APOLOGIS KELUARGA SOEHARTO ( I )
  (Sebuah Esai Lanjutan Dari ‘Soeharto Dan Bayang-Bayang “Kesakitan” Masyarakat’)
  
  “Dalam logikanya, jika suatu kejahatan dapat diampuni melalui ungkapan-ungkapan apologik, maka hukum yang mengatur tentang manusia, masyarakat, dan kehidupan; tentunya tidak akan berlaku atau tidak diberlakukan secara paksa”.      
  
  Keluarga Soeharto menyatakan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia melalui pernyataan pribadi anaknya, tentang kesalahan-kesalahan Soeharto pada waktu ia berkuasa selama 32 tahun; tetapi pernyataan tersebut merupakan pernyataan pribadi keluarga dan bukan suatu pernyataan resmi secara utuh, karena Soeharto adalah mantan Presiden di republik ini. Lalu, yang harus diperdebatkan bukan pada bentuk metodologi pernyataan yang disampaikan ataupun sistematika penyampaiannya, tetapi pada persoalan apologis yang selalu berlindung dibalik “pembenarannya” tentang “wujud seorang manusia biasa”. Ketika suatu bentuk apologis dengan mengikutsertakan “pembenarannya” tentang persoalan manusia dan dinamikanya, maka nilai apologis tersebut tetap harus dipersoalkan dengan praksis-praksisnya yang saling berpengaruh (aksi-reaksi), dan harus menjadi suatu pertimbangan rasional tentang obyektifitas yang telah dipaparkan, khususnya terhadap masyarakat Indonesia. Dalam artian, ketika
praksis-praksis kekuasaan pada masa Soeharto berkuasa, telah melahirkan suatu bentuk masyarakat Indonesia yang “kesakitan”, dan ini dialami oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan “kesakitan” tersebut telah dicitrakan oleh kehancuran ruang sosialita dan kemanusiaannya secara sistematis dan permanen.
  
  Realita kekuasaan bersama-sama dengan ambisinya yang “dipaksakan” kepada masyarakat Indonesia, dengan “merampas” nilai-nilai tentang kemanusiaan dari manusianya (masyarakat), dan membiarkan manusia Indonesia pada jurang “kehancuran” pada multi-sektor kehidupan hingga pada alam berpikirnya, dari bayi yang sedang tumbuh hingga para manula. Semua nilai tentang relasi antar masyarakat dan masyarakat-negara, harus didekonstruksi sesuai dengan rancangan kebijakan yang berhulu pada Soeharto dan keluarga Cendana. Kaum teknokrat yang “dibesarkan” oleh Soeharto, tak lain merupakan kaum intelektual “sempalan” yang diberi kekuasaan untuk “mengatur” masyarakat dan kehidupannya sesuai dengan apa yang “berlaku” berdasar keterbatasan rasionalnya. Masyarakat miskin, masyarakat korban, masyarakat hipokrit, masyarakat uang, masyarakat “budak”, hingga “kesakitan” masyarakat; adalah realitas masyarakat yang dibangun oleh Soeharto dan para kroninya. Terlebih dari itu, ketika apa yang disebut
“manusia biasa” yang memiliki kewenangan penuh dan kekuasaan absolut, tentu hal tersebut tidak mungkin disimplifikasi hanya dengan ungkapan “manusia biasa”. Bahkan ketika “manusia biasa” itu mampu untuk mengatur kehidupan sampai pada penentuan batasan jiwa dan roh manusia lainnya, apa yang hendak disebutkan selain suatu apologis dengan “pembenarannya”?
  
  Dan bentuk apologis yang ditawarkan oleh keluarga Soeharto merupakan apologis yang memaksimalisasi suatu “logika sederhana” tentang relasi kekuasaan itu sendiri, suatu bentuk apologis yang sinis dan hiperbolik yang ditawarkan secara absurd. Karena suatu kejahatan yang dipraksiskan secara sistemik, dan memanipulasi kekuatan militer dan birokrasi secara absolut, maka kejahatan tersebut bukan lagi dapat dikategorialkan sebagai suatu “kelemahan seorang manusia biasa” selama ia memimpin suatu negara. Tetapi ini realita tentang suatu kejahatan yang diorganisir, dilegitimasi, dilegalisasi oleh suatu komunitas kekuasaan, dan diberlakukan secara meluas dan merata kepada masyarakatnya. Dalam logikanya, jika suatu kejahatan dapat diampuni melalui ungkapan-ungkapan apologik, maka hukum yang mengatur tentang manusia, masyarakat, dan kehidupan; tentunya tidak akan berlaku atau tidak diberlakukan secara paksa. Ataupun hukum itu sendiri tidak akan pernah diciptakan, jika suatu kejahatan
ekstrem dapat diampuni hanya melalui suatu pernyataan apologis semata. (bersambung)
  
  Mei 2006, Leonowens SP     

           
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke