Dear Danny,
  pertama saya ralat dahulu, karena Anda tidak cermat membaca. Yang menulis bukan Kemal, melainkan Nelwa (harap baca lagi).
  Saya dapat mengerti, bahwa kini Anda sudah warganegara Belanda, dan tentu sangat membanggakan negara baru Anda. Namun sebagaimana pernah saya tulis, agak berlebihan apabila segala sesuatu dibandingkan dengan keadaan di Belanda.
  Anda beberapakali menyatakan, kurang memahami mengenai sejarah, oleh karena itu saya sarankan, untuk membaca buku-buku sejarah terutama yang terjadi di Eropa selama Perang Dunia II, terutama sejarah Belanda setelah Perang Dunia II selesai.
  Di masa Perang dunia II terlihat dengan jelas, bahwa bangsa-bangsa di Eropa tidak berbeda kejamnya. Pembunuhan jutaan manusia -termasuk wanita dan anak-anak- yang tidak berdosa. Sulit dibayangkan, dalam waktu 6 tahun, di seluruh Eropa lebih dari 40 juta (!) manusia dibunuh. Di Uni sovyet saja sekitar 20 juta (!) korban jiwa. Demikian juga dengan negara yang Anda sanjung, Belanda, melakukan berbagai kejahatan perang, justru setelah Perang Dunia II selesai.
  Apakah pada waktu itu di Belanda orang-orangnya, politisinya, tentaranya semua atheis atau komunis yang tidak beragama?
  Bukankah mayoritas penduduknya beragama Kristen, yang diperintahkan oleh Tuhannya: "Jangan Membunuh!"? Saya tak tahu, Anda beragama apa, namun dalam di kitab suci Kristen, Bibel, hal ini bukanlah anjuran melainkan Perintah! Yaitu 10 perintah Tuhan!
  Namun apa yang dilakukan oleh Belanda selama ratusan tahun? Menjajah, melegalkan perbudakan, melakukan pembantaian massal tanpa merasa berdosa. Apa kata para pendeta Kristen pada waktu itu? Melarang atau memberkati para serdadu?
  Yang sebenarnya sangat memalukan, sampai sekarang Pemerintah Belanda tidak peduli dengan para korban pembantaian. Banyak janda/keluarganya yang kini masih hidup.
  Mereka menuntut Pemerintah Belanda meminta maaf atas pembantaian-pembantaian yang telah dilakukan oleh tentara Belanda -atas perintah Pemerintah dan Parlemen Belanda waktu itu- di Indonesia antara 1945 - 1950.
  Saya mencermati tulisan-tulisan Anda mengenai Indonesia, penuh dengan kritik yang sangat pedas. Apakah ada trauma di masa lalu ketika Anda masih menjadi warganegara Indonesia?
  Di Indonesia ada pepatah: "Kacang lupa kepada kulitnya"
  yaitu ditujukan kepada mereka, yang setelah hidupnya makmur, lupa akan asal-usulnya dahulu.
  Saya berpendapat, tidak sepantasnya Anda menyatakan: "Buang Pancasila ke tong sampah", karena walau bagaimanapun, Pancasila masih menjadi patokan dasar di negara di mana dahulu Anda pernah hidup.
  Ini memang hanya masalah etika dan kepantasan yang ukurannya sangat relatif. Menurut saya hal-hal yang anda kemukakan, tidak sepantasnya Anda lakukan terhadap negara yang pernah menghidupi Anda dan memberi Anda makan dan minum, namun tentu Anda sekarang mempunyai "ukuran" Belanda, dan dengan memakai "ukuran" Belanda, hal-hal tersebut mungkin menjadi pantas dan biasa saja.
  Saya melihat, Anda mempunyai sangat banyak waktu untuk menjelajahi dunia maya. Bagaimana kalau Anda meluangkan sedikit waktu dan mulai membaca sejarah Perang Dunia II di Eropa, terutama sehubungan dengan lembaran-lembaran hitam dalam sejarah Belanda setelah Perang Dunia II selesai?
  Kita tinjau Eropa saat ini.
  Kalau melihat Ulster di Irlandia Utara, bukankah hingga hari ini kaum Kristen Katolik dan Kristen Protestan juga saling membunuh?
  Demikian juga di Spanyol, di mana etnis Basque dan orang Spanyol saling membunuh? Mereka sama-sama beragama Kristen Katolik.
  Di Eropa, rasialisme kini meningkat dengan tajam, bukan hanya di Jerman, melainkan juga di Perancis, Belgia, Inggris, dan bahkan di Belanda. Coba Anda membuka google.com, dan masukkan kata kunci: "racism in the Netherlands", anda akan melihat bahwa di negara baru Anda, juga terjadi rasialisme dan ketidak adilan.
  Ketidakadilan yang terakhir ini dialami oleh Ayaan Hirsi Ali, yang kini "mengungsi" ke USA.
  Adalah tidak bijak untuk selalu dengan satu jari yaitu jari telunjuk, menuding orang/negara lain, karena tiga jari lain menunjuk ke diri sendiri.
  
  Akhir kata, seandainya Anda beragama Kristen, saya sampaikan
  "Selamat Merayakan Hari Kenaikan Isa Almasih"
  
  Best regards
  
  Batara R. Hutagalung
  
 

Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pak Batara dan rekans milis,

Sesuai anjuran pak Batara, saya merenungkan dulu tulisan di bawah ini sebelum memberi komentar. Sekarang saya mau memberikan komentar, dan seperti biasanya dengan bahasa yang menggelitik.

Penulis bernama Kemal bercerita panjang lebar tentang Pancasila, menurut saya Pancasila harus dibuang ke tong sampah, cukup UUD 45 saja. Belanda tidak mengenal Pancasila tokh bisa modern dan makmur, rukun lagi, dus kuncinya bukan Pancasila. Enam puluh tahun Indonesia mengagungkan Pancasila, tapi kemarin mantan presiden RI diperintah oleh FPI untuk menyetop ceramahnya di Purwakarta. What is the use of Pancasila then? Mungkin Kemal akan bilang "Pengamalan Pancasila perlu waktu". Tapi apakah itu benar? Di jaman Orba negara menyediakan dana milyardan rupiah untuk membiayai P7, hasilnya Indonesia menduduki peringkat 6 negara terkorup di dunia. Dan perseteruan antar agama terjadi di mana-mana. What is the function of Pancasila then?

Mesti mencontoh Belanda/Eropa yang sekuler, singkirkan agama dari sistim pemerintahan. Hapuskan Departemen Agama, sebab departemen itu sumber korupsi dan konflik. Hapuskan juga semua kata-kata "Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa" di UUD/UU RI, gantikan dengan sekularisme. Agama menjadi urusan privat, agamaku untukku, agamamu untukmu. Polisi/kejaksaan berdiri di atas semua agama, yang melanggar pidana ngga perduli pengikut Yesus, pengikut Mohammad atau pengikut Sidharta, cekal dan ajukan ke pengadilan. Dilihat dari segala penjuru, penghapusan Pancasila dari sistim kenegaraan Indonesia membawa keuntungan banyak. Semua konflik agama bakal tidak ada lagi wong sudah sekuler, sehingga seluruh energi bisa dikerahkan ke pemberantasan korupsi.

Semoga tidak ada yang menganggap komentar saya ini sebagai pelecehan. Saya tidak bermaksud dan tidak pernah melecehkan Indonesia. Komentar di atas ini saya buat melulu berdasarkan kasih sayang saya ke pada negara kelahiran saya, ceile ..................... :-).

Salam hangat,
Danny Lim, Nederland

----- Original Message -----
From: Batara Hutagalung
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, May 19, 2006 3:47 PM
Subject: Re: Untuk Anak Bangsa: "WEJANGAN LELUHUR BANGSA"


Pengantar
Seorang teman lama saya, Kemal, yang mengetahui saya menjadi anggota beberapa milis, dan memiliki data base dari ribuan alamat email orang Indonesia, memohon saya untuk membantu menyebarluaskan tulisan, yang merupakan "Wejangan Leluhur Bangsa."
Wejangan tersebut ditulis oleh kenalannya, Nelwa, yang menulis setelah melakukan meditasi yang dalam dan bahkan dapat dikategorikan sebagai suatu tapa. Dalam bahasa awam mungkin disebut sebagai suatu perenungan yang mendalam. Minggu lalu kami betiga bertemu, dan Nelwa membacakan tulisan tersebut secara lengkap untuk saya. Saya mendengarkan dengan sangat cermat. Setelah "Wejangan" tersebut selesai dibacakan, saya tertegun. Yang keluar dari mulut saya hanya satu kata: "Sempurna!"
Menurut pendapat saya, isi wejangan tersebut memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi bangsa Indonesia saat ini dan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya dari perpecahan dan kehancuran akibat kesalahanh bangsa ini sendiri.
Memang, tidak semua yang membaca wejangan ini akan segera sependapat, namun mohon direnungkan dengan tenang dan mendalam esensi dari pesan yang disampaikan, dan kemudian membandingkan sendiri dengan situasi serta kondisi yang kini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Pendapat dan tanggapan mengenai wejangan ini mohon tidak ditujukan kepada saya pribadi, melainkan kepada kita semua, seluruh anak bangsa, untuk didiskusikan.
Masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukanlah masalah teknis, bukan masalah kekurangan ilmuwan, bukan masalah kekurangan dana. Ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, baru ada segelintir manusia Indonesia yang memiliki gelar kesarjanaan. Itupun hanya di beberapa bidang, untuk menunjang kepentingan penjajah, dan bukan untuk pembangunan bangsa dan negara, apalagi untuk mencerdaskan rakyat Nusantara.. Kini bangsa Indonesia telah memiliki ratusan ribu sarjana, dan bahkan guru besar untuk segala bidang ilmu pengetahuan. Seharusnya, dana pembangunan juga mencukupi, dan tidak perlu mengemis-ngemis terus ke luar negeri untuk menambah utang, yang pada akhirnya sebagian besar masuk ke kantong-kantong pribadi pejabat negara. Uang negara yang dikorupsi mencapai retusan trilyun rupiah. Adalah suatu kenyataan, bahwa perekonomian, dunia hukum, kehidupan sosial dan budaya negara ini ambur-adul. Indonesia memiliki telalu banyak poliTIKUS yang
menggerogoti negara, dan belum tampak seorangpun yang dapat dikategorikan sebagai seorang negarawan.
Mohon inti wejangan di bawah ini direnungkan dahulu, sebelum memberi komentar, tanggapan atau pendapat. Komentar, tanggapan dan pendapat seluruh anak bangsa sangat diperlukan, agar kita dapat menemukan solusi atas permasalahan yang kita hadapi bersama.

Salam persatuan anak bangsa!

Batara R. Hutagalung

Weblog Batara Hutagalung: http://batarahutagalung.blogspot.com

=============================================================================================
Wejangan Leluhur Bangsa

Panca Sila adalah hasil dari penggalian yang sedalam-dalamnya di dalam jiwa rakyat Nusantara sendiri. Di dalam Panca Sila ada dua sifat, yaitu statis dan dinamis. Statis tujuannya mempersatukan, dan dinamis tujuannya tuntunan atau arah perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Dasar yang statis harus terdiri dari elemen-elemen di mana "di dalamnya ada jiwa Indonesia". Kalau kita tidak mempersatukan elemen-elemen jiwa Indonesia, maka tidak mungkin dibangun dasar untuk negara Indonesia dengan jiwa bangsa Indonesia.
Saat ini semua berubah, kita telah memasukkan elemen-elemen asing ke dalam jiwa bangsa Indonesia, maka ini tidak akan menjadi dasar yang sehat dan kuat, apalagi untuk mempersatukan jiwa rakyat Indonesia. Sadar atau tidak sadar, kita telah melanggar hukum alam dalam jiwa bangsa ini sendiri. Karena hakekat dan jiwa kaum dan bangsa ini, yang telah dipersatukan dalam satu wadah yang diberi nama bangsa Indonesia, telah dilanggar dari segala elemen-elemen yang bukan jiwanya sendiri.
Pada saat catatan dibuka, bahwa para leluhur bangsa ini telah mempersatukan jiwa-jiwa manusia yang ada dalam ketertindasan dijajah oleh bangsa asing, dan dengan semangat kesatuan, jiwa yang memiliki semangat ingin merdeka.
Kesatuan tekad yang penuh dengan air mata dan darah, membawa sekelompok manusia bersatu menjadi satu bangsa, satu kata dalam satu jiwa, satu negara Indonesia, wujud dari kesatuan jiwa kaum dan bangsa ini.
Panca Sila ada, bukan lahir karena insiden, tapi lahir dari nilai perjalanan historis bangsa ini. Perjalanan sejarah bangsa ini selama di bawah kekuasaan dan kekejaman kolonialisme dan imperialisme, telah membentuk "jiwa persatuan" mempersatukan segenap tenaga, pikiran dan tekad dalam satu perbuatan untuk merdeka, dan mendirikan negara dengan menumbangkan penjajahan dan imperialisme. Pada zaman sebelum atau sesudah kolonialisme, kita memang memiliki bibit-bibit nasional borjuis.
Kita juga mempersiapkan diri untuk mempertahankan negara yang kita dirikan, yang suatu saat kelak menjadi benteng "pertahanan negara" dari serangan imperialisme itu.
Dengan adanya segenap tenaga revolusioner yang ada di dalam jiwa rakyat Indonesia, maka oleh karenanya pada tanggal 17 Agustus 1945 kita dapat mengadakan Proklamasi. Karena persatuan jiwalah kita dapat mempertahankannya.
Sekarang ini persatuan itu terganggu, sehingga kita kembali berikhtiar mengumpulkan jiwa-jiwa revolusioner untuk memperbaiki keretakan-keretakan tubuh dari bangsa Indonesia ini. Setelah itu, kami semua para pendahulumu, yang mempersiapkan dasar dan negara yang telah didirikan. Di atas dasar itulah maka segenap rakyat dipersatukan pada saat itu. Maka lahirlah Panca Sila, yang memberi nilai sejarah bangsa ini.
Nilai luhur Panca Sila adalah mempersatukan dan memberi arah bagi kehidupan negara kita ini. Nilai statis dari Panca Sila adalah persatuan, dan nilai dinamis adalah kearah mana kita harus berjalan sebagai bangsa dan negara. Panca Sila diciptakan dari "jiwa persatuan". Panca Sila diciptakan untuk mempersatukan jiwa-jiwa rakyat ini menjadi "jiwa bangsa", lalu "jiwa negara". Kekuatan energi dari jiwa-jiwa para leluhurmu yang menciptakan Panca Sila.

Apakah anak-anak bangsa sebagai penerus kami sudah mengamalkannya? Apakah pemimpin-pemimpin bangsa sekarang ini sudah mengamalkannya ? Jujurlah dalam bersikap, tanyakan pada dirimu sebagai anak bangsa. Jika sudah tidak ada lagi kemauan dan kehendak untuk mengamalkan Panca Sila yang lahir dari energi jiwa-jiwa para leluhur bangsa ini, maka tidak akan ada lagi Indonesia.
Jiwa-jiwa anak bangsa akan gentayangan sendiri-sendiri tanpa tuntunan dan arah, kehilangan cahaya sebagai petunjuk terang suatu bangsa. Maka tunggulah, dan semua akan ada pembuktian sebagai peringatan keras bagi kaum dan bangsa ini.
Kumpulan manusia adalah kumpulan dari satu jiwa, bukan seperti kursi yang disejajarkan di dalam gedung-gedung perwakilan rakyat dan pemerintah. Yang duduk di situ tidak mempunyai jiwa Ketuhanan, jiwa Kemanusiaan, jiwa Kebangsaan, jiwa Kedaulatan rakyat, dan jiwa ber-Keadilan. Jadi wakil-wakil rakyat sekarang ini tidak lebih dari kursi-kursi yang disejajarkan itu. Tidak ada energi jiwa, atau : Mati Rasa!
Sudahkah kita menghayati Sila Ketuhanan yang sebenarnya? Sila Ketuhanan dalam Panca Sila bukan sekedar barang yang diucapkan saja, tapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bangsa. Adanya agama yang berbeda dalam satu bangsa bisa menjadi rukun beragama sesuai kepercayaaan masing-masing, karena adanya rasa Kebangsaan Indonesia. Dalam negara harus ada perbedaan yang harus dipertegas antara keperluan negara sebagai "negara" dan urusan agama.
Fakta yang terjadi sekarang dilihat dengan mata telanjang tetapi menggunakan akal yang gelap. Semuanya dicampur-adukkan antara urusan agama dan urusan negara, sehingga lunturlah nilai Ketuhanan yang ada pada bangsa ini.
Inipun akibat dari pelanggaran hukum alam pada jiwa bangsa yang telah memasukkan jiwa-jiwa paham asing ke dalam jiwa-jiwa bangsa Indonesia sendiri. Mereka lupa bahwa adanya kepercayaan ber-Tuhan pada bangsa ini juga ada dalam sejarah perjalanan bangsa ini sebelumnya. Jiwa bangsa ini sudah tidak lagi menyatu dalam Ketuhanan yang sebenarnya.
Bangsa ini sudah lahir semenjak kalian belum ada di dunia. Bangsa ini ada sejak zaman pra-Hindu, yang sudah mempunyai kultur dan bercita-cita. Bangsa ini sebelum kedatangan orang Hindu sudah mahir dalam tanam padi secara sistem sawah. Jangan dikira itu hasil dari pembawaan oleh orang Hindu. Tidak! Sudah sebelumnya.
Alfabet Ha-Na-Ca-Ra-Ka-Da-Ta-Sa-Wa-La, jangan dikira itu dibawa oleh orang Hindu. Wayang kulit-pun bukan dibawa oleh orang Hindu. Orang Hindu hanya memperkaya wayang kulit dengan tambahan lakon Mahabarata dan Ramayana. Tapi kita sudah lebih dahulu punya wayang kulit, tetapi belum ada tambahan lakon Mahabarata dan Ramayana. Yang ada Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Dawala dan Cepot. Lakon lain, yang datang di luar punya kita itu, hanya memperkaya wayang kulit.

Jadi jika kita umpamakan sejarah perjalanan bangsa ini seperti istilah bersaf-saf (saf: barisan ketika shalat berjama'ah - redaksi). Saf pra-Hindu yang sudah berbudaya dan beradab bukan buaya dan biadab. Saf berikutnya, saf Hindu, datang dalam bidang politik berupa negara Taruna, negara Kalingga, negara Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutai, dll.
Lalu datang lagi saf berikutnya, zaman kita menganut Islam : negara Demak Bintoro, negara Pajang, negara Mataram kedua. Lalu datang lagi saf berikutnya, saf kolonialisme dan imperialisme.
Tapi dari semua fase yang ada dalam perjalanan sejarah, bangsa ini selalu hidup dalam alam pemujaaan. Ke dalam itulah ia menaruhkan segenap harapan dan kepercayaannya dalam ber-Tuhan. Maka proses bangsa ini dalam mencari nilai-nilai Ketuhanan juga ada dalam sejarah manusia di bumi ini, yang telah kita lupakan bahkan telah membuangnya ke tempat sampah yang kotor.
Kita harus melihat sejarah manusia yang berangkat dari alam pikiran manusia di segala zaman itu. Dipengaruhi oleh cara hidupnya yaitu bagaimana cara manusia mencari hidup, mempertahankan hidup dan memelihara hidup. Ini semua mempengaruhi alam pikiran manusia yang juga mempengaruhi alam persembahannya dalam Ketuhanan.
Fase pertama : gambaran manusia nomaden yang mengira Tuhan itu guntur, Tuhan itu adalah angin, Tuhan adalah air. Maka tradisi di India, sungai Gangga sampai saat ini disucikan. Dan di bagian Jawa, ada istilah lampor. Kalau ada angin dari selatan bertiup kencang, orang berteriak : "lampor-lampor!"
Fase kedua : manusia hidup dari peternakan, pindah bentuk lagi dalam Ketuhanan, beralih kepada bentuk binatang. Bangsa Mesir pada saat itu menyembah sapi, namanya Apis; burung, namanya Osiris; di India, sapi.
Fase ketiga : manusia hidup dari pertanian, maka pindah pula cara memahami Ketuhanan, yaitu pemujaan kepada sesuatu unsur yang menguasai pertanian. Timbul Dewi Laksmi, Dewi Sri, Dewi Sari Pohaci di tanah Pasundan. Pada saat musim tanam lantas memohon pada dewi-dewi tersebut. Bentuk Ketuhanan sudah digambarkan dalam bentuk manusia berupa gambar dewa-dewi, berbeda dengan alam pikiran manusia yang pertama dan kedua, belum ada bentuk manusia.
Fase keempat : manusia hidup sudah bisa menciptakan alat. Siapa yang menjadi penentu daripada pembuatan alat ini? Penentunya ialah akal.
Akal-lah yang membuat sabit, bajak dsb. Berpindahlah pikiran manusia pada Ketuhanan yang tadinya berupa batu, pindah ke sapi, lalu pindah berupa dewi. Maka dalam fase keempat menjadi gaib, tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba, yaitu akal.
Fase terakhir : alam industrialisme, maka sebagian manusia merasa dirinya adalah Tuhan. Apa yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia pada alam industrialis ini ? Mau petir ? Manusia bisa bikin petir : aku bikin menara tinggi, aku isi dengan elektrik sekian milyar volt, aku buka stroom lalu aku jadikan petir. Mau hujan ? Aku bisa. Mau keluar dari bumi ini ke planet lain ? Aku bisa, aku akan menguasai bulan. Aku bisa, aku kuasa, aku ciptakan senjata. Aku bunuh manusia, aku matikan musuh-musuhku, aku bisa. Hingga mereka mengatakan bahwa aku Tuhan ! Begitulah cara hidup di alam industrialisme, semua adalah "aku - aku" : Ego!
Itulah semua sejarah manusia tentang Tuhan, yang dalam alam pikirannya bergantung kepada cara hidupnya ! Maka para pendahulu atau leluhur dari kaum dan bangsa ini membuat dan menjadikan Sila Pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Diselami sedalam-dalamnya sejarah peradaban manusia dengan cara hidupnya, yang sebagian besar dari masyarakat agraris atau pertanian yang sampai saat ini masih ada kepercayaan tentang Dewi Sri, Sari Pohaci, yang masih dilestarikan dalam budaya bangsa ini untuk mengingatkan manusia tentang nilai-nilai dan Ketuhanan itu sendiri.
Jadi masyarakat kaum dan bangsa ini masih ada dalam fase ketiga, keempat dan kelima, yaitu alam industrialisme, yang itu bukan lagi corak dari cara hidup manusia Indonesia yang sebenarnya. Tingkat cara hidup masyarakat kita secara umum adalah agraris, tapi kita mulai melangkah ke arah industrialisme. Dari tingkat cara hidup bangsa Indonesia inilah maka kita mengikat satu kepercayaan, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Aku (........) leluhur dari kaum dan bangsa ini, mengingatkan dan menurunkan catatan dari perjalanan bangsa ini. Bahwa aku percaya Tuhan Yang Maha Esa, Dia ada dan nyata. Selagi hidup di dunia ini, aku sering mendapat peringatan berupa impian.
Dan jika impian itu aku rasakan dalam rasa, keesokan harinya akan terjadi. Bagi orang lain mungkin terjadinya nanti atau bulan depan. Bagiku pribadi, kalau aku bermimpi, pasti esok terjadi. Hal ini membawa keyakinan padaku bahwa Tuhan ada dan nyata.
Dengan dasar utama dari Ketuhanan Yang Maha Esa ini kita akan menjadi bangsa yang besar dan melaksanakan kebajikan. Untuk itulah Sila Ketuhanan dimasukkan dengan jelas, nyata dan tegas. Dari Sila Utama, jiwa bangsa terus berevolusi menyelami nilai kedua, ketiga, keempat dan kelima untuk diamalkan. Tetapi saat ini, Sila yang Utama sudah dilupakan. Bagaimana langkah evolusi jiwa bangsa ini, untuk bisa menuju ke perjalanan jiwa berikutnya?! Ibarat Sila Ketuhanan adalah Roh yang Terang - Hidup yang menghidupi jiwa-jiwa dalam ber-perikemanusiaan, ber-bangsa, jiwa kedaulatan rakyat dan jiwa ber-keadilan.
Dalam perjalanan sejarah manusia yang mencari Tuhan, tidak ada yang saling membunuh sesama manusia karena kepercayaan dan keyakinan yang disebut agama. Dulu manusia membunuh karena wilayah kekuasaan, karena rasa memiliki dan nafsu saling menguasai. Tapi bangsa ini sudah melebihi batas-batas kemanusiaan sehingga membunuh bangsanya sendiri, dan membuat aturan-aturan yang mengganggu kebebasan dan hak dalam menjalankan ibadah agamanya masing-masing.

Bangsa ini tidak lagi belajar dari sejarah yang ada dan selalu hidup, karena bangsa ini hidup dari sejarah itu sendiri. Negara dan agama, tidak ada aturan-aturan yang jelas dan tegas. Sehingga negara diatur oleh agama, dan agama diatur oleh negara.
Lihatlah para ulama yang nyata-nyata berpolitik dan merubah fungsi ulama menjadi pemimpin negara, sehingga rebutan untuk menjadi pemimpin, mulai dari kaum cendekiawan sampai ulama. Tidak ada lagi penasehat-pensehat yang memberi "aturan benar dan wajar" dalam kehidupan ber-bangsa dan ber-negara. Orang-orang dibiarkan bertindak sewenang-wenang karena mengatasnamakan agama. Pemimpin-pemimpin bangsa ini membiarkan kezaliman yang berkedok agama. Karena negara tidak lagi dianggap sebagai kekuatan dan alat kekuasaan. Karena pemimpin rakyat dan bangsa ini tidak punya "jiwa kepemimpinan Panca Sila".
Jika agama dijadikan alat kekuasaan pada bangsa ini, maka ketahuilah : kaum dan bangsa ini telah benar-benar melampaui batas dan harus membayar dengan harga mahal. Secara prinsip dalam Ketuhanan yang sesungguhnya, bahwa bangsa ini melanggar hukum alam dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Para suci terdahulu, mulai dari para Buddha, para Nabi dan Rasul serta para Wali-wali Agung terdahulu mengatakan : "Cintailah Tuhan di atas segala hal dan cintai sesama manusia seperti kamu mencintai dirimu".
Tapi tidakkah kita menyadari bahwa dari segi Peri-Kemanusiaan kita sudah melanggarnya?! Begitupun dari segi Kebangsaan yang satu jiwa, yang diwariskan oleh para leluhur bangsa dengan tebusan darah, tidak ada lagi dalam catatan anak bangsa ini.
Banyak anak-anak bangsa yang pintar, bersekolah, berpendidikan di Amerika, di Eropa, di luar negeri, pulang dan bekerja untuk bangsanya. Tapi sangat disayangkan, banyak yang kehilangan "jiwa anak bangsa Indonesia", sehingga pulang dengan membawa "jiwa asing", membela kepentingan asing, membawa elemen-elemen asing, dan tidak lagi menyumbangkan ilmu yang digali di luar negeri kepada rakyat dalam tujuan mencerdaskan bangsa sendiri. Anak bangsa menimba ilmu di negara orang, tapi sekarang hasil dari ini semua apa? Lihatlah! Utang negara menumpuk, korupsi melampaui batas, perebutan kekuasaan tanpa pengetahuan di bidangnya.
Untuk siapa anak bangsa ini bekerja? Untuk bangsa dan negara ini? Atau untuk bangsa asing? Jika kita bekerja untuk bangsa dan negara Indonesia harus dengan dengan jiwa Indonesia. Jika dengan "jiwa asing", elemen-elemen asing bekerja untuk bangsa-rakyat Indonesia, jangan bermimpi tentang Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Karena kami para leluhur bangsa ini menjadikan Indonesia yang merdeka, bukan dari "jiwa dan elemen asing", tapi dari jiwa bangsa dan kultur serta karakter rakyat Nusantara yang sesuai dengan budaya dan manusianya. Justru bangsa Indonesia ini lahir karena jiwa-jiwa rakyat pada saat berjuang untuk mengusir jiwa-jiwa asing yang ingin menguasai tanah leluhur dan kekayaan bangsa ini, dari penjajahan dan imperialisme asing. Sekarang semua ini digadaikan kepada jiwa-jiwa asing.

=== message truncated ===

           
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke