Topik RUU APP memang merupakan contoh paling pas mengenai apa yang
disebut 'perbedaan worldview (paradigma?)'.. Ini kelihatannya bisa
diterangkan
dengan Cultural Theory (CT), dimana (AFAIK) interaksi dan norma sosial
menjadi isu sentral di sini.

Singkatnya ada 4 kuadran kelompok dalam masyarakat dan 'intisari' dari
definisinya. Tiap kuadran memiliki 'both sides of coin' (dalam kurung).
Maksudnya pribadi/masyarakat yang bersifat itu dalam kadar yang positif
akan bersifat a, namun kalau berlebihan akan bersifat/dicap bersifat
'lawannya a'.

1. Fatalis: Keukeuh (Yakin/Teguh/Faithful vs Stubborn)
2. Hirarkis: Mengacu pada aturan/norma (Teratur & berani mengkoreksi
    vs otoriter & 'asal seruduk').
3. Egaliter: Udah jelas kali ye (Pluralis vs Permisif).
4. Individualis: Mengacu pada kemampuan dan urusan individu (Cerdik
    vs Licik)

Setiap manusia memiliki semua sifat, namun dilihat mana yang paling
dominan..
Suatu masyarakat juga demikian.. kuadran/sifat mana yang paling dominan
dimiliki anggota" di dalamnya.

--------
Interaksi sosial arahnya horizontal; sementara norma sosial arahnya
vertikal:

      Interaksi sosial
Lemah <--------> Kuat

Fatalis         | Hirarkis      Kuat
++++++++++++++ ------- Norma sosial
Individualis  | Egaliter     Lemah

Pribadi/masyarakat yang fatalis dan Hirarkis masuk kategori yang kuat
memegang
norma (sosial/agama/hukum). Bedanya fatalis lemah lemah dalam interaksi
sosial
dibanding hirarkis. Begitu selanjutnya cara membaca diagram di atas.

Sifat Fatalis pada dasarnya menggambarkan apa yang disebut faith/keyakinan;
namun pada umumnya 'powerless' (kurang memiliki keberanian/kekuasaan).
Positifnya, mereka dilihat sebagai orang" yang teguh keyakinan namun bisa
juga
mendapat cap 'keras kepala'.. Fatalis juga tidak lepas dari ego(is)/selfish.
Namun mereka relatif mudah 'dikuasai' apalagi oleh orang" yang dianggap
'lebih baik' --> true believers..

Sifat Hirarkis pada dasarnya menggambarkan keberanian menyampaikan
kebenaran;
apapun resikonya. Jadi mereka punya keberanian namun terkadang kurang cerdik
(diplomatis). Terlalu lurus.. :-) Jadi prinsipnya 'berani karena benar dan
lebih berdasar'
di banding Fatalis..

Sifat Egaliter pada dasarnya mirip dengan 'solidaritas sosial', empathy
dsb..
Positifnya mereka yang menjalankan prinsip ini bisa menerima perbedaan yang
ada
(pluralis) dan disukai/dipercaya banyak orang. Kelemahannya, bila sifat ini
berlebihan
yang terjadi adalah sikap permisif terhadap kesalahan. Karena
ketidak-mampuan/
ketidak-beranian untuk menentukan sikap (benar/salah). Pada umumnya
powerless.

Sifat Individualis pada dasarnya bisa dilihat sebagai pribadi yang mandiri
(kompetitif,
enterpreneur dsb); dengan kata lain prinsip 'survival of the fittest'
menggambarkan
secara gamblang. Positifnya, mereka yang bersifat Individualis pasti cerdik
dan
negosiator ulung. Negatifnya, kesuksesan mereka karena 'penyalah-gunaan'
keahlian tersebut dalam menguasai 'sifat lain', khususnya fatalis.
Pada umumnya mereka punya 'power' - minimal kemampuan mengolah resource.
Jadi Individualis itu beda dengan Egois (mandiri/menguasai vs manja/mudah
dikuasai).

Dari sini bisa dilihat pemetaan pro vs kontra RUU APP kurang lebih kubu
Fatalis &
Hirarkis vs Individualis & Egaliter. Namun pada saat terjadi penggalangan
demo,
aksi/memasang iklan (show of force), sebenarnya kubu Individualis & Egaliter

sendiri sedang mempertontonkan sifat Fatalis yang mereka miliki..
Otomatis yang terjadi adalah 'deadlock' karena pa-keukeuh-keukeuh;
dan tidak ada titik temu/kompromi/kesepakatan atau 'jalan tengah'.. :-P

Lantas apa yang paling bijaksana/tepat diambil dalam hal ini? AFAIK, yang
paling pas
adalah sikap untuk berada di tengah" dari semua kuadran.. mencari formulasi
yang
paling pas (baca: jalan tengah) untuk topik yang tengah dibahas.

Jadi sifatnya tidak terlalu fatalis, tidak terlalu hirarkis, tidak terlalu
egaliter dan
tidak terlalu individualis.. tetapi yang PAS.. yang mengakomodir sebanyak
mungkin
aspirasi dan komitmen antar elemen..

Ini contoh dari seorang rekan untuk topik FBR vs Inul.

"..
prasyarat jalan tengah:

inul menunjukkan itikad baik terhadap fbr.
contoh bentuk itikad baik inul:
- inul 'mengajak' penyanyi dangdut yang mengikuti
jejaknya untuk mengurangi goyangan hot-nya. cari
goyangan yang sedang-sedang aja, kayak kristina atau
ike nurjanah (bukan berarti niru, tapi kreatif dikitlah)
- bikin lagu buat fbr, dll

fbr menunjukkan itikad baik terhadap inul.
contoh bentuk itikad baik fbr:
- ikut mengamankan konser-konser dangdut secara
konsisten, tidak semena-mena, korup, dan tanpa
memungut biaya yang berlebihan.
- ikut promosi inul sebagai penyanyi dangdut yang
ramah budaya betawi.

kalo mau sih gampaaang. what i am afraid is that both
inul and fbr have made money as their most common
denominator.
.."

Tentu saja dengan kesadaran bahwa pembahasan mengenai topik ini jangan
sampai menguras energi kita untuk topik lain yang lebih menyentuh keseharian
publik (mis: soal harga" kebutuhan pokok, eksploitasi kekayaan alam oleh
asing,
kekayaan negara yang dikorup/maling para penjahat yang kadang dipuja-puji,
dsb).

Ada komentar lain? :-)
CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 5/11/06, Totot <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Moyo dan rekan2 FPK semua... :-)
>
> Saya setuju jika regulasi diberlakukan utk pembatasan penyebaran media
> pornografi dan pornoaksi (maaf, pornoaksi ini artinya apa sih? tidak ada
> di
> kamus manapun lho! hehehe). Dan saya kira semua orang setuju hal ini.
>
> Bahwa:
> 1. Vcd/dvd/apapun film porno harus dibatasi penyebarannya
> dan hanya bisa didapatkan di tempat2 khusus dgn syarat2 khusus.
> 2. Semua siaran radio dan TV harus mengedepankan nilai2 luhur
> dan menghilangkan segala bentuk acara2 porno dan kekerasan
> (spt Komedi Tengah Malam, KoNak, dsb!), bahkan jg adegan ilustrasi
> berita perkosaan yg dibuat dgn amat kasar dan melecehkan!
> 3. Semua materi cetak dalam majalah, buku, komik, dll. yg
> mengandung unsur porno harus dibatasi dan diatur penyebarannya.
> 4. Internet dan media informasi lain yg dapat diakses secara terbuka
> diatur dgn disiplin dan tidak pandang bulu!
> 5. Pribadi2 yg menyebarkan dan atau memperjualbelikan hal2 pornografi
> dapat juga dikenakan hukuman dan polisi sbg aparat berhak menangkap
> dan melakukan tindakan hukum.
>
> Jadi yg diatur adalah media yg berpotensi menyebarkan hal tsb, beserta
> kalangan pengedarnya, kalau perlu malah sanksinya berat banget!
>
> Bukan malah membatasi gerak-gerik wanita dan cara berpakaiannya,
> juga bukan dgn menangkapi wanita yg 'dicurigai' melacurkan diri.
> Memangnya aparat itu Tuhan yg bisa mengetahui pikiran seseorang
> yg berdiri di pinggir jalan pada malam hari? :-)
>
> Lagian kalau sampai ada anak2 di bawah umur bisa mengakses porno,
> yg salah kan kita sbg orang tuanya, yg terlalu sembarangan, tidak
> mengawasi
> dan memberi pelajaran kepada anak2 kita....bukan salah orang lain dan
> pemerintah kan? Berarti yg lbh perlu adalah penyadaran dan pendidikan
> moral
> dimulai dari lingkup keluarga kita masing2 to? :-)
>
> Gimana mau mendidik moral dan mengajarkan etika, wong kebanyakan ortu
> sekarang bisanya cuma ngasih uang dan sibuk kerja bahkan dua2nya kerja
> sampai malam kan? Ya gak salah juga wong kondisi ekonomi makin
> berat...lha?
> Menyalahkan dan membebankan pendidikan anak2 kepada kondisi ekonomi?

Walah, hehehehe!
>
> Kembali ke soal RUU APP ini, saya melihatnya lebih ke pemaksaan kehendak.
> Pemaksaan ideologi, dan pengaturan yg terlalu dalam ke wilayah pribadi.
> Juga potensi bahwa RUU APP menjadi sumber perpecahan antar anak
> bangsa, perpecahan suku, agama, dll...Dan juga RUU APP akan membuat kita
> melupakan segala hal ttg KORUPSI, KOLUSI, BUSUNG LAPAR,
> FLU BURUNG, BENCANA ALAM, NARKOBA, dll...
>
> Wong RUU msh draft aja udah bikin kondisi jadi kayak 'perang' gini kok...
> Bener gak? :-)
>
> salam diskusi,
> totot (Anti RUU APP dan SANGAT ANTI PORNOGRAFI!)
>
> NB: kalau begitu mending buka usaha panti pijit plus dan hotel esek2 kali
> yah,
> toh Mangga Besar dan sekitarnya yg jelas2 jadi pusat hiburan malam malah
> gak
> pernah dianggap sebagai pusat kerusakan moral tuh....apa karena yg punya
> wilayah itu terlalu serem?
>
> ----- Original Message -----
> From: <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] SEK & MEDIA; UU APP; Penyelamatan Generasi
> yg akan datang?
>
> Berikut ini ada sebuah artikel yang sekiranya dapat memberikan pencerahan
> tentang Sek, Media dan Generasi Muda (Generasi yang akan datang). Silahkan
> kita cermati, renungkan, dan pikirkan isi artikel ini. Saya tidak tahu
> apakah
> ada korelasinya dengan RUU APP yang sedang di perdebatkan. Mohon dikoreksi
>
> jika salah.
>
> salam,
> Bung Moyo
>
> SEX DI MEDIA, SUMBER SEX BEBAS REMAJA?
>
> Seorang ilmuan Universitas North Carolina yaitu Jane Brown beberapa waktu
> lalu
> mengadakan penelitian tentang hubungan antara eksploitasi seks di video
> klips, majalah, TV dan Film dengan aktifitas sex bebas di kalangan remaja
> usia 12 - 14 di Carolina Amerika Serikat.
>
> Temuan Jane dalam penelitian tersebut adalah bahwa dengan melihat tayangan
> eksploitasi sex di media (TV, Majalah, film), para remaja menganggap bahwa
>
> sex adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja.
> Dalam penelitianya Brown menemukan hubungan antara tayangan sex dengan
> perilaku sex para remaja tersebut.
>
> Sampel yang diambil oleh Brown 1.017 remaja usia 12 - 14 th, metode yang
> dipakai dengan cara melihat tontonan yang berbau sex dari film, TV,
> pertunjukan, video klip musik, dan majalah. Sedangkan acara tersebut
> terdiri
> dari 264 tema. Selama penelitian berlangsung yaitu 2 tahun ternyata Brown
> mendapatkan temuan dari hasil penelitian yang sangat mengejutkan!
> Secara umum, kelompok remaja yang paling banyak mendapatkan dorongan
> sexual
> dari media cenderung melakukan hubungan sex pada usia 14 - 16 th 2,2 kali
> lebih tinggi ketimbang remaja lain yang tidak melihat eksploitasi sex di
> TV,
> majalah, film dll.
> Parahnya lagi, dari hasil penelitian tersebut terungkap fakta bahwa para
> remaja yang terlanjur mendapatkan informasi sex yang salah dari media
> cenderung menganggap bahwa teman-teman sebayanya sudah terbiasa melakukan
> sex bebas. Mereka akhirnya mengadopsi begitu saja norma-norma sosial 'tak
> nyata'
> yang sengaja dibuat oleh media.
>
> Hasil penelitian ini telah di publikasikan di Journal American Academy of
> Pediatrics, dan Journal of Adolescent Health.
> Sumber :www.Livescience.com
>
> Dengan hasil temuan tersebut kiranya masih relevankah antara UU APP dengan
> penyelamatan "generasi yang akan datang?" .  Monggo silahkan di telaah
> baik-baik. Bukanya mencegah jauh lebih baik dan murah dari pada mengobati?
> Mohon pencerahan jika ada yang salah.


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke