kalau memang mbah maridjan ini kejawen, ya itulah dia, as is, tidak perlu
dipersepsikan atau di crate imagenya seolah doi seorang salafy dengan kata
kata semacam : lelaki tua yang shalih.

kan mas bayu gautama yg membuat artikel yg di fw oleh oom samsul juga tidak
bisa menjelaskan, mengapa harus ada topo bisu, dan jalan keliling desa 3
kali.  kenapa laku ini misalnya, harus di sakralkan oleh mbah maridjan ???

ACT - aksi cepat tanggap dompet dhuafa republika telah melakukan tugasnya
menyelamatkan umat manusia.  as is.  sampai disini saja.  tidak perlu neko
neko, agama apapun yang dianut orang tersebut.

salam,
Ari Condro


On 5/22/06, Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbah Marijan yang Terdzalimi
>
>   Semalam Mbah Marijan sakit. Tubuh rentanya terlihat sangat letih,
> gemetar
> ia menahan dinginnya udara malam. Namun bukan cuaca yang tak menentu di
> Dusun Kinahrejo yang membuat juru kunci Merapi itu jatuh sakit, karena
> sedahsyat apa pun cuaca yang terus berubah menjelang meletusnya Merapi
> sudah
> puluhan tahun dirasakannya. "Mbah sakit karena terlalu lelah," ujar salah
> seorang anaknya.
>
>   Ya, betapa melelahkannya menjadi Mbah Marijan. Tugas yang diembannya
> sebagai juru kunci Merapi membuatnya harus meladeni semua tamu, termasuk
> wartawan yang datang terus menerus dan kadang  tak kenal waktu. Orang
> seusianya, seharusnya lebih banyak beristirahat, namun semenjak Merapi
> dinyatakan `waspada` hingga meningkat menjadi `Awas` pada Sabtu (13/5),
> lelaki tua ini nyaris tak memiliki cukup waktu untuk beristirahat.
>
>   Sabtu malam (13/5) Mbah Marijan sakit lantaran menerima sekian banyak
> wartawan dan tamu yang datang ke rumahnya. Ia teramat sederhana dan ramah,
> sehingga tak satu pun tamu tak diladeninya. Kalau pun ada yang diminta
> menunggu, itu lantaran para tamu datang pada saat waktu sholat. Hingga
> larut
> malam, para tamu dengan berbagai kepentingan silih berganti bertandang ke
> rumahnya. Dari para kuli tinta, pemerintah setempat, LSM, hingga para
> wisatawan yang penasaran ingin kenal lebih dekat sosok kuncen Merapi itu.
>
>   Nampaknya Mbah Marijan sudah terdzalimi. Ia jatuh sakit lantaran sibuk
> melayani tamu sehingga hanya sempat satu kali untuk makan. Tak banyak
> asupan
> makanan, sementara energinya teramat banyak keluar. Mbah Marijan pun
> merinding, mengeluh tubuhnya tak sehat. Dokter pun dipanggil untuk
> memeriksa
> kondisinya. Tim ACT dan Lazis UII yang membawa dokter tersebut ke rumahnya
> sempat berpikir, kondisi sakit Mbah Marijan ini bisa menjadi `skenario`
> untuk membawa Mbah Marijan turun gunung. "Kondisinya sudah membaik, tak
> perlu dibawa ke bawah," ujar dokter yang memeriksa. Skenario pun
> dibatalkan,
> tak manusiawi memaksakan kehendak dengan memenggal keyakinan seseorang.
>
>   Secara fisik Mbah Marijan memang sudah membaik. Tapi ada yang belum
> terehabilitasi di diri lelaki tua yang sangat religius itu. Adalah
> pemberitaan berbagai media tentang sosok juru kunci Merapi ini. Hampir
> semua
> stasiun televisi dan media cetak tak henti memberitakan sosok Mbah Marijan
> sebagai tokoh klenik, memiliki ilmu sakti, tak bedanya dengan dukun dan
> paranormal, dan embel-embel mistik lainnya. Tentang keteguhannya tak ingin
> turun pun dijadikan sasaran berita hangat para kuli tinta. Yang
> diberitakan
> bukan sisi manusiawinya, bukan pula tentang keteguhannya memegang amanah
> dari Sri Sultan HB ke-IX untuk menjaga Merapi sebaik-baiknya. Berita
> tentang
> dirinya, seringkali bernada minor.
>
>   Tayangan demi tayangan tentang Mbah Marijan yang negatif di berbagai
> media, memicu 'wisatawanEuntuk berkunjung ke rumah kuncen Merapi itu.
> Setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan 'orang-orang mau
> tahuE
> dan dengan polosnya bertanya, "Mbah sebenarnya Merapi kapan akan
> meletus?Esebuah pertanyaan dari orang-orang yang mengaku berpendidikan.
> Berbekal pendekatannya kepada Sang Penguasa langit dan bumi, lelaki
> bertubuh
> pendek yang lucu itu pun berucap, "jangan tanya saya, tanyakan kepada
> Allah.
> Dia yang mengatur semua, Gusti Allah yang punya kehendakE
>
>   Kasihan sekali Mbah Marijan. Lelaki renta berusia 80an itu kerap dikenal
> sebagai orang sakti yang selalu berhubungan dengan para penguasa Gunung
> Merapi sehingga dianggap tahu kapan waktunya Merapi meletus. Keteguhannya
> untuk tidak mau turun gunung seringkali ditulis sebagai salah satu bentuk
> kesaktiannya, dan parahnya tak jarang dia dituduh mempengaruhi warga
> sekitar
> lereng Merapi untuk tak mengungsi. "Warga kalau mau ngungsi ya ngungsi
> saja,
> saya tak pernah melarangnya,Eaku Mbah Marijan.
>
>   Sesungguhnya, ia lelaki shalih yang terus menerus mendekatkan diri
> kepada
> Sang Khalik. Datanglah kepadanya, dan lihat langsung sosok sebenarnya.
> Jangan pernah percaya berita yang menggambarkan profilnya yang aneh dan
> jauh
> dari kesan agamis. Sungguh, kami memang baru mengenalnya. Tapi yang kami
> dapatkan tentang Mbah Marijan hanya satu hal; ia lelaki shalih yang
> teramat
> sederhana.
>
>   Seorang teman pun mendapat nasihat darinya, "Kamu itu harus sering
> melihat
> ke bawah, jangan ke atas. LIhat nih Mbah, hidupnya seperti ini. Kasih tahu
> teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang sederhana
> ini,Esambil
> memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma Rp. 5.800,-
>
>   Doa kami pun terpanjat, semoga Merapi tak membuatnya semakin terdzalimi.
> Ia memang sakit lantaran terlalu lelah. Tetapi sebenarnya ia lebih sakit
> dengan pemberitaan tentang dirinya yang tak benar. (Bayu Gawtama)
>
>
>
>
>
>
> ===================================================================
>         Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> ===================================================================
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke