Jum'at, 26 Mei 2006
BURAS
Nasib Kaum Miskin!
H. Bambang Eka Wijaya:
"KAU tak ke seminar tentang kemiskinan?" tanya Umar.
"Woalah, kalau ditumpuk makalah seminar kemiskinan sudah lebih tinggi dari Gunung Merapi!" sambut Amir. "Tapi rakyat miskin justru terus bertambah banyak dan tambah miskin, bahkan derita mereka makin tak tertanggungkan!"
"Itu tak tepat dijadikan alasan untuk berhenti membicarakan kemiskinan!" tegas Umar. "Justru sebaliknya, diperlukan forum untuk meneriakkan lebih keras nasib kaum miskin agar diperhatikan!"
"Tapi, apa yang bisa didapat dari seminar itu?" timpal Amir.
"Pertama, pemahaman bersama tentang kemiskinan!" jawab Umar. "Kedua, dengan pemahaman itu kita kembangkan empati terhadap nasib kaum miskin, terutama di kalangan penentu kebijakan! Dan ketiga, hanya dengan empati itulah bisa diharapkan adanya komitmen menolong kaum miskin!"
"Pemahaman, empati, dan komitmen itu cuma omong kosong visi-misi dan kampanye politisi belaka!" entak Amir. "Begitu politisi terpilih sebagai penguasa--eksekuitf atau legislatif--yang pertama dihebohkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup diri mereka sendiri! Soal mengatasi kemiskinan tak tercermin sedikitpun dalam program kerja dan anggaran yang mereka susun!"
"Justru karena itulah diadakan seminar untuk mengingatkan janji kampanye mereka!" timpal Umar. "Kalau tak diingatkan, mereka anggap kerja mereka selama ini telah benar! Padahal nyatanya jauh panggang dari api, sehingga penderitaan rakyat miskin terus makin parah dari waktu ke waktu!"
"Kau terlalu optimistis hanya dengan gencarnya seminar para penguasa bisa berubah jadi memahami kemiskinan dan empati pada kaum miskin!" sambut Amir. "Tak semudah itu! Makin banyak seminar, politisi penguasa makin kaya terminologi untuk retorika membodohi orang miskin!"
"Pembodohan terhadap kaum miskin dan salah arah kebijakan pembangunan daerah itu harus dihentiikan!" tegas Umar. "Dipakai atau tidak, tetap harus ditawarkan model kebijakan dan sikap terbaik penguasa bagi mengatasi kemiskinan!"
"Kalau untuk membuka mata penguasa dari kesalahan kebijakan dan sikapnya terhadap kemiskinan, memang perlu!" timpal Amir. "Bukan hanya lewat seminar, malah harus lebih sering lewat segala kesempatan! Sebab, untuk memberi pemahaman, empati dan komitmen terhadap nasib kaum miskin, terkesan sukar sekali!"
"Itu dia!" sambut Umar. "Jangan cuma waktu kampanye menyebut diri partai wong cilik, pejuang kaum miskin dan sebagainya, tapi setelah terpilih lupa pada janjinya! Sebab, setiap kali terulang begitu, perjuangan membantu perbaikan nasib kaum miskin harus tak kenal putus asa!"
"Tapi aneh, kenapa menanamkan empati dan komitmen politisi penguasa terhadap kaum miskin seperti menanam benih di gurun pasir?" tukas Amir. "Empati dan komitmen itu, tak kunjung tumbuh!"
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

