Heru Nugroho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  19 Mei 2006
 
    Situasi Benang Kusut       ===> Oleh : Heru  Nugroho
   
      DELAPAN  tahun sudah masyarakat Indonesia meninggalkan sistem politik otoriter  dibawah rezim Orde Baru yang menindas. Tepatnya pada tanggal 20 Mei  1998 tumbanglah pemerintahan Soeharto yang bergaya tangan besi dan  melakukan berbagai penindasan kemanusiaan dengan dalih stabilitas  politik dan pembangunan. Benak kita akan mengingat bahwa di bawah rezim  Soeharto harga-harga sembako memang relatif murah apabila dibandingkan  dengan sekarang. Namun akan selalu menjadi catatan sejarah bahwa pada  saat itu banyak aktivis politik yang lenyap tanpa bekas, masyarakat  tidak bisa bersuara berbeda dengan pemerintah, hilangnya kontrol  publik, pelanggaran HAM berat, KKN, dan lainnya. Mesin politik yang  paling diandalkan untuk memberangus aspirasi masyarakat di bawah rezim  otoriter adalah Golkar, ABRI dan Birokrasi.

  Setelah 32 tahun  berada di bawah tekanan politik yang mematikan, masyarakat mulai sadar  dan menuntut perlunya reformasi politik. Periode reformasi ditandai  dengan upaya mencari keseimbangan antara kekuatan reformis dan  kemapanan. Keseimbangan itu menghasilkan kompromi-kompromi di antara  para pendukung demokrasi dengan kepentingan-kepentingan militer yang  masih mapan; di antara kekuatan Islam yang terus menguat dengan hasrat  menegakkan pemerintahan sekuler; antara permintaan otonomi regional  yang semakin besar dengan para pendukung sentralisme negara; antara  pendukung kebijakan ekonomi neo-liberal dengan negara kesejahteraan.  Harus diakui bahwa setelah delapan tahun reformasi pendulum politik  semakin bergerak ke arah demokrasi. Hal ini ditandai dengan dalam waktu  sewindu kita memiliki pergantian 4 kali presiden, partai politik  menjadi majemuk, pemilihan presiden dan bupati secara langsung, rakyat  semakin bisa mengekspresikan aspirasi, kebebasan berasosiasi,
media  massa tanpa sensor dan sebagainya.

Secara minimalis demokrasi  telah menghasilkan bentuk kelembagaan yang semakin mapan. Tetapi dalam  praktik keseharian masih banyak persoalan yang belum bisa diselesaikan  dalam waktu sewindu tersebut. Kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, utang  luar negeri yang semakin membengkak (190 miliar USD), akses pendidikan  dan kesehatan yang semakin memburuk, harga BBM meroket, harga sembako  melambung, persoalan hukum para koruptor dan pelanggar HAM yang tidak  selesai dan masih banyak lagi, telah menjadi warna kehidupan kita  sehari-hari di era reformasi ini. Warga masyarakat lapis bawah banyak  yang kecewa sehingga bertanya: “untuk apa reformasi dan demokrasi kalau  kualitas kehidupan tidak menjadi lebih baik?”. Bahkan di antara mereka  banyak yang apatis, apolitis, pragmatis (misalnya ikut terlibat politik  uang) dan pesimis memandang masa depan reformasi. Mereka menyatakan:  “lebih baik kembali ke zaman Soeharto dimana harga-harga sembako,  pendidikan dan kesehatan
terjangkau!”. Ini merupakan bentuk distrust  terhadap reformasi dibawah rezim SBY.

Beraneka-ragam problem  serius terdapat di berbagai bidang, bertumpuk-tumpuk dan tumpang-tindih  tidak karuan. Semua persoalan kelihatan urgen dan menuntut pemecahan  segera dan semua tidak begitu jelas lagi, mana yang lebih dulu harus  ditangani, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun kebudayaan.  Kita ibarat sedang memasuki situasi benang kusut. Apa yang menjadi  sumber persoalan itu semuanya? Paling tidak pemerintahan SBY yang  dipilih secara langsung oleh rakyat merupakan fihak yang harus paling  bertanggung jawab untuk mengurai benang kusut tersebut. Reformasi  politik harus menghasilkan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih baik  dan pemerintahan saat ini harus membuktikan hal itu kalau tidak ingin  kehilangan legitimasi politik dimata rakyat. Persoalan yang paling  urgen untuk di pecahkan adalah memerangi kemiskinan secara riil,  membuat rakyat meningkat SDM-nya melalui keterjangkauan pendidikan dan  pelayanan kesehatan agar mereka mampu memasuki pasar dunia
yang semakin  kompetitif dan ekspansif.

Banyak fihak tidak sabar lagi  mengamati lambannya pemerintah SBY dalam membawa bangsa keluar dari  keterpurukan. Karena itu perlu adanya target dan evaluasi atas  kebijakan-kebijakannya yang diambil dalam setahun ke depan. Rakyat  tidak membutuhkan pemerintahan yang cenderung selalu mencari kambing  hitam dalam menyelesaikan persoalan (misal, kasus demo buruh yang  dituduh ditunggangi mereka yang kalah dalam pemilu 2005) demi  mengamankan kekuasaannya.

Kasus ini mengingatkan kita pada  rezim Orba (mudah-mudahan bukan ‘mentor’ politik rezim sekarang) yang  selalu menggunakan kambing hitam ‘bahaya latent PKI’ demi memberangus  gerakan pro keadilan dan demokrasi. Buktikan bahwa pemerintahan ini  secara konkret bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat paling bawah tidak  dengan ‘politik uang kompensasi BBM’ tetapi riil memproteksi  pendidikan, kesehatan dan mereduksi kemiskinan secara riil. Buktikan  bahwa pemerintahan SBY (dari jajaran paling puncak hingga bawah) bukan  merupakan penjelmaan dari metamorfosis Neo-Orba sehingga bisa  memecahkan kasus peradilan Soeharto dengan adil dan bukannya menjadikan  hal itu komoditi politik. Kalau tidak mampu maka ketika usia reformasi  menjelang 9 tahun silahkan rezim SBY step down dari posisinya untuk  digantikan reformis lain yang lebih mampu. Meskipun hal itu terlalu  lama!
   (Penulis adalah sosiolog UGM dan peneliti tamu pada  Institute for Development Research and Development Policy  Ruhr-Universitaet Bochum)
 

"Ada dua hal yang tidak terbatas, yaitu: Alam Semesta ini dan Kebodohan Manusia;
namun mengenai Alam Semesta tersebut masih saya ragukan . . ." (Albert Einstein)



           
---------------------------------
Telefonieren Sie ohne weitere Kosten mit Ihren Freunden von PC zu PC!
Jetzt Yahoo! Messenger installieren!

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke