Perspektif: Kejahatan akan menang bila orang baik diam 

Pengantar Redaksi:
Kita baru saja memperingati Hari Pers Internasional dan sekarang
kita memiliki tamu orang pers, yaitu Bambang Harymurti, pemimpin
redaksi Majalah Tempo. Menurut Bambang, demokrasi itu harus
hiruk-pikuk. Karena itu, orang-orang baik jangan diam saja menjadi
silent majority. Kekuatan jahat itu bisa berkuasa dengan hanya satu
syarat saja, yaitu orang baik-baik membiarkannya. Berikut petikan
wawancara dengan Bambang Harymurti.
  
  Menurut Anda, bagaimana inti demokrasi?
  
  Demokrasi itu ujiannya adalah bagaimana kita menoleransi pendapat
orang-orang yang bagi kita menyebalkan.
  
  Bagaimana perspektif Anda terhadap hebohnya Rancangan Undang-undang
(RUU) Antipornografi dan Pornoaksi (APP)?
  
  Sebetulnya intisarinya sudah ada dalam dokumen PBB 'International
Covenant for Civil Political Rights' di pasal 19. Kalau kebebasan
ke dalam seperti pemikiran dan sebagainya, itu absolut karena tidak
mengganggu orang lain. Tetapi, begitu dia eksternal maka kebebasan
itu ada batasnya. Itu sangat islami karena dalam Islam, saya sebagai
orang Islam mengerti bahwa niat baik itu sudah mendapat pahala.
Tapi, niat buruk tidak mendapat dosa. Jadi, sudah cukup islami buat
kaum Muslim.
  
  Mengapa menurut Anda ada yang memaksakan pendapat menggunakan simbol islami juga?
  
  Saya pikir mungkin mereka membaca atau diajarkan ayat-ayat Alquran
tertentu saja, misalnya, ayat-ayat waktu perang saja, sedangkan
ayat-ayat waktu damai tidak. Kalau kita melihat Alquran dalam keadaan damai, menurut saya, demokrasi sangat cocok dengan Islam.
 
Esensinya, Islam mengatakan bahwa manusia punya kemuliaan karena
punya free will. Jadi, kalau ada siapapun yang mengambil free will
itu dia melawan Islam dan melawan perintah Tuhan.
  
  Apakah seharusnya kita bebas memilih?
  
  Urusan dosa tidak ada yang bisa menentukan, siapa masuk surga atau
masuk neraka. Tentu dalam kebebasan eksternal, antarmanusia, harus diatur agar masing-masing punya kebebasan setara, jangan memaksa.
  Sekarang di dalam perdebatan ini ada yang pro ada yang anti RUU APP.
 
Apakah dalam demokrasi ada wasitnya?
 
Menurut saya, seharusnya pemerintah menjadi wasit karena pemerintah
menjadi fasilitator. Peraturannya jelas, ada konstitusi dan ada UU
kita. Undang-undangnya pun dilihat apakah sesuai atau tidak dengan
konstitusi.
  
  Pemerintah ini dalam arti baik eksekutif maupun yudikatif?
  
  Betul. Mahkamah Konstitusi dianggap termasuk pemerintah karena kalau
orang membuat UU yang melanggar konstitusi maka UU-nya harus
dibatalkan.
  
  Apakah demokrasi berada dalam ancaman kalau orang ribut-ribut dan
pemerintahnya diam?
  
  Saya kira akan ada ancaman. Sama seperti dalam pertandingan bola
jika wasitnya diam tidak melakukan pekerjaannya.
  
  Apakah orang yang mengobrak-abrik kantor Tempo juga harus ditindak?
 
Ya. Itu sudah jelas kekerasan. Kemudian yang merusak tempat-tempat
rumah aktivis atau melempar kantor majalah Playboy, walaupun mungkin
kita tidak setuju dengan majalah Playboy, tapi kalau sampai melempar
apalagi yang kena Bank Mandiri. Ini sudah merusak public property.
Jadi, harus dihukum dengan UU yang berlaku.
  
  Mengapa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil jalan
menunggu?
  
  Nah, ini terus terang masih misteri untuk saya. Mudah-mudahan, ini
hanya karena belum dua tahun pemerintahannya, mungkin masih
meraba-raba. Nah, yang kita perlu ingatkan ke presiden bahwa
presiden itu dipilih oleh 70 juta orang. Janganlah sampai takut
menegakkan hukum hanya karena 200 orang berdemo pakai batu.
  
  Sebagai orang pers, mana yang lebih banyak, orang yang suka atau
orang yang tidak suka RUU APP?
  
  Menurut saya, ini yang disebut dengan istilah 'red herring' atau
pengalih perhatian. Sebab, kalau kita tanya baik kelompok pro dan
anti semua pasti tidak mau adanya pornografi. Yang menjadi masalah
adalah sebetulnya kedua pihak punya agenda yang lain yang tidak
berhubungan dengan pornografi.
  
  Jadi bukan masalah cabul atau tidak cabul, tapi mengetes kekuatan
politik saja?
  
  Menurut saya, ada yang lebih mengkhawatirkan. Bagi saya ini
berbahaya karena kalau bukan pasal aduan maka siapapun boleh
melakukan penangkapan. Mereka merasa menjalankan UU. Ini justru
bahaya dari UU Pornografi dan Pornoaksi. Bukan soal apa yang kita
definisikan cabul dan tidak cabul, tapi memberikan hak kepada
orang-orang untuk berperilaku seperti polisi.
  
  Mengapa kelihatannya orang yang maksudnya tidak baik lebih semangat
atau lebih teroganisasi daripada orang yang baik-baik?
  
  Saya kira masalah di demokrasi selalu ada problem silent majority.
Kemudian ada orang merasa punya kebenaran absolut, apalagi kalau
ada yang mengaku ini diperintah langsung oleh Tuhan. Mereka tentu
punya motivasi dan militansi yang tinggi. Sementara orang yang
biasa-biasa saja menjadi silent majority. Mereka merasa kalau tidak
mengganggu saya untuk apa repot-repot karena untuk mencari pekerjaan
dan uang saja sudah susah. Sebetulnya itulah yang menyebabkan satu
kelemahan demokrasi yang harus kita peduli.
 
Copyright © Sinar Harapan 2003 
  
  Link:
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/20/nas11.html
 
Catatan:
Bambang Harymurti sudah tidak lagi menjabat sebagai Pemimpin Redaksi
TEMPO. Posisinya digantikan oleh Toriq Hadad. BH kini menduduki jabatan
sebagai Corporate Chief Editor. Mungkin teman-teman di Tempo bisa menjelaskan, apa itu Corporate Chief Editor?

  





           
---------------------------------
Ring'em or ping'em. Make  PC-to-phone calls as low as 1¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.
                 
---------------------------------
Sneak preview the  all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke