http://www.suarapembaruan.com/News/2006/05/24/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Sebuah Catatan tentang "The Da Vinci Code"
Oleh Jaime Gomes

Sejak dipublikasikan tahun 2003, Novel The Da Vinci Code dari penulis Amerika Serikat, Dan Brown, sudah terjual 40 juta kopi. Dengan angka penjualan yang setinggi itu novel tersebut menjadi bestseller dari dekade ini. Film yang didasarkan atas novel ini sudah dipresentasikan dalam Cannes Festival di Paris tanggal 17 Mei 2006 lalu dan sudah diputar di ratusan bioskop di seluruh dunia.

Menurut Newsweek, film yang disutradarai oleh Ron Howard dan diperankan oleh beberapa aktor papan atas seperti: Tom Hanks, Jean Reno, Andrey Tautou, Alfred Molina, Ian Mckellen, dan lain-lain, merupakan event yang terkenal tahun ini. Diperkirakan sekitar 800 juta orang di seluruh dunia akan menonton film ini.


Apa Kisahnya?

The Da Vinci Code merupakan kisah yang sangat kontroversial karena menceritakan beberapa hal yang sangat bertentangan dengan isi Kitab Suci.

Pertama, Yesus diceritakan menikah dengan Maria Magdalena dan hasil dari perkawinan itu melahirkan beberapa anak dan keturunan mereka hidup sampai sekarang di Prancis.

Kedua, Yesus mempercayakan gereja yang didirikannya kepada Maria Magdalena, tetapi karena merasa disisihkan para rasul berkomplot melawan dia dalam memimpin gereja. Takut dibunuh Maria Magdalena melarikan diri dengan anak-anaknya ke Prancis.

Sejak saat itu klandestin Sion of Priorato (semacam komando bersenjata) berusaha melindungi hasil keturunan pasangan itu dari ancaman Gereja Katolik.

Ditampilkan juga gambar The Last Súpper (Perjamuan Terakhir) karya Leonardo Da Vinci. Diinterpretasikan bahwa figur orang yang bersebelahan dengan Yesus itu bukan Yohanes (Rasul termuda) tetapi Maria Magdalena.

Ketiga, novel ini dimulai dengan pertemuan sebuah komisi kardinal untuk memilih seorang imam dari Opus Dei yang bertugas membunuh semua keturunan Yesus yang masih hidup.

Keempat, dikatakan bahwa Yesus tidak pernah menganggap dirinya sebagai Tuhan. Begitu juga para muridNya. Kepercayaan tentang kekudusan (divinity) dari Yesus merupakan hasil rekayasa dari Konsili Nicea tahun 325 pada masa pemerintahan Emperador Constantino.

Jadi apa yang diimani dan diyakini oleh gereja dibolak-balik dengan gampang dan tanpa ampun oleh Dan Brown. Tidak heran jika orang Katolik dan Kristen pada umumnya merasa dihina sampai tanah (hal yang sama dialami oleh saudara kita kaum Muslim dalam kasus karikatur terhadap Nabi Muhammad SAW) oleh orang yang ingin terkenal dan kaya dalam waktu singkat.

Mungkin ada orang yang merasa diganggu imannya dan bereaksi dengan caranya sendiri untuk membela kebenaran dari keyakinannya bukan dengan anarkis dan tak sopan. Dalam situasi begini kita harus semakin dewasa dan kritis. Sikap demikian dan sambil berpedoman kepada Kitab Suci dan Ajaran Gereja yang sah kita bisa menemukan banyak kesalahan mendasar dalam karya tersebut: terus terang, novel itu adalah sebuah karya fiksi, manipulasi terhadap kebenaran-kebenaran imam Katolik dari orang yang anti-Katolik.

Dan Brown, dalam presentasi bukunya yakin bahwa semua deskripsi tentang karya seni, arsitek, dokumen-dokumen dan ritus-ritus adalah benar dan evident. Tapi dalam kenyataan karyanya memiliki banyak kesalahan dan kebohongan baik dalam seni, historis, agama, dan kultur. Malahan para kritikus dan akademis non-Kristen dari berbagai cabang ilmu merasa tersinggung dengan karya berpolemik tersebut.

Kita harus sadar bahwa film ini bisa berefek negatif terhadap penghayatan iman kita karena semua kebohongan dan kesalahan fatal ditonton oleh massa yang berjumlah jutaan orang. Juga visualisasi dari gambar-gambar yang hidup kekuatannya sangat efektif dan berpengaruh daripada kata-kata dan meninggalkan bekas tak terhapuskan.

Sayang sekali bahwa film itu ditonton oleh siapa saja baik yang berpendidikan maupun yang tidak; yang tidak bisa membedakan antara fiksi dan non fiksi. Terakhir, tak bisa diragukan lagi bahwa novel itu akan digunakan oleh musuh-musuh gereja untuk melancarkan serangannya tentang tema-tema yang tidak ada relevansinya dengan film itu.


Melawan Tanpa Kekerasan

Ketika iman kita ditantang kita harus semakin bersatu dan menggalang persatuan untuk melawan musuh bersama, tapi bukan dengan kekerasan (Yesus mengajarkan no violence). Melainkan dengan formasi dan minat untuk terus belajar dan berani berbicara tentang kebenaran iman kita tentang Yesus, sejarah gereja, dokumen-dokumen gereja (magisterium) dan Kitab Suci.

Untuk para imam dan pastor, jangan sia-siakan kesempatan berkhotbah bukan hanya tema-tema moral, tetapi juga tema-tema yang berdimensi doktrin, biblis, dan kateketik. Semua usaha bermuara pada keseimbangan formasi iman umat yang dilayani. Jalin kerja sama secara ekumenis dengan penganut agama lain, karena bagaimana pun serangan terhadap agama tertentu bisa menganggu keharmonisan dalam hidup beragama dan bermasyarakat.

Pada akhirnya kita diharapkan untuk membangun relasi dengan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu bersatu melawan pseudocientificas yang mengebiri nilai dan integritas dari investigasi historis, religius, dan kultur.

Pribadi Yesus merupakan objek studi sepanjang masa untuk perkembangan iman pribadi dan orang lain dan tidak jarang pula ada orang yang mencari keuntungan ekonomis sambil menghina PribadiNya.

Ternyata apa yang dilakukan Yudas Iskariot yang menjual Yesus kepada Sanedrin seharga tiga puluh keping perak, terulang kembali ketika Dan Brown meraup keuntungan milaran dolar dengan menjual pribadi Yesus kepada penerbit dan perusahaan Sony Columbia. Tetapi Yesus Kristus tetap sama dan tetap jaya kemarin, hari ini dan akan datang.


Penulis adalah misionaris SVD di Argentina


Last modified: 23/5/06

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke