RedTOLERANSI.
"djon di." <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
"djon di." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Mitos, symbol-symbol, jimat-jimat, retorik-retorik-an, sakral-sakral-an . . . dan segala macam takhayul-takhayul dari tuyul, orang halus, sampai genderuwo-kolongwewek . . . (lihat tayangan di TV-TV Indonesia !) . . . di negeri yang katanya religius, penuh masjid dan mushollah di setiap simpang jalan, negeri tempat berjubelnya para ulama dan kyai . . .
Pertanda bahwa negeri masih banyak dikuasai orang-orang jahat . . .
Bicara soal Gunung Merapi ini, Mas Heru barusan ngobrol-ngobrol dengan saya, - kami lebih bersympati pada gaya ber-mitos-nya Mbah Maridjan itu. Kepercayaan yang dianutnya (mitos/wangsit . . .) bukanlah untuk menipu atau men-jahat-i orang lain.
Konon ada instruksi, begini: "Mbah Maridjan, sampeyan diperintahkan oleh Kanjeng Sri Sultan agar menyingkir dari dekatnya G.Merapi . . .!"
Mbah Maridjan menjawab tegas: "Oh, itu belum waktunya, - kawulo belum terima wangsit . . !"
Selanjutnya ditanya: " . . . wangsit dari mana, Mbah ?!"
Jawab: "Dari Kanjeng Sri Sultan . . ."
Terang saja kagetlah sampai latah-latah si pejabat negara yang ditugaskan menemui Mbah Maridjan itu: "Lho, Mbah, saiki, . . . sekarang ini, khan, anaknya . . . eh, sorry, . . . putranya, yaitu Kanjeng Sri Sultan Hamengkubuwono yang ke-10 adalah Junjungan kita . . ."
Dijawab dengan serta-merta oleh Mbah Maridjan, (kawulo Keraton yang luarbiasa taat dan setianya itu): "Mboten, Mas ! Dia itu . . . Gupernur !" (Gubernur).
Mbah Maridjan ber-mitos, namun kita yakin bukan untuk menipu sesama manusia. Dia hanya sekedar melaksanakan rasa kesetiaannya kepada Junjungan yang dianggapnya pro rakyat jelata semasa hidupnya, yaitu Almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX . . .
Omong-omong:
Presiden Ahmadinejad (Iran), belum lama ini telah menginstruksikan kepada rakyatnya agar potret atau gambar-gambar nya, JANGAN digantung di kantor-kantor atau pun di sekolah-sekolah di negerinya. Kalau mau pasang gambar-gambar "ya, pasang saja potret-potret nya para Mullah atau Ayatollah yang terdahulu . . .", demikian ucapannya ke hadapan rakyat Iran.
Ooooohhh, Indonesia, . . . oh, . . . Negeri Kita !
Djon D.Siregar.-
(Karikatur di atas diambil dari Pikiran-Rakyar.Com. Terimakasih banyak).
RedTOLERANSI <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Demitologisasi Gunung Merapi
Oleh: Heru Nugroho
Ketika aktivitas Gunung Merapi dinyatakan oleh pemerintah berubah statusnya dari aktif normal, waspada, siaga, hingga menjadi awas, perbincangan tentang gunung itu menjadi semakin seru. Berbagai pihak yang merasa berkepentingan terhadap Gunung Merapi angkat bicara, seolah-olah mereka sedang bersaing untuk membuktikan bahwa pengetahuan merekalah yang paling benar.
Meskipun dengan cara ungkapan pengetahuan yang berbeda-beda karena perbedaan otoritas, terus saja wacana tentang gunung itu bergulir baik dalam keadaan normal, anomali maupun pascaletusan sehingga tidak mengherankan kalau isu Merapi menjadi komoditas berita.
Mereka yang terlibat dalam pergulatan wacana Merapi meliputi menteri, gubernur, bupati, vulkanolog, birokrat, elite spiritual tradisional, dan masyarakat lokal. Agen-agen tersebut saling mereproduksi pengetahuan-pengetahuan (baca: mitos-mitos) tentang Merapi untuk kemudian saling menekan dan memenangkan pertarungan pengetahuan itu.
Ada dua kepentingan utama yang melandasi reproduksi pengetahuan Gunung Merapi, yaitu kepentingan manifest (tampak) atau kepentingan untuk menyelamatkan penduduk apabila terjadi bencana dan kepentingan latent (terselubung) atau kepentingan untuk meneguhkan kekuasaan. Semakin dalam dan predictable pengetahuan pihak tertentu tentang perilaku Merapi akan semakin tinggi legitimasi dan previlese politiknya.
Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa ada tiga pengetahuan Gunung Merapi yang hingga saat ini saling bersaing untuk memperoleh pembenaran dan berebut pengaruh dalam masyarakat. Pertama, pengetahuan tradisional penduduk lokal yang tinggal di sekitar Merapi. Mereka memercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya perlu mengadakan ritual dan sesaji.
Yang bisa berhubungan dan mengetahui kehendak penunggu hanya orang-orang tertentu seperti Mbah Mardjo, Mbah Maridjan, Mbah Hardjo Sipon, dan lain-lain, sedang rakyat hanya berposisi memercayai dan mengikuti saja kehendak elite-elite spiritual tersebut. Maka tidak mengherankan kalau elite-elite spiritual lokal tersebut juga memperoleh previlese ekonomi, politik, dan kebudayaan dalam konteks komunitas lokal.
Kedua, mitologi Merapi yang direproduksi Keraton Mataram demi tegaknya kekuasaan kerajaan itu. Mitologi ini menegaskan bahwa penunggu Merapi adalah Kyai Sapu Jagad dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul.
Agar kekuasaan Mataram tetap abadi maka raja harus berkolaborasi dengan para penguasa tersebut dengan cara menjadikan Kyai Sapu Jagad sebagai mitra politik dan menjadikan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri. Ritual, sesaji, dan upacara larung harus rutin dilakukan di puncak Merapi dan di Laut Selatan agar kedua kekuatan tersebut tidak menjadi destruktif dan menimbulkan bencana.
Yang bisa berkomunikasi dengan kedua kekuatan gaib tersebut hanya raja, sedang rakyat hanya menjadi spectators, followers, pelaksana ritual dan dikonstruksikan untuk memercayainya. Mitologi semacam ini sengaja terus dipelihara demi tegaknya kekuasaan kebudayaan, ekonomi, dan politik Kerajaan Mataram.
Ketiga, pengetahuan modern yang direproduksi oleh orang-orang universitas dan digunakan pemerintah sebagai landasan kebijakan. Pengetahuan ini berbasis rasionalisme Barat, yaitu science dalam hal ini ilmu tentang kegunungapian (vulkanologi) yang dapat mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi perilaku Merapi.
Dengan instrumen modernnya seperti seismograf, teropong inframerah, pemantau lahar elektronik, dan lain-lain, ilmuwan, birokrat, bupati, dan gubernur memiliki otoritas untuk membuat pernyataan, kebijakan pengungsian, dan proyek-proyek penanggulangan bencana. Harus jujur
Bahkan tidak dapat dimungkiri bahwa vulkanologi telah menjadi mitos baru. Buktinya, atas dasar vulkanologi dapat diciptakan megaproyek Merapi yang nilainya hingga miliaran rupiah. Siapakah yang paling diuntungkan atas dominasi pengetahuan vulkanologi itu? Rakyat, elite pemerintahan, ilmuwan, atau pelaku bisnis? Kalau kita membuka kembali lembaran sejarah letusan Merapi tampak bahwa korban manusia tidak dapat dielakkan meski kita telah memiliki tiga macam mitos itu.
Gunung ini pernah meletus lebih dari 68 kali sejak tahun 1548. Letusan terbesar terjadi pada Agustus tahun 1672 dengan jumlah korban tewas mencapai 3.000 orang. Sedang letusan terakhir yang membawa korban yaitu tahun 1994 dengan 69 orang tewas.
Artinya, mitos-mitos tradisional, kerajaan, dan vulkanologi tidak dapat menjadi garansi keselamatan manusia. Oleh karena itu, untuk mencerdaskan rakyat maka yang harus dilakukan adalah melakukan demitologisasi pengetahuan Merapi.
Mitos-mitos tentang Merapi yang ada sekarang merupakan ekspresi dari dorongan "hasrat berkuasa" dari pihak-pihak yang mereproduksi pengetahuan itu sendiri. Mitos tentang Merapi yang dianggap sahih saat ini dapat ditafsirkan sebagai hasil penindasan terhadap mitos- mitos yang lain dengan menyembunyikan penindasan itu sendiri.
Contohnya mitos Merapi yang digunakan oleh pemerintah (berbasis vulkanologi) merupakan hasil penggusuran atas mitos-mitos Merapi yang lainnya. Kita harus mencurigai dan menguji secara jujur setiap pernyataan tentang Merapi yang keluar dari mulut-mulut elite spiritual lokal, pemimpin tradisional, birokrat maupun ilmuwan, karena di balik reproduksi pengetahuan Merapi adalah "hasrat berkuasa" baik dari sisi ekonomi, politik, maupun kebudayaan.
Berilah kesempatan gunung itu untuk batuk-batuk, muntah, dan bernapas kembali seperti kita juga memiliki hak untuk hidup di atas bumi ini.
Dr. Heru Nugroho Sosiolog UGM dan Peneliti Tamu pada Institute fuer Entwicklungsforschung und Entwicklungspolitik Ruhr-Universitaet Bochum, Jerman
http://kompas.com/kompas-cetak/0605/17/jateng/35758.htm
---------------------------------
"Janganlah takut pada lawan-lawan, paling-paling mereka dapat membunuhmu . . . "Janganlah takut pada teman-teman, paling-paling mereka dapat berkhianat . . .
"TAKUTLAH PADA MEREKA YANG TAK PEDULI, KARENA MEREKA ITULAH YANG MENYEBABKAN MARAKNYA "PEMBUNUHAN DAN PENGKHIANATAN DI DUNIA INI !" (Bruno Jasienski, penyair futurologis)
---------------------------------
Telefonieren Sie ohne weitere Kosten mit Ihren Freunden von PC zu PC!
Jetzt Yahoo! Messenger installieren!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

