dan parahnya tak jarang dia dituduh mempengaruhi warga
sekitar
lereng Merapi untuk tak mengungsi. "Warga kalau mau ngungsi ya
ngungsi saja,
saya tak pernah melarangnya", aku Mbah Marijan.

    Sesungguhnya, ia lelaki shalih yang terus menerus mendekatkan
diri
kepada Sang Khalik. Datanglah kepadanya, dan lihat langsung sosok
sebenarnya.  Jangan pernah percaya berita yang menggambarkan
profilnya yang
aneh dan jauh dari kesan agamis. Sungguh, kami memang baru
mengenalnya. Tapi
yang kami dapatkan tentang Mbah Marijan hanya satu hal; ia lelaki
shalih
yang teramat sederhana.

    Seorang teman pun mendapat nasihat darinya, "Kamu itu harus
sering
melihat ke bawah, jangan ke atas. LIhat nih Mbah, hidupnya seperti
ini.
Kasih tahu teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang
sederhana
ini, sambil memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma Rp. 5.800,-

    Doa kami pun terpanjat, semoga Merapi tak membuatnya semakin
terdzalimi.
Ia memang sakit lantaran terlalu lelah. Tetapi sebenarnya ia lebih
sakit
dengan pemberitaan tentang dirinya yang tak benar. (Bayu Gawtama)

    --
    Mateus Yumarnamto

--- End






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke