Situasi Benang Kusut ===> Oleh : Heru Nugroho
DELAPAN tahun sudah masyarakat Indonesia meninggalkan sistem politik otoriter dibawah rezim Orde Baru yang menindas. Tepatnya pada tanggal 20 Mei 1998 tumbanglah pemerintahan Soeharto yang bergaya tangan besi dan melakukan berbagai penindasan kemanusiaan dengan dalih stabilitas politik dan pembangunan. Benak kita akan mengingat bahwa di bawah rezim Soeharto harga-harga sembako memang relatif murah apabila dibandingkan dengan sekarang. Namun akan selalu menjadi catatan sejarah bahwa pada saat itu banyak aktivis politik yang lenyap tanpa bekas, masyarakat tidak bisa bersuara berbeda dengan pemerintah, hilangnya kontrol publik, pelanggaran HAM berat, KKN, dan lainnya. Mesin politik yang paling diandalkan untuk memberangus aspirasi masyarakat di bawah rezim otoriter adalah Golkar, ABRI dan Birokrasi.
Setelah 32 tahun berada di bawah tekanan politik yang mematikan, masyarakat mulai sadar dan menuntut perlunya reformasi politik. Periode reformasi ditandai dengan upaya mencari keseimbangan antara kekuatan reformis dan kemapanan. Keseimbangan itu menghasilkan kompromi-kompromi di antara para pendukung demokrasi dengan kepentingan-kepentingan militer yang masih mapan; di antara kekuatan Islam yang terus menguat dengan hasrat menegakkan pemerintahan sekuler; antara permintaan otonomi regional yang semakin besar dengan para pendukung sentralisme negara; antara pendukung kebijakan ekonomi neo-liberal dengan negara kesejahteraan. Harus diakui bahwa setelah delapan tahun reformasi pendulum politik semakin bergerak ke arah demokrasi. Hal ini ditandai dengan dalam waktu sewindu kita memiliki pergantian 4 kali presiden, partai politik menjadi majemuk, pemilihan presiden dan bupati secara langsung, rakyat semakin bisa mengekspresikan aspirasi, kebebasan berasosiasi,
media massa tanpa sensor dan sebagainya.
Secara minimalis demokrasi telah menghasilkan bentuk kelembagaan yang semakin mapan. Tetapi dalam praktik keseharian masih banyak persoalan yang belum bisa diselesaikan dalam waktu sewindu tersebut. Kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, utang luar negeri yang semakin membengkak (190 miliar USD), akses pendidikan dan kesehatan yang semakin memburuk, harga BBM meroket, harga sembako melambung, persoalan hukum para koruptor dan pelanggar HAM yang tidak selesai dan masih banyak lagi, telah menjadi warna kehidupan kita sehari-hari di era reformasi ini. Warga masyarakat lapis bawah banyak yang kecewa sehingga bertanya: untuk apa reformasi dan demokrasi kalau kualitas kehidupan tidak menjadi lebih baik?. Bahkan di antara mereka banyak yang apatis, apolitis, pragmatis (misalnya ikut terlibat politik uang) dan pesimis memandang masa depan reformasi. Mereka menyatakan: lebih baik kembali ke zaman Soeharto dimana harga-harga sembako, pendidikan dan kesehatan
terjangkau!. Ini merupakan bentuk distrust terhadap reformasi dibawah rezim SBY.
Beraneka-ragam problem serius terdapat di berbagai bidang, bertumpuk-tumpuk dan tumpang-tindih tidak karuan. Semua persoalan kelihatan urgen dan menuntut pemecahan segera dan semua tidak begitu jelas lagi, mana yang lebih dulu harus ditangani, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan. Kita ibarat sedang memasuki situasi benang kusut. Apa yang menjadi sumber persoalan itu semuanya? Paling tidak pemerintahan SBY yang dipilih secara langsung oleh rakyat merupakan fihak yang harus paling bertanggung jawab untuk mengurai benang kusut tersebut. Reformasi politik harus menghasilkan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih baik dan pemerintahan saat ini harus membuktikan hal itu kalau tidak ingin kehilangan legitimasi politik dimata rakyat. Persoalan yang paling urgen untuk di pecahkan adalah memerangi kemiskinan secara riil, membuat rakyat meningkat SDM-nya melalui keterjangkauan pendidikan dan pelayanan kesehatan agar mereka mampu memasuki pasar dunia
yang semakin kompetitif dan ekspansif.
Banyak fihak tidak sabar lagi mengamati lambannya pemerintah SBY dalam membawa bangsa keluar dari keterpurukan. Karena itu perlu adanya target dan evaluasi atas kebijakan-kebijakannya yang diambil dalam setahun ke depan. Rakyat tidak membutuhkan pemerintahan yang cenderung selalu mencari kambing hitam dalam menyelesaikan persoalan (misal, kasus demo buruh yang dituduh ditunggangi mereka yang kalah dalam pemilu 2005) demi mengamankan kekuasaannya.
Kasus ini mengingatkan kita pada rezim Orba (mudah-mudahan bukan mentor politik rezim sekarang) yang selalu menggunakan kambing hitam bahaya latent PKI demi memberangus gerakan pro keadilan dan demokrasi. Buktikan bahwa pemerintahan ini secara konkret bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat paling bawah tidak dengan politik uang kompensasi BBM tetapi riil memproteksi pendidikan, kesehatan dan mereduksi kemiskinan secara riil. Buktikan bahwa pemerintahan SBY (dari jajaran paling puncak hingga bawah) bukan merupakan penjelmaan dari metamorfosis Neo-Orba sehingga bisa memecahkan kasus peradilan Soeharto dengan adil dan bukannya menjadikan hal itu komoditi politik. Kalau tidak mampu maka ketika usia reformasi menjelang 9 tahun silahkan rezim SBY step down dari posisinya untuk digantikan reformis lain yang lebih mampu. Meskipun hal itu terlalu lama!
(Penulis adalah sosiolog UGM dan peneliti tamu pada Institute for Development Research and Development Policy Ruhr-Universitaet Bochum)
"Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan Manusia;
namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert Einstein)
---------------------------------
Telefonieren Sie ohne weitere Kosten mit Ihren Freunden von PC zu PC!
Jetzt Yahoo! Messenger installieren!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

