SOEHARTO DAN BAYANG-BAYANG “KESAKITAN” MASYARAKAT ( I )
  
  Sakit yang paling menyakitkan adalah ketika “sakit” itu tidak dapat diungkapkan oleh bahasanya lagi…!
  
  Setiap media menghiasi beritanya tentang Soeharto yang kini dalam kondisi sakit dan lemah, dan pemerintah tetap mempraksiskan suatu propaganda aktif untuk “membenarkan” kebijakannya terhadap bentuk “pengampunan” yang telah diberikan kepada Soeharto. Pemerintah yang merupakan “hukum” itu sendiri, dengan leluasanya menempatkan keadilan sesuai dengan apa yang dikehendakinya (meng-anakronisme-kan keadilan), dan kepada siapa keadilan itu harus diberikan. Semua ditentukan oleh pemerintah dengan kuasanya! Dan para elit pemerintahan bermetafora menjadi makhluk humanis yang tiba-tiba “menjunjung” nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas. Memang ini merupakan bagian dari teater raksasa realitas yang menjelaskan tentang kehidupan yang disekat-sekat oleh tiap kompleksitas didalamnya. Mungkin ini suatu “kekacauan yang stabil”, tetapi “kekacauan” tersebut telah dipertegas oleh “liarnya” ide eksploitasi yang pada akhirnya memetaforakan nilai-nilai kehidupan itu kepada bentuk yang lebih
ekstrem, yaitu: kehidupan panjang bagi sang mantan diktator beserta dengan pengampunannya!
  
  Soeharto yang kini berjuang untuk hidup, mengurangi penderitaan, kesakitan, dan kelemahannya. Dan sejarah telah mengoreksi dengan bahasanya yang introspektif tentang apa yang telah dipraksiskan oleh Soeharto semasa ia berkuasa. Menjadikan kehidupan masyarakat sebagai sebuah realita penaklukan, atau “mengakhiri” kehidupan manusia sesuai dengan bahasa kekuasaannya, menjadikan “kesakitan” masyarakat sebagi suatu keharusan di bawah bayang-bayang “pembinasaan”, dan masyarakat dipaksa untuk menghidupi kehidupannya yang takut dan lemah. “Kesakitan dan kelemahan” masyarakat selalu dinihilkan di dalam bangunan yang sengaja diciptakan hanya untuk memuaskan ambisi “sang adidaya” Indonesia. Soeharto, mereposisi dirinya sebagai “tuhan” yang membentuk dan mengatur kehidupan. Dan “kesakitan” masyarakat tidak diberikan ruang untuk merasakan dan mengungkapkan sesuai dengan bahasanya, kesemuanya hanya didasarkan pada peniadaan. Realitas “kesakitan” yang riil dalam relasi masyarakat dengan
negara, harus disangkal dan ditiadakan oleh sebuah ide tentang Pancasila, Nasionalisme, dan Pembangunan. “Dan sekarang ketika anda sakit dan lemah, apa yang anda rasakan dan apa yang hendak anda ungkapkan, wahai Soeharto…!”.      
  
  Dan apa yang tengah dialami oleh Soeharto dalam kesakitan dan kelemahannya, merupakan suatu bahasa alamiah tentang “kealamiahan manusia” dalam kehidupannya, termasuk esensi yang sama pada tiap manusia. Jika pemerintah dalam retorikanya mencoba menarik suatu garis lurus tentang Soeharto dalam keesensiannya sebagai manusia, tentu sama halnya dengan realita yang harus dialami oleh seluruh manusia Indonesia. Yang menjadi titik krusial adalah ketika pemerintah telah mengabsurdkan suatu “hak” yang dimiliki oleh tiap manusia Indonesia dalam “kesakitan dan kelemahannya”, dan pemerintah membaginya sesuai dengan pengklasifikasian kelas. Ini merupakan suatu realita yang menyejarah, antara perbandingan perlakuan terhadap mantan penguasa dengan masyarakat umumnya, terutama ketika sakit dan lemah. Apa yang membedakan antara Soeharto dengan ratusan juta masyarakat Indonesia ketika sakit dan lemah? Soeharto dengan segala fasilitasi maksimal yang diberikan oleh pemerintah, dengan seorang
tukang becak miskin dan rentan yang selalu diabaikan oleh pemerintah ketika keduanya mengalami realitas sakit dan lemah, “kesakitan” itulah yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat. Ya, inilah bentuk pengabsurdan “hak” yang dilakukan oleh pemerintah. Kini dipraksiskan kembali oleh Susilo Bambang Yudhoyono-Muhammad Jusuf Kalla (SBY-MJK), dalam pelakonannya yang menjelaskan sebagai ”hukum dan penentu nasib manusia” di Indonesia. (bersambung)
  
  Mei 2006, Leonowens SP

                 
---------------------------------
Sneak preview the  all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke